Sinergi Baca-Tulis Untuk Kemajuan Hidup

11060847_1062293233787178_548680534722642634_nJudul Buku : Meningkatkan Semangat Membaca dan Menulis
Penulis : Peng Kheng Sun
Penerbit : Fire Publisher, Pati
Tebal : 200 halaman
Cetakan : I, Juni 2014
ISBN : 978-602-1655-07-8

Peng Kheng Sun merupakan penulis yang begitu gigih mempopulerkan membaca serta menulis. Beliau adalah penulis satu-satunya, yang saya kenal, sangat konsen terhadap dunia dua itu. Bagi pak Peng, menulis dan membaca merupakan sebuah keniscayaan yang harus diperbuat semua orang, jika mau maju. Gagasannya yang hebat itu tertuang dalam buku ini.

Buku yang diterbitkan secara independen ini mengulas secara komprehensif manfaat dan urgensi kegiatan membaca dan menulis.

Buku merupakan sebuah dunia yang memiliki keajaiban karena banyaknya manfaat dan kegembiraan yang bisa kita dapatkan darinya. Namun sayangnya, masih banyak orang yang tak menyadari manfaat dari membaca. Bahkan mereka menganggap membaca buku adalah hal yang mubazir hingga terciptalah beberapa mitos menyesatkan mengenai membaca.

Mitos-mitos yang beredar dalam masyarakat kita misalnya, membaca merupakan pekerjaan pengangguran. Bahwa hanya orang dengan waktu luang yang banyak yang memiliki kegemaran membaca. Tentu ini tidak benar karena banyak tokoh-tokoh super sibuk yang masih punya waktu khusus untuk membaca, bahkan apa yang dibaca melebihi rata-rata penggemar kegiatan membaca.

Mitos lain yang juga cukup kuat adalah, membaca menurunkan prestasi belajar. Banyak dari kita yang berprofesi guru sering sekali menyindir anak didik untuk tidak banyak membaca bacaan di luar buku pelajaran. Bagi mereka semua bacaan itu tidak penting dibandingkan membaca buku pelajaran. Hal itu sama sekali tidak benar. Kita harus melihat bahwa murid-murid itu gemar membaca, itu sudah menjadi modal yang bagus. Sebagai guru, tentu akan lebih baik jika kita menyarankan murid-murid untuk memanfaatkan kegemaran membaca tersebut dalam memahami pelajaran. Pasti murid-murid akan lebih mendengarkan kita jika kita bisa menghargai kegemaran membaca mereka.

Banyak orang yang tidak akrab dengan membaca karena harga buku mahal. Hal itu menyebabkan mitos bahwa buku adalah barang mewah yang tak terlalu penting. Padahal, jika kita mau usaha sedikit, kita bisa mengakses buku-buku melalui berbagai cara, salah satunya mengunjungi perpustakaan, mengunduh buku elektronik secara gratis, atau meminjam buku tetapi secara bertanggung jawab. Di kota-kota tertentu, ada banyak pusat buku bekas di mana kita bisa mendapatkan banyak buku dengan harga murah. Tak kurang sekali setahun di setiap kota juga diselenggarakan pameran buku murah.

Membaca sendiri dapat diibaratkan seperti mengkonsumsi makanan. Jika kita mau bertahan hidup, maka kita harus makan. Buku adalah makanan bagi otak dan batin kita. Tanpa banyak membaca, otak dan batin kita akan kelaparan, kering dan sempit perspektif.

Menjadi Manusia Buku

Muhammad Hatta, ketika baru pulang dari Belanda, membawa kurang lebih 16 peti berisi buku. Pramoedya Ananta Toer, Goenawan Muhammad, setiap hari bergelut dengan buku-buku koleksi mereka yang berjumlah puluhan ribu. Merekalah para manusia buku yang sepanjang hidupnya menjadikan buku-buku sebagai teman sejati. Mereka tak sekadar mengerti dan memahami buku, tetapi juga menerapkan apa yang mereka baca. Hal itu menjadikan mereka pemimpin atau intelektual yang unggul. Sudah menjadi tugas kita untuk meniru kegemaran mereka agar kita juga dapat menjadi manusia buku.

Membaca memiliki keampuhan tergantung pada jenis pembacanya. Bagi siswa, tentu membaca akan sangat berguna dalam membantunya memahami pelajaran di sekolah. bagi guru, kegemaran membaca akan menambah wawasan sehingga mereka dapat mengajar dengan cara yang lebih menyenangkan. Bagi para pengusaha, kegemaran membaca akan memelihara kreativitas mereka dalam menjalankan bisnis.

