Deteksi Penyakit Melalui Bau Napas dan Bau Tubuh

Sinyal Bahaya Dari TubuhJudul Buku : Sinyal Bahaya dari Tubuh
Penulis : Sheila Wijaya
Penerbit : Flashbooks
Cetakan : I, Maret 2015
Tebal : 148 halaman
ISBN : 978-602-255-827-9
Harga : Rp 28.000

Dalam merespon adanya penyakit, tubuh memiliki berbagai cara yang unik. Tubuh akan mengeluarkan sinyal jika sebuah penyakit menempel pada tubuh. Bau napas dan bau tubuh adalah dua di antara cara tubuh memberikan sinyal kepada kita bahwa ada suatu penyakit serius yang sedang kita alami. Bau khas yang menguar dari napas dan tubuh seseorang dapat digunakan untuk mendeteksi beberapa penyakit kategori berat seperti diabetes, kanker paru-paru, gagal ginjal, atau kanker hati.

Mungkin kita akan heran, bagaimana bisa bau napas dan bau tubuh dapat dijadikan patokan adanya suatu penyakit? Berdasarkan penelitian terbaru dari Karolinska Institutet, Swedia, yang dipublikasikan jurnal Psychological Science, manusia mungkin dapat mengetahui penyakit lewat bau, yaitu bau napas atau setidaknya bau keringat. Penelitian tersebut melibatkan 8 orang sehat yang sebagian disuntik dengan zat racun dan sisanya dengan air garam (yang tak berefek). Hasilnya, potongan kaus orang yang disuntik zat racun memiliki bau yang lebih menyengat dibanding orang yang disuntik dengan air garam (hal. 6).

Bau napas (halitosis) sering diakibatkan adanya kerusakan pada organ mulut seperti karies gigi, sariawan, juga diakibatkan oleh konsumsi makanan yang berbau tajam seperti petai. Bau napas dapat pula disebabkan oleh gangguan pada lambung yang menguarkan gas dan dikeluarkan lewat napas. Jika seseorang memiliki bau napas tidak sedap, ia tetap harus waspada. Bisa jadi, itu adalah tanda adanya penyakit.
Tim peneliti dari sebuah rumah sakit di Italia menemukan tes yang cukup akurat untuk mendeteksi penyakit kanker lambung lewat bau napas. Akurasi tes berkisar di angka 76%. “Teknologi tersebut didasarkan pada teori bahwa tumor memproduksi sejumlah zat organik yang ditemukan dalam napas penderita” (hal. 23-24).

Orang yang menderita penyakit diabetes biasanya memiliki bau napas seperti pernis kuku. Diabetes merupakan penyakit ketika tubuh kekurangan insulin, yang bertugas mengubah zat gula menjadi energi. Apabila insulin tidak mencukupi, maka akan menimbulkan timbunan kadar gula dalam darah dan terjadilah diabetes (hal. 41).

Sementara bau napas yang mirip amonia sering dialami pada penderita kanker paru-paru. Kanker paru-paru adalah pertumbuhan sel kanker yang tak terkendali dalam jaringan paru-paru. Penyakit ini sering diakibatkan oleh rokok atau akibat terpapar asap rokok (perokok pasif). Kanker paru-paru merupakan kanker yang berbahaya dan mematikan karena menyerang organ inti yang mengatur pernapasan (hal. 61-2). Pengobatan penyakit ini biasanya menggunakan radioterapi, kemoterapi atau pembedahan.

Penyakit lain yang dapat dideteksi lewat bau napas adalah radang amandel. Penderita penyakit ini memiliki bau napas seperti telur basi. Radang amandel banyak disebabkan oleh virus dan konsumsi makanan yang mengandung pengawet. Untuk mengatasi penyakit ini, penderita dapat menggunakan obat tradisional seperti ramuan jeruk nipis, tanaman jarong, kapulaga dan akar bunga pukul empat (hal. 93).

Selain lewat bau napas, kita juga dapat mendeteksi adanya gangguan kesehatan melalui bau tubuh. Misalnya pada penderita kanker kulit (melanoma), tubuhnya akan berbau menyerupai bensin. Melanoma dapat muncul pada kulit normal atau berupa tahi lalat (mol). Jika Anda memiliki mol yang semakin besar, harap waspada dan segera memeriksakan diri ke dokter. Untuk menghindari penyakit kanker kulit, kita harus mengurangi kontak langsung dengan paparan sinar ultraviolet di atas pukul 10 pagi dan menghindari memakai kosmetik yang berbahan karsinogen (zat pemicu kanker).

Penulis menguraikan secara lengkap tentang penyakit-penyakit yang dapat dideteksi dengan bau napas dan tubuh, penyebab, gejala dan cara pengobatannya. Selain itu, buku ini juga dilengkapi cara-cara pencegahan agar kita terhindar dari penyakit-penyakit tersebut. Tindakan pencegahan tentu berbiaya lebih murah dibanding mengobati penyakit, yang terkadang tak kita sadarai keberadaannya.

Berolahraga secara teratur akan meningkatkan peredaran darah dan membakar lemak berlebih. Mengkonsumsi buah-buahan dan sayuran yang berwarna juga dapat meningkatkan kekebalan tubuh. Mengontrol pola makan selalu seimbang dan menghindari alkohol serta junk food juga efektif untuk mencegah berbagai penyakit datang. Istirahat cukup dan menjauhi begadang sangat bermanfaat untuk menjaga kesehatan hati. Tidur awal dan bangun awal pun diyakini dapat meningkatkan kinerja otak. Akhirnya, kondisi kesehatan sangat bergantung pada bagaimana seseorang menjalani gaya hidup dan pola makannya.

Meloakkan Hati yang Patah

Pameran Patah HatiJudul Buku : Pameran Patah Hati
Penulis : Mini GK
Penerbit : Ping
Cetakan : I, Maret 2015
Tebal : 204 halaman
ISBN : 978-602-255-836-1
Harga : Rp 36.000

Ode selalu bermusuhan dengan Yosinta semenjak SMP, tak pernah akur sedetik pun. Ever, teman rekat Yosinta hanya bisa melerai ketika keduanya berkelahi dan saling jambak. Setiap hari, ada saja hal yang diributkan mereka. Namun sebenarnya, permusuhan itu hanyalah bentuk kekesalan Yosinta.

“Pada kenyataannya ini hanyalah permusuhan sepihak. Hanya Yosinta yang menganggap Ode saingannya. Tidak sebaliknya.” (hal. 91)

Yosinta kesal karena dirinya dan Ode selalu menyukai orang yang sama, yaitu guru mereka sendiri. Ever sebagai sahabat tak lelah menasihati Yosinta untuk berhenti menyukai orang dewasa dan tidak lagi melakukan hal konyol di masa sekolah. Yosinta tak mengindahkan nasihat sahabatnya, bahkan ia dan Ode kembali berkelahi di mal gegara berebut parfum (hal. 46).

Kebencian Yosinta memuncak ketika tahu Ode terpilih mewakili sekolah dalam olimpiade bahasa Inggris. Yosinta yang sudah menguasai hampir semua mata pelajaran tak rela jika Ode selangkah lebih maju dari dirinya. Apalagi setelah Ode memutuskan untuk ikut bimbingan belajar demi memperbaiki nilai-nilainya. Di sana, mereka kembali naksir dengan orang yang sama, yaitu Atlas, tanpa tahu bahwa orang itu adalah kakak Ever.

Kakak Ode, Enko sedang merajut kisah cintanya dengan Dipati. Enko adalah tipe orang yang tak mudah curiga dan selalu berbaik sangka kepada orang lain. Ode yang membenci Dipati tidak sengaja melihat pria itu berkencan dengan orang lain. Sementara itu, Atlas masih berusaha untuk move on dari sang mantan, seorang gadis cantik keturunan India. Sampai kemudian ia bertemu Enko dan jatuh cinta pada gadis itu, tanpa tahu siapa sesungguhnya Enko.

Sebuah konser amal membuka semua tabir rahasia itu. Enko akhirnya menyaksikan sendiri Dipati sedang berkencan dengan seorang perempuan yang ternyata sahabatnya. Ode yang juga berada di sana melabrak dan menyerang Dipati. Sementara Atlas yang sedang memotret konser itu, baru mengetahui jika Enko adalah kakak Ode, anak didiknya di bimbingan belajar.

Ever yang jengah terhadap sikap Yosinta yang bak seorang putri, mulai menyadari bahwa ia menyukai Ode. Ia pun terkejut karena Ode merupakan adik dari Enko, penulis idolanya. Yosinta yang masih menyimpan kebencian pada Ode, berusaha mencelakai Ode dengan memasang pensil di jalan agar Ode terjatuh. Namun kejadian itu justru mendekatkan Ode dengan Ever ketika Atlas menyuruh adiknya itu mengantar Ode pulang (hal. 176).

Hubungan Atlas dengan Enko sendiri makin dekat setelah mereka bertemu kembali di sebuah pameran yang diisi oleh orang-orang patah hati yang meloakkan barang-barang kenangan bersama sang mantan. Dengan perjuangan seorang lelaki patah hati, akhirnya Atlas berhasil merebut hati Enko. Ever yang hatinya masih utuh pun tak gentar membujuk Ode menerima cintanya (hal. 203).

Kisah tentang patah hati ini menarik, sayangnya belum tereksekusi dengan baik. Penulis masih terjebak untuk menghadirkan kejutan-kejutan klise yang barangkali disediakan demi memperkokoh bangunan cerita namun terkesan hanya menyodorkan informasi semata. Jumlah karakter utama yang diciptakan juga terlalu banyak untuk buku dengan tebal hanya 204 halaman. Banyak juga adegan dan dialog yang terlalu lambat, misalnya ketika Ode bertengkar dengan Yosinta di tangga, atau ketika Ever belajar bersama di rumah Yosinta.

Adegan pameran pun sangat kurang dalam eksplorasinya. Ia hanya menunjukkan bahwa judul buku ini terinspirasi dari sana. Penulis seperti tak menawarkan hal baru dalam pemaknaan terhadap ‘patah hati’. Jadi, hanya menyuguhkan adegan demi adegan yang bernuansa ‘patah hati’, tanpa eksplorasi yang cukup kuat mengapa mereka, para karakter dalam novel ini, mengalami ‘patah hati’. Inkonsistensi antara judul dan isi cerita novel inilah yang agak kurang dapat dinikmati.

Satu hal yang patut dipuji dalam novel ini adalah kemampuan penulisnya untuk membuat ketegangan cerita dan menambah dosis penasaran pembaca akan akhir kisah masing-masing karakternya, walaupun sudah bisa ditebak.

Belajar Cinta di Singapura

Learning from ButterfliesJudul Buku : Learning From Butterflies
Penulis : Karina Nurherbyanti
Penerbit : Ping!!!
Cetakan : I, Maret 2015
Tebal : 244 halaman
ISBN : 978-602-255-835-4
Harga : Rp 38.000

Olga adalah mahasiswa fashion di Lasalle, kampus seni ternama di Singapura. Ia tinggal satu apartemen dengan kawan dari almamater yang sama, Enggar. Mereka berdua sama-sama berwatak ceria dan gaul. Setiap hari, Olga aktif stalking di blog Juandra karena terpikat dengan tampilan, postingan dan foto-foto editan karya cowok itu. Juandra sendiri merupakan anak mathematical science yang kuliah di kampus bergengsi NTU.

Juandra adalah anak genius yang pernah menang olimpiade matematika dengan IQ 140. Sifatnya tak seperti para genius pada umumnya, ia cerewet, gaul dan suka bersenang-senang. Tak heran, tiap ada kesempatan bersama Olga, Juandra bisa menyulut pertengkaran dengan gadis itu. Perkenalan mereka sebenarnya diawali oleh sahabat Juandra, Salman, yang menyukai Enggar. Salman mengorek informasi tentang Enggar dari Olga. Beberapa kali mereka berempat juga bertemu dalam acara yang diadakan PPI (hal. 81).

Sifat Juandra yang ceplas-ceplos itu adalah ekspresi akibat tak bisa melawan kehendak sang ayah, yang selalu mengekang anak-anaknya dan menomorsatukan nilai-nilai akademik. Riwayat keluarga lulusan kampus ternama dunia menjadikan ayahnya begitu mengagungkan kecerdasan. Apalagi dirinya profesor di kampus terfavorit negeri ini. Sang ibu hanya bisa membela kedua anaknya. Sementara Juandra begitu kagum pada adiknya, Junika, yang punya keberanian untuk menentukan pilihannya sendiri.

Dalam masalah cinta, Olga dan Juandra sama-sama terkendala oleh sang mantan. Olga sering sekali diteror oleh Alam, mantannya ketika SMA. Cowok itu memaksa Olga untuk kembali menerima dirinya. Sementara Juandra masih diharapkan oleh Mariska, mantan yang diputuskan dengan alasan LDR (hal. 129).

Perlahan tapi pasti, Juandra dan Olga menyadari bahwa mereka saling suka. Apalagi anak-anak PPI suka berolok-olok bahwa mereka berdua sangat cocok jika jadi pasangan. Namun Juandra tak juga memiliki keberanian menyatakan perasaannya. Bahkan, ia menyuruh seorang temannya untuk membelikan sekotak egg tart, makanan kesukaan Olga. Sampai ketika mereka harus pulang ke tanah air karena urusan keluarga dan tiba masa liburan, Olga yang lebih dulu membeberkan isi hatinya pada Juandra.

“Pipi Juandra memerah. Belum pernah ia mendapatkan pujian yang semanis ini dari cewek mana pun. Mariska hanya memuji kemampuan matematikanya, tetapi tidak pernah dengan suara selembut Olga sekarang.” (hal. 198)

Baik Juandra maupun Olga sama-sama belajar banyak hal di pulau Singapura. Tak hanya menjadi dewasa dengan tinggal jauh dari rumah, mereka juga belajar bagaimana mencintai seseorang dengan tulus apa adanya, tak berdasarkan kecerdasan atau hal-hal given lainnya.

Ide cerita novel ini sebenarnya menarik, sayang penggarapannya berlebihan. Novel ini terlalu banyak berisi percakapan sehari-hari, banyak memuat hal-hal kurang penting serta dialog yang mubazir. Penggunaan bahasa Inggris yang begitu banyak dalam dialog maupun narasi juga membuat pembaca cepat lelah―untuk menerjemahkan dan mengikuti percakapan tokoh-tokohnya. Penulis sering pula menjejalkan berbagai informasi dalam kalimat-kalimat panjang yang membuat pembaca semakin ngos-ngosan.

Mayoritas tokoh yang digambarkan berasal dari kelas sosial atas juga menjadikan novel ini terkesan begitu melangit dan tak terjangkau pembaca kalangan menengah ke bawah. Namun buku ini sarat informasi mengenai kehidupan mahasiswa luar negeri, khususnya Singapura. Penulis sendiri adalah mahasiswa yang sedang menjalani kuliah di Curtin University, Singapura. Diperkaya juga dengan nama-nama kampus favorit di beberapa negara yang bisa jadi referensi bagi siapa saja yang berminat berkuliah di luar negeri.

Tayang di wisata-buku.com 25 April 2015 http://bit.ly/1GxlZTx

Ketika Cinta Tak Bisa Diatur!

AcakadutJudul Buku      : Cinta Acakadut

Penulis             : Furqonie Akbar

Penerbit           : Ping!!!

Cetakan           : I, Maret 2015

Tebal               : 220 halaman

ISBN               : 978-602-255-834-7

Harga              : Rp 36.000

Furqonie Akbar, penulis buku ini, mengklaim dirinya sebagai cowok ganteng yang naasnya jarang beruntung jika tersangkut cinta. Buku ini adalah pembuktian kebenaran pernyataan tersebut. Dengan gaya bercerita informal dan acakadut, penulis membeberkan berbagai permasalahan ketika sepasang kekasih dipertemukan dan bagaimana menjalani percintaan mereka. Diperkaya hasil pengamatan dan pengalaman penulis, menjadikan buku ini mencapai ketebalan yang ideal.

Penulis mencoba menjabarkan ‘teori-teori’ tentang hubungan percintaan anak muda. Teori pertama adalah mengenai jenis-jenis hubungan. Hubungan percintaan dapat terjadi dengan tetangga, dengan anak satu kabupaten, hubungan long distance relationship, sekadar gebetan, dan cinta lokasi yang masing-masing memiliki sisi positif dan negatifnya.

Teori selanjutnya adalah mengenai siklus sebuah hubungan. Biasanya, hubungan asmara diawali dengan naksir lawan jenis. Lalu dilanjut dengan berkenalan, pedekate, lantas berubah status menjadi gebetan. Setelah menyadari adanya kecocokan, kemudian terjadilah pacaran. Saat dua orang menjalin pacaran, akan ada kemungkinan untuk putus. Jika itu terjadi, maka status terbaru seseorang yang baru putus adalah mantan kekasih. Dalam keadaaan seperti itu, dia bisa memutuskan untuk segera move on atau malah gagal dan selalu mengenang mantan.

Mengenai alasan mengapa orang terkadang gagal move on, penulis menjabarkannya secara lengkap. Alasan-alasan itu misalnya karena mantan terlalu cantik atau ganteng, terlalu banyak kenangan yang dilalui, terlalu banyak memberi, trauma dengan hubungan, dan masih menyimpan perasaan sayang kepada mantan. Dilengkapi pula dengan perbandingan plus minusnya.

Tak semua orang memiliki pacar. Ada beberapa orang yang tak punya pasangan alias jomblo. Spesies jomblo sendiri menurut penulis ada beberapa macam. Yang pertama adalah jomblo sejak lahir, di mana jomblo jenis ini adalah tipe pemilih. Lalu ada pula jomblo baru putus, jomblo karena kurang pede, jomblo apes yang selalu gagal dengan cinta, serta jomblo gagal move on yang masih terkenang mantannya.

Selain menuliskan pengamatannya terhadap berbagai hubungan percintaan, penulis juga menuliskan kisah percintaannya dengan beberapa orang wanita. Dari semua kisah itu, tak ada satu pun yang berhasil. Penulis mengalami beberapa kali putus, baik itu putus baik-baik maupun putus yang menyakitkan. Ada juga pengalaman cinta pertama dan PHP yang diilhami oleh beberapa teman penulis. Kesimpulan yang diambil penulis adalah bahwa cinta itu adalah suatu hal yang acakadut dan tidak bisa diatur sesuka hati.

Semua kisah dan ‘teori’ dalam buku ini ditulis dengan gaya kocak nan lucu, sehingga walaupun kisah-kisah itu tergolong biasa, tapi mampu membuat pembacanya terkekeh atau minimal tersenyum. Secara teknis, buku ini tak jauh beda dengan buku-buku sejenis yang telah banyak beredar. Gaya penulisan ‘gue-elo’, penggunaan bahasa tak baku, dan cerita-cerita tentang patah hati telah banyak kita baca.

Menilik isinya, buku ini belumlah dapat dibilang menyamai tulisan Raditya Dika. Karya-karya RD lebih memiliki bobot dan menawarkan perspektif baru yang dibungkus banyolan. Namun buku ini patut diberikan apresiasi karena kemampuan penulis untuk menawarkan karya yang cukup menghibur. Untuk dapat menulis sebaik Raditya Dika, penulis harus lebih banyak berlatih dan memperluas bahan bacaan agar tulisan selanjutnya lebih punya bobot.

Dimuat di Indoleader.com 15 April 2015 http://bit.ly/1DswF10

Menemukan Kedamaian di Rumah Lavender

10174817_732842026736533_5219836689608575191_n
sumber gambar: fanspage penerbit

Judul Buku : The Lavender House
Penulis : Joceline F. Jana
Penerbit : Diva Press
Cetakan : I, Mei 2014
Tebal : 204 halaman
ISBN : 978-602-255-532-2

Amanda adalah seorang anak yatim piatu yang tinggal di rumah Maggie, sebuah rumah yang menampung anak-anak tanpa orangtua. Rumah itu terletak di Worrundani, kota kecil di barat laut Melbourne.
Amanda berusia 7 tahun ketika tiba di rumah itu dengan diantar oleh pengacara ibunya, Pak Collins. Amanda sudah berpindah beberapa kali dalam rumah penampungan sebelum diantar ke rumah Maggie, yang akan menjadi persinggahannya yang terakhir di masa remaja. Di rumah itu, anak-anak datang dan pergi setiap waktu; diadopsi atau kedatangan anak-anak baru.

Maggie merupakan wanita yang sangat mengutamakan pendidikan. Ia begitu hati-hati dalam mendidik anak-anak asuhnya. Ia tak pernah berkata keras atau membentak mereka. Namun ia juga orang yang sangat disiplin. Setiap anak harus mengerjakan tugas rumah yang telah dibagi-bagi. Setelah itu, mereka akan pergi ke sekolah yang dikelola seorang wanita bernama Deakan.

Pada suatu hari, tibalah seorang anak baru bernama Stacey. Gadis kecil inilah yang nantinya akan menjadi sahabat rekat Amanda. Stacey ditempatkan dalam ruangan yang sama dengan Amanda. Dia membantu tugas Amanda mengambil telur ayam di kandang. Bahkan, ia bisa merawat halaman belakang dengan lebih baik dari siapapun. Stacey adalah anak pendiam yang kehilangan keceriaan karena kehidupannya yang buruk.

Di usia 17 tahun, Amanda bertemu Pak Collins yang menyerahkan surat dan sejumlah uang dari mendiang ibunya. Dari Pak Collins itulah Amanda mengetahui bagaimana ibunya yang sebenarnya, kakek neneknya, dan arti Amanda bagi sang ibu.
Ketika lulus SMA, Amanda harus pindah ke Melbourne karena mendapatkan beasiswa kedokteran di universitas terbaik di sana. Stacey yang sangat bergantung pada Amanda tak kuasa berpisah dengan sahabatnya itu. Masa lalunya yang kelam bersama sang ibu yang dipenjara membuatnya sedikit emosional dan pernah sekali memukul teman di sekolah.

Amanda tak menyerah untuk terus membujuk Stacey agar tegar dan selalu berpikiran positif. Walaupun awalnya sulit, tapi akhirnya Stacey berhasil menemukan pengertian bahwa dia dapat menjadi orang yang memandang hidup ini sebagai sesuatu yang harus disyukuri. Ia pun kuliah di kota kelahirannya dan beberapa tahun kemudian pindah ke London. Stacey memiliki karier yang cemerlang di bidang keuangan.

Amanda sangat bangga dengan perubahan hidup Stacey. Amanda sendiri berkarier di sebuah rumah sakit di Melbourne. Dedikasinya begitu tinggi terhadap pasien sampai tak sempat mengambil libur.
Beberapa waktu berlalu, Maggie pun meninggal karena penyakit yang dideritanya. Amanda yang menganggap Maggie adalah wanita super merasa sangat hancur. Maggie meninggalkan warisan untuk Amanda dan Stacey berupa sejumlah uang.

Merasa perlu melakukan hal baru, Amanda mengambil cuti selama enam bulan. Ia membeli sebuah rumah di sebuah desa kecil di Vietnam. Rumah itu merupakan sebuah kelenteng tua yang pernah ditinggali oleh beberapa generasi orang-orang terhormat, dan penghuni yang terakhir adalah seorang biksu.

Amanda menata ulang rumah tua itu, dengan terlebih dulu meminta izin dari para tetua. Di desa itu, tradisi sangat terjaga, bahkan rumah pun harus sesuai tradisi. Desa itu terkenal dengan sebutan Desa Ungu, karena seluruh rumah di daerah itu dicat dengan warna ungu.

Amanda bertemu dengan Jake, seorang pembuat video dokumenter tentang berbagai daerah di seluruh dunia. Ia belum menikah karena takut meninggalkan keluarganya dalam waktu yang lama. Dibantu Jake, Amanda merenovasi rumahnya di beberapa bagian.

Sampai suatu hari, Amanda dikejutkan oleh berita kematian Stacey. Stacey menjadi korban tembak beberapa penjahat di kereta bawah tanah di London. Hal yang lebih mengejutkan lagi, Stacey ternyata telah memiliki putra, yang kemudian diminta tinggal bersama Amanda.

Benjamin, anak itu masih berusia tujuh tahun. Tetapi pemikirannya sangat cerdas dan sikapnya pun dewasa. Pakaian yang ia punya pun kebanyakan bergaya pria dewasa. Amanda jatuh hati pada Ben. Anak itu sangat mirip dengan Stacey. Rasa sakit kehilangan Maggie dan Stacey perlahan terobati dengan kehadiran Ben.

Amanda memantapkan hati untuk tinggal di Vietnam selamanya. Ia telah menemukan kedamaian bersama Ben dan Jake, yang akhirnya dinikahinya. Rumah mereka kemudian dikenal sebagai Rumah Lavender, yang sering didatangi para turis karena kedamaian yang disuguhkan di sana.

Kisah yang ditulis ala novel terjemahan ini cukup layak untuk dibaca. Penggambaran yang detail dan cerita yang unik menjadi kelebihan buku ini. Kekurangannya, saya temukan banyak kalimat yag rancu dan tak efektif.

Ada beberapa kalimat menarik yang perlu saya tuliskan di sini.
“Tidak ada yang lebih menyedihkan dibandingkan harus mengubur anakmu sebelum kamu di dalam tanah.” (halaman 23)
“Menjadi seorang anak kecil seperti diriku, sepertinya aku tidak melihat alasan mengapa kami tidak dapat melakukan sesuatu bersama-sama.” (halaman 35)
“Kamu mungkin hanyalah seseorang di dunia ini. Tetapi bagi orang lain, kamu mungkin adalah dunianya.” (halaman 37)
“Terbiasa tinggal di sebuah lingkungan yang sederhana; datang ke sebuah kota merupakan sebuah tantangan besar. Aku tidak yakin aku akan betah tinggal di kota.” (halaman 45)
“Jika saja mau bangkit dan bergerak, mungkin perubahan-perubahan akan datang.” (halaman 92)
“Aku memberanikan diriku keluar dari kamar tidur, aku membuka pintu dan memulai petualanganku.” (halaman 135)
“Terkadang aku merindukannya. Tetapi aku tahu dia sekarang sudah berada di tempat yang lebih baik.” (halaman 182)
“Jika kau mencoba untuk melihat lebih jauh, terkadang mungkin kamu akan menemukan apa yang kau cari.” (halaman 183)

Peringatan Dini Bagi Para Istri

Cover Dosa-Dosa Istri yang Dibenci Allah Sejak Malam PertamaJudul Buku : Dosa-Dosa Istri Yang Paling Dibenci Allah Sejak Malam Pertama
Penulis : Masykur Arif Rahman
Penerbit : Diva Press, Yogyakarta
Cetakan : I, Januari 2015
Tebal : 224 halaman
ISBN : 978-602-279-140-9
Harga : Rp 35.000
Nasib sebuah rumah tangga, apakah akan menjadi surga atau neraka, tergantung pada sang istri. Istri yang berpegang teguh pada syariat adalah penyejuk mata bagi suami dan anak-anaknya. Dia adalah orang yang selalu ada untuk memenuhi kebutuhan keluarga akan kasih sayang dan kebutuhan lain yang sudah menjadi kewajiban seorang istri.

Kedudukan suami sangat mulia dalam rumah tangga. Nabi menegaskan dalam sebuah hadist, “Andai boleh kuperintahkan seseorang untuk bersujud kepada yang lain (selain Allah), tentu kuperintahkan seorang istri untuk bersujud kepada suaminya.” Ini membuktikan bahwa hak suami atas istri sangatlah besar (hal. 47).
Walaupun begitu, Allah juga menjanjikan surga bagi istri yang taat pada suaminya. Istri salihah boleh memasuki surga dari pintu mana saja yang ia kehendaki. Bisa dibilang, menjadi istri (yang salihah) adalah jalan paling istimewa dalam meraih surga Allah.

Untuk menjadi istri salihah, seorang wanita dituntut memahami hak-hak suami. Sang istri harus mengerti batasan-batasan yang tidak boleh bahkan haram dilampaui oleh seorang istri agar terhindar dari murka dan siksaan Allah. Banyak jalan bagi seorang istri meraih surga, sekaligus juga sangat rentan mendapat murka dan siksa Allah (hal. 5).
Buku ini membahas secara lengkap hal apa saja yang bisa mengundang murka Allah pada seorang istri. Ada 57 macam dosa istri yang dipaparkan buku ini, dari yang paling ‘ringan’ seperti tidak minta izin ketika keluar rumah, hingga yang paling berat yaitu membunuh suami.

Setelah menikah, istri sepenuhnya milik suami. Nabi pernah bersabda bahwa yang paling berhak atas diri seorang wanita adalah suaminya dan bukan lagi orangtuanya (hal. 47). Maka sudah menjadi kewajiban istri untuk mendahulukan kepentingan suami di atas kepentingan orangtua.

Seorang istri harus ingat bahwa tujuan utama pernikahan adalah menambah keimanan dan ketakwaan pada Allah (hal. 90). Ia seyogyanya berhati-hati agar tidak melakukan hal-hal yang bisa menyakiti suami. Buku ini bisa jadi pengingat agar istri bisa menjauhi kemungkinan yang tidak diinginkan tersebut.

Dimuat Kabar Probolinggo, Rabu, 11 Maret 2015.

Membangun Mimpi di Terminal Hujan

Judul Buku      : Terminal Hujan

Penulis             : @hQZou (Haqi Fadillah)

Penerbit           : de Teens, Yogyakarta

Cetakan           : I, Februari 2015

Tebal               : 232 halaman

ISBN               : 978-602-255-810-1

Harga              : Rp 38.000

Novel ini ditulis berdasarkan pengalaman penulisnya sebagai pengajar komunitas Terminal Hujan, sebuah sekolah independen di Bogor, dan memiliki dua karakter utama yaitu Valesia atau Ica, mewakili kaum muda yang peduli akan pendidikan kaum marjinal, dan Farah, yang merupakan potret anak miskin dengan semangat belajar yang tinggi.

Cerita diawali pertemuan Ica dengan seorang anak putus sekolah yang baru pulang memulung sampah. Ica yang hatinya mudah tersentuh menjadi gundah. Berbekal pengalamannya mengajar di berbagai sekolah independen di Jakarta, dia berniat mendirikan sebuah sekolah yang bisa menolong anak-anak di kota kelahirannya, Bogor, mendapatkan pendidikan.

Beruntung Ica dipertemukan dengan Umi Hasna, seorang dokter yang giat memberikan pendidikan bagi anak-anak Kampung Jukut, sebuah kampung kecil di kota Bogor. Ica pun mulai ikut mengajar. Bahkan, Umi Hasna menyerahkan anak-anak kepada Ica dan memintanya meneruskan perjuangannya (hal. 54).

Dibantu Maya, sahabat yang bervisi sama dengannya, Ica mengumpulkan teman-teman alumni SMA untuk ikut membantu mengajar. Mereka kemudian berunding untuk menyusun program serta kurikulum ajar. Setiap hari Minggu, Ica dan teman-temannya menjalankan sekolah yang kemudian dinamai Terminal Hujan (hal. 61). Walau hanya menumpang di kantor kelurahan, Ica cs tak pernah kehabisan semangat.

Sementara itu, Farah terpaksa mengamen demi mengumpulkan uang untuk membawa ayahnya yang sakit kanker hati ke rumah sakit. Farah mengikuti Tisa, seorang anak jalanan yang kehilangan kedua orangtuanya karena kebakaran. Mereka menjadi sahabat yang rekat. Berdua, mereka menelusuri angkot demi angkot serta jalanan kota Bogor demi mendapatkan receh. Mereka pun sempat berkenalan dengan Ica yang memberikan uang dua puluh ribu rupiah (hal. 40).

Akibat mengamen dan tidak belajar, nilai Farah turun dan harus tinggal kelas. Ibunya berang dan mencap Farah anak bodoh. Di hari lain, ibu Farah memergoki Farah sedang mengamen. Farah diseret pulang. Mereka bertemu Ica yang baru pulang dari Terminal Hujan. Bersama Tisa, Ica mencoba menyelamatkan Farah. Tisa menjelaskan alasan Farah mengamen. Ibunya terkejut dan tak menyangka Farah melakukan itu untuk membantu sang ayah. Namun sayang, ayah Farah tak bisa bertahan dan meninggal (hal. 99).

Selepas musibah itu, Farah―yang dahulu sudah ikut belajar bersama Umi Hasna―mulai belajar di Terminal Hujan. Ia yang tinggal di kelas 2 ternyata masih kesulitan membaca dan berhitung. Dengan amat sabar, Ica mengajari Farah dengan berbagai metode. Farah sempat menyerah dengan ‘kebodohannya’. Namun, berbekal keinginan untuk membanggakan ibu dan mendapat beasiswa sembako dari Terminal Hujan, Farah tak menyerah. Ia belajar dengan keras setiap hari. Malahan, Farah sempat sakit karena belajar hingga larut malam. “Saat ibunya sudah pergi tidur, Farah masih terjaga. Meski banyak materi pelajaran yang tak dipahaminya, Farah tetap memaksakan diri berkutat dengan buku-bukunya.” (hal. 132).

Usaha Farah yang keras itu belum membuahkan hasil. Ia hampir saja kehilangan semangat. Namun Ica kembali memberinya harapan, bahwa bukan nilai yang menjadi tujuan, tapi bagaimana menikmati proses kerja keras untuk meraihnya (hal. 140).

Dengan semangat baru, Farah kembali belajar dengan giat, bahkan ikut les tambahan yang diperuntukkan bagi kelas 6. Ia selalu ingat janjinya pada para pengajar Terminal Hujan, “Farah janji akan belajar giat. Farah ingin membahagiakan Bapak-Ibu. Farah ingin membanggakan kakak semua.” (hal. 122).

Pada akhirnya, Farah berhasil meraih rangking 3 pada semester berikutnya. Ia juga berhasil membawa pulang beasiswa dari Terminal Hujan. Dalam epilog novel ini, diceritakan Farah kembali bertemu Tisa yang ternyata masih memiliki keluarga, yaitu paman satu-satunya. Dua sahabat itu pun kembali bersama dan membangun mimpi di Terminal Hujan (hal. 226).

Membaca novel ini, kita diajak menyelami hati untuk lebih peduli pada nasib pendidikan anak-anak yang kurang beruntung. Kita juga disadarkan agar tak perlu menjadi sempurna dulu untuk mulai menghidupkan semangat tolong-menolong.

dimuat Koran Jakarta, Senin 16 Februari 2015.

sumber gambar: Facebook penerbit.