Menemukan Cinta Di Danau Toba

toba_dreams1
Cover cetakan pertama sumber: website penerbit

Judul Buku : ToBa Dreams
Penulis : TB Silalahi
Penyunting : Farahdiba Agust
Pemindai Aksara: Muhammad Bagus SM
Penerbit : Exchange
Cetakan : II, April 2015
Tebal : 248 halaman
ISBN : 978-602-72024-6-7
Harga : Rp 49.500

ToBa Dreams bercerita tentang seorang tentara yang baru saja pensiun bernama Sersan Tebe. Usai masa bertugas selesai, Sersan Tebe berencana membawa keluarganya kembali ke kampung halamannya di desa Tarabunga, di tepi danau Toba. Ia ingin kembali ke Medan karena ingin membangun desanya dan hidup damai secara sederhana.Sersan Tebe adalah potret prajurit yang berdedikasi dan memiliki idealisme tinggi. Ia memegang teguh nilai-nilai sebagai seorang prajurit.

Ronggur si anak sulung yang tabiatnya keras sama sekali tak menyetujui rencana kepindahan itu. Ia tak mau hidup apa adanya, di samping ia tak mau berpisah dari pacarnya, Andini yang beragama Islam. Namun sang ibu berhasil meyakinkan anaknya itu. Ronggur pun berjanji pada Andini akan kembali.

TOBADREAMSFILM
Poster Film Toba Dreams yang juga menjadi cover buku cetakan kedua sumber: wikipedia

Setelah beberapa bulan pindah ke Tarabunga, Sersan Tebe berhasil membuat kampungnya lebih sehat dan teratur. Ia berkali dicalonkan menjadi kepala desa namun selalu menolak. Sementara Ronggur memutuskan kabur dari rumah dengan bantuan Togar, sepupunya yang periang.

Ronggur kembali ke Jakarta dan bekerja sebagai supir taksi milik Tommy, sahabatnya sejak SMP. Sampai kemudian ia dijebak penumpang yang tertarik keahliannya. Penumpang itu rupanya seorang mafia narkoba. Hati kecil Ronggur yang jujur menolak untuk bergabung. Sampai ketika ayah Andini menghina dirinya serta ayahnya yang miskin, Ronggur sangat marah. Ia kehilangan akal sehatnya dan menerima tawaran geng mafia tersebut untuk membuktikan bahwa ia bisa sukses. Ronggur menjadi andalan bosnya dalam operasi yang berbahaya. Dalam waktu singkat, Ronggur mendapatkan apa yang ia mau, kekayaan yang melimpah.

Ia membawa kabur Andini dari orangtuanya dengan cara licik. Di Tarabunga, keduanya menikah dengan cara Kristiani. Mereka lalu pindah ke Jakarta dan dikaruniai seorang anak bernama Choky.

Ronggur bertekad untuk keluar dari jerat mafia narkoba. Ia pun membuka beberapa bisnis dan bermain di bursa saham. Namun rupanya Bonsu, sang mafia narkoba, tak bisa melepaskan Ronggur begitu saja. Sekali bergabung maka tak bisa keluar.
Tindakan Ronggur menyebabkan Andini meragukan cinta suaminya. Karena tak ingin kehilangan kepercayaan Andini, Ronggur melakukan pembunuhan terhadap Bonsu. Pembunuhan itu memunculkan dendam dan mengakibatkan Ronggur harus kehilangan nyawa ketika kabur dan bersembunyi di kampung halamannya.

Secara konten, novel ini membawa pesan yang begitu kaya. TB Silalahi menuliskan kehidupan seorang tentara dari sudut pandang tentara. Pembaca akan rasakan semangat dan keharuan Sersan Tebe ketika mengabdi menjadi prajurit. Pembaca juga akan melihat bahwa kecintaan setiap ayah begitu besar pada anak-anaknya. Sersan Tebe menaruh harapan besar pada Ronggur. Namun harapannya harus kandas karena Ronggur memilih jalan hidup lain yang membawanya pada kematian.

Konflik keluarga itulah yang menjadi jiwa buku ini. Pencarian Ronggur akan harga diri di depan sang ayah serta keluarga Andini menjadi semacam kunci yang membuka semua peristiwa dalam cerita. TB Silalahi secara langsung memberikan clue bahwa komunikasi yang sehat di antara anggota keluarga sangat penting agar tak terjadi kesalahpahaman. Ronggur merasa sang ayah tak menyayanginya, padahal yang ada justru sebaliknya. Melalui kisah Ronggur, penulis yang mantan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara menegaskan bahwa meraih impian harus dilakukan dengan cara yang benar.

Pesan lain yang cukup penting adalah bagaimana menerima perbedaan yang acapkali menimbulkan permusuhan. Sersan Tebe dengan lapang hati menerima keyakinan menantunya yang berbeda dari keluarganya. Bahkan, Sersan Tebe menemani Choky mengaji di mushala dan memberi anak itu kopiah kenang-kenangan dari seorang raja ketika Sersan Tebe bertugas di Sulawesi.

Bicara teknis, memang masih banyak kalimat-kalimat yang terasa kaku. Penulis masih menulis dengan cara biasa, runut dan hati-hati. Tapi hal itu tak mengurangi kesenangan membaca novel ini. Film adaptasinya sendiri telah tayang di layar lebar dan dibintangi Vino G. Bastian, Mathias Muchus, dan Marsha Timothy. Di buku cetakan kedua ini, penerbit menyertakan foto-foto dari filmnya yang dapat menimbulkan daya gugah lebih pada kisah Sersan Tebe.

Selamat membaca dan menikmati karya baik ini.

Iklan

Karena Cinta Tak Hanya Soal Merasa

cover 4 Musim Cinta source mandewi
source: situs Mandewi

Judul Buku : 4 Musim Cinta
Penulis : Mandewi, dkk
Penyunting : Endah Sulwesi
Penyelaras Akhir : Shalahudin Gh
Pemindai Aksara : Muhammad Bagus SM
Penggagas Sampul : Maulana Hudaya Putra
Pendesain Sampul : Sihar M Panggabean
Pemilik Bibir Di Sampul: Noni Rafael
Penata Letak : desain651@gmail.com
Penerbit : Exchange
Cetakan : I, April 2015
Tebal : 332 halaman
ISBN : 978-602-72024-2-9
Harga : Rp 59.500

Sungguh menggembirakan telah lahir sebuah karya seperti 4 Musim Cinta ini. Novel keroyokan adalah sebuah terobosan. Tetapi novel ini bukan yang pertama, sebab sudah banyak beredar di luar sana novel yang ditulis lebih dari satu tangan dengan cara bertutur yang serupa ini.

Lalu apa yang membedakan dan membuat novel ini baik dibaca?

Pertama, gambar bibir di sampul muka adalah godaan bagi siapa saja yang punya stok penasaran tinggi untuk membukanya. Kedua, buku ini ditulis oleh PNS. Sebagaimana kita semua tahu, PNS adalah profesi favorit namun citranya kurang begitu baik, apapun itu, yang kelihatannya PNS impossible jika menulis buku. Tapi rupanya buku ini mematahkannya, bahwa pemikiran semacam itu adalah sesat. Ketiga, kita sudah agak capai dengan buku-buku fiksi yang sepertinya lebih banyak membuat pembaca mati bosan. Maka sudah sepantasnya kita bersyukur atas anugerah terbitnya buku ini. Keempat, ya ampun, bagaimana kita bisa melewatkan tulisan Pringadi Abdi Surya? Dan setelah membaca tuntas buku ini, ternyata Mandewi, Puguh, dan Abdul Gafur juga memiliki mantra yang bisa membuat pembaca tak sadarkan diri *alah wisss

4 Musim Cinta merupakan novel yang merekam cuplikan perjalanan cinta 4 orang abdi negara yang dipertemukan oleh sastra. Lembang adalah tempat yang selalu diingat mereka dengan kenangan-kenangan akan rahasia masing-masing. Dari tempat itulah, benih-benih persahabatan, bahkan cinta mulai tumbuh di sela-sela acara apresiasi sastra yang diadakan kantor pusat Ditjen Perbendaharaan, tempat mereka bernaung mengabdikan diri. Keempatnya lalu akrab dan dekat sebagai sahabat.

Gayatri gadis Bali yang di mata Arga begitu cerdas dan efisien, bagi Gafur merupakan sahabat yang hebat, dan bagi Pring adalah gadis manis yang menarik dan mempesonakan.

Kisah cinta berliku lalu terjadi. Pring yang ditinggal istri kuliah pascasarjana merasa begitu kesepian, ia cemburu pada kuliah istrinya. Bertemu Gayatri membuatnya tergoda untuk menoleh. Pring mencoba ‘bermain’ dengan mengandalkan sisi puitiknya. Sialnya, Gayatri pun baru saja kehilangan 2 orang terkasihnya: sang ayah yang meninggal dunia dan sang pacar yang menikahi orang lain. Ia sempat berpikir bahwa tak mungkin ia bertahan dengan dua luka sekaligus. Namun puisi-puisi dan pesan-pesan dari Pring yang datang beruntun rupanya berhasil menyembuhkan dan memikatnya. Ia pun jatuh cinta pada lelaki itu.

“Mata laki-laki di sekitarku jauh berbeda dengan matamu. Di mata mereka aku hanya melihat angka-angka. Matamu berbeda. Di kedalamannya aku melihat puisi, pantai, lembah, dan pancuran bambu kecil dengan bunyi air yang gemericik. Suatu kelenturan yang mencoba mencairkan kebekuan di dadaku.” (hal. 315)

Gafur adalah cowok Makassar yang dipindahtugaskan di Kendari. Sang pacar, Dira, harus ia tinggal di Jakarta. Hubungan mereka dekat sekali, keduanya saling mencintai. Namun sayang, hubungan itu tak mungkin berlanjut ke pelaminan karena Dira tak berniat menikah. Masa lalu yang buruk di keluarganya memaksa ia menyimpan trauma terhadap pernikahan.

“Cinta hanya perlu cinta, Gafur. Dan saling percaya. Tidak perlu pengumuman. Juga kertas yang distempel.” (hal. 155)

Arga adalah cowok ceria yang naasnya, selalu gagal mempertahankan hubungan cinta. Ia sudah dua kali patah hati, lalu harus mengalami patah hati yang ketiga ketika menaruh harapan pada Dira. Arga tak tahu bahwa Dira merupakan pacar Gafur, sahabatnya sendiri. Dira pun tak tahu jika kedua pria yang mencintainya itu bersahabat. Pertengkaran pun pecahlah.

“Ini semua tak adil bagiku. Hidup adalah soal pilihan-pilihan. Namun, mengapa aku seolah tak punya pilihan, karena menu yang dihidangkan semua tentang kekecewaan. Kalaupun ada bonus, hanya semanguk luka berbumbu harapan yang siap mengejutkan penikmatnya.” (hal. 308)

Mengutip kata Pring pada Gayatri, “Semesta akan bekerja lebih banyak dari kita. Apa kau tahu, Gayatri, bahwa di dalam diri kita juga ada semesta? Biarkan saja ia yang bekerja.” (hal. 262), maka semesta mengakhiri kisah mereka dengan baik-baik. Dira pergi menghilang, menyisakan perih di hati Gafur dan Arga. Pring kembali pada sang istri dan membuat Gayatri merasa dirinya tak ditakdirkan untuk siapapun.

Secara teknis dan isi, buku ini bisa menjadi salah satu karya terbaik tahun ini, hanya saja saya cukup keberatan dengan sifat karakter-karakternya. Misalnya, Gafur yang dengan entengnya menyebut kebiasaannya bermasturbasi dan tidur dengan wanita-wanita, kesetiaan Pring yang begitu tipis, atau Dira yang bersedia tidur dengan semua pacar-pacarnya. Tak jarang saya berucap ‘ya ampun’ ketika mendapati bagian-bagian seperti itu.

Cinta yang dimiliki kisah buku ini adalah hal yang membuat orang pintar jadi bodoh. Lihatlah mereka berempat, siapa yang meragukan intelegensi mereka, berkutat dengan angka-angka setiap hari, pastinya hanya orang dengan intelegensi tinggi yang bisa melakukan itu. Namun saat cinta menumbuhkan harapan, atau harapan itu tak tersampaikan, mereka menjadi orang yang sama sekali berbeda. Pring tergoda gadis lain, Gayatri memutuskan mencintai pria beristri, Arga kehilangan pengendalian diri karena patah hati lagi, dan Gafur juga tak pandai mengontrol hasratnya. Intelegensia masih ada, tapi telah rebah kalah oleh sebuah rasa berjuluk ‘cinta’.

Baguslah pada akhirnya mereka mengerti, bahwa cinta itu tak sekadar merasakan indahnya, ada hal lain yang berkait paut dengan cinta yang kadang lebih penting dari cinta itu sendiri, yakni kesetiaan, rasa hormat, persahabatan, dan penerimaan. Seperti sabda Gafur, “Hidup, hanyalah tentang perkara mengatasi kekecewaan.”

Remarkable work, Officers.

Jodoh Terbaik Dari Allah

Insya Allah, Sah!Judul Buku : Insya Allah, Sah!
Penulis : Achi TM
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, April 2015
Tebal : 328 halaman
ISBN : 978-602-03-1465-5
Harga : Rp 69.500

Pernikahan adalah suatu ikatan suci yang dibangun tak hanya dengan cinta, tapi juga iman. Sebuah pernikahan akan berhasil jika kedua belah pihak mengerti tujuannya, yaitu untuk membentuk keluarga yang bertakwa kepada Allah. Di bukunya yang ke-25 ini, penulis Achi TM mengusik sekaligus mengkritisi pernikahan-pernikahan yang digelar secara mewah dengan alasan ‘sekali seumur hidup’.

Tokoh utama novel ini digambarkan sebagai wanita modern yang dibikin berjarak dengan agama. Dialah Silviana, pemilik Silviana Sexy Boutique yang per bulan omzetnya mencapai miliaran rupiah. Hidup Silvi terasa lengkap sejak berpacaran dengan Dion. Di tahun ketiga hubungan mereka Silvi memutuskan bahwa Dion harus melamarnya.

Sosok Dion digambarkan juga ‘slengean’ dalam perkara agama. Pekerjaannya sebagai direktur sebuah label musik membuatnya melupakan batas-batas yang tak boleh dilampaui seorang muslim. Ia minum wine, salat jika ingat, dan mungkin tak hafal Al-Fatihah.

Sebagai penyeimbang, diciptakanlah tokoh Raka. Raka ini bekerja di kantor Dion sebagai produser lini musik islami. Ketika menuju kantor Dion untuk dilamar, Silvi terjebak di lift berdua Raka. Sepanjang gelap, Raka berdoa. Hal itu membuat Silvi jengah. Berjam-jam berada dalam gelap membuat Silvi panik dan kesal. Saking paniknya, Silvi bernazar memakai jilbab jika berhasil keluar dengan selamat.

Agar Silvi tidak nampak terlalu ‘devil’ hadir sosok Kiara sebagai sahabat yang rewel berceramah. Kiara selalu menemani Silvi di segala situasi, susah senang selalu bersama. Selama bertahun-tahun, Kiara menasihati Silvi untuk menutup aurat dan mengubah haluan desain menjadi baju muslimah. Tapi Silvi yang keras kepala tentu berpikir hal itu impossible.

Ketika tanggal pernikahan telah ditetapkan, Silvi pun mulai bergerilya menyiapkan segalanya. Namun sayang, Dion terlalu sibuk ke luar kota untuk tur Banana Band sehingga tak dapat menemani Silvi. Dion malah menyuruh Raka menemani calon istrinya itu. Dari mulai mencari suvenir, katering sampai fitting baju pengantin, semua ditemani Raka. Namun Raka meminta agar Silvi membawa muhrimnya.

Persiapan pernikahan Silvi ternyata menemu jalan yang tak mulus. Silvi dua kali ditipu ketika mengurus desain undangan dan wedding organizer. Silvi hampir frustasi karena tak ada Dion di sampingnya. Raka mengingatkan Silvi bahwa mungkin Allah mempersulit pernikahan Silvi sebab Silvi melupakan nazarnya untuk berjilbab.

Awalnya Silvi ngotot tak mau menunaikan nazarnya. Bagaimana mungkin seorang desainer baju seksi memakai jilbab? Namun hidayah Allah tak pernah salah tempat. Ia akhirnya berjilbab setelah sebagian rambutnya terbakar kompor. Hatinya kian mantap usai ikut Raka salat di masjid Istiqlal.

Sejak hari pertama ia memakai jilbab, Silvi bahkan sudah dapat merasakan kemudahan-kemudahan yang diberikan Allah, seolah semua musibah terangkat darinya. “Jilbab ini, Allah memudahkan segalanya. Padahal aku baru memakai jilbab setengah hari saja.” (hal. 243)

Namun demi mempertahankan jilbabnya, Silvi harus melalui banyak ujian. Dion mengancam akan membatalkan pernikahan karena ia tak suka perempuan berjilbab. Gina pun turut kecewa dan merusak semua baju muslimah Silvi. Ujian bertambah saat Anna muncul. Gadis itu adalah kakak kelas yang selalu mem-bully Silvi dan Kiara ketika SMA. Dengan cara licik, ia berusaha memisahkan Dion dari Silvi (hal. 275).

Namun pada akhirnya, Allah membalas keteguhan Silvi membela jilbab dengan memberikan jodoh terbaik yang tak terduga.

Novel ini menyenangkan karena ditulis dengan gaya kocak. Lewat narasi dan dialog yang laju, penulis berhasil mengajak pembaca merenungkan kembali makna berjilbab dan pernikahan yang sesuai tuntunan agama. Pembaca akan dibuat menyeringai berkali-kali karena kepiawaian penulis memindahkan kehebohan khas FTV ke dalam lembaran kertas.

Namun begitu, ada inkonsitensi yang lumayan banyak. Misalnya, di awal buku, penulis mencantumkan Papa-Mama untuk menyebut orangtua Silvi. Di sisa buku, ganti menjadi Ayah-Ibu. Tentu hal itu tak bisa dibenarkan karena menyebabkan ‘cita rasa’ yang beda walau maknanya sama.

Lalu, Dion yang digambarkan sebagai sosok eksekutif sibuk yang tak segan meminum wine dan biasa menyentuh Silvi serta menentang jilbab, tahu kata ‘ta’aruf’ ketika menyinggung Raka. Pun, penggunaan ‘Assalamu’alaikum’ yang terlalu banyak dipakai Silvi saat masih berpakaian terbuka. Saya rasa akan lebih baik jika Silvi maupun Dion dibuat ‘benar-benar’ berjarak dengan kebiasaan tersebut. Tidak perlu setengah-setengah memberikan kesan ‘buruk’ pada Dion seperti kesan ‘buruk’ yang melekat pada Gina. Juga, ada beberapa typo dan kesalahan EYD di beberapa tempat. Alangkah baik bila pemindai aksara serta penyunting memeriksa konten dan huruf-huruf tak hanya sekali dua kali.

Di atas semua kekurangannya, novel ini layak dimiliki.

PS: terima kasih mbak Achi TM atas buku ini, semoga best-seller 🙂

Spionase Amatir Sang Pelobi White House

1344088308r_The-Broker
sumber gambar: tokokomikantik.com

Judul Buku : The Broker
Penulis : John Grisham
Penerjemah : Siska Yuanita
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakah : Kedua, September 2007
Tebal : 600 halaman
ISBN : 979-22-2703-2

Sama seperti The Last Juror, Sang Broker masih berputar di sekitar wilayah hukum, namun dalam cakupan yang lebih luas dan level yang lebih tinggi. Bukan hanya sebuah kota kecil di Clanton, tapi melibatkan dunia internasional.

Novel ini berkisah tentang Joel Backman, seorang pengacara yang mengelola sebuah biro hukum bersama dua orang kawannya, Carl Pratt dan Kim Bolling.

Biro itu tumbuh menjadi biro paling berpengaruh di Washington, juga White House. Kemampuan Backman untuk melobi dan menekan berbagai pihak menjadikan banyak klien yang tersandung kasus-kasus besar memanfaatkan jasanya. Backman pun sukses berpenghasilan hingga 10 juta dolar setahun. Selama bertahun-tahun, kegiatannya yang bisa dibilang kotor itu bertahan. Sampai tiga pemuda jenius Pakistan menjadi kliennya.

Mereka telah berhasil membuat sebuah perangkat lunak yang diberi nama JAM, bisa mengendalikan 9 satelit rahasia entah milik siapa. Karena mengendus adanya potensi uang yang begitu besar, Backman meminta kawannya, Jacy Hubbard, untuk menawarkan JAM ke negara-negara seperti Saudi, Israel, dan Rusia.

Sayangnya, persekongkolan itu terbongkar FBI dan menyeret Backman serta kliennya ke pengadilan. Tiga pemuda penemu JAM telah dibunuh entah oleh siapa, lalu Hubbard juga dihabisi. Akhirnya Backman mengaku bersalah dan dijebloskan ke penjara federal. Ia mendekam di sana selama enam tahun.

Sampai di detik terakhir kepemimpinan Arthur Morgan yang payah, Backman mendapatkan pengampunan penuh dan dibebaskan. Ia dikirim oleh CIA ke Bologna, Italia dengan identitas yang baru. Rencananya, setelah Backman mapan, CIA akan menginformasikan kepada negara-negara yang memburunya; Saudi, Cina, Rusia, Israel terkait lokasi Backman untuk membunuhnya. Dengan begitu, CIA akan tahu siapa pemilik satelit rahasia yang software pengendalinya ada di tangan Backman.

Namun Backman bukan orang bodoh. Di sela-sela rutinitas baru beradaptasi sebagai Marco Lizzeri di Bologna―belajar bahasa Italia, jalan-jalan, makan di bar dan kafe―Backman menyadari bahwa ia dikirim ke sana bukan tanpa alasan. Backman mencoba menghubungi seorang anaknya, Neal Backman yang tinggal di sebuah kota kecil di Virginia, melalui surat yang dititipkan seorang wanita di stasiun. Tak mudah melakukannya karena Luigi, sang pengawas selalu membuntuti Backman.

Hingga dua bulan berlalu, negara-negara pemburu Backman mendapatkan informasi keberadaan sang broker. Dimulailah keharuan perburuan dan spionase amatir yang menegangkan di seputaran Bologna, Milano hingga Zurich. Backman berhasil kabur dari para pengejarnya―Cina, Saudi, Israel, CIA dan FBI. Ia sampai di Zurich, tempat tambang uangnya berada. Dari sana, ia mulai menyusun rencana-rencana untuk menyelamatkan nyawanya dan JAM, tentu saja.

Grisham tak hanya menulis kisah menarik tentang spionase, tapi juga mengajarkan metode untuk belajar bahasa asing. Setelah menghafal 200 kosakata, Backman belajar bahasa Italia dengan berjalan-jalan di sepanjang kota Bologna bersama gurunya, Ermanno di pagi hari dan Francessa di sore hari. Sang guru menyuruh Backman berbicara dengan polisi untuk bertanya arah, memesan berbagai menu di kafe dan menyebutkan nama benda atau kegiatan yang ditemui di jalan dengan bahasa Italia. Dalam dua bulan, Backman telah menguasai percakapan dasar serta aksen orang Italia. Learning by doing. Sangat efektif.

Saya ingin sekali mengutip sebuah kalimat ketika Backman baru saja menginjakkan kaki di Italia.

“Joel berhenti sebentar di depan tabaccheria dan mengamati dengan cepat kepala-kepala berita di koran-koran Italia, walau ia tak tahu satu patah kata pun yang tertulis di sana. Ia berhenti berjalan karena ia bisa berhenti berjalan, karena ia manusia bebas yang memiliki kekuasaan dan hak untuk berhenti berjalan kapan pun ia mau, dan mulai bergerak lagi kapan pun menginginkannya.” (hal. 97)

Kalimat tersebut menurut saya sangat lucu. Dan di sepanjang halaman-halaman dalam novel ini, pembaca akan menemukan lebih banyak lagi kalimat-kalimat lucu semacam itu. Bagaimana Grisham yang mengaku gaptek bisa menuliskan cerita tentang teknologi canggih seperti spionase, satelit, komputer dan smartphone dengan begitu menawan?
Barangkali itu adalah kesalahan, kata Grisham. Dan kesalahan itu sangat indah.

Bel lavoro, Nonno!

Meloakkan Hati yang Patah

Pameran Patah HatiJudul Buku : Pameran Patah Hati
Penulis : Mini GK
Penerbit : Ping
Cetakan : I, Maret 2015
Tebal : 204 halaman
ISBN : 978-602-255-836-1
Harga : Rp 36.000

Ode selalu bermusuhan dengan Yosinta semenjak SMP, tak pernah akur sedetik pun. Ever, teman rekat Yosinta hanya bisa melerai ketika keduanya berkelahi dan saling jambak. Setiap hari, ada saja hal yang diributkan mereka. Namun sebenarnya, permusuhan itu hanyalah bentuk kekesalan Yosinta.

“Pada kenyataannya ini hanyalah permusuhan sepihak. Hanya Yosinta yang menganggap Ode saingannya. Tidak sebaliknya.” (hal. 91)

Yosinta kesal karena dirinya dan Ode selalu menyukai orang yang sama, yaitu guru mereka sendiri. Ever sebagai sahabat tak lelah menasihati Yosinta untuk berhenti menyukai orang dewasa dan tidak lagi melakukan hal konyol di masa sekolah. Yosinta tak mengindahkan nasihat sahabatnya, bahkan ia dan Ode kembali berkelahi di mal gegara berebut parfum (hal. 46).

Kebencian Yosinta memuncak ketika tahu Ode terpilih mewakili sekolah dalam olimpiade bahasa Inggris. Yosinta yang sudah menguasai hampir semua mata pelajaran tak rela jika Ode selangkah lebih maju dari dirinya. Apalagi setelah Ode memutuskan untuk ikut bimbingan belajar demi memperbaiki nilai-nilainya. Di sana, mereka kembali naksir dengan orang yang sama, yaitu Atlas, tanpa tahu bahwa orang itu adalah kakak Ever.

Kakak Ode, Enko sedang merajut kisah cintanya dengan Dipati. Enko adalah tipe orang yang tak mudah curiga dan selalu berbaik sangka kepada orang lain. Ode yang membenci Dipati tidak sengaja melihat pria itu berkencan dengan orang lain. Sementara itu, Atlas masih berusaha untuk move on dari sang mantan, seorang gadis cantik keturunan India. Sampai kemudian ia bertemu Enko dan jatuh cinta pada gadis itu, tanpa tahu siapa sesungguhnya Enko.

Sebuah konser amal membuka semua tabir rahasia itu. Enko akhirnya menyaksikan sendiri Dipati sedang berkencan dengan seorang perempuan yang ternyata sahabatnya. Ode yang juga berada di sana melabrak dan menyerang Dipati. Sementara Atlas yang sedang memotret konser itu, baru mengetahui jika Enko adalah kakak Ode, anak didiknya di bimbingan belajar.

Ever yang jengah terhadap sikap Yosinta yang bak seorang putri, mulai menyadari bahwa ia menyukai Ode. Ia pun terkejut karena Ode merupakan adik dari Enko, penulis idolanya. Yosinta yang masih menyimpan kebencian pada Ode, berusaha mencelakai Ode dengan memasang pensil di jalan agar Ode terjatuh. Namun kejadian itu justru mendekatkan Ode dengan Ever ketika Atlas menyuruh adiknya itu mengantar Ode pulang (hal. 176).

Hubungan Atlas dengan Enko sendiri makin dekat setelah mereka bertemu kembali di sebuah pameran yang diisi oleh orang-orang patah hati yang meloakkan barang-barang kenangan bersama sang mantan. Dengan perjuangan seorang lelaki patah hati, akhirnya Atlas berhasil merebut hati Enko. Ever yang hatinya masih utuh pun tak gentar membujuk Ode menerima cintanya (hal. 203).

Kisah tentang patah hati ini menarik, sayangnya belum tereksekusi dengan baik. Penulis masih terjebak untuk menghadirkan kejutan-kejutan klise yang barangkali disediakan demi memperkokoh bangunan cerita namun terkesan hanya menyodorkan informasi semata. Jumlah karakter utama yang diciptakan juga terlalu banyak untuk buku dengan tebal hanya 204 halaman. Banyak juga adegan dan dialog yang terlalu lambat, misalnya ketika Ode bertengkar dengan Yosinta di tangga, atau ketika Ever belajar bersama di rumah Yosinta.

Adegan pameran pun sangat kurang dalam eksplorasinya. Ia hanya menunjukkan bahwa judul buku ini terinspirasi dari sana. Penulis seperti tak menawarkan hal baru dalam pemaknaan terhadap ‘patah hati’. Jadi, hanya menyuguhkan adegan demi adegan yang bernuansa ‘patah hati’, tanpa eksplorasi yang cukup kuat mengapa mereka, para karakter dalam novel ini, mengalami ‘patah hati’. Inkonsistensi antara judul dan isi cerita novel inilah yang agak kurang dapat dinikmati.

Satu hal yang patut dipuji dalam novel ini adalah kemampuan penulisnya untuk membuat ketegangan cerita dan menambah dosis penasaran pembaca akan akhir kisah masing-masing karakternya, walaupun sudah bisa ditebak.

John Grisham dan Pesona Ahli Hukum

vlcsnap-2015-04-30-08h33m44s117Judul Buku : The Last Juror
Penulis : John Grisham
Alih Bahasa : B. Sendra Tanuwidjaja
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : II, Desember 2007
Tebal : 536 halaman
ISBN : 979-22-2598-6

The Last Juror (Anggota Juri Terakhir) adalah novel Grisham kesekian yang berkisah tentang sorang anak muda dropout dari sebuah kampus anggota Ivy League (universitas terbaik di Amerika) bernama Willie Traynor. Usianya baru saja 23 tahun ketika dia membeli sebuah koran yang telah bangkrut di sebuah county  berjuluk Ford, di kota Clanton. Nama panjang koran itu adalah The Ford County Times. Pemilik sebelumnya adalah seorang wanita berusia 90 tahun yang hidup di panti jompo, redakturnya, Wilson Claude, adalah sang anak, yang lebih suka menulis berita kematian. Karena manajemen yang buruk, Times bangkrut dan Claude pergi entah ke mana. Sebagai anak muda yang masih segar dan tak punya takut, Willie nekat meminjam uang pada sang nenek yang kaya raya dan membeli Times seharga $50,000.

Dan di bawah kepemimpinan Willie, Times selamat dari kebangkrutan totalnya, apalagi ketika sebuah kasus pembunuhan menghebohkan kota kecil itu. Rhoda Kasselaw diperkosa dan dibunuh secara brutal oleh Danny Padgitt, anak dari keluarga Padgitt―penguasa Pulau Padgitt yang menjual mariyuana dan memiliki banyak bisnis ilegal. Kejadian itu memicu kemarahan warga kota dan mereka menghendaki hukuman mati bagi orang itu. Sidang berlangsung beberapa kali, dan pada sidang terakhir, Danny Padgitt bersumpah akan membalas dendam jika juri―pada waktu itu penilai putusan adalah juri―menyatakan dirinya bersalah.
Akhirnya Danny dijatuhi hukuman ‘seumur hidup’. Dia dikirim ke penjara Parchman, yang terkenal busuk. Tapi beberapa tahun kemudian seorang mantan asisten hakim yang bertugas di sidang terakhir Danny, mendapati Danny berkeliaran bebas dengan dikawal petugas.

Hal itu membuat Willie langsung bereaksi dengan menuliskan editorial mengenai fasilitas yang diterima oleh narapidana dengan keluarga kaya, seperti Padgitt. Willie mempertanyakan sistem penjara yang timpang tersebut. Hingga setelah 8 tahun mendekam di penjara, diadakan dengar pendapat agar Danny dibebaskan bersyarat. Dengar pendapat itu diadakan tertutup. Untungnya Willie mengetahui hal itu dan mengajukan diri menjadi saksi. Ia melanggar perjanjiannya dengan menuliskan hasil dengar pendapat tersebut. Danny batal untuk dibebaskan karena Willie bersaksi dengan begitu keras dan membeberkan fakta-fakta yang mengejutkan Dewan pembebasan.

Setahun kemudian, dengar pendapat tersebut diadakan kembali. Danny akhirnya bebas karena bisa berkelakuan baik selama masa hukuman, dan dianggap sanggup mempertahankannya ketika bebas.

Setelah Danny bebas, terjadi pembunuhan atas dua juri, mereka tewas ditembak dari jarak jauh. Sedangkan satu orang lagi, yaitu Mrs. Maxine Root selamat dari percobaan peledakan dengan bom. Hal itu membuat Sherrif yang baru terpilih menangkap Danny yang dicurigai sejak awal untuk balas dendam. Ketika Danny disidang untuk kasus itu, seorang penembak jitu memecahkan kepala Danny dan menembaki kota. Ia diketahui sebagai Hank Hooter setelah menembak dirinya sendiri. Hooter merupakan penderita skizofrenia yang juga kekasih Rhoda. Ia menembak ketiga juri itu karena mereka menentang pemberian hukuman mati bagi Danny (Waktu itu Hank Hooter bekerja sebagai asisten Jaksa). Kasus pun tuntas.

Willie berusaha dengan gigih agar Times kembali mendapatkan banyak pelanggan. Berbeda dengan redaktur terdahulunya, Willie berani menuliskan berbagai hal secara sensasional. Ia juga berani untuk menulis profil mengenai wanita kulit hitam yang berhasil membesarkan 8 anak, 7 di antaranya Ph.D. Wanita tersebut adalah Miss Callie, yang nantinya akan menjadi teman terbaik bagi Willie, dan menjadi anggota juri terakhir yang dipilih Jaksa.

Willie mengelola koran mingguannya itu dengan mengambil banyak keputusan yang tepat. Ia tak segan menyuarakan pandangannya terhadap apa saja yang terjadi di Clanton, juga mengobarkan semangat antiperang (dengan Vietnam). Penjualan Times yang dulunya hanya 1.200 eksemplar, di tangan Willie berhasil mencapai penjualan hingga 5.000 bahkan 6.000 eksemplar. Sampai sepuluh tahun, ia akhirnya menjual Times seharga 1,5 juta dollar.

***

Membaca John Grisham berarti membaca banyak kesenangan, detail dan kecerdasan. Rasanya memang setiap penulis yang berhasil memiliki ketiganya; serta spesialisasi dan Griham terlihat begitu ahli dalam menulis novel bidang hukum. Apakah jika Grisham menulis di luar tema itu akan terlihat konyol? Sementara ini belum saya ketahui, karena novel ini adalah novel Grisham pertama yang saya baca. Pernyataan saya terkait spesialisasi Grisham di meja hijau berdasar pada pernyataan Grisham sendiri,

“Saya tidak bisa menulis sebagus beberapa penulis lain; bakat saya adalah menghadirkan cerita yang baik tentang ahli hukum. Di situlah saya betul-betul menguasai.”

Di samping itu, Grisham juga seorang pensiunan pengacara dan mantan politikus AS. Di tangannya, pengadilan jadi tempat yang sangat menarik dan ahli hukum tampak mempesonakan akal. Di novel ini tokoh utamanya Willie Traynor, seorang jurnalis. Berita bagusnya, Willie dikelilingi orang-orang yang sudah mengerti banyak mengenai hukum-hukum. Henry Fox, pengacara perkawinan; Baggy, penggosip yang suka nongkrong dengan para pengacara; dan Ernie Gaddis, jaksa penuntut yang begitu getol menjatuhkan tuntutan seberat-beratnya.

Narasi yang dilontarkan Grisham mengocor seperti keran, kalimat-kalimat komentar penuh dengan kelakar, dan alur mengalir lancar. Seluruh elemen yang disyaratkan dalam sebuah novel dipenuhi seluruhnya, bahkan digarap dengan sempurna. Gaya bercerita Grisham ini saya temukan juga ditiru oleh banyak pengarang Indonesia.

Walau begitu saya belum menemukan siapa yang dimaksud ‘The Last Juror’ oleh Grisham, apakah Miss Callie ataukah Mrs. Maxine Root, yang menjadi korban ketiga sekaligus terakhir percobaan pembunuhan juri? Saya juga cukup kecewa karena pelaku penembakan tiga juri bukan Danny Padgitt.

Belajar Cinta di Singapura

Learning from ButterfliesJudul Buku : Learning From Butterflies
Penulis : Karina Nurherbyanti
Penerbit : Ping!!!
Cetakan : I, Maret 2015
Tebal : 244 halaman
ISBN : 978-602-255-835-4
Harga : Rp 38.000

Olga adalah mahasiswa fashion di Lasalle, kampus seni ternama di Singapura. Ia tinggal satu apartemen dengan kawan dari almamater yang sama, Enggar. Mereka berdua sama-sama berwatak ceria dan gaul. Setiap hari, Olga aktif stalking di blog Juandra karena terpikat dengan tampilan, postingan dan foto-foto editan karya cowok itu. Juandra sendiri merupakan anak mathematical science yang kuliah di kampus bergengsi NTU.

Juandra adalah anak genius yang pernah menang olimpiade matematika dengan IQ 140. Sifatnya tak seperti para genius pada umumnya, ia cerewet, gaul dan suka bersenang-senang. Tak heran, tiap ada kesempatan bersama Olga, Juandra bisa menyulut pertengkaran dengan gadis itu. Perkenalan mereka sebenarnya diawali oleh sahabat Juandra, Salman, yang menyukai Enggar. Salman mengorek informasi tentang Enggar dari Olga. Beberapa kali mereka berempat juga bertemu dalam acara yang diadakan PPI (hal. 81).

Sifat Juandra yang ceplas-ceplos itu adalah ekspresi akibat tak bisa melawan kehendak sang ayah, yang selalu mengekang anak-anaknya dan menomorsatukan nilai-nilai akademik. Riwayat keluarga lulusan kampus ternama dunia menjadikan ayahnya begitu mengagungkan kecerdasan. Apalagi dirinya profesor di kampus terfavorit negeri ini. Sang ibu hanya bisa membela kedua anaknya. Sementara Juandra begitu kagum pada adiknya, Junika, yang punya keberanian untuk menentukan pilihannya sendiri.

Dalam masalah cinta, Olga dan Juandra sama-sama terkendala oleh sang mantan. Olga sering sekali diteror oleh Alam, mantannya ketika SMA. Cowok itu memaksa Olga untuk kembali menerima dirinya. Sementara Juandra masih diharapkan oleh Mariska, mantan yang diputuskan dengan alasan LDR (hal. 129).

Perlahan tapi pasti, Juandra dan Olga menyadari bahwa mereka saling suka. Apalagi anak-anak PPI suka berolok-olok bahwa mereka berdua sangat cocok jika jadi pasangan. Namun Juandra tak juga memiliki keberanian menyatakan perasaannya. Bahkan, ia menyuruh seorang temannya untuk membelikan sekotak egg tart, makanan kesukaan Olga. Sampai ketika mereka harus pulang ke tanah air karena urusan keluarga dan tiba masa liburan, Olga yang lebih dulu membeberkan isi hatinya pada Juandra.

“Pipi Juandra memerah. Belum pernah ia mendapatkan pujian yang semanis ini dari cewek mana pun. Mariska hanya memuji kemampuan matematikanya, tetapi tidak pernah dengan suara selembut Olga sekarang.” (hal. 198)

Baik Juandra maupun Olga sama-sama belajar banyak hal di pulau Singapura. Tak hanya menjadi dewasa dengan tinggal jauh dari rumah, mereka juga belajar bagaimana mencintai seseorang dengan tulus apa adanya, tak berdasarkan kecerdasan atau hal-hal given lainnya.

Ide cerita novel ini sebenarnya menarik, sayang penggarapannya berlebihan. Novel ini terlalu banyak berisi percakapan sehari-hari, banyak memuat hal-hal kurang penting serta dialog yang mubazir. Penggunaan bahasa Inggris yang begitu banyak dalam dialog maupun narasi juga membuat pembaca cepat lelah―untuk menerjemahkan dan mengikuti percakapan tokoh-tokohnya. Penulis sering pula menjejalkan berbagai informasi dalam kalimat-kalimat panjang yang membuat pembaca semakin ngos-ngosan.

Mayoritas tokoh yang digambarkan berasal dari kelas sosial atas juga menjadikan novel ini terkesan begitu melangit dan tak terjangkau pembaca kalangan menengah ke bawah. Namun buku ini sarat informasi mengenai kehidupan mahasiswa luar negeri, khususnya Singapura. Penulis sendiri adalah mahasiswa yang sedang menjalani kuliah di Curtin University, Singapura. Diperkaya juga dengan nama-nama kampus favorit di beberapa negara yang bisa jadi referensi bagi siapa saja yang berminat berkuliah di luar negeri.

Tayang di wisata-buku.com 25 April 2015 http://bit.ly/1GxlZTx