Peringatan Dini Bagi Para Istri

Cover Dosa-Dosa Istri yang Dibenci Allah Sejak Malam PertamaJudul Buku : Dosa-Dosa Istri Yang Paling Dibenci Allah Sejak Malam Pertama
Penulis : Masykur Arif Rahman
Penerbit : Diva Press, Yogyakarta
Cetakan : I, Januari 2015
Tebal : 224 halaman
ISBN : 978-602-279-140-9
Harga : Rp 35.000
Nasib sebuah rumah tangga, apakah akan menjadi surga atau neraka, tergantung pada sang istri. Istri yang berpegang teguh pada syariat adalah penyejuk mata bagi suami dan anak-anaknya. Dia adalah orang yang selalu ada untuk memenuhi kebutuhan keluarga akan kasih sayang dan kebutuhan lain yang sudah menjadi kewajiban seorang istri.

Kedudukan suami sangat mulia dalam rumah tangga. Nabi menegaskan dalam sebuah hadist, “Andai boleh kuperintahkan seseorang untuk bersujud kepada yang lain (selain Allah), tentu kuperintahkan seorang istri untuk bersujud kepada suaminya.” Ini membuktikan bahwa hak suami atas istri sangatlah besar (hal. 47).
Walaupun begitu, Allah juga menjanjikan surga bagi istri yang taat pada suaminya. Istri salihah boleh memasuki surga dari pintu mana saja yang ia kehendaki. Bisa dibilang, menjadi istri (yang salihah) adalah jalan paling istimewa dalam meraih surga Allah.

Untuk menjadi istri salihah, seorang wanita dituntut memahami hak-hak suami. Sang istri harus mengerti batasan-batasan yang tidak boleh bahkan haram dilampaui oleh seorang istri agar terhindar dari murka dan siksaan Allah. Banyak jalan bagi seorang istri meraih surga, sekaligus juga sangat rentan mendapat murka dan siksa Allah (hal. 5).
Buku ini membahas secara lengkap hal apa saja yang bisa mengundang murka Allah pada seorang istri. Ada 57 macam dosa istri yang dipaparkan buku ini, dari yang paling ‘ringan’ seperti tidak minta izin ketika keluar rumah, hingga yang paling berat yaitu membunuh suami.

Setelah menikah, istri sepenuhnya milik suami. Nabi pernah bersabda bahwa yang paling berhak atas diri seorang wanita adalah suaminya dan bukan lagi orangtuanya (hal. 47). Maka sudah menjadi kewajiban istri untuk mendahulukan kepentingan suami di atas kepentingan orangtua.

Seorang istri harus ingat bahwa tujuan utama pernikahan adalah menambah keimanan dan ketakwaan pada Allah (hal. 90). Ia seyogyanya berhati-hati agar tidak melakukan hal-hal yang bisa menyakiti suami. Buku ini bisa jadi pengingat agar istri bisa menjauhi kemungkinan yang tidak diinginkan tersebut.

Dimuat Kabar Probolinggo, Rabu, 11 Maret 2015.

Ketika Kemanusiaan Kian Runtuh

BuWGB8GIAAAG23y.jpg largeJudul: Juragan Haji

Penulis: Helvy Tiana Rosa

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 181 halaman

Terbit: Agustus 2014

ISBN: 978-602-03-0831-9

Harga: Rp 40,000

Membaca kedelapan belas cerpen Helvy Tiana Rosa, sastrawan pendiri Forum Lingkar Pena ini memberi keasyikan tersendiri. Mayoritas cerita yang ditampilkan mengeksplorasi kesengsaraan dalam perang, konflik daerah, terorisme dan bencana. Beberapa yang lain bertemakan perempuan-perempuan yang tak pernah kehilangan asa. Kumpulan cerpen ini pernah diterbitkan pada 2008 dengan judul Bukavu. Tahun 2014, kumcer ini kembali diterbitkan ber-bareng-an dengan momen ibadah haji sehingga Juragan Haji paling tepat diambil sebagai judul.

Masing-masing cerpen sangat kuat dalam narasi dan alur. Helvy begitu piawai membentuk kalimat puitis dengan diksi yang menakjubkan. Sepakat dengan Putu Wijaya dalam komentarnya,

Sebuah cerpen tak sanggup membatalkan Helvy Tiana Rosa dari seorang penyair” (hal. 174).

Jadi, walau sebagian besar cerita dalam kumpulan ini menyimpan tragedi yang berdarah-darah, di tangan dingin Helvy semua cerita mengalir tanpa rasa takut dan ngeri. Seolah kita hanya membaca puisi yang lebih panjang dari biasanya.

Tragedi kemanusiaan menjadi tema pokok buku ini. Helvy memotret luka-luka dari berbagai negara yang kedaulatannya dinodai atau pun limbung dikoyak perang saudara. Dapat kita simak contohnya pada cerpen Lorong Kematian. Penggambaran kekejaman tentara Serbia yang tertawa-tawa membantai warga sipil Bosnia, sangat menyentuh sisi kemanusiaan kita. Tentara-tentara itu menembaki mereka bagai menembak hewan buruan.

Jod terus berburu. Domba-domba jatuh. Ayam-ayam menggelepar. Rintihan mereka menyayat segala, juga bulan. Tetapi tak sedikitpun menyentuh hati Jod dan anak buahnya” (hal.130).

Rwanda menjadi latar berikutnya yang kisahnya juga menyayat hati. Kivu, sebuah daerah di Zaire harus menjadi saksi atas kekejaman perang saudara dua suku di Rwanda. Para pengungsi hidup dengan teramat menyedihkan di Kivu. Mereka kelaparan tanpa bantuan dan menjadi incaran burung pemakan bangkai (hal. 154). Namun, dalam sebuah duka tetap ada keindahan yang tersembunyi. Ialah seorang perempuan berkerudung dengan kondisi mengenaskan tapi tetap istiqamah dalam tahajud di sepinya malam (hal.159). Cerpen berjudul Kivu Bukavu ini dinarasikan oleh tokoh sebuah danau, yang pada tahun 1957 dipuji sebagai yang terindah oleh Ernest Hemingway.

Palestina tak luput menjadi obyek cerita yang wajib disertakan. Hingga Batu Bicara merupakan cerpen Helvy yang sangat terkenal tentang Palestina. Cerpen mengharukan ini terinspirasi dari sebuah hadis Nabi,

“Kiamat tak akan datang sampai tiba pertempuran kaum Muslimin dengan Yahudi. Hingga seluruh batu bicara dan memberitahu bahwa ada Yahudi yang bersembunyi di belakangnya.” (hal. 78).

Tentang rasa kebangsaan, Helvy menyinggungnya dengan sangat apik dalam Ze Akan Mati Ditembak. Bercerita mengenai Ze, remaja yang sudah tahu bahwa akhirnya ia akan mati juga dengan jalan ditembak seperti ayahnya dan warga Lorosae (Timtim) lainnya. Cerpen berlatar kemerdekaan Timtim ini sangat mampu membuat pembaca menangis haru akan kesadaran Ze tentang rasa mencintai tanah air dan kerinduan terhadap perdamaian. Simaklah gumam terakhirnya kala benar-benar diberondong tembakan oleh tentara CNRT,

“Tahu apa mereka? Tahu apa Australia itu? Akulah Ze. Akulah Lorosae!” (hal. 52).

Dalam buku ini, kita dapat juga membaca Lelaki Kabut dan Boneka serta Jaring-Jaring Merah. Keduanya menjadi dokumentasi penting atas dua tragedi yang terjadi di negeri ini, bom Bali 2002 dan Rumoeh Geudong di Aceh pada tahun 1998. Cerpen lain yang ber-setting Indonesia, Lelaki Semesta, yang bercerita tentang Abu Bakar Ba’asyir dan bagaimana ketika ia dituduh menjadi teroris yang melahirkan banyak teroris. Helvy menulisnya begitu liris, penuh simbol dan tak menyebut nama secara frontal.

Tentang girl power, Helvy menyematkannya dalam beberapa judul, semisal Cut Vi, yang berkisah tentang kegigihan seorang mahasisiwi memperjuangkan hak-hak warga Aceh tanpa kenal lelah dan takut.

“Bismillah saja. Aku bicara, aku menulis. Aku menyampaikan kebenaran di mana aku bisa. Tak harus ditentukan tempatnya.” (hal. 3)

Walau akhirnya ia meninggal terseret tsunami, namun perjuangan Cut Vi mampu menginspirasi lelaki yang dicintainya.

Baca pula Peri Biru. Cerpen ini mengisahkan gadis miskin bernama Peri yang tanpa pendidikan formal memadai berkeinginan menjadi penulis besar. Ibunya menjanda ditinggal sang ayah, sedangkan kakak tirinya, Sri, menderita cacat mental. Peri bekerja sebagai pembantu namun berhenti sebab majikannya berlaku banal. Tanpa melupakan keinginannya menjadi penulis, ia memutuskan bertolak ke Hong Kong menjadi TKW.

“Ya, entah di negeri mana, entah sampai kapan, aku harus terus berjuang untuk menumbuhkan sayap, menulis dan menghidupkan dongengku sendiri.” (hal. 121)

Sementara Juragan Haji, yang dijadikan judul kumpulan ini, adalah potret kontradiksi antara dua kutub strata sosial. Mak Siti, 70 tahun, yang begitu rindu ingin berangkat ke tanah suci, harus berhadapan dengan majikan yang berkali-kali berangkat haji tapi sayang perilakunya tak sesuai dengan gelarnya. Cerita Mak Siti semakin pilu karena ibunya di kampung, berusia 85 tahun lebih, juga memendam rindu yang sama (hal. 72).

Beberapa judul lain juga tak kalah menarik untuk disimak. Titin Gentayangan misalnya, yang menceritakan gadis galau karena kekasihnya menikahi gadis lain. Ia mencoba bunuh diri namun selalu gagal. Ada pula Mencari Senyuman yang berbentuk lakon. Boleh juga direnungi kisah pahlawan muda Banjar, Demang Lehman, dalam Idis. Imaji kekacauan konflik yang mengerikan dapat tersaji dengan elok dalam Pulang dan Darahitam.

Melalui cerpen-cerpen dalam kumpulan ini Helvy mengatakan secara gamblang maupun tersirat bahwa di balik konflik, memang ada intervensi dari pihak yang ingin mengadu domba. Buku ini bernilai sastra tinggi. Sangat pantas dibaca kembali untuk mengingatkan kita agar teguh menghargai kemanusiaan. Mengajak kita merenungi betapa besar kerugian yang ditimbulkan oleh sebuah kebencian dan lunturnya kesadaran untuk mengasihi sesama manusia.

*Resensi ini diikutkan dalam Lomba Resensi Forum Lingkar Pena 2015 dalam rangka Milad FLP ke-18. Pernah dimuat di Kabar Probolinggo, 16 Januari 2015. Ditulis kembali dengan berbagai perubahan.

Membangun Mimpi di Terminal Hujan

Judul Buku      : Terminal Hujan

Penulis             : @hQZou (Haqi Fadillah)

Penerbit           : de Teens, Yogyakarta

Cetakan           : I, Februari 2015

Tebal               : 232 halaman

ISBN               : 978-602-255-810-1

Harga              : Rp 38.000

Novel ini ditulis berdasarkan pengalaman penulisnya sebagai pengajar komunitas Terminal Hujan, sebuah sekolah independen di Bogor, dan memiliki dua karakter utama yaitu Valesia atau Ica, mewakili kaum muda yang peduli akan pendidikan kaum marjinal, dan Farah, yang merupakan potret anak miskin dengan semangat belajar yang tinggi.

Cerita diawali pertemuan Ica dengan seorang anak putus sekolah yang baru pulang memulung sampah. Ica yang hatinya mudah tersentuh menjadi gundah. Berbekal pengalamannya mengajar di berbagai sekolah independen di Jakarta, dia berniat mendirikan sebuah sekolah yang bisa menolong anak-anak di kota kelahirannya, Bogor, mendapatkan pendidikan.

Beruntung Ica dipertemukan dengan Umi Hasna, seorang dokter yang giat memberikan pendidikan bagi anak-anak Kampung Jukut, sebuah kampung kecil di kota Bogor. Ica pun mulai ikut mengajar. Bahkan, Umi Hasna menyerