Virginitas Dan Pertaruhan Pernikahan

B-67aSKUoAAPy3g

Judul Buku : Sejujurnya Aku
Penulis : Aveus Har
Penerbit : Bentang
Cetakan : I, Maret 2015
Tebal : 214 halaman
ISBN : 978-602-291-081-7
Harga : Rp 54.000

Ini adalah novel ketujuh dari seorang novelis yang juga berprofesi sebagai penjual mi ayam, Aveus Har. Mas Har―begitu ia biasa disapa―menjadi buah bibir banyak orang setelah sempat diberitakan media televisi dan muncul di sebuah acara talkshow. Naskah ini merupakan pemenang lomba novel dengan tema wanita muda di penerbit Bentang tahun 2013.
Buku ini menceritakan seorang wanita muda, Charista, yang memutuskan menerima pinangan seorang pria mapan bernama Nathan. Charista jatuh hati pada Nathan setelah membaca komentar pria itu dalam hal memandang virginitas seorang wanita.

“Aku tidak menilai seorang wanita dari virginitasnya semata. Yang penting saling mencintai dan semua akan baik-baik saja.” begitu bunyi komentar Nathan di Gloria, majalah yang redaksinya dipimpin oleh Charista (hal. 19).

Hal itu sangat mengesankan Charista karena ternyata wanita itu memiliki rahasia yang rapat disimpannya. Di masa remaja, Charista pernah melakukan kebodohan yaitu menyerahkan virginitasnya pada sang pacar, Farel. Sampai usianya 29, Charista belum juga dapat melupakan Farel yang merupakan cinta pertamanya.

Pada akhirnya Charista menikah dengan Nathan. Namun menjelang pernikahan mereka, seseorang menanamkan ketakutan dalam benaknya. Ia adalah sahabatnya semasa SMA, Navilla, yang juga mantan pacar Farel. Ia berpendapat bahwa komentar Nathan hanya pencitraan di balik label perusahaannya. Perbincangan dengan Navilla dan Eirin, sahabatnya yang lain membuat Charista merasa gamang dan menganggap Nathan tak beda dengan lelaki lain yang hanya terpesona oleh tampilan fisik.
Maka setelah melangsungkan pernikahan, Charista makin meragukan keputusannya menikahi pria itu.

“Jika sebuah pernikahan adalah pertaruhan hidup wanita, aku akan bertaruh dengan kartu buruk di meja yang tidak memiliki peluang kemanangan.” (hal. 108)

Ia pun melakukan hal konyol seperti menunda hubungan suami istri dengan berbagai alasan. Lalu dengan dikompori Navilla dan Eirin, Charista menjebak Nathan dalam perselingkuhan supaya Charista dapat menemukan cela suaminya. Pada saat itu, Farel berusaha memasuki kembali kehidupan Charista dengan memberikan janji pernikahan jika Charista bercerai dengan Nathan.

Charista baru menyadari bahwa Farel tak berubah dan hanya menginginkan tubuhnya dengan merayunya di sebuah hotel. Untung saja Nathan segera datang dan menghajar Farel. Peristiwa itu sekaligus membuktikan bahwa cinta Nathan pada Charista tulus tanpa cela. Ia menikahi wanita itu bukan karena dorongan hasrat semata, tetapi memang karena keyakinan bahwa Charista adalah gadis yang tepat untuknya.

Tema pernikahan sebagai sebuah pertaruhan bagi seorang wanita digarap dengan cukup baik oleh penulis. Penulis memasukkan tipe lelaki ideal melalui sosok Nathan yang tak bercela. Selama 35 tahun, ia berhasil menjaga kesuciannya. Ia tak berminat main-main dengan wanita yang dekat dengannya. Melalui lembaga pernikahan, ia sangat mendukung seks secara legal. Ia juga tipe lelaki sempurna yang mencintai tanpa mempermasalahkan masa lalu pasangannya. Ketika mengetahui kekurangan Charista, Nathan tidak marah atau menuduhkan keburukan pada istrinya. Hal yang ia khawatirkan justru Charista tak mencintainya.
Sedangkan Charista adalah gambaran perempuan masa kini yang terjebak kebodohan masa lalu dan ingin memperbaikinya. Secara psikologis, ia menyimpan trauma dan ketakutan akan penolakan dari lelaki yang mensyaratkan keperawanan sebagai hal pertama yang harus dimiliki seorang wanita jika ingin dinikahi, terlepas dari kemungkinan bahwa banyak pula lelaki yang sudah tidak perjaka.

