Absurditas Senja, Hujan dan Pohon

21457131Judul Buku : Simbiosa Alina
Penulis : Pringadi Abdi Surya – Sungging Raga
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan : I, 2014
Tebal : 192 halaman
ISBN : 978-602-03-0297-3
Harga : Rp 49.000

Cinta gila dan absurd selalu menarik untuk diabadikan menjadi cerita. Dalam kumpulan cerpen ini, semua itu dapat ditemukan. Sungging Raga yang penyuka kereta dan pengagum senja serta Pringadi yang pecinta hujan menuliskannya dengan cukup apik.

Kumpulan cerpen ini merupakan karya-karya yang sudah pernah dipublikasikan di media koran dan majalah. Sungging Raga dengan cerita-cerita beraroma magis-mistis dan Pringadi yang mengusung kisah berbumbu psikologis-romantis. Duet yang menggetarkan dan―meminjam istilah Acep Zamzam Noor―membuat bulu kuduk berdiri karena ‘sengatan’ alur maupun diksi yang mengejutkan.

Membaca setengah bagian pertama (Sungging Raga), kita akan temukan bagaimana dia begitu pandai mengolah suasana yang sebenarnya biasa menjadi istimewa. Cerpennya mungkin dapat dikategorikan sebagai dongeng. Dia banyak mengangkat mitos-mitos yang tersebar di wilayah kerajaan Inggris Raya, lalu mengaduknya dengan senja, kereta, pohon dan wanita. Latar tempatnya pun mayoritas berada di wilayah London.

Pada cerpen pembuka, Simbiosa, Sungging Raga mencoba eksplorasi terhadap sebuah cinta menjadi tekanan batin bagi si pelaku utama, Dulkarip. Ia menjadi ‘gila’ lantaran cintanya dikhianati oleh si kekasih karena ia lebih memilih orang yang memberinya hidup yang lebih terjamin. Lalu mendadak, Dulkarip mampu memahami perkataan mahluk lain di luar manusia seperti pohon dan hewan. ia malah tak mampu berkomunikasi dengan manusia. Ia ‘bersimbiosa’ menjadi mahluk lain di luar dirinya.

Hampir semua tulisan Sungging Raga sangat absurd. Ia mengisahkan perjalanan sungai yang menyentil wajah-wajah kehidupan yang tak tentu ujungnya dengan simbol laut dan peristiwa yang dilewati tokoh sungai di cerpen Sepanjang Aliran Sungai. Ada juga kisah tentang kakek-nenek di stasiun Lempuyangan yang telah ‘berpacaran’ selama 120 tahun dan ‘belum’ menikah karena si nenek merasa, lagi-lagi, ‘belum’ siap.

Baca pula kisah yang aneh tentang orang yang berubah menjadi senja karena cinta yang begitu besar kepada kekasih di cerpen Senja di Taman Ewood. Atau mitos tentang perempuan yang berubah menjadi pohon saat kekasihnya tidak setia. Ia sering memakai tokoh anak kecil untuk menggambarkan bahwa mencintai tak butuh berpikir, seperti anak-anak.

Membaca setengah sisanya, bagian milik Pringadi, kita akan kembali menjadi manusia ‘normal’ walaupun tidak sepenuhnya. Pringadi memang manyajikan cerita yang lebih manusiawi, lebih dekat dengan keseharian, tentang cinta remaja dan tidak melibatkan hal magis dan sejenisnya. Akan tetapi, ia tak membuang sepenuhnya imajinasi tentang ‘keajaiban’ di luar akal. Bisa dikatakan, lebih merupakan eksplorasi terhadap psikologi tokoh-tokohnya.

Sementara Sungging Raga banyak meminjam obyek senja, Pringadi dengan deras menyelipkankan hujan sebagai pembangun suasana. Saksikan bagaimana hujan menjadi hal yang manis untuk background sebuah kisah cinta khayalan di Bait-Bait Hujan. Juga ketika hujan menghadirkan suasana sendu di Dua Kelopak Krisan yang menawan.

Selain menurunkan hujan, Pringadi gemar pula berfilosofi dan memasukkan pelajaran macam biologi, fisika atau matematika, tak lupa, teka-teki yang lucu. Hal ini mampu memberi kesan cerdas bagi cerpennya. Yang lebih menarik, ia juga bereksperimen menggabungkan kisah cinta dengan pertandingan bola. Kebanyakan cerpennya seperti puisi panjang dengan kalimat yang bisa membuat pembaca menahan napas.

Mungkin buku ini boleh dibandingkan dengan Ziarah Bagi yang Hidup milik Raudal Tandjung Banua yang juga bergaya absurd. Menyimak keseluruhan buku ini seperti menikmati secangkir kopi susu ditemani musik lembut di senja hari yang hujan. Nikmat dan tenang. Sungging Raga yang meliuk santai seperti sungai dan Pringadi dengan guyuran diksi liris, merupakan kolaborasi yang nyaris sempurna.

Karena Cinta Tak Hanya Soal Merasa

cover 4 Musim Cinta source mandewi
source: situs Mandewi

Judul Buku : 4 Musim Cinta
Penulis : Mandewi, dkk
Penyunting : Endah Sulwesi
Penyelaras Akhir : Shalahudin Gh
Pemindai Aksara : Muhammad Bagus SM
Penggagas Sampul : Maulana Hudaya Putra
Pendesain Sampul : Sihar M Panggabean
Pemilik Bibir Di Sampul: Noni Rafael
Penata Letak : desain651@gmail.com
Penerbit : Exchange
Cetakan : I, April 2015
Tebal : 332 halaman
ISBN : 978-602-72024-2-9
Harga : Rp 59.500

Sungguh menggembirakan telah lahir sebuah karya seperti 4 Musim Cinta ini. Novel keroyokan adalah sebuah terobosan. Tetapi novel ini bukan yang pertama, sebab sudah banyak beredar di luar sana novel yang ditulis lebih dari satu tangan dengan cara bertutur yang serupa ini.

Lalu apa yang membedakan dan membuat novel ini baik dibaca?

Pertama, gambar bibir di sampul muka adalah godaan bagi siapa saja yang punya stok penasaran tinggi untuk membukanya. Kedua, buku ini ditulis oleh PNS. Sebagaimana kita semua tahu, PNS adalah profesi favorit namun citranya kurang begitu baik, apapun itu, yang kelihatannya PNS impossible jika menulis buku. Tapi rupanya buku ini mematahkannya, bahwa pemikiran semacam itu adalah sesat. Ketiga, kita sudah agak capai dengan buku-buku fiksi yang sepertinya lebih banyak membuat pembaca mati bosan. Maka sudah sepantasnya kita bersyukur atas anugerah terbitnya buku ini. Keempat, ya ampun, bagaimana kita bisa melewatkan tulisan Pringadi Abdi Surya? Dan setelah membaca tuntas buku ini, ternyata Mandewi, Puguh, dan Abdul Gafur juga memiliki mantra yang bisa membuat pembaca tak sadarkan diri *alah wisss

4 Musim Cinta merupakan novel yang merekam cuplikan perjalanan cinta 4 orang abdi negara yang dipertemukan oleh sastra. Lembang adalah tempat yang selalu diingat mereka dengan kenangan-kenangan akan rahasia masing-masing. Dari tempat itulah, benih-benih persahabatan, bahkan cinta mulai tumbuh di sela-sela acara apresiasi sastra yang diadakan kantor pusat Ditjen Perbendaharaan, tempat mereka bernaung mengabdikan diri. Keempatnya lalu akrab dan dekat sebagai sahabat.

Gayatri gadis Bali yang di mata Arga begitu cerdas dan efisien, bagi Gafur merupakan sahabat yang hebat, dan bagi Pring adalah gadis manis yang menarik dan mempesonakan.

Kisah cinta berliku lalu terjadi. Pring yang ditinggal istri kuliah pascasarjana merasa begitu kesepian, ia cemburu pada kuliah istrinya. Bertemu Gayatri membuatnya tergoda untuk menoleh. Pring mencoba ‘bermain’ dengan mengandalkan sisi puitiknya. Sialnya, Gayatri pun baru saja kehilangan 2 orang terkasihnya: sang ayah yang meninggal dunia dan sang pacar yang menikahi orang lain. Ia sempat berpikir bahwa tak mungkin ia bertahan dengan dua luka sekaligus. Namun puisi-puisi dan pesan-pesan dari Pring yang datang beruntun rupanya berhasil menyembuhkan dan memikatnya. Ia pun jatuh cinta pada lelaki itu.

