Filsafat Manusia Ala Sabda

KamuJudul Buku : Kamu

Penulis : Sabda Armandio

Penerbit : Moka Media

Cetakan : I, Februari 2015

Tebal : 348 halaman

ISBN : 979-795-961-9

Harga : Rp 55.000

Dalam kehidupan, manusia akan senantiasa memikirkan apa makna keberadaan dirinya di dunia. Menurut Juraid Abdul Latief (2012), manusia adalah makhluk yang penuh misteri. Selalu akan muncul pertanyaan-pertanyaan tentang esensi hidup dan kodrat manusia. Dalam bukunya Bengkel Ilmu Filsafat, Turnbull (1995) menguraikan dua jenis pertanyaan filsafat. Pertama adalah pertanyaan sehari-hari, dan kedua, pertanyaan besar.

Novel ini memuat kedua jenis pertanyaan itu. Dio, begitu penulis biasa disapa, menggunakan sudut pandang orang pertama dalam debutnya ini. Tokoh ‘si aku’ bercerita tentang 3 hari bersejarah dalam hidupnya, saat dia masih SMA. Dalam kepalanya yang lucu berjejal banyak pertanyaan mengenai kehidupan yang ia jalani. Pilihan yang tepat karena sudut pandang orang pertama lebih mengarah kepada pemikiran si aku daripada alur.

Cerita dimulai saat si aku baru saja pindah indekos. Tengah malam ketika ia kelaparan lalu membuat mi instan, seseorang mengetuk daun jendela dan mengingatkan agar menutupnya. Tentu saja hal itu aneh sebab kamarnya terletak di lantai 3. Tapi ia tak ambil pusing. Malam berikutnya, ia kembali terjaga dan kelaparan. Mi instan pun kembali ia buat. Ketika memandang sendok mengilap bekas makan, si aku meloncat ke masa lalu, ke waktu saat dirinya masih kelas III SMA. Pikirannya melayang melamunkan tiga hari di masa itu yang dilalui bersama temannya, bernama Kamu.

Hari itu, Kamu menelepon dan mengajaknya membolos. Kamu berhasil menghasut si aku yang tak pernah membolos selama tiga tahun. Ia minta ditemani mencari sebuah sendok yang hilang, sebuah pekerjaan yang sangat tidak penting. Jadilah mereka mencari tukang bakso yang sendoknya tertukar dengan milik Kamu. Kamu juga mendapat tugas dari sang ayah untuk mengantar sebuah barang pada seseorang.

Dengan menggunakan Datsun tua warna kuning, mereka berdua berkendara menelusuri kota Bogor menuju Gunung Mas. Di tengah perjalanan, mereka tejebak macet. Rupanya ada Badai Monyet Parit. Ribuan monyet keluar dari gorong-gorong dan menyerbu kota Bogor. Kamu pun mengajak si aku menuju ‘jalan pintas’, dunia absurd di mana mereka bertemu monyet memakai kaus bertuliskan “Save Human” yang dapat berbicara, serta seorang kakek mantan pejuang yang bisa melukis matanya sendiri di wajah.

Namun ternyata absurditas yang seolah nyata itu hanyalah mimpi. Akhirnya Kamu mengajak si aku pulang. Sendok itu sendiri tak pernah ditemukan.

Hari berikutnya, Kamu dan si aku kembali membolos. Mereka hendak menemui Permen, gadis yang disukai Kamu. Permen sedang bersama dengan seorang temannya, Johan, pengajar di sebuah bimbingan belajar. Di perjalanan, mereka mendapati keramaian yang disebabkan oleh siswa SMA yang bunuh diri karena mencemaskan Ujian Nasional. Kamu dan Johan sempat berdebat tentang sistem pendidikan di Indonesia.

“Kau memaksa murid-muridmu untuk terus optimis dan positif; kau menakut-nakuti mereka dengan mengatakan masa depan tergantung pada sekolah. Sehingga mereka tertekan, mereka takut kalau-kalau masa depan mereka tak sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Dan jika mereka nggak mendapat apa yang mereka mau, mereka akan jatuh kecewa dan menganggap dirinya nggak berguna. Kau buat standar kesuksesan, dan kau buat murid-muridmu terobsesi dengan kesuksesan itu.” kata Kamu (hal. 301)

Si aku pun punya pendapat yang tak jauh beda.