Secara teknis, Aveus Har berhasil menggarap cerita bertema sensitif dengan begitu manis. Romantisme diracik dengan bumbu intrik dosis pas sehingga naskah ini memiliki daya gugah yang membangkitkan penasaran di setiap kelok alurnya. Ending novel ini pun cukup menggelikan, dan tentu mampu menjadi penutup yang sempurna. Selamat membaca!

Iklan

Filsafat Manusia Ala Sabda

KamuJudul Buku : Kamu

Penulis : Sabda Armandio

Penerbit : Moka Media

Cetakan : I, Februari 2015

Tebal : 348 halaman

ISBN : 979-795-961-9

Harga : Rp 55.000

Dalam kehidupan, manusia akan senantiasa memikirkan apa makna keberadaan dirinya di dunia. Menurut Juraid Abdul Latief (2012), manusia adalah makhluk yang penuh misteri. Selalu akan muncul pertanyaan-pertanyaan tentang esensi hidup dan kodrat manusia. Dalam bukunya Bengkel Ilmu Filsafat, Turnbull (1995) menguraikan dua jenis pertanyaan filsafat. Pertama adalah pertanyaan sehari-hari, dan kedua, pertanyaan besar.

Novel ini memuat kedua jenis pertanyaan itu. Dio, begitu penulis biasa disapa, menggunakan sudut pandang orang pertama dalam debutnya ini. Tokoh ‘si aku’ bercerita tentang 3 hari bersejarah dalam hidupnya, saat dia masih SMA. Dalam kepalanya yang lucu berjejal banyak pertanyaan mengenai kehidupan yang ia jalani. Pilihan yang tepat karena sudut pandang orang pertama lebih mengarah kepada pemikiran si aku daripada alur.

Cerita dimulai saat si aku baru saja pindah indekos. Tengah malam ketika ia kelaparan lalu membuat mi instan, seseorang mengetuk daun jendela dan mengingatkan agar menutupnya. Tentu saja hal itu aneh sebab kamarnya terletak di lantai 3. Tapi ia tak ambil pusing. Malam berikutnya, ia kembali terjaga dan kelaparan. Mi instan pun kembali ia buat. Ketika memandang sendok mengilap bekas makan, si aku meloncat ke masa lalu, ke waktu saat dirinya masih kelas III SMA. Pikirannya melayang melamunkan tiga hari di masa itu yang dilalui bersama temannya, bernama Kamu.

Hari itu, Kamu menelepon dan mengajaknya membolos. Kamu berhasil menghasut si aku yang tak pernah membolos selama tiga tahun. Ia minta ditemani mencari sebuah sendok yang hilang, sebuah pekerjaan yang sangat tidak penting. Jadilah mereka mencari tukang bakso yang sendoknya tertukar dengan milik Kamu. Kamu juga mendapat tugas dari sang ayah untuk mengantar sebuah barang pada seseorang.

Dengan menggunakan Datsun tua warna kuning, mereka berdua berkendara menelusuri kota Bogor menuju Gunung Mas. Di tengah perjalanan, mereka tejebak macet. Rupanya ada Badai Monyet Parit. Ribuan monyet keluar dari gorong-gorong dan menyerbu kota Bogor. Kamu pun mengajak si aku menuju ‘jalan pintas’, dunia absurd di mana mereka bertemu monyet memakai kaus bertuliskan “Save Human” yang dapat berbicara, serta seorang kakek mantan pejuang yang bisa melukis matanya sendiri di wajah.

Namun ternyata absurditas yang seolah nyata itu hanyalah mimpi. Akhirnya Kamu mengajak si aku pulang. Sendok itu sendiri tak pernah ditemukan.

Hari berikutnya, Kamu dan si aku kembali membolos. Mereka hendak menemui Permen, gadis yang disukai Kamu. Permen sedang bersama dengan seorang temannya, Johan, pengajar di sebuah bimbingan belajar. Di perjalanan, mereka mendapati keramaian yang disebabkan oleh siswa SMA yang bunuh diri karena mencemaskan Ujian Nasional. Kamu dan Johan sempat berdebat tentang sistem pendidikan di Indonesia.

“Kau memaksa murid-muridmu untuk terus optimis dan positif; kau menakut-nakuti mereka dengan mengatakan masa depan tergantung pada sekolah. Sehingga mereka tertekan, mereka takut kalau-kalau masa depan mereka tak sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Dan jika mereka nggak mendapat apa yang mereka mau, mereka akan jatuh kecewa dan menganggap dirinya nggak berguna. Kau buat standar kesuksesan, dan kau buat murid-muridmu terobsesi dengan kesuksesan itu.” kata Kamu (hal. 301)

Si aku pun punya pendapat yang tak jauh beda.

“Setelah kupikir-pikir, buku latihan setebal direktori telepon itu memang hanya dirancang khusus untuk Ujian Nasional saja, untuk menjinakan kecemasan siswa menghadapi teror negara. Kecuali itu, sama sekali tidak ada gunanya.” (hal. 218)

Setelah berpisah dengan Johan, si aku, Kamu dan Permen melanjutkan perjalanan ke sebuah pantai. Di sana, mereka membicarakan banyak hal mengenai hakikat menjadi manusia.

“Menurutku, kelelahan itu lahir karena pikiran kita dipaksa mengonsumsi kebenaran mutlak, dan gawatnya, dunia didominasi oleh orang yang merasa paling benar. Kebenaran yang dipaksakan itu menjadi bos, dan kita jongos. Itu mungkin yang membuat kita nggak santai sebagai manusia. Padahal, kata Multatuli, tugas manusia adalah menjadi manusia.” ujar Kamu mengomentari kematian siswa yang bunuh diri (hal. 318).

Tentang kematian, Sabda menyitirnya dengan bagus lewat pikiran si aku.

“Entah berapa banyak orang yang tenggelam di laut, digulung ombak, karam tanpa nisan, dan mungkin akan dilupakan begitu saja setelah dua atau tiga minggu berselang. Cara mati yang, kalau dipikirkan, sepertinya pedih sekali. Kau mati dan kesepian. Tetapi apa bedanya? Mati bahagia atau sedih, mati di tempat ramai atau mati di tempat sepi, sama saja. Kau mati dan kau mati dan kau mati.” (hal. 330)

Kamu merupakan novel anti-mainstream yang layak dikoleksi. Ini adalah contoh sastra anak muda yang ditulis dengan narasi cerdas dan penuh kelakar. Sabda mengutarakan hal-hal cenderung konyol yang terlihat tak penting dengan kalimat-kalimat yang terus menyeret pembaca untuk menuntaskannya. Berbagai obrolan santai si aku dengan dirinya maupun Kamu bertebaran dari halaman muka hingga akhir. Pembaca seperti menyimak guyon di kedai kopi dengan kebul asap rokok.

Lewat novelnya ini Sabda berhasil ‘meludahi’―meminjam isilah yang dipakai tokoh Kamu―berbagai pihak: sistem sekolah, negara, dan dunia, yang merupakan panggung fana. Tokoh si aku dan Kamu bersinergi secara signifikan mewakili kegalauan penulisnya akan gejolak ‘peradaban’ yang malah mematikan kemanusiaan.

Saya jadi teringat film Taree Zameen Par yang dibintangi Ameer Khan. Tokoh Ishaan tertekan karena sang ayah, menginginkan dirinya agar bisa menjadi orang yang mampu berkompetisi. Bagi ayahnya, dunia adalah kompetisi dan hanya kompetisi. Tanpa kemampuan yang memadai, orang akan tersingkir. Mungkin tokoh Kamu bisa kita samakan dengan Ishaan, yang berpikir bebas dan membenci peraturan yang dirasa tak bermanfaat dan hanya menunjukkan arogansi si pembuat aturan.

Sampai halaman terakhir, kita tidak pernah tahu nama si aku. Tokoh Kamu sama sekali tak pernah menyebut nama temannya. Tapi ketika membaca biodata penulisnya, tak berlebihan kiranya jika kita menamai si aku dengan Sabda Armandio. Sabda dan tokohnya itu tampak ‘satu aliran’ dilihat dari aktivitas hariannya.

Kiranya, keberanian Sabda untuk menyuarakan isi hati dan pikirannya yang ‘menentang’ dunia ini pantas dihadiahi sebuah kata yang menjadi ciri khas tokoh Kamu: Salut!

Pertaruhan Cinta dan Nyawa

23459532
Sumber: Goodreads

Judul Buku : A Girl Who Loves A Ghost
Penulis : Alexia Chen
Penerbit : Javanica (PT Kaurama Buana Antara)
Penyunting : Shalahuddin Gh
Pemindai Aksara : Muhammad Bagus SM
Cetakan : I, November 2014
Tebal : 551 halaman
ISBN : 978-602-70105-4-3
Harga : Rp 80.000

Novel A Girl Who Loves A Ghost berkisah tentang seorang gadis blasteran Indonesia-Amerika bernama Aleeta Jones yang tinggal di Jakarta hanya bersama sang adik, Chle. Mum dan Dad-nya berada di Amerika untuk menjalankan bisnis dan jarang sekali pulang.

Aleeta sebetulnya membenci ‘wujudnya’ yang jauh berbeda dari orang Indonesia. Dari kecil, ia tak memiliki banyak teman sebab orang Indonesia tak terbiasa berteman dengan orang asing walau orang itu lahir dan besar di Indonesia. Berbeda dengan Chle. Gadis bermata hitam itu rela memakai lensa kontak berwarna biru dan mengecat rambutnya menjadi cokelat keemasan demi mempertegas bahwa dirinya adalah keturunan bule.

Kehidupan Aleeta biasa saja; kuliah-pulang, kuliah-pulang. Begitu setiap hari. Sampai ketika seorang cowok berwajah oriental muncul di hadapannya. Kabar buruknya, hanya Aleeta yang bisa melihat cowok tersebut, yang berarti, cowok itu bukan manusia. Jika bukan menusia, maka cowok itu adalah penampakan dari sebuah roh. Pertanyaannya, siapa roh itu, dan kenapa dia muncul di depan Aleeta?

Jawabannya, roh itu adalah Nakano Yuto, putra pengusaha kaya asal Jepang yang dibunuh dan beritanya menjadi headline sebuah surat kabar. Karena setiap pagi Aleeta membeli koran, ia pasti membaca berita itu, dan secara refleks, ia memanjatkan doa untuk Yuto, karena, sekali lagi, berdoa bagi orang-orang yang matinya kurang beruntung merupakan kebiasaannya. Bukan itu saja, rupanya Aleeta juga mewarisi bakat cenayang dari nenek buyut asli Tiongkok, Qi Yue. Lalu akhirnya, ‘plop’, muncul roh Yuto saat Aleeta memasuki gerbang kampusnya.

Roh itu mengintimidasi Aleeta, mengganggunya ketika kuliah sehingga Aleeta menjadi hilang fokus dan tidak baik-baik saja. Itu membuat Aleeta jengkel dan menyangka roh tersebut hanyalah khayalannya. Tapi yang namanya roh penasaran―yang merasa memiliki misi yang belum selesai di dunia―tak pernah berhenti sebelum tujuannya tercapai. Yuto harus menemukan pembunuhnya, dan membawa pulang Hiro, sang adik yang kabur dari rumah. Karena hanya Aleeta yang dapat melihatnya, ia tak boleh menyerah. Dan Aleeta, walau awalnya jengkel bukan main karena Yuto bertindak serupa Tuan Muda yang sombong, mau juga pergi ke Bandung bahkan Semarang untuk membantu Yuto. Kesediaan Aleeta membantu Yuto ternyata membahayakan nyawanya karena para pembunuh Yuto beralih mengejarnya.

Seperti layaknya kisah drama Korea dengan tahap-tahap bertengkar, dilanjut terpaksa menghabiskan waktu bersama, lalu muncul benih cinta, dan berakhir dengan jadian, begitu juga hubungan Aleeta dan Yuto. Mereka menyadari bahwa keduanya saling menyukai, bahkan sangat mencintai. Akan tetapi, mereka tak bisa terus bersama karena Yuto harus pergi ke tempat seharusnya dia berada seiring tuntasnya misi menangkap para pembunuh dan menemukan Hiro. Hal itu membuat Aleeta berpikiran ingin mengakhiri saja hidupnya karena tak ingin berpisah dari Yuto.

Saya bisa mengerti mengapa Aleeta begitu mencintai Yuto. Dirinya yang berbeda, memiliki sedikit teman, dan hidup jauh dari orangtua adalah alasan-alasan yang tepat dan digunakan secara efektif oleh Alexia. Saya juga memahami mengapa Yuto juga enggan meninggalkan Aleeta. Ayahnya cukup keras mendidiknya sehingga ia sudah harus mengurus bisnis yang besar di usia sangat muda, ditambah, kekasihnya merupakan orang yang suka menggoda lelaki lain. Di sisi lain, Yuto juga belum dapat menerima kematiannya. Ia akan marah jika Aleeta menyebutnya ‘hantu’.

Saya lega akhirnya Aleeta dan Yuto mau saling melepaskan. Saya bersyukur penulis menyelamatkan Aleeta dengan tidak mematikan akal sehatnya, bahwa tak ada gunanya memperjuangkan hantu dengan mengorbankan kehidupan. Di sini saya juga menangkap pesan yang luar biasa dari penulis: hargai hidupmu karena hidup di dunia hanya sekali, dan hantu, bagaimanapun kau mencintainya, bukanlah kehidupan, hantu telah kehilangan sifat kemanusiaannya. Maka kau harus mengikhlaskan jika orang yang kau sayangi meninggal. Biarkan jiwanya bebas dan pergi dalam damai.

Secara sadar, saya tak begitu tertarik dengan kisah percintaan Yuto dan Aleeta. Unik memang percintaan yang tak normal seperti itu (standar normal adalah lelaki-perempuan manusia dengan manusia. Sayangnya bahkan sesama manusia pun ada juga yang tidak normal, yaitu cinta sesama jenis). Tetapi tetap saja saya kekeuh, bahwa manusia yang berpacaran dengan hantu adalah orang gila yang perlu dinasihati dan didoakan banyak-banyak. Kata orang Jawa, kesambet. Begitulah pendapat saya tentang Aleeta. Dia kesambet Yuto.

Kisah cinta tidak normal semacam ini masih dan sepertinya akan terus menjadi favorit. Lihat saja Twilight. Edward bukanlah manusia, tapi Bella mencintainya. Dan buku tersebut jadi best seller serta film adaptasinya meraup miliaran dolar. Atau ingatlah legenda Jaka Tarub, tentang seorang pemuda yang menikahi bidadari malang. Lihat pula film White Snake asal Cina, menceritakan pemuda yang menikahi siluman ‘cantik’.
Perjalanan cinta Aleeta dan Yuto ini jadi tampak sangat menyedihkan. Semua kisah cinta yang tak bisa bersatu adalah menyedihkan, tak peduli itu manusia lelaki-perempuan, hantu atau homoseksual!

Di halaman-halaman awal buku, acap kali ditampilkan adegan perdebatan Yuto dan Aleeta yang sama-sama keras kepala. Itu cukup menjengkelkan. Saya jadi sering mengumpat, “Come on, sudahi saja pertengkaran kalian! Segera menyetir dan cepat tuntaskan misi ini!” Ada banyak penuturan maupun penggunaan istilah yang sama berkali-kali. Misalnya, ‘sialan’, ‘brengsek’, dan compound words yang mendefinisikan ekspresi wajah. Tidak membosankan, sih, tapi sebaiknya juga tidak berlebihan.
Saya berharap akan lebih banyak adegan aksi yang membuat tegang, tapi rupanya novel ini lebih fokus pada hal pertama. Namun begitu, saya suka dengan adegan pelarian Aleeta yang hendak dibunuh di hutan, penyamaran di kantor Yuto, penguntitan di tongkrongan para pembunuh serta kebut-kebutan di jalanan.

Sayangnya, saya tak bisa membayangkan Aleeta seorang bule. Sebagai bule, ia terlalu Indonesia. Saya belum pernah melihat bule yang sangat Indonesia sehingga pikiran saya menolaknya, dan saya gagal membuat gambaran Aleeta seperti, misalnya, Emma Stone yang lancar berbahasa Indonesia. Yuto juga saya rasakan tak nampak aroma Jepangnya sama sekali. Saya tak bisa membayangkan dirinya seperti, misalnya, Miura Haruma, tapi tak pernah berbicara bahasa Jepang. Budaya Jepang dan Amerika yang diekspos hanya sebatas nama Jones, Nakano, ‘well’, ‘yeah’ dan ‘sayonara’.

images
Emma Stones Sumber: Glamorous.com
miura-haruma
Miura Haruma sumber: lipstickalley.com

Ketika saya membayangkan mereka berdua seperti seharusnya mereka, saya mengalami kelelahan. Alexia kurang meyakinkan saya dalam hal ini. Mungkin saya yang terlalu primitif karena tak pernah melihat bule kecuali di Borobudur atau Kraton Yogyakarta. Jadi, saya mohon maaf jika mengalami kegagalan ketika harus membayangkan bule makan bubur, kuliah dengan anak-anak lokal, dan menjadi WNI. Saya sulit menerima itu. Karena bagi saya, bule ya di luar negeri, kalau berada di sini, mereka hanya turis.

Well, yeah, saya harus akui novel ini berhasil dalam fungsinya sebagai suatu karya yang menghibur (dengan ide cerita yang tidak ‘normal’ tadi). Mungkin ini satu-satunya cerita hantu yang tak membuat saya mengkerut. Ketertarikan dan pengetahuan Alexia pada dunia supernatural dengan manis menggelinding melalui kisah Aleeta dan Yuto. Tapi tetap saja Alexia masih berutang banyak penjelasan dengan menulis ending yang misterius. Kita nantikan saja sekuel kisah Aleeta ini.

Menemukan Cinta Di Danau Toba

toba_dreams1
Cover cetakan pertama sumber: website penerbit

Judul Buku : ToBa Dreams
Penulis : TB Silalahi
Penyunting : Farahdiba Agust
Pemindai Aksara: Muhammad Bagus SM
Penerbit : Exchange
Cetakan : II, April 2015
Tebal : 248 halaman
ISBN : 978-602-72024-6-7
Harga : Rp 49.500

ToBa Dreams bercerita tentang seorang tentara yang baru saja pensiun bernama Sersan Tebe. Usai masa bertugas selesai, Sersan Tebe berencana membawa keluarganya kembali ke kampung halamannya di desa Tarabunga, di tepi danau Toba. Ia ingin kembali ke Medan karena ingin membangun desanya dan hidup damai secara sederhana.Sersan Tebe adalah potret prajurit yang berdedikasi dan memiliki idealisme tinggi. Ia memegang teguh nilai-nilai sebagai seorang prajurit.

Ronggur si anak sulung yang tabiatnya keras sama sekali tak menyetujui rencana kepindahan itu. Ia tak mau hidup apa adanya, di samping ia tak mau berpisah dari pacarnya, Andini yang beragama Islam. Namun sang ibu berhasil meyakinkan anaknya itu. Ronggur pun berjanji pada Andini akan kembali.

TOBADREAMSFILM
Poster Film Toba Dreams yang juga menjadi cover buku cetakan kedua sumber: wikipedia

Setelah beberapa bulan pindah ke Tarabunga, Sersan Tebe berhasil membuat kampungnya lebih sehat dan teratur. Ia berkali dicalonkan menjadi kepala desa namun selalu menolak. Sementara Ronggur memutuskan kabur dari rumah dengan bantuan Togar, sepupunya yang periang.

Ronggur kembali ke Jakarta dan bekerja sebagai supir taksi milik Tommy, sahabatnya sejak SMP. Sampai kemudian ia dijebak penumpang yang tertarik keahliannya. Penumpang itu rupanya seorang mafia narkoba. Hati kecil Ronggur yang jujur menolak untuk bergabung. Sampai ketika ayah Andini menghina dirinya serta ayahnya yang miskin, Ronggur sangat marah. Ia kehilangan akal sehatnya dan menerima tawaran geng mafia tersebut untuk membuktikan bahwa ia bisa sukses. Ronggur menjadi andalan bosnya dalam operasi yang berbahaya. Dalam waktu singkat, Ronggur mendapatkan apa yang ia mau, kekayaan yang melimpah.

Ia membawa kabur Andini dari orangtuanya dengan cara licik. Di Tarabunga, keduanya menikah dengan cara Kristiani. Mereka lalu pindah ke Jakarta dan dikaruniai seorang anak bernama Choky.

Ronggur bertekad untuk keluar dari jerat mafia narkoba. Ia pun membuka beberapa bisnis dan bermain di bursa saham. Namun rupanya Bonsu, sang mafia narkoba, tak bisa melepaskan Ronggur begitu saja. Sekali bergabung maka tak bisa keluar.
Tindakan Ronggur menyebabkan Andini meragukan cinta suaminya. Karena tak ingin kehilangan kepercayaan Andini, Ronggur melakukan pembunuhan terhadap Bonsu. Pembunuhan itu memunculkan dendam dan mengakibatkan Ronggur harus kehilangan nyawa ketika kabur dan bersembunyi di kampung halamannya.

Secara konten, novel ini membawa pesan yang begitu kaya. TB Silalahi menuliskan kehidupan seorang tentara dari sudut pandang tentara. Pembaca akan rasakan semangat dan keharuan Sersan Tebe ketika mengabdi menjadi prajurit. Pembaca juga akan melihat bahwa kecintaan setiap ayah begitu besar pada anak-anaknya. Sersan Tebe menaruh harapan besar pada Ronggur. Namun harapannya harus kandas karena Ronggur memilih jalan hidup lain yang membawanya pada kematian.

Konflik keluarga itulah yang menjadi jiwa buku ini. Pencarian Ronggur akan harga diri di depan sang ayah serta keluarga Andini menjadi semacam kunci yang membuka semua peristiwa dalam cerita. TB Silalahi secara langsung memberikan clue bahwa komunikasi yang sehat di antara anggota keluarga sangat penting agar tak terjadi kesalahpahaman. Ronggur merasa sang ayah tak menyayanginya, padahal yang ada justru sebaliknya. Melalui kisah Ronggur, penulis yang mantan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara menegaskan bahwa meraih impian harus dilakukan dengan cara yang benar.

Pesan lain yang cukup penting adalah bagaimana menerima perbedaan yang acapkali menimbulkan permusuhan. Sersan Tebe dengan lapang hati menerima keyakinan menantunya yang berbeda dari keluarganya. Bahkan, Sersan Tebe menemani Choky mengaji di mushala dan memberi anak itu kopiah kenang-kenangan dari seorang raja ketika Sersan Tebe bertugas di Sulawesi.

Bicara teknis, memang masih banyak kalimat-kalimat yang terasa kaku. Penulis masih menulis dengan cara biasa, runut dan hati-hati. Tapi hal itu tak mengurangi kesenangan membaca novel ini. Film adaptasinya sendiri telah tayang di layar lebar dan dibintangi Vino G. Bastian, Mathias Muchus, dan Marsha Timothy. Di buku cetakan kedua ini, penerbit menyertakan foto-foto dari filmnya yang dapat menimbulkan daya gugah lebih pada kisah Sersan Tebe.

Selamat membaca dan menikmati karya baik ini.

Karena Cinta Tak Hanya Soal Merasa

cover 4 Musim Cinta source mandewi
source: situs Mandewi

Judul Buku : 4 Musim Cinta
Penulis : Mandewi, dkk
Penyunting : Endah Sulwesi
Penyelaras Akhir : Shalahudin Gh
Pemindai Aksara : Muhammad Bagus SM
Penggagas Sampul : Maulana Hudaya Putra
Pendesain Sampul : Sihar M Panggabean
Pemilik Bibir Di Sampul: Noni Rafael
Penata Letak : desain651@gmail.com
Penerbit : Exchange
Cetakan : I, April 2015
Tebal : 332 halaman
ISBN : 978-602-72024-2-9
Harga : Rp 59.500

Sungguh menggembirakan telah lahir sebuah karya seperti 4 Musim Cinta ini. Novel keroyokan adalah sebuah terobosan. Tetapi novel ini bukan yang pertama, sebab sudah banyak beredar di luar sana novel yang ditulis lebih dari satu tangan dengan cara bertutur yang serupa ini.

Lalu apa yang membedakan dan membuat novel ini baik dibaca?

Pertama, gambar bibir di sampul muka adalah godaan bagi siapa saja yang punya stok penasaran tinggi untuk membukanya. Kedua, buku ini ditulis oleh PNS. Sebagaimana kita semua tahu, PNS adalah profesi favorit namun citranya kurang begitu baik, apapun itu, yang kelihatannya PNS impossible jika menulis buku. Tapi rupanya buku ini mematahkannya, bahwa pemikiran semacam itu adalah sesat. Ketiga, kita sudah agak capai dengan buku-buku fiksi yang sepertinya lebih banyak membuat pembaca mati bosan. Maka sudah sepantasnya kita bersyukur atas anugerah terbitnya buku ini. Keempat, ya ampun, bagaimana kita bisa melewatkan tulisan Pringadi Abdi Surya? Dan setelah membaca tuntas buku ini, ternyata Mandewi, Puguh, dan Abdul Gafur juga memiliki mantra yang bisa membuat pembaca tak sadarkan diri *alah wisss

4 Musim Cinta merupakan novel yang merekam cuplikan perjalanan cinta 4 orang abdi negara yang dipertemukan oleh sastra. Lembang adalah tempat yang selalu diingat mereka dengan kenangan-kenangan akan rahasia masing-masing. Dari tempat itulah, benih-benih persahabatan, bahkan cinta mulai tumbuh di sela-sela acara apresiasi sastra yang diadakan kantor pusat Ditjen Perbendaharaan, tempat mereka bernaung mengabdikan diri. Keempatnya lalu akrab dan dekat sebagai sahabat.

Gayatri gadis Bali yang di mata Arga begitu cerdas dan efisien, bagi Gafur merupakan sahabat yang hebat, dan bagi Pring adalah gadis manis yang menarik dan mempesonakan.

Kisah cinta berliku lalu terjadi. Pring yang ditinggal istri kuliah pascasarjana merasa begitu kesepian, ia cemburu pada kuliah istrinya. Bertemu Gayatri membuatnya tergoda untuk menoleh. Pring mencoba ‘bermain’ dengan mengandalkan sisi puitiknya. Sialnya, Gayatri pun baru saja kehilangan 2 orang terkasihnya: sang ayah yang meninggal dunia dan sang pacar yang menikahi orang lain. Ia sempat berpikir bahwa tak mungkin ia bertahan dengan dua luka sekaligus. Namun puisi-puisi dan pesan-pesan dari Pring yang datang beruntun rupanya berhasil menyembuhkan dan memikatnya. Ia pun jatuh cinta pada lelaki itu.

“Mata laki-laki di sekitarku jauh berbeda dengan matamu. Di mata mereka aku hanya melihat angka-angka. Matamu berbeda. Di kedalamannya aku melihat puisi, pantai, lembah, dan pancuran bambu kecil dengan bunyi air yang gemericik. Suatu kelenturan yang mencoba mencairkan kebekuan di dadaku.” (hal. 315)

Gafur adalah cowok Makassar yang dipindahtugaskan di Kendari. Sang pacar, Dira, harus ia tinggal di Jakarta. Hubungan mereka dekat sekali, keduanya saling mencintai. Namun sayang, hubungan itu tak mungkin berlanjut ke pelaminan karena Dira tak berniat menikah. Masa lalu yang buruk di keluarganya memaksa ia menyimpan trauma terhadap pernikahan.

“Cinta hanya perlu cinta, Gafur. Dan saling percaya. Tidak perlu pengumuman. Juga kertas yang distempel.” (hal. 155)

Arga adalah cowok ceria yang naasnya, selalu gagal mempertahankan hubungan cinta. Ia sudah dua kali patah hati, lalu harus mengalami patah hati yang ketiga ketika menaruh harapan pada Dira. Arga tak tahu bahwa Dira merupakan pacar Gafur, sahabatnya sendiri. Dira pun tak tahu jika kedua pria yang mencintainya itu bersahabat. Pertengkaran pun pecahlah.

“Ini semua tak adil bagiku. Hidup adalah soal pilihan-pilihan. Namun, mengapa aku seolah tak punya pilihan, karena menu yang dihidangkan semua tentang kekecewaan. Kalaupun ada bonus, hanya semanguk luka berbumbu harapan yang siap mengejutkan penikmatnya.” (hal. 308)

Mengutip kata Pring pada Gayatri, “Semesta akan bekerja lebih banyak dari kita. Apa kau tahu, Gayatri, bahwa di dalam diri kita juga ada semesta? Biarkan saja ia yang bekerja.” (hal. 262), maka semesta mengakhiri kisah mereka dengan baik-baik. Dira pergi menghilang, menyisakan perih di hati Gafur dan Arga. Pring kembali pada sang istri dan membuat Gayatri merasa dirinya tak ditakdirkan untuk siapapun.

Secara teknis dan isi, buku ini bisa menjadi salah satu karya terbaik tahun ini, hanya saja saya cukup keberatan dengan sifat karakter-karakternya. Misalnya, Gafur yang dengan entengnya menyebut kebiasaannya bermasturbasi dan tidur dengan wanita-wanita, kesetiaan Pring yang begitu tipis, atau Dira yang bersedia tidur dengan semua pacar-pacarnya. Tak jarang saya berucap ‘ya ampun’ ketika mendapati bagian-bagian seperti itu.

Cinta yang dimiliki kisah buku ini adalah hal yang membuat orang pintar jadi bodoh. Lihatlah mereka berempat, siapa yang meragukan intelegensi mereka, berkutat dengan angka-angka setiap hari, pastinya hanya orang dengan intelegensi tinggi yang bisa melakukan itu. Namun saat cinta menumbuhkan harapan, atau harapan itu tak tersampaikan, mereka menjadi orang yang sama sekali berbeda. Pring tergoda gadis lain, Gayatri memutuskan mencintai pria beristri, Arga kehilangan pengendalian diri karena patah hati lagi, dan Gafur juga tak pandai mengontrol hasratnya. Intelegensia masih ada, tapi telah rebah kalah oleh sebuah rasa berjuluk ‘cinta’.

Baguslah pada akhirnya mereka mengerti, bahwa cinta itu tak sekadar merasakan indahnya, ada hal lain yang berkait paut dengan cinta yang kadang lebih penting dari cinta itu sendiri, yakni kesetiaan, rasa hormat, persahabatan, dan penerimaan. Seperti sabda Gafur, “Hidup, hanyalah tentang perkara mengatasi kekecewaan.”

Remarkable work, Officers.