Absurditas Senja, Hujan dan Pohon

21457131Judul Buku : Simbiosa Alina
Penulis : Pringadi Abdi Surya – Sungging Raga
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan : I, 2014
Tebal : 192 halaman
ISBN : 978-602-03-0297-3
Harga : Rp 49.000

Cinta gila dan absurd selalu menarik untuk diabadikan menjadi cerita. Dalam kumpulan cerpen ini, semua itu dapat ditemukan. Sungging Raga yang penyuka kereta dan pengagum senja serta Pringadi yang pecinta hujan menuliskannya dengan cukup apik.

Kumpulan cerpen ini merupakan karya-karya yang sudah pernah dipublikasikan di media koran dan majalah. Sungging Raga dengan cerita-cerita beraroma magis-mistis dan Pringadi yang mengusung kisah berbumbu psikologis-romantis. Duet yang menggetarkan dan―meminjam istilah Acep Zamzam Noor―membuat bulu kuduk berdiri karena ‘sengatan’ alur maupun diksi yang mengejutkan.

Membaca setengah bagian pertama (Sungging Raga), kita akan temukan bagaimana dia begitu pandai mengolah suasana yang sebenarnya biasa menjadi istimewa. Cerpennya mungkin dapat dikategorikan sebagai dongeng. Dia banyak mengangkat mitos-mitos yang tersebar di wilayah kerajaan Inggris Raya, lalu mengaduknya dengan senja, kereta, pohon dan wanita. Latar tempatnya pun mayoritas berada di wilayah London.

Pada cerpen pembuka, Simbiosa, Sungging Raga mencoba eksplorasi terhadap sebuah cinta menjadi tekanan batin bagi si pelaku utama, Dulkarip. Ia menjadi ‘gila’ lantaran cintanya dikhianati oleh si kekasih karena ia lebih memilih orang yang memberinya hidup yang lebih terjamin. Lalu mendadak, Dulkarip mampu memahami perkataan mahluk lain di luar manusia seperti pohon dan hewan. ia malah tak mampu berkomunikasi dengan manusia. Ia ‘bersimbiosa’ menjadi mahluk lain di luar dirinya.

Hampir semua tulisan Sungging Raga sangat absurd. Ia mengisahkan perjalanan sungai yang menyentil wajah-wajah kehidupan yang tak tentu ujungnya dengan simbol laut dan peristiwa yang dilewati tokoh sungai di cerpen Sepanjang Aliran Sungai. Ada juga kisah tentang kakek-nenek di stasiun Lempuyangan yang telah ‘berpacaran’ selama 120 tahun dan ‘belum’ menikah karena si nenek merasa, lagi-lagi, ‘belum’ siap.

Baca pula kisah yang aneh tentang orang yang berubah menjadi senja karena cinta yang begitu besar kepada kekasih di cerpen Senja di Taman Ewood. Atau mitos tentang perempuan yang berubah menjadi pohon saat kekasihnya tidak setia. Ia sering memakai tokoh anak kecil untuk menggambarkan bahwa mencintai tak butuh berpikir, seperti anak-anak.

Membaca setengah sisanya, bagian milik Pringadi, kita akan kembali menjadi manusia ‘normal’ walaupun tidak sepenuhnya. Pringadi memang manyajikan cerita yang lebih manusiawi, lebih dekat dengan keseharian, tentang cinta remaja dan tidak melibatkan hal magis dan sejenisnya. Akan tetapi, ia tak membuang sepenuhnya imajinasi tentang ‘keajaiban’ di luar akal. Bisa dikatakan, lebih merupakan eksplorasi terhadap psikologi tokoh-tokohnya.

Sementara Sungging Raga banyak meminjam obyek senja, Pringadi dengan deras menyelipkankan hujan sebagai pembangun suasana. Saksikan bagaimana hujan menjadi hal yang manis untuk background sebuah kisah cinta khayalan di Bait-Bait Hujan. Juga ketika hujan menghadirkan suasana sendu di Dua Kelopak Krisan yang menawan.

Selain menurunkan hujan, Pringadi gemar pula berfilosofi dan memasukkan pelajaran macam biologi, fisika atau matematika, tak lupa, teka-teki yang lucu. Hal ini mampu memberi kesan cerdas bagi cerpennya. Yang lebih menarik, ia juga bereksperimen menggabungkan kisah cinta dengan pertandingan bola. Kebanyakan cerpennya seperti puisi panjang dengan kalimat yang bisa membuat pembaca menahan napas.

Mungkin buku ini boleh dibandingkan dengan Ziarah Bagi yang Hidup milik Raudal Tandjung Banua yang juga bergaya absurd. Menyimak keseluruhan buku ini seperti menikmati secangkir kopi susu ditemani musik lembut di senja hari yang hujan. Nikmat dan tenang. Sungging Raga yang meliuk santai seperti sungai dan Pringadi dengan guyuran diksi liris, merupakan kolaborasi yang nyaris sempurna.

Jodoh Terbaik Dari Allah

Insya Allah, Sah!Judul Buku : Insya Allah, Sah!
Penulis : Achi TM
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, April 2015
Tebal : 328 halaman
ISBN : 978-602-03-1465-5
Harga : Rp 69.500

Pernikahan adalah suatu ikatan suci yang dibangun tak hanya dengan cinta, tapi juga iman. Sebuah pernikahan akan berhasil jika kedua belah pihak mengerti tujuannya, yaitu untuk membentuk keluarga yang bertakwa kepada Allah. Di bukunya yang ke-25 ini, penulis Achi TM mengusik sekaligus mengkritisi pernikahan-pernikahan yang digelar secara mewah dengan alasan ‘sekali seumur hidup’.

Tokoh utama novel ini digambarkan sebagai wanita modern yang dibikin berjarak dengan agama. Dialah Silviana, pemilik Silviana Sexy Boutique yang per bulan omzetnya mencapai miliaran rupiah. Hidup Silvi terasa lengkap sejak berpacaran dengan Dion. Di tahun ketiga hubungan mereka Silvi memutuskan bahwa Dion harus melamarnya.

Sosok Dion digambarkan juga ‘slengean’ dalam perkara agama. Pekerjaannya sebagai direktur sebuah label musik membuatnya melupakan batas-batas yang tak boleh dilampaui seorang muslim. Ia minum wine, salat jika ingat, dan mungkin tak hafal Al-Fatihah.

Sebagai penyeimbang, diciptakanlah tokoh Raka. Raka ini bekerja di kantor Dion sebagai produser lini musik islami. Ketika menuju kantor Dion untuk dilamar, Silvi terjebak di lift berdua Raka. Sepanjang gelap, Raka berdoa. Hal itu membuat Silvi jengah. Berjam-jam berada dalam gelap membuat Silvi panik dan kesal. Saking paniknya, Silvi bernazar memakai jilbab jika berhasil keluar dengan selamat.

Agar Silvi tidak nampak terlalu ‘devil’ hadir sosok Kiara sebagai sahabat yang rewel berceramah. Kiara selalu menemani Silvi di segala situasi, susah senang selalu bersama. Selama bertahun-tahun, Kiara menasihati Silvi untuk menutup aurat dan mengubah haluan desain menjadi baju muslimah. Tapi Silvi yang keras kepala tentu berpikir hal itu impossible.

Ketika tanggal pernikahan telah ditetapkan, Silvi pun mulai bergerilya menyiapkan segalanya. Namun sayang, Dion terlalu sibuk ke luar kota untuk tur Banana Band sehingga tak dapat menemani Silvi. Dion malah menyuruh Raka menemani calon istrinya itu. Dari mulai mencari suvenir, katering sampai fitting baju pengantin, semua ditemani Raka. Namun Raka meminta agar Silvi membawa muhrimnya.

Persiapan pernikahan Silvi ternyata menemu jalan yang tak mulus. Silvi dua kali ditipu ketika mengurus desain undangan dan wedding organizer. Silvi hampir frustasi karena tak ada Dion di sampingnya. Raka mengingatkan Silvi bahwa mungkin Allah mempersulit pernikahan Silvi sebab Silvi melupakan nazarnya untuk berjilbab.

Awalnya Silvi ngotot tak mau menunaikan nazarnya. Bagaimana mungkin seorang desainer baju seksi memakai jilbab? Namun hidayah Allah tak pernah salah tempat. Ia akhirnya berjilbab setelah sebagian rambutnya terbakar kompor. Hatinya kian mantap usai ikut Raka salat di masjid Istiqlal.

Sejak hari pertama ia memakai jilbab, Silvi bahkan sudah dapat merasakan kemudahan-kemudahan yang diberikan Allah, seolah semua musibah terangkat darinya. “Jilbab ini, Allah memudahkan segalanya. Padahal aku baru memakai jilbab setengah hari saja.” (hal. 243)

Namun demi mempertahankan jilbabnya, Silvi harus melalui banyak ujian. Dion mengancam akan membatalkan pernikahan karena ia tak suka perempuan berjilbab. Gina pun turut kecewa dan merusak semua baju muslimah Silvi. Ujian bertambah saat Anna muncul. Gadis itu adalah kakak kelas yang selalu mem-bully Silvi dan Kiara ketika SMA. Dengan cara licik, ia berusaha memisahkan Dion dari Silvi (hal. 275).

Namun pada akhirnya, Allah membalas keteguhan Silvi membela jilbab dengan memberikan jodoh terbaik yang tak terduga.

Novel ini menyenangkan karena ditulis dengan gaya kocak. Lewat narasi dan dialog yang laju, penulis berhasil mengajak pembaca merenungkan kembali makna berjilbab dan pernikahan yang sesuai tuntunan agama. Pembaca akan dibuat menyeringai berkali-kali karena kepiawaian penulis memindahkan kehebohan khas FTV ke dalam lembaran kertas.

Namun begitu, ada inkonsitensi yang lumayan banyak. Misalnya, di awal buku, penulis mencantumkan Papa-Mama untuk menyebut orangtua Silvi. Di sisa buku, ganti menjadi Ayah-Ibu. Tentu hal itu tak bisa dibenarkan karena menyebabkan ‘cita rasa’ yang beda walau maknanya sama.

Lalu, Dion yang digambarkan sebagai sosok eksekutif sibuk yang tak segan meminum wine dan biasa menyentuh Silvi serta menentang jilbab, tahu kata ‘ta’aruf’ ketika menyinggung Raka. Pun, penggunaan ‘Assalamu’alaikum’ yang terlalu banyak dipakai Silvi saat masih berpakaian terbuka. Saya rasa akan lebih baik jika Silvi maupun Dion dibuat ‘benar-benar’ berjarak dengan kebiasaan tersebut. Tidak perlu setengah-setengah memberikan kesan ‘buruk’ pada Dion seperti kesan ‘buruk’ yang melekat pada Gina. Juga, ada beberapa typo dan kesalahan EYD di beberapa tempat. Alangkah baik bila pemindai aksara serta penyunting memeriksa konten dan huruf-huruf tak hanya sekali dua kali.

Di atas semua kekurangannya, novel ini layak dimiliki.

PS: terima kasih mbak Achi TM atas buku ini, semoga best-seller 🙂

Spionase Amatir Sang Pelobi White House

1344088308r_The-Broker
sumber gambar: tokokomikantik.com

Judul Buku : The Broker
Penulis : John Grisham
Penerjemah : Siska Yuanita
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakah : Kedua, September 2007
Tebal : 600 halaman
ISBN : 979-22-2703-2

Sama seperti The Last Juror, Sang Broker masih berputar di sekitar wilayah hukum, namun dalam cakupan yang lebih luas dan level yang lebih tinggi. Bukan hanya sebuah kota kecil di Clanton, tapi melibatkan dunia internasional.

Novel ini berkisah tentang Joel Backman, seorang pengacara yang mengelola sebuah biro hukum bersama dua orang kawannya, Carl Pratt dan Kim Bolling.

Biro itu tumbuh menjadi biro paling berpengaruh di Washington, juga White House. Kemampuan Backman untuk melobi dan menekan berbagai pihak menjadikan banyak klien yang tersandung kasus-kasus besar memanfaatkan jasanya. Backman pun sukses berpenghasilan hingga 10 juta dolar setahun. Selama bertahun-tahun, kegiatannya yang bisa dibilang kotor itu bertahan. Sampai tiga pemuda jenius Pakistan menjadi kliennya.

Mereka telah berhasil membuat sebuah perangkat lunak yang diberi nama JAM, bisa mengendalikan 9 satelit rahasia entah milik siapa. Karena mengendus adanya potensi uang yang begitu besar, Backman meminta kawannya, Jacy Hubbard, untuk menawarkan JAM ke negara-negara seperti Saudi, Israel, dan Rusia.

Sayangnya, persekongkolan itu terbongkar FBI dan menyeret Backman serta kliennya ke pengadilan. Tiga pemuda penemu JAM telah dibunuh entah oleh siapa, lalu Hubbard juga dihabisi. Akhirnya Backman mengaku bersalah dan dijebloskan ke penjara federal. Ia mendekam di sana selama enam tahun.

Sampai di detik terakhir kepemimpinan Arthur Morgan yang payah, Backman mendapatkan pengampunan penuh dan dibebaskan. Ia dikirim oleh CIA ke Bologna, Italia dengan identitas yang baru. Rencananya, setelah Backman mapan, CIA akan menginformasikan kepada negara-negara yang memburunya; Saudi, Cina, Rusia, Israel terkait lokasi Backman untuk membunuhnya. Dengan begitu, CIA akan tahu siapa pemilik satelit rahasia yang software pengendalinya ada di tangan Backman.

Namun Backman bukan orang bodoh. Di sela-sela rutinitas baru beradaptasi sebagai Marco Lizzeri di Bologna―belajar bahasa Italia, jalan-jalan, makan di bar dan kafe―Backman menyadari bahwa ia dikirim ke sana bukan tanpa alasan. Backman mencoba menghubungi seorang anaknya, Neal Backman yang tinggal di sebuah kota kecil di Virginia, melalui surat yang dititipkan seorang wanita di stasiun. Tak mudah melakukannya karena Luigi, sang pengawas selalu membuntuti Backman.

Hingga dua bulan berlalu, negara-negara pemburu Backman mendapatkan informasi keberadaan sang broker. Dimulailah keharuan perburuan dan spionase amatir yang menegangkan di seputaran Bologna, Milano hingga Zurich. Backman berhasil kabur dari para pengejarnya―Cina, Saudi, Israel, CIA dan FBI. Ia sampai di Zurich, tempat tambang uangnya berada. Dari sana, ia mulai menyusun rencana-rencana untuk menyelamatkan nyawanya dan JAM, tentu saja.

Grisham tak hanya menulis kisah menarik tentang spionase, tapi juga mengajarkan metode untuk belajar bahasa asing. Setelah menghafal 200 kosakata, Backman belajar bahasa Italia dengan berjalan-jalan di sepanjang kota Bologna bersama gurunya, Ermanno di pagi hari dan Francessa di sore hari. Sang guru menyuruh Backman berbicara dengan polisi untuk bertanya arah, memesan berbagai menu di kafe dan menyebutkan nama benda atau kegiatan yang ditemui di jalan dengan bahasa Italia. Dalam dua bulan, Backman telah menguasai percakapan dasar serta aksen orang Italia. Learning by doing. Sangat efektif.

Saya ingin sekali mengutip sebuah kalimat ketika Backman baru saja menginjakkan kaki di Italia.

“Joel berhenti sebentar di depan tabaccheria dan mengamati dengan cepat kepala-kepala berita di koran-koran Italia, walau ia tak tahu satu patah kata pun yang tertulis di sana. Ia berhenti berjalan karena ia bisa berhenti berjalan, karena ia manusia bebas yang memiliki kekuasaan dan hak untuk berhenti berjalan kapan pun ia mau, dan mulai bergerak lagi kapan pun menginginkannya.” (hal. 97)

Kalimat tersebut menurut saya sangat lucu. Dan di sepanjang halaman-halaman dalam novel ini, pembaca akan menemukan lebih banyak lagi kalimat-kalimat lucu semacam itu. Bagaimana Grisham yang mengaku gaptek bisa menuliskan cerita tentang teknologi canggih seperti spionase, satelit, komputer dan smartphone dengan begitu menawan?
Barangkali itu adalah kesalahan, kata Grisham. Dan kesalahan itu sangat indah.

Bel lavoro, Nonno!

John Grisham dan Pesona Ahli Hukum

vlcsnap-2015-04-30-08h33m44s117Judul Buku : The Last Juror
Penulis : John Grisham
Alih Bahasa : B. Sendra Tanuwidjaja
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : II, Desember 2007
Tebal : 536 halaman
ISBN : 979-22-2598-6

The Last Juror (Anggota Juri Terakhir) adalah novel Grisham kesekian yang berkisah tentang sorang anak muda dropout dari sebuah kampus anggota Ivy League (universitas terbaik di Amerika) bernama Willie Traynor. Usianya baru saja 23 tahun ketika dia membeli sebuah koran yang telah bangkrut di sebuah county  berjuluk Ford, di kota Clanton. Nama panjang koran itu adalah The Ford County Times. Pemilik sebelumnya adalah seorang wanita berusia 90 tahun yang hidup di panti jompo, redakturnya, Wilson Claude, adalah sang anak, yang lebih suka menulis berita kematian. Karena manajemen yang buruk, Times bangkrut dan Claude pergi entah ke mana. Sebagai anak muda yang masih segar dan tak punya takut, Willie nekat meminjam uang pada sang nenek yang kaya raya dan membeli Times seharga $50,000.

Dan di bawah kepemimpinan Willie, Times selamat dari kebangkrutan totalnya, apalagi ketika sebuah kasus pembunuhan menghebohkan kota kecil itu. Rhoda Kasselaw diperkosa dan dibunuh secara brutal oleh Danny Padgitt, anak dari keluarga Padgitt―penguasa Pulau Padgitt yang menjual mariyuana dan memiliki banyak bisnis ilegal. Kejadian itu memicu kemarahan warga kota dan mereka menghendaki hukuman mati bagi orang itu. Sidang berlangsung beberapa kali, dan pada sidang terakhir, Danny Padgitt bersumpah akan membalas dendam jika juri―pada waktu itu penilai putusan adalah juri―menyatakan dirinya bersalah.
Akhirnya Danny dijatuhi hukuman ‘seumur hidup’. Dia dikirim ke penjara Parchman, yang terkenal busuk. Tapi beberapa tahun kemudian seorang mantan asisten hakim yang bertugas di sidang terakhir Danny, mendapati Danny berkeliaran bebas dengan dikawal petugas.

Hal itu membuat Willie langsung bereaksi dengan menuliskan editorial mengenai fasilitas yang diterima oleh narapidana dengan keluarga kaya, seperti Padgitt. Willie mempertanyakan sistem penjara yang timpang tersebut. Hingga setelah 8 tahun mendekam di penjara, diadakan dengar pendapat agar Danny dibebaskan bersyarat. Dengar pendapat itu diadakan tertutup. Untungnya Willie mengetahui hal itu dan mengajukan diri menjadi saksi. Ia melanggar perjanjiannya dengan menuliskan hasil dengar pendapat tersebut. Danny batal untuk dibebaskan karena Willie bersaksi dengan begitu keras dan membeberkan fakta-fakta yang mengejutkan Dewan pembebasan.

Setahun kemudian, dengar pendapat tersebut diadakan kembali. Danny akhirnya bebas karena bisa berkelakuan baik selama masa hukuman, dan dianggap sanggup mempertahankannya ketika bebas.

Setelah Danny bebas, terjadi pembunuhan atas dua juri, mereka tewas ditembak dari jarak jauh. Sedangkan satu orang lagi, yaitu Mrs. Maxine Root selamat dari percobaan peledakan dengan bom. Hal itu membuat Sherrif yang baru terpilih menangkap Danny yang dicurigai sejak awal untuk balas dendam. Ketika Danny disidang untuk kasus itu, seorang penembak jitu memecahkan kepala Danny dan menembaki kota. Ia diketahui sebagai Hank Hooter setelah menembak dirinya sendiri. Hooter merupakan penderita skizofrenia yang juga kekasih Rhoda. Ia menembak ketiga juri itu karena mereka menentang pemberian hukuman mati bagi Danny (Waktu itu Hank Hooter bekerja sebagai asisten Jaksa). Kasus pun tuntas.

Willie berusaha dengan gigih agar Times kembali mendapatkan banyak pelanggan. Berbeda dengan redaktur terdahulunya, Willie berani menuliskan berbagai hal secara sensasional. Ia juga berani untuk menulis profil mengenai wanita kulit hitam yang berhasil membesarkan 8 anak, 7 di antaranya Ph.D. Wanita tersebut adalah Miss Callie, yang nantinya akan menjadi teman terbaik bagi Willie, dan menjadi anggota juri terakhir yang dipilih Jaksa.

Willie mengelola koran mingguannya itu dengan mengambil banyak keputusan yang tepat. Ia tak segan menyuarakan pandangannya terhadap apa saja yang terjadi di Clanton, juga mengobarkan semangat antiperang (dengan Vietnam). Penjualan Times yang dulunya hanya 1.200 eksemplar, di tangan Willie berhasil mencapai penjualan hingga 5.000 bahkan 6.000 eksemplar. Sampai sepuluh tahun, ia akhirnya menjual Times seharga 1,5 juta dollar.

***

Membaca John Grisham berarti membaca banyak kesenangan, detail dan kecerdasan. Rasanya memang setiap penulis yang berhasil memiliki ketiganya; serta spesialisasi dan Griham terlihat begitu ahli dalam menulis novel bidang hukum. Apakah jika Grisham menulis di luar tema itu akan terlihat konyol? Sementara ini belum saya ketahui, karena novel ini adalah novel Grisham pertama yang saya baca. Pernyataan saya terkait spesialisasi Grisham di meja hijau berdasar pada pernyataan Grisham sendiri,

“Saya tidak bisa menulis sebagus beberapa penulis lain; bakat saya adalah menghadirkan cerita yang baik tentang ahli hukum. Di situlah saya betul-betul menguasai.”

Di samping itu, Grisham juga seorang pensiunan pengacara dan mantan politikus AS. Di tangannya, pengadilan jadi tempat yang sangat menarik dan ahli hukum tampak mempesonakan akal. Di novel ini tokoh utamanya Willie Traynor, seorang jurnalis. Berita bagusnya, Willie dikelilingi orang-orang yang sudah mengerti banyak mengenai hukum-hukum. Henry Fox, pengacara perkawinan; Baggy, penggosip yang suka nongkrong dengan para pengacara; dan Ernie Gaddis, jaksa penuntut yang begitu getol menjatuhkan tuntutan seberat-beratnya.

Narasi yang dilontarkan Grisham mengocor seperti keran, kalimat-kalimat komentar penuh dengan kelakar, dan alur mengalir lancar. Seluruh elemen yang disyaratkan dalam sebuah novel dipenuhi seluruhnya, bahkan digarap dengan sempurna. Gaya bercerita Grisham ini saya temukan juga ditiru oleh banyak pengarang Indonesia.

Walau begitu saya belum menemukan siapa yang dimaksud ‘The Last Juror’ oleh Grisham, apakah Miss Callie ataukah Mrs. Maxine Root, yang menjadi korban ketiga sekaligus terakhir percobaan pembunuhan juri? Saya juga cukup kecewa karena pelaku penembakan tiga juri bukan Danny Padgitt.

Ketika Kemanusiaan Kian Runtuh

BuWGB8GIAAAG23y.jpg largeJudul: Juragan Haji

Penulis: Helvy Tiana Rosa

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 181 halaman

Terbit: Agustus 2014

ISBN: 978-602-03-0831-9

Harga: Rp 40,000

Membaca kedelapan belas cerpen Helvy Tiana Rosa, sastrawan pendiri Forum Lingkar Pena ini memberi keasyikan tersendiri. Mayoritas cerita yang ditampilkan mengeksplorasi kesengsaraan dalam perang, konflik daerah, terorisme dan bencana. Beberapa yang lain bertemakan perempuan-perempuan yang tak pernah kehilangan asa. Kumpulan cerpen ini pernah diterbitkan pada 2008 dengan judul Bukavu. Tahun 2014, kumcer ini kembali diterbitkan ber-bareng-an dengan momen ibadah haji sehingga Juragan Haji paling tepat diambil sebagai judul.

Masing-masing cerpen sangat kuat dalam narasi dan alur. Helvy begitu piawai membentuk kalimat puitis dengan diksi yang menakjubkan. Sepakat dengan Putu Wijaya dalam komentarnya,

Sebuah cerpen tak sanggup membatalkan Helvy Tiana Rosa dari seorang penyair” (hal. 174).

Jadi, walau sebagian besar cerita dalam kumpulan ini menyimpan tragedi yang berdarah-darah, di tangan dingin Helvy semua cerita mengalir tanpa rasa takut dan ngeri. Seolah kita hanya membaca puisi yang lebih panjang dari biasanya.

Tragedi kemanusiaan menjadi tema pokok buku ini. Helvy memotret luka-luka dari berbagai negara yang kedaulatannya dinodai atau pun limbung dikoyak perang saudara. Dapat kita simak contohnya pada cerpen Lorong Kematian. Penggambaran kekejaman tentara Serbia yang tertawa-tawa membantai warga sipil Bosnia, sangat menyentuh sisi kemanusiaan kita. Tentara-tentara itu menembaki mereka bagai menembak hewan buruan.

Jod terus berburu. Domba-domba jatuh. Ayam-ayam menggelepar. Rintihan mereka menyayat segala, juga bulan. Tetapi tak sedikitpun menyentuh hati Jod dan anak buahnya” (hal.130).

Rwanda menjadi latar berikutnya yang kisahnya juga menyayat hati. Kivu, sebuah daerah di Zaire harus menjadi saksi atas kekejaman perang saudara dua suku di Rwanda. Para pengungsi hidup dengan teramat menyedihkan di Kivu. Mereka kelaparan tanpa bantuan dan menjadi incaran burung pemakan bangkai (hal. 154). Namun, dalam sebuah duka tetap ada keindahan yang tersembunyi. Ialah seorang perempuan berkerudung dengan kondisi mengenaskan tapi tetap istiqamah dalam tahajud di sepinya malam (hal.159). Cerpen berjudul Kivu Bukavu ini dinarasikan oleh tokoh sebuah danau, yang pada tahun 1957 dipuji sebagai yang terindah oleh Ernest Hemingway.

Palestina tak luput menjadi obyek cerita yang wajib disertakan. Hingga Batu Bicara merupakan cerpen Helvy yang sangat terkenal tentang Palestina. Cerpen mengharukan ini terinspirasi dari sebuah hadis Nabi,

“Kiamat tak akan datang sampai tiba pertempuran kaum Muslimin dengan Yahudi. Hingga seluruh batu bicara dan memberitahu bahwa ada Yahudi yang bersembunyi di belakangnya.” (hal. 78).

Tentang rasa kebangsaan, Helvy menyinggungnya dengan sangat apik dalam Ze Akan Mati Ditembak. Bercerita mengenai Ze, remaja yang sudah tahu bahwa akhirnya ia akan mati juga dengan jalan ditembak seperti ayahnya dan warga Lorosae (Timtim) lainnya. Cerpen berlatar kemerdekaan Timtim ini sangat mampu membuat pembaca menangis haru akan kesadaran Ze tentang rasa mencintai tanah air dan kerinduan terhadap perdamaian. Simaklah gumam terakhirnya kala benar-benar diberondong tembakan oleh tentara CNRT,

“Tahu apa mereka? Tahu apa Australia itu? Akulah Ze. Akulah Lorosae!” (hal. 52).

Dalam buku ini, kita dapat juga membaca Lelaki Kabut dan Boneka serta Jaring-Jaring Merah. Keduanya menjadi dokumentasi penting atas dua tragedi yang terjadi di negeri ini, bom Bali 2002 dan Rumoeh Geudong di Aceh pada tahun 1998. Cerpen lain yang ber-setting Indonesia, Lelaki Semesta, yang bercerita tentang Abu Bakar Ba’asyir dan bagaimana ketika ia dituduh menjadi teroris yang melahirkan banyak teroris. Helvy menulisnya begitu liris, penuh simbol dan tak menyebut nama secara frontal.

Tentang girl power, Helvy menyematkannya dalam beberapa judul, semisal Cut Vi, yang berkisah tentang kegigihan seorang mahasisiwi memperjuangkan hak-hak warga Aceh tanpa kenal lelah dan takut.

“Bismillah saja. Aku bicara, aku menulis. Aku menyampaikan kebenaran di mana aku bisa. Tak harus ditentukan tempatnya.” (hal. 3)

Walau akhirnya ia meninggal terseret tsunami, namun perjuangan Cut Vi mampu menginspirasi lelaki yang dicintainya.

Baca pula Peri Biru. Cerpen ini mengisahkan gadis miskin bernama Peri yang tanpa pendidikan formal memadai berkeinginan menjadi penulis besar. Ibunya menjanda ditinggal sang ayah, sedangkan kakak tirinya, Sri, menderita cacat mental. Peri bekerja sebagai pembantu namun berhenti sebab majikannya berlaku banal. Tanpa melupakan keinginannya menjadi penulis, ia memutuskan bertolak ke Hong Kong menjadi TKW.

“Ya, entah di negeri mana, entah sampai kapan, aku harus terus berjuang untuk menumbuhkan sayap, menulis dan menghidupkan dongengku sendiri.” (hal. 121)

Sementara Juragan Haji, yang dijadikan judul kumpulan ini, adalah potret kontradiksi antara dua kutub strata sosial. Mak Siti, 70 tahun, yang begitu rindu ingin berangkat ke tanah suci, harus berhadapan dengan majikan yang berkali-kali berangkat haji tapi sayang perilakunya tak sesuai dengan gelarnya. Cerita Mak Siti semakin pilu karena ibunya di kampung, berusia 85 tahun lebih, juga memendam rindu yang sama (hal. 72).

Beberapa judul lain juga tak kalah menarik untuk disimak. Titin Gentayangan misalnya, yang menceritakan gadis galau karena kekasihnya menikahi gadis lain. Ia mencoba bunuh diri namun selalu gagal. Ada pula Mencari Senyuman yang berbentuk lakon. Boleh juga direnungi kisah pahlawan muda Banjar, Demang Lehman, dalam Idis. Imaji kekacauan konflik yang mengerikan dapat tersaji dengan elok dalam Pulang dan Darahitam.

Melalui cerpen-cerpen dalam kumpulan ini Helvy mengatakan secara gamblang maupun tersirat bahwa di balik konflik, memang ada intervensi dari pihak yang ingin mengadu domba. Buku ini bernilai sastra tinggi. Sangat pantas dibaca kembali untuk mengingatkan kita agar teguh menghargai kemanusiaan. Mengajak kita merenungi betapa besar kerugian yang ditimbulkan oleh sebuah kebencian dan lunturnya kesadaran untuk mengasihi sesama manusia.

*Resensi ini diikutkan dalam Lomba Resensi Forum Lingkar Pena 2015 dalam rangka Milad FLP ke-18. Pernah dimuat di Kabar Probolinggo, 16 Januari 2015. Ditulis kembali dengan berbagai perubahan.