Jika kita mau maju dan berdaya saing, kegemaran membaca harus kita latih sejak dini. Di Jepang, anak-anak usia SMA dalam sebulan dapat membaca lebih dari 5 judul buku yang bertema berat. Di Rusia, dapat kita jumpai setiap anak usia sekolah dasar selalu rutin mengunjungi perpustakaan. Dayna Tan dari Singapura, membaca 300-an buku ketika usianya baru 11 tahun, dan ia berhasil menuliskan pengalamannya dalam sebuah buku. Di Indonesia? Mayoritas anak-anak dari usia SD hingga perguruan tinggi lebih banyak terlihat di depan televisi, di dalam game center dan di kamar dengan handphone-nya. Bukankah keadaan ini ‘mengerikan’?

Membaca memang tak akan menghasilkan uang yang banyak secara langsung (walau sekarang sudah ada profesi yang bisa menghasilkan uang dari membaca), akan tetapi membaca adalah sebuah investasi. Uang bisa sekejap habis, tapi pengalaman membaca, pengetahuan dan wawasan akan terus menetap dalam otak kita manakala kita serius untuk menjaganya.

Agar kegiatan membaca tak berakhir sia-sia, maka kita harus punya cara untuk menyimpan pengetahuan yang kita dapat dengan menuliskannya. Menulis merupakan sebuah cara untuk mengeluarkan gagasan yang kita dapatkan dari membaca. Dua kegiatan ini apabila dapat kita sinergikan dengan baik akan membawa manfaat luar biasa bagi kualitas diri kita.

Perbedaan besar dapat terjadi antara orang yang gemar membaca dan orang yang beranggapan bahwa membaca itu kegiatan yang kurang bermanfaat. Saya ambil contoh yang mudah. Seorang anak yang dari kecil sudah memiliki kegemaran membaca, maka ia akan memiliki kosakata yang lebih banyak dari teman seusianya yang tidak gemar membaca. Otaknya juga sudah terlatih untuk memindai kalimat-kalimat mana yang tersusun dengan benar. Jika ia memasuki sekolah, ia akan memiliki kemampuan yang baik dalam menulis karena telah terbiasa membaca berbagai bentuk kalimat. Ketika sampai di perguruan tinggi, ia juga dapat dengan mudah membuat karya tulis tanpa melakukan salin tempel secara ‘brutal’.

Berbeda dengan anak yang tak akrab dengan bacaan. Ia akan kesulitan dalam menyusun kalimat. Kata-kata yang dimilikinya pun hanya sedikit. Ia tak mengenal banyak kata, maka jika ia menulis, tulisannya akan kering dan tak menarik. Ketika menjadi mahasiswa, ia akan menjadi Sarjana Download, yang hanya bisa mengunduh karya tulis karangan orang lain, yang malangnya, ia sendiri juga tak mengerti isinya.

Di luar negeri, yang sistem pendidikannya jauh lebih baik, anak-anak mendapatkan dorongan yang luar biasa untuk mempraktikkan kegemaran membaca dan menulis, dari sekolah, pemerintah dan keluarga. Di sini tentu keadaannya sangat berbeda. Banyak guru sekolah maupun dosen perguruan tinggi yang malas membaca, apalagi menulis. Mereka juga tak mendorong muridnya menulis buah pikiran mereka sendiri, bahkan menerima saja tugas ‘karya’ mahasiswa yang mayoritas hasil mengunduh di internet.

Pemerintah juga masih menetapkan pajak yang tinggi terhadap buku sehingga harga buku hanya terjangkau bagi mereka yang memiliki banyak uang, yang naasnya, mayoritas punya minat baca rendah. Salahkan juga sebagian besar penerbit yang hanya mencari untung tanpa punya visi untuk mencerdaskan kehidupan masyarakat.

Pak Peng dalam buku ini mengungkapkan semua itu. Bahwa agar kita bisa menjadi bangsa yang maju dalam segala hal, langkah pertama adalah menghimpun pengetahuan dan keterampilan serta keahlian dengan cara menggemari membaca, lalu menulis. Kedua hal ini memiliki manfaat besar yang jika dikembangkan secara masif, secara nasional, niscaya Indonesia akan sama jayanya dengan negara-negara maju lain.

Buku ini saya rekomendasikan bagi para guru, dan para murid, serta siapa pun yang ingin memanen keuntungan dari sinergi baca-tulis. Untuk mendapatkan buku ini, silahkan menghubungi penulisnya langsung, klik di sini.

Saat Para Maestro Bicara Sastra

11290120Judul Buku : Proses Kreatif (Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang II)
Editor : Pamusuk Eneste
Penerbit : PT Gramedia
Cetakan : Pertama, 1984
Tebal : 209 halaman

Buku yang saya dapat dari pinjam di perpusda Kebumen ini berisi ‘pengakuan’ dua belas sastrawan Indonesia yang lahir di medio 1920-1950. Kedua belas sastrawan itu ialah Sitor Situmorang, Nasjah Djamin, Pramoedya Ananta Toer, Gerson Poyk, Umar Kayam, Satyagraha Hoerip, Sori Siregar, Sapardi Djoko Damono, Danarto, Poppy Donggo Hutagalung, Hamsad Rangkuti dan Abdul Hadi W.M.

Pengakuan mereka berisi seputar sejarah kepengarangan, pandangan mereka terhadap karya dan kesusastraan, serta bagaimana mereka menghasilkan masterpiece mereka. Buku ini saya katakan sangat bergizi dan patut dibaca oleh siapa saja yang memiliki minat tinggi terhadap kesusastraan. Pengalaman hidup para pengarang itu dapat menginspirasi dan sangat kaya akan makna, bagaimana mereka menghidupkan seni dalam cengkeraman penjajah Belanda dan Jepang.

Pamusuk Eneste selaku editor buku ini mengungkapkan pentingnya ‘pengakuan’ langsung dari para pengarang terkait karya-karya mereka, karena dari merekalah bisa didapatkan penafsiran yang paling sesuai. Seperti sajak Sitor Situmorang yang berjudul Malam Lebaran, ternyata lahir setelah Sitor mendapat pengalaman melihat bulan yang tampak dari pemakaman orang Nasrani ketika berkunjung ke rumah Pramoedya. Sajak yang hanya sebaris itu berhasil muncul di Horison.

Dalam perjalanannya sebagai pelukis maupun pengarang, Sitor telah banyak melalui berbagai hal menarik. Baginya, yang utama dalam menyusun sebuah karangan adalah persiapan kanak-kanak (imajinasi) dan pematangan pengalaman kembara ke sudut-sudut kehidupan, kembara lahir batin.

Sementara Pramodya mengungkapkan bagaimana ia melahirkan Perburuan. Novel itu ia susun di dalam penjara, dengan sembunyi-sembunyi dari petugas, yang dapat dituntaskannya dalam empat minggu. Untuk novel Keluarga Gerilya, Pram terilhami seorang prajurit yang begitu patriotik namun kemampuannya rendah sehingga sering dipindah dari batalyon satu ke batalyon lain.

Dalam urusan bagaimana mencipta karya sastra, Pram mengutarakan tentang adanya pesangon, yaitu pengalaman indrawi, nalar atau perasaan intensif. Perkara ini yang membangunkan kesadaran untuk berkreasi. Ia juga menegaskan bahwa kreasi tidak mungkin lahir tanpa desakan dalam si pribadi, bukan karena fasilitas. Hal itulah yang membedakan manusia dengan komputer: keberanian, kemauan, disiplin, keyakinan, tanggung jawab dan kesadaran, yang membikinnya berprakarsa tanpa perintah (hal. 55).

Pram sendiri tak menyetujui karya sastra yang tercipta dalam keadaan trance, sebab, dalam setiap karya harus ada tanggung jawab sosialnya. Baginya, “menulis merupakan terjemahan dari keadaan bahwa kehadiranku masih ada gunanya bagi kehidupan” (hal. 63)

Gerson Poyk, pengarang kelahiran Flores berpendapat bahwa proses kreatif adalah suatu proses yang mulai kelihatan sejak kecil, sejak kesadaran pertama. Menurutnya, bakat dan pengalaman memegang peranan dalam proses ini. (hal. 71) Bakat tersebut berguna untuk menemukan momen-momen kunci yang mampu mendorong seseorang untuk berkreasi.

Pada intinya, semua pengarang itu menuturkan bahwa kerja kesusatraan tak semata kerja tanpa makna, atau hanya mengandalkan teknik (walau Hamsad Rangkuti mengakui bahwa kemampuan menguasai teknik-lah yang membuatnya produktif!). Kerja seorang pengarang adalah memberikan makna pada karyanya, menawarkan ‘sesuatu’ kepada pembaca yang dalam istilah Hamsad Rangkuti, bisa mengganggu batin pembacanya. Beberapa dari mereka mempercayai bakat dan kemampuan yang memang sudah ‘given’ sangat berpengaruh pada proses kreatif kepengarangan. Beberapa lainnya merendah bahwa mereka menulis karena adanya rasa senang dan sukacita ketika menulis, bukan karena merasa diri sebagai sastrawan.

Dari semua esai dalam buku ini, kita bisa menyimpulkan bahwa pengarang tidak lahir begitu saja tanpa peristiwa-peristiwa yang mendahului dan menyerta mereka. Mereka menyuarakan apa yang meresahkan dan menjadi kepedulian mereka pada zamannya. Poin pentingnya, mereka semua tumbuh bersama karya-karya dari berbagai pengarang dunia maupun pengarang lokal.

Maka jika kita ingin menjadi pengarang seperti mereka, perbanyaklah membaca karya-karya sastra dari berbagai penjuru dunia, tingkatkan kepekaan kita terhadap diri sendiri dan lingkungan, dan teruslah menulis mengasah teknik sampai saat kita tak bisa lagi mengayunkan pena.

NB: Oh, ya, dari pengakuan beberapa pengarang, bahwa Chairil Anwar suka mencuri buku dan kadang-kadang melakukan plagiat ternyata benar adanya 🙂

sumber gambar: Goodreads