Pertaruhan Cinta dan Nyawa

23459532
Sumber: Goodreads

Judul Buku : A Girl Who Loves A Ghost
Penulis : Alexia Chen
Penerbit : Javanica (PT Kaurama Buana Antara)
Penyunting : Shalahuddin Gh
Pemindai Aksara : Muhammad Bagus SM
Cetakan : I, November 2014
Tebal : 551 halaman
ISBN : 978-602-70105-4-3
Harga : Rp 80.000

Novel A Girl Who Loves A Ghost berkisah tentang seorang gadis blasteran Indonesia-Amerika bernama Aleeta Jones yang tinggal di Jakarta hanya bersama sang adik, Chle. Mum dan Dad-nya berada di Amerika untuk menjalankan bisnis dan jarang sekali pulang.

Aleeta sebetulnya membenci ‘wujudnya’ yang jauh berbeda dari orang Indonesia. Dari kecil, ia tak memiliki banyak teman sebab orang Indonesia tak terbiasa berteman dengan orang asing walau orang itu lahir dan besar di Indonesia. Berbeda dengan Chle. Gadis bermata hitam itu rela memakai lensa kontak berwarna biru dan mengecat rambutnya menjadi cokelat keemasan demi mempertegas bahwa dirinya adalah keturunan bule.

Kehidupan Aleeta biasa saja; kuliah-pulang, kuliah-pulang. Begitu setiap hari. Sampai ketika seorang cowok berwajah oriental muncul di hadapannya. Kabar buruknya, hanya Aleeta yang bisa melihat cowok tersebut, yang berarti, cowok itu bukan manusia. Jika bukan menusia, maka cowok itu adalah penampakan dari sebuah roh. Pertanyaannya, siapa roh itu, dan kenapa dia muncul di depan Aleeta?

Jawabannya, roh itu adalah Nakano Yuto, putra pengusaha kaya asal Jepang yang dibunuh dan beritanya menjadi headline sebuah surat kabar. Karena setiap pagi Aleeta membeli koran, ia pasti membaca berita itu, dan secara refleks, ia memanjatkan doa untuk Yuto, karena, sekali lagi, berdoa bagi orang-orang yang matinya kurang beruntung merupakan kebiasaannya. Bukan itu saja, rupanya Aleeta juga mewarisi bakat cenayang dari nenek buyut asli Tiongkok, Qi Yue. Lalu akhirnya, ‘plop’, muncul roh Yuto saat Aleeta memasuki gerbang kampusnya.

Roh itu mengintimidasi Aleeta, mengganggunya ketika kuliah sehingga Aleeta menjadi hilang fokus dan tidak baik-baik saja. Itu membuat Aleeta jengkel dan menyangka roh tersebut hanyalah khayalannya. Tapi yang namanya roh penasaran―yang merasa memiliki misi yang belum selesai di dunia―tak pernah berhenti sebelum tujuannya tercapai. Yuto harus menemukan pembunuhnya, dan membawa pulang Hiro, sang adik yang kabur dari rumah. Karena hanya Aleeta yang dapat melihatnya, ia tak boleh menyerah. Dan Aleeta, walau awalnya jengkel bukan main karena Yuto bertindak serupa Tuan Muda yang sombong, mau juga pergi ke Bandung bahkan Semarang untuk membantu Yuto. Kesediaan Aleeta membantu Yuto ternyata membahayakan nyawanya karena para pembunuh Yuto beralih mengejarnya.

Seperti layaknya kisah drama Korea dengan tahap-tahap bertengkar, dilanjut terpaksa menghabiskan waktu bersama, lalu muncul benih cinta, dan berakhir dengan jadian, begitu juga hubungan Aleeta dan Yuto. Mereka menyadari bahwa keduanya saling menyukai, bahkan sangat mencintai. Akan tetapi, mereka tak bisa terus bersama karena Yuto harus pergi ke tempat seharusnya dia berada seiring tuntasnya misi menangkap para pembunuh dan menemukan Hiro. Hal itu membuat Aleeta berpikiran ingin mengakhiri saja hidupnya karena tak ingin berpisah dari Yuto.

Saya bisa mengerti mengapa Aleeta begitu mencintai Yuto. Dirinya yang berbeda, memiliki sedikit teman, dan hidup jauh dari orangtua adalah alasan-alasan yang tepat dan digunakan secara efektif oleh Alexia. Saya juga memahami mengapa Yuto juga enggan meninggalkan Aleeta. Ayahnya cukup keras mendidiknya sehingga ia sudah harus mengurus bisnis yang besar di usia sangat muda, ditambah, kekasihnya merupakan orang yang suka menggoda lelaki lain. Di sisi lain, Yuto juga belum dapat menerima kematiannya. Ia akan marah jika Aleeta menyebutnya ‘hantu’.

Saya lega akhirnya Aleeta dan Yuto mau saling melepaskan. Saya bersyukur penulis menyelamatkan Aleeta dengan tidak mematikan akal sehatnya, bahwa tak ada gunanya memperjuangkan hantu dengan mengorbankan kehidupan. Di sini saya juga menangkap pesan yang luar biasa dari penulis: hargai hidupmu karena hidup di dunia hanya sekali, dan hantu, bagaimanapun kau mencintainya, bukanlah kehidupan, hantu telah kehilangan sifat kemanusiaannya. Maka kau harus mengikhlaskan jika orang yang kau sayangi meninggal. Biarkan jiwanya bebas dan pergi dalam damai.

Secara sadar, saya tak begitu tertarik dengan kisah percintaan Yuto dan Aleeta. Unik memang percintaan yang tak normal seperti itu (standar normal adalah lelaki-perempuan manusia dengan manusia. Sayangnya bahkan sesama manusia pun ada juga yang tidak normal, yaitu cinta sesama jenis). Tetapi tetap saja saya kekeuh, bahwa manusia yang berpacaran dengan hantu adalah orang gila yang perlu dinasihati dan didoakan banyak-banyak. Kata orang Jawa, kesambet. Begitulah pendapat saya tentang Aleeta. Dia kesambet Yuto.

Kisah cinta tidak normal semacam ini masih dan sepertinya akan terus menjadi favorit. Lihat saja Twilight. Edward bukanlah manusia, tapi Bella mencintainya. Dan buku tersebut jadi best seller serta film adaptasinya meraup miliaran dolar. Atau ingatlah legenda Jaka Tarub, tentang seorang pemuda yang menikahi bidadari malang. Lihat pula film White Snake asal Cina, menceritakan pemuda yang menikahi siluman ‘cantik’.
Perjalanan cinta Aleeta dan Yuto ini jadi tampak sangat menyedihkan. Semua kisah cinta yang tak bisa bersatu adalah menyedihkan, tak peduli itu manusia lelaki-perempuan, hantu atau homoseksual!

Di halaman-halaman awal buku, acap kali ditampilkan adegan perdebatan Yuto dan Aleeta yang sama-sama keras kepala. Itu cukup menjengkelkan. Saya jadi sering mengumpat, “Come on, sudahi saja pertengkaran kalian! Segera menyetir dan cepat tuntaskan misi ini!” Ada banyak penuturan maupun penggunaan istilah yang sama berkali-kali. Misalnya, ‘sialan’, ‘brengsek’, dan compound words yang mendefinisikan ekspresi wajah. Tidak membosankan, sih, tapi sebaiknya juga tidak berlebihan.
Saya berharap akan lebih banyak adegan aksi yang membuat tegang, tapi rupanya novel ini lebih fokus pada hal pertama. Namun begitu, saya suka dengan adegan pelarian Aleeta yang hendak dibunuh di hutan, penyamaran di kantor Yuto, penguntitan di tongkrongan para pembunuh serta kebut-kebutan di jalanan.

Sayangnya, saya tak bisa membayangkan Aleeta seorang bule. Sebagai bule, ia terlalu Indonesia. Saya belum pernah melihat bule yang sangat Indonesia sehingga pikiran saya menolaknya, dan saya gagal membuat gambaran Aleeta seperti, misalnya, Emma Stone yang lancar berbahasa Indonesia. Yuto juga saya rasakan tak nampak aroma Jepangnya sama sekali. Saya tak bisa membayangkan dirinya seperti, misalnya, Miura Haruma, tapi tak pernah berbicara bahasa Jepang. Budaya Jepang dan Amerika yang diekspos hanya sebatas nama Jones, Nakano, ‘well’, ‘yeah’ dan ‘sayonara’.

images
Emma Stones Sumber: Glamorous.com
miura-haruma
Miura Haruma sumber: lipstickalley.com

Ketika saya membayangkan mereka berdua seperti seharusnya mereka, saya mengalami kelelahan. Alexia kurang meyakinkan saya dalam hal ini. Mungkin saya yang terlalu primitif karena tak pernah melihat bule kecuali di Borobudur atau Kraton Yogyakarta. Jadi, saya mohon maaf jika mengalami kegagalan ketika harus membayangkan bule makan bubur, kuliah dengan anak-anak lokal, dan menjadi WNI. Saya sulit menerima itu. Karena bagi saya, bule ya di luar negeri, kalau berada di sini, mereka hanya turis.

Well, yeah, saya harus akui novel ini berhasil dalam fungsinya sebagai suatu karya yang menghibur (dengan ide cerita yang tidak ‘normal’ tadi). Mungkin ini satu-satunya cerita hantu yang tak membuat saya mengkerut. Ketertarikan dan pengetahuan Alexia pada dunia supernatural dengan manis menggelinding melalui kisah Aleeta dan Yuto. Tapi tetap saja Alexia masih berutang banyak penjelasan dengan menulis ending yang misterius. Kita nantikan saja sekuel kisah Aleeta ini.