“Mata laki-laki di sekitarku jauh berbeda dengan matamu. Di mata mereka aku hanya melihat angka-angka. Matamu berbeda. Di kedalamannya aku melihat puisi, pantai, lembah, dan pancuran bambu kecil dengan bunyi air yang gemericik. Suatu kelenturan yang mencoba mencairkan kebekuan di dadaku.” (hal. 315)

Gafur adalah cowok Makassar yang dipindahtugaskan di Kendari. Sang pacar, Dira, harus ia tinggal di Jakarta. Hubungan mereka dekat sekali, keduanya saling mencintai. Namun sayang, hubungan itu tak mungkin berlanjut ke pelaminan karena Dira tak berniat menikah. Masa lalu yang buruk di keluarganya memaksa ia menyimpan trauma terhadap pernikahan.

“Cinta hanya perlu cinta, Gafur. Dan saling percaya. Tidak perlu pengumuman. Juga kertas yang distempel.” (hal. 155)

Arga adalah cowok ceria yang naasnya, selalu gagal mempertahankan hubungan cinta. Ia sudah dua kali patah hati, lalu harus mengalami patah hati yang ketiga ketika menaruh harapan pada Dira. Arga tak tahu bahwa Dira merupakan pacar Gafur, sahabatnya sendiri. Dira pun tak tahu jika kedua pria yang mencintainya itu bersahabat. Pertengkaran pun pecahlah.

“Ini semua tak adil bagiku. Hidup adalah soal pilihan-pilihan. Namun, mengapa aku seolah tak punya pilihan, karena menu yang dihidangkan semua tentang kekecewaan. Kalaupun ada bonus, hanya semanguk luka berbumbu harapan yang siap mengejutkan penikmatnya.” (hal. 308)

Mengutip kata Pring pada Gayatri, “Semesta akan bekerja lebih banyak dari kita. Apa kau tahu, Gayatri, bahwa di dalam diri kita juga ada semesta? Biarkan saja ia yang bekerja.” (hal. 262), maka semesta mengakhiri kisah mereka dengan baik-baik. Dira pergi menghilang, menyisakan perih di hati Gafur dan Arga. Pring kembali pada sang istri dan membuat Gayatri merasa dirinya tak ditakdirkan untuk siapapun.

Secara teknis dan isi, buku ini bisa menjadi salah satu karya terbaik tahun ini, hanya saja saya cukup keberatan dengan sifat karakter-karakternya. Misalnya, Gafur yang dengan entengnya menyebut kebiasaannya bermasturbasi dan tidur dengan wanita-wanita, kesetiaan Pring yang begitu tipis, atau Dira yang bersedia tidur dengan semua pacar-pacarnya. Tak jarang saya berucap ‘ya ampun’ ketika mendapati bagian-bagian seperti itu.

Cinta yang dimiliki kisah buku ini adalah hal yang membuat orang pintar jadi bodoh. Lihatlah mereka berempat, siapa yang meragukan intelegensi mereka, berkutat dengan angka-angka setiap hari, pastinya hanya orang dengan intelegensi tinggi yang bisa melakukan itu. Namun saat cinta menumbuhkan harapan, atau harapan itu tak tersampaikan, mereka menjadi orang yang sama sekali berbeda. Pring tergoda gadis lain, Gayatri memutuskan mencintai pria beristri, Arga kehilangan pengendalian diri karena patah hati lagi, dan Gafur juga tak pandai mengontrol hasratnya. Intelegensia masih ada, tapi telah rebah kalah oleh sebuah rasa berjuluk ‘cinta’.

Baguslah pada akhirnya mereka mengerti, bahwa cinta itu tak sekadar merasakan indahnya, ada hal lain yang berkait paut dengan cinta yang kadang lebih penting dari cinta itu sendiri, yakni kesetiaan, rasa hormat, persahabatan, dan penerimaan. Seperti sabda Gafur, “Hidup, hanyalah tentang perkara mengatasi kekecewaan.”

Remarkable work, Officers.