“Setelah kupikir-pikir, buku latihan setebal direktori telepon itu memang hanya dirancang khusus untuk Ujian Nasional saja, untuk menjinakan kecemasan siswa menghadapi teror negara. Kecuali itu, sama sekali tidak ada gunanya.” (hal. 218)

Setelah berpisah dengan Johan, si aku, Kamu dan Permen melanjutkan perjalanan ke sebuah pantai. Di sana, mereka membicarakan banyak hal mengenai hakikat menjadi manusia.

“Menurutku, kelelahan itu lahir karena pikiran kita dipaksa mengonsumsi kebenaran mutlak, dan gawatnya, dunia didominasi oleh orang yang merasa paling benar. Kebenaran yang dipaksakan itu menjadi bos, dan kita jongos. Itu mungkin yang membuat kita nggak santai sebagai manusia. Padahal, kata Multatuli, tugas manusia adalah menjadi manusia.” ujar Kamu mengomentari kematian siswa yang bunuh diri (hal. 318).

Tentang kematian, Sabda menyitirnya dengan bagus lewat pikiran si aku.

“Entah berapa banyak orang yang tenggelam di laut, digulung ombak, karam tanpa nisan, dan mungkin akan dilupakan begitu saja setelah dua atau tiga minggu berselang. Cara mati yang, kalau dipikirkan, sepertinya pedih sekali. Kau mati dan kesepian. Tetapi apa bedanya? Mati bahagia atau sedih, mati di tempat ramai atau mati di tempat sepi, sama saja. Kau mati dan kau mati dan kau mati.” (hal. 330)

Kamu merupakan novel anti-mainstream yang layak dikoleksi. Ini adalah contoh sastra anak muda yang ditulis dengan narasi cerdas dan penuh kelakar. Sabda mengutarakan hal-hal cenderung konyol yang terlihat tak penting dengan kalimat-kalimat yang terus menyeret pembaca untuk menuntaskannya. Berbagai obrolan santai si aku dengan dirinya maupun Kamu bertebaran dari halaman muka hingga akhir. Pembaca seperti menyimak guyon di kedai kopi dengan kebul asap rokok.

Lewat novelnya ini Sabda berhasil ‘meludahi’―meminjam isilah yang dipakai tokoh Kamu―berbagai pihak: sistem sekolah, negara, dan dunia, yang merupakan panggung fana. Tokoh si aku dan Kamu bersinergi secara signifikan mewakili kegalauan penulisnya akan gejolak ‘peradaban’ yang malah mematikan kemanusiaan.

Saya jadi teringat film Taree Zameen Par yang dibintangi Ameer Khan. Tokoh Ishaan tertekan karena sang ayah, menginginkan dirinya agar bisa menjadi orang yang mampu berkompetisi. Bagi ayahnya, dunia adalah kompetisi dan hanya kompetisi. Tanpa kemampuan yang memadai, orang akan tersingkir. Mungkin tokoh Kamu bisa kita samakan dengan Ishaan, yang berpikir bebas dan membenci peraturan yang dirasa tak bermanfaat dan hanya menunjukkan arogansi si pembuat aturan.

Sampai halaman terakhir, kita tidak pernah tahu nama si aku. Tokoh Kamu sama sekali tak pernah menyebut nama temannya. Tapi ketika membaca biodata penulisnya, tak berlebihan kiranya jika kita menamai si aku dengan Sabda Armandio. Sabda dan tokohnya itu tampak ‘satu aliran’ dilihat dari aktivitas hariannya.

Kiranya, keberanian Sabda untuk menyuarakan isi hati dan pikirannya yang ‘menentang’ dunia ini pantas dihadiahi sebuah kata yang menjadi ciri khas tokoh Kamu: Salut!

Iklan

Mengejar Cinta Mas Sekuriti

Cinta-Emang-Bego
sumber gambar: blog penulisnya

Judul Buku : Cinta Emang Bego

Penulis : Nikma. TS

Penerbit : Moka Media

Cetakan : I, 2014

Tebal : 176 halaman

ISBN : 979-795-826-4

Suatu pagi, seorang cewek terlambat berangkat ke sekolah karena lupa mengisi bensin untuk motor matic-nya, sehingga dia harus naik angkot yang tidak bisa ngebut. Sesampai di sekolah, gerbang depan sudah dikunci. Terpaksa, dia manjat pagar belakang, dan ketahuan. Bukan oleh guru atau kepala sekolah, tapi oleh satpam. Dari sanalah ke-bego-an cinta si cewek dimulai. Satpam itu sangat ganteng, yang kegantengannya bisa membuat artis korea rela operasi plastik lagi, begitu kata penulis.

“Aku seketika terpana, menatapnya yang berjalan ke arah gerbang dengan berkacak pinggang. Dalam hati aku bertanya siapakah gerangan cowok yang wajahnya seperti pangeran dalam dongeng ini?” (halaman 3)

Cewek itu, Lintang, seketika jatuh cinta. dalam waktu singkat, ketampanan satpam baru itu telah menjadi trending topic di sekolah Lintang. Teman sekelas Lintang, Virna, juga naksir sang sekuriti yang teridentifikasi bernama Febri. Cewek-cewek lain di sekolah pun sama saja, mereka mendadak menjadi penggemar Febri. Lintang tentu tak mau kalah, ia berjuang sekuat tenaga untuk merebut perhatian Febri, mulai dari membuatkan kue brownies yang sebagian besar ditangani mamanya, sampai menawari Febri tempat kos di paviliun rumahnya. Ketika itu, Febri sedang bermasalah dengan tempat tinggalnya. Akhirnya Febri menyewa paviliun itu, sekamar dengan seorang cowok yang sudah lebih dulu tinggal, Faundra. Cowok itu merasa tak nyaman karena harus sekamar dengan Febri. Faundra sebenarnya naksir Lintang, tapi Lintang selalu jutek padanya.

Kebahagiaan Lintang tinggal dekat dengan Febri harus musnah ketika beberapa kali gagal dengan rencana jalan barengnya. Puncaknya adalah ketika Virna mendeklarasikan diri sebagai pacar Febri. Namun ternyata, Febri yang ganteng itu bukanlah orang baik-baik. Ia adalah perampok yang kerap melakukan pencurian. Utangnya di beberapa tempat pun tak sedikit. Ketika rumah Lintang kosong karena semuanya pergi ke rumah sang nenek, Febri melakukan aksinya. Ia membekap Faundra yang kebetulan ada di paviliun. Ia menggasak semua perabotan rumah tangga―kulkas, kompor gas, sofa, almari, televisi―dan membawanya kabur dengan mobil pick up. Lintang pun gigit jari, cintanya kandas dengan amat mengenaskan.

Cerita yang ditawarkan novel ini sebenarnya sangat biasa. Kejutan yang disiapkan penulis―Febri yang ternyata garong―menuai ledakan yang kecil saja, bahkan seperti tak terasa. Kelebihan novel ini adalah pada komedi dan lelucon yang hadir sepanjang halaman pertama sampai terakhir. Saya tak keberatan untuk ngakak saat membaca narasi atau dialog yang ditulis. Saya berikan contohnya berikut ini.

“Nenek adalah salah satu wanita yang paling mengerti jiwa muda. Bahkan nenek masih suka pakai high heels dan kaos kaki berenda kalau lagi hang out sama temen-temennya.” (halaman 20)

“Oke, potongan harga. Masing-masing 50 saja.”

“Nggak, deh, makasih.”

“25 ribu saja.”

“No, thanks.”

“5 ribu saja.”

“Deal.” (halaman 51)

“Buatku, Faundra cuma cinta monyet masa SMP. Sekarang aku sudah SMA, dan cintaku pada Febri berada setingkat di atas cinta monyet, berarti cinta gorila?” (halaman 15)

Well, novel ini cukup asyik dinikmati saat galau dan tidak ada kerjaan. Jangan lupa membawa wajan untuk menutupi muka panjenengan ketika tertawa-tawa sendiri.

