Virginitas Dan Pertaruhan Pernikahan

B-67aSKUoAAPy3g

Judul Buku : Sejujurnya Aku
Penulis : Aveus Har
Penerbit : Bentang
Cetakan : I, Maret 2015
Tebal : 214 halaman
ISBN : 978-602-291-081-7
Harga : Rp 54.000

Ini adalah novel ketujuh dari seorang novelis yang juga berprofesi sebagai penjual mi ayam, Aveus Har. Mas Har―begitu ia biasa disapa―menjadi buah bibir banyak orang setelah sempat diberitakan media televisi dan muncul di sebuah acara talkshow. Naskah ini merupakan pemenang lomba novel dengan tema wanita muda di penerbit Bentang tahun 2013.
Buku ini menceritakan seorang wanita muda, Charista, yang memutuskan menerima pinangan seorang pria mapan bernama Nathan. Charista jatuh hati pada Nathan setelah membaca komentar pria itu dalam hal memandang virginitas seorang wanita.

“Aku tidak menilai seorang wanita dari virginitasnya semata. Yang penting saling mencintai dan semua akan baik-baik saja.” begitu bunyi komentar Nathan di Gloria, majalah yang redaksinya dipimpin oleh Charista (hal. 19).

Hal itu sangat mengesankan Charista karena ternyata wanita itu memiliki rahasia yang rapat disimpannya. Di masa remaja, Charista pernah melakukan kebodohan yaitu menyerahkan virginitasnya pada sang pacar, Farel. Sampai usianya 29, Charista belum juga dapat melupakan Farel yang merupakan cinta pertamanya.

Pada akhirnya Charista menikah dengan Nathan. Namun menjelang pernikahan mereka, seseorang menanamkan ketakutan dalam benaknya. Ia adalah sahabatnya semasa SMA, Navilla, yang juga mantan pacar Farel. Ia berpendapat bahwa komentar Nathan hanya pencitraan di balik label perusahaannya. Perbincangan dengan Navilla dan Eirin, sahabatnya yang lain membuat Charista merasa gamang dan menganggap Nathan tak beda dengan lelaki lain yang hanya terpesona oleh tampilan fisik.
Maka setelah melangsungkan pernikahan, Charista makin meragukan keputusannya menikahi pria itu.

“Jika sebuah pernikahan adalah pertaruhan hidup wanita, aku akan bertaruh dengan kartu buruk di meja yang tidak memiliki peluang kemanangan.” (hal. 108)

Ia pun melakukan hal konyol seperti menunda hubungan suami istri dengan berbagai alasan. Lalu dengan dikompori Navilla dan Eirin, Charista menjebak Nathan dalam perselingkuhan supaya Charista dapat menemukan cela suaminya. Pada saat itu, Farel berusaha memasuki kembali kehidupan Charista dengan memberikan janji pernikahan jika Charista bercerai dengan Nathan.

Charista baru menyadari bahwa Farel tak berubah dan hanya menginginkan tubuhnya dengan merayunya di sebuah hotel. Untung saja Nathan segera datang dan menghajar Farel. Peristiwa itu sekaligus membuktikan bahwa cinta Nathan pada Charista tulus tanpa cela. Ia menikahi wanita itu bukan karena dorongan hasrat semata, tetapi memang karena keyakinan bahwa Charista adalah gadis yang tepat untuknya.

Tema pernikahan sebagai sebuah pertaruhan bagi seorang wanita digarap dengan cukup baik oleh penulis. Penulis memasukkan tipe lelaki ideal melalui sosok Nathan yang tak bercela. Selama 35 tahun, ia berhasil menjaga kesuciannya. Ia tak berminat main-main dengan wanita yang dekat dengannya. Melalui lembaga pernikahan, ia sangat mendukung seks secara legal. Ia juga tipe lelaki sempurna yang mencintai tanpa mempermasalahkan masa lalu pasangannya. Ketika mengetahui kekurangan Charista, Nathan tidak marah atau menuduhkan keburukan pada istrinya. Hal yang ia khawatirkan justru Charista tak mencintainya.
Sedangkan Charista adalah gambaran perempuan masa kini yang terjebak kebodohan masa lalu dan ingin memperbaikinya. Secara psikologis, ia menyimpan trauma dan ketakutan akan penolakan dari lelaki yang mensyaratkan keperawanan sebagai hal pertama yang harus dimiliki seorang wanita jika ingin dinikahi, terlepas dari kemungkinan bahwa banyak pula lelaki yang sudah tidak perjaka.

Secara teknis, Aveus Har berhasil menggarap cerita bertema sensitif dengan begitu manis. Romantisme diracik dengan bumbu intrik dosis pas sehingga naskah ini memiliki daya gugah yang membangkitkan penasaran di setiap kelok alurnya. Ending novel ini pun cukup menggelikan, dan tentu mampu menjadi penutup yang sempurna. Selamat membaca!

Iklan

[Baca Bareng 2015 – Februari – Profesi] Passion Dalam Pekerjaan

28 DetikJudul Buku : 28 Detik Penulis : Ifa Inziati Penerbit : Bentang Belia, Yogyakarta Cetakan : I, November 2014 Tebal : 230 halaman ISBN : 978-602-1383-03-2 Harga : Rp 54.000 Novel ini adalah tentang kopi beserta para pembuatnya dan diceritakan lewat penuturan sebuah mesin espresso. Nama mesin itu Simoncelli. Karena mesin itu benda mati dan benda mati nggak mungkin bisa pindah sendiri, jadi setting novel ini cuma muter-muter aja di dalam sebuah kedai kopi. Tokoh yang paling banyak diceritakan bernama Candu, seorang penyuguh kopi yang bekerja di sebuah kedai kopi di kota Bandung. Nama kedai itu KopiKasep, yang pemiliknya sooooo Sunda. “Nama boleh Jacob, tapi hati mah tetep Sunda asli!” kata pemilik kedai, yang biasa dipanggil Pak Jac. Tetapi, dalam buku ini Pak Jac nggak pernah kelihatan dagunya, sebab selalu diceritakan berada di luar negeri. Dia muncul sekali saja dalam ‘memori’ Simoncelli, tentang suasana di masa lalu. Kembali ke Candu. Jadi, Candu ini adalah barista (pembuat kopi) utama di KopiKasep. Dia terkenal dengan kecintaannya yang besar terhadap kopi. Ambisinya menjuarai kompetisi barista nasional tahun ini, yang disebut NBT atau Nusantara Barista Tournament. Pokoknya, Candu tak pernah bisa memikirkan hal lain di luar kopi. Di kepalanya hanya ada kopi, kopi, dan kopi. Mungkin seperti saya yang tak bisa memikirkan hal lain di luar buku, buku, dan buku :p. Di KopiKasep, Candu nggak sendiri. Ada juga Satrya, barista yang jago bikin latte art, Winona as waittress, Sery si chef yang diam-diam suka sama Candu, serta Nino, admin KopiKasep yang mengurus publisitas KopiKasep di dunia antah berantah. Oh, ya, nggak lupa dong sama Simoncelli, si mesin espresso yang jadi narator di buku ini. Jadi, mereka berlima hidup dalam damai (berantem, diskusi ngalor ngidul, bercanda ria) sampai ketika Rohan datang. Dia kemenakan Teh Cheryl (teman Pak Jac yang juga seorang ahli kopi berstandar―dalam buku ini dijuluki ‘Q-Grader’). Rohan murid SMA internasional kelas Pre-U2 (pre university), setara kelas 12. Rohan seorang jenius yang sangat jago Fisika, kilat dalam menghafal, dan pernah dikalungi medali emas di olimpiade sains. Diketahui dia juga seorang sinestesia tipe grapheme to color, yang kasusnya 1:1.000 kalau tidak salah. Overall, Rohan cewek kece nan keren. Candu yang masih jomblo jelas suka dong, walau awalnya menganggap Rohan menyebalkan dan belagu. Mereka berdua jadi dekat ketika Teh Cheryl menitipkan Rohan buat nunggu dirinya pulang kerja di sore hari. Hari demi hari terlewat mereka mulai merasakan adanya ‘cinta’. Rohan juga menginspirasi Candu menemukan resep signature drink buat jadi senjata memenangkan turnamen. Setiap hari mereka ngobrolin banyak hal, paling banyak sih tentang passion-nya Candu dengan kopi dan kehampaan hidup Rohan yang belum juga nemuin apa passion dia. Pengetahuan Candu tentang kopi adalah yang paling lengkap di KopiKasep. Dia sudah ahli membedakan asal kopi, ciri-cirinya, dan juga perkembangan kopi di Indonesia.

“Kalau kita perhatikan, cuma Indonesia yang punya spesies kopi terbaik, teknik mengolah terbaik, dan peminum kopi terbaik.” (halaman 66) “Tanah di negara kita memiliki komposisi dan kandungan mineral yang berbeda dengan tanah di negara lain. faktornya bisa cuaca, iklim dan sebagainya. Seperti budaya yang membesarkan kita, unsur dalam tanah itu juga membesarkan biji kopi dengan rasa yang bervariasi.” (halaman 65-66)

Yang jelas, cinta Candu pada kopi berawal dari bisnis orangtuanya. Ia ingin mengembalikan kopi seperti ketika kedai orangtuanya masih ada sebelum tergerus kebangkrutan.

“Di dalam kopi, ada cinta orangtua saya. Cinta kami. Saya tidak mungkin meninggalkannya. Saya ingin punya kedai sendiri. tidak usah besar, seperti KopiKasep saja. asal ada saya, keluarga saya dan orang-orang yang menikmati kopi buatan saya. Itu sudah cukup.” Katanya pada Rohan (hal. 134).

Hal itu menunjukkan bahwa Candu memilih berprofesi sebagai barista karena memang dia mencintai kopi biarpun dirinya berijazah Teknik Fisika ITB. Candu bisa hidup bahagia dengan hanya punya kedai kecil walau jika dia mau, dia bisa saja bekerja di perusahaan besar dengan membawa nama kampusnya. Jadi, ketika kita menemukan seseorang yang punya gelar Doktor atau Dokter tapi memilih bekerja di pedalaman, maka bisa dipastikan orang tersebut punya passion yang kuat untuk membantu sesama. Novel ini sebenarnya bermaksud mempopulerkan kopi dan keunikannya, seperti yang ditulis Ifa di twitternya. Tapi juga tetap gencar membahas passion. Tentang perasaan cinta terhadap sesuatu yang diperjuangkan. Kisah cinta Rohan dan Candu malah nggak terlalu mengesankan. Ifa juga kurang detail dalam penggambaran fisik para tokoh. Saya nggak bisa membayangkan bagaimana rupa Candu yang ditulis berkulit eksotis, atau Rohan yang hanya dijelaskan sebagai cewek cantik, Nino yang berkulit putih, dan seterusnya. Hanya karakter Rohan yang ‘beda’ itu yang menarik perhatian saya. Satu lagi, klimaks yang cukup thriller sewaktu Rohan disidang karena jadi biang kerok kekalahan Candu di turnamen. Tapi novel ini tetap saya gemari, kok. Mengapa? Karena unik. Narator yang berupa benda mati, judul bab yang mengambil step-by-step pemrosesan kopi serta gambar-gambar lucu sebagai ilustrasi. Dan yang terpenting, cara Ifa bertutur. Cukup cerdas dan sesuai dengan gelarnya yaitu sarjana sains. Bila menilik daftar bacaannya di Goodreads, saya yakin sampean setuju dengan keahlian Ifa yang satu itu. Well, novel ini dapat dikategorikan ke dalam banyak genre: sains, romance, dan profesi. Ifa membidik tema yang sedang ngetren saat ini. menjadi barista saat ini adalah pilihan profesi yang cukup keren bagi kalangan anak muda. Salut!Banner_BacaBareng2015-300x187