Sisi Rahasia Seorang Ambigu

24965418Judul : Namaku Loui(sa)
Penulis : Adya Pramudita
Penerbit : Moka Media
Tebal: 244 halaman
Terbit: 2015

Ambiguitas adalah sebuah hal yang bagi sebagian kita tak mudah untuk diterima. Selama ini kita hanya tahu hitam atau putih dan melupakan wilayah abu-abu. Padahal, kasus ambiguitas dapat terjadi pada siapa saja.

Berbicara mengenai ambigu, mungkin banyak juga yang mengaitkannya dengan homoseksual. Secara fisik seorang homoseksual terlahir sempurna. Ada kejelasan tentang jenis kelaminnya. Homoseksual tidak diperkenankan mengubah apa yang sudah jelas. Kasus homoseksual terjadi karena psikologis pelakunya yang timpang, atau memang karena ada gen homoseks dalam dirinya.

Ambigu tidak sama dengan homoseksual. Bukan psikisnya yang rancu, tapi tubuhnya. Ia tidak jelas antara pria atau wanita karena kelamin yang bentuknya tak umum, atau karena pertumbuhan tubuhnya tak sesuai dengan jenis kelamin yang didakwakan. Bisa saja ketika kecil seseorang dianggap perempuan, namun hingga dewasa tidak juga menampakkan tanda-tanda sebagai perempuan, atau sebaliknya. Jenis kelaminnya dapat diidentifikasi dengan melakukan pemeriksaan. Dari sana akan diketahui kromosom apa yang menyusun tubuhnya, dan mengapa ia menjadi ambigu.

Seperti yang dialami Louisa dalam buku ini. Ia lahir dengan kelamin yang mungkin lebih mirip wanita, sehingga ibunya bersikeras bahwa anak yang dia lahirkan adalah perempuan (di samping memang ia ingin punya anak gadis). Ayahnya menyangsikan ini. Dia yakin ada yang tidak normal dengan bayinya. Tapi ia tak melakukan pemeriksaan lebih lanjut karena tak ingin menyakiti ibu Louisa.

Jadilah Louisa anak perempuan yang dididik dengan keras oleh sang ibu. Ia diikutkan les biola seminggu tiga kali dengan menempuh jarak 15 kilometer, dari kelas 5 SD hingga lulus SMA. Louisa punya dua sahabat semasa masih di peternakan di mana ia menghabiskan masa kecil dan remajanya.

Setelah sang ayah wafat, ibunya memaksa pindah ke Tangerang. Louisa pun berpisah dengan kedua sahabatnya, Dimitri dan Jingga. Semenjak pindah itu, Louisa membangun karirnya di dunia musik, menjadi violonis. Ia mencintai sekaligus membenci biolanya. Biola telah membuatnya menemukan dunia yang membahagiakan, di sisi lain, biola adalah simbol arogansi sang ibu pada dirinya.

Louisa pun pernah kabur setelah berdebat dengan ibunya mengenai keambiguannya. Dalam keadaan emosi, ia menjual biolanya dan merasa telah menang karena seolah membuang pengaruh ibunya. Namun selanjutnya, muncul pertanyaan dalam dirinya, mau jadi apa Louisa tanpa biola? (hal. 18)

Beruntung Jingga membelikan Louisa sebuah biola bekas. Dari biola itu, Louisa berhasil menggapai puncak karirnya di dunia musik. Ia pun menjadi diva dan memiliki nilai jual tinggi. Ia sering tampil dalam berbagai event serta membintangi berbagai iklan. Sampai Han Jo, bintang film muda yang sedang populer datang mendekatinya. Manajer Louisa, Susan Sie berusaha dengan gigih agar mereka bisa bersama. Tentu tujuan utamanya adalah meningkatkan kepopuleran Louisa dan job yang tak berhenti mengalir. Ia memahami betul teori di dunia showbiz.

Louisa yang sebenarnya tak cocok dengan wanita Tionghoa itu pun hanya bisa menurut apa saja yang dirancang untuknya. Makan malam bersama Hans Jo di premier filmnya, kencan di resto mahal, sampai membintangi FTV bersama lelaki itu. Kedekatan mereka memang menguntungkan kedua belah pihak.

Puncak dari kegilaan itu terjadi ketika Louisa selesai melakoni sebuah festival musik terbesar di Jakarta. Hans Jo melamar Louisa. Kebingungan dan ketakutan memaksa Louisa berlari menjauh dari Hans Jo. Ia tinggalkan lelaki itu dalam keterpanaan karena penolakan seperti itu. Malam itulah yang menjadi titik balik hidup Louisa.

Louisa pergi ke Semarang untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan tentang siapa sebenarnya dia. “Kromosom Anda XY, dengan level testosteron tinggi. Secara genetis Anda seorang laki-laki, namun secara penampilan fisik perempuan. Tubuh Anda mengalami syndrome kekurangan enzim alpha reductase.” kata dokter (hal. 91).

Demi mendengar itu, Louisa merasa jiwanya tercerabut. Ia melangkah tak tentu hingga Jogjakarta. Hanya berteman tas ransel dan biola, ia menggelandang berhari-hari tak peduli dengan apapun dan tenggelam dalam kebingungan yang amat sangat. “Aku seperti bisa melihat tulisan yang terpampang di setiap kening manusia yang mempertanyakan siapa aku? Apa jenis kelaminku?” (hal. 94).

Novel ini berhasil membuat kelenjar airmata saya bekerja keras. Entah mengapa saya merasa begitu dekat dengan Louisa. Kebingungan dan penderitaannya selama bertahun-tahun memaksa saya menumpahkan seluruh simpati saya padanya.
Saya juga suka sekali dengan diksi dan cara bertutur penulisnya. Simak deh, kalimat antik satu ini, “Demi Tuhan yang memutar matahari ketika siang dan menghadirkan bintang kala malam, apa yang dokter itu bicarakan sedikit pun aku tak paham.” (hal. 91)

Saya pun menemukan banyak kalimat yang bisa dijadikan quote of the day. Misalnya pada waktu Mami Louisa sudah bisa menerima ke-ambigu-an anaknya, Louisa berucap, “Pada waktu yang tepat Tuhan memberikan jalan keluar yang jauh lebih indah dari yang aku bayangkan.” (hal. 215)

Saat Louisa curhat dengan Jingga bahwa ia masih ragu untuk memilih, Jingga meyakinkan Louisa, “Mereka yang terlahir secara sempurna yang tidak boleh mengubah, namun dirimu istimewa.” (hal. 159) Pernyataan ini juga jadi semacam ‘fatwa’ dari penulisnya, bahwa ambigu sama sekali berbeda dari homoseksual, dan homoseksual dari segi manapun tetap ‘diharamkan’.

Simak juga keresahan Louisa ketika makan malam dengan Hans Jo, sampai ia berpikir bahwa, “Karpet tebal bermotif flora, set kursi berdesain art deco, gelas, piring dan sendok yang berdenting serasa memiliki mata dan mulut, yang kelak akan melaporkan perilakuku pada Susan Sie jika aku berbuat ulah malam ini.”(hal. 49)

Satu-satunya hal yang membuat saya kurang nyaman adalah alur bolak-balik yang digunakan penulis. Saya harus berpikir dulu untuk menentukan ini terjadi kapan, sekarang atau di masa lalu? Jikalau diberi tanggal, mungkin saya tidak akan alami kebingungan seperti itu. Hal lain yang membuat saya bertanya adalah, jika Louisa seorang diva yang banyak dipuja, tentu dia punya basis fans, dong. Penulis tak menggambarkan keberadaan fans-nya, hanya dikatakan Louisa punya banyak fans. Harusnya mereka mencari ketika Louisa tiba-tiba menghilang.

Overall, novel ini cukup madly inspiring dengan tema yang unordinary dan kaver yang cantik. Two thumbs up buat penulis dan editornya, serta desainer sampulnya, pasti! 

Rate: 3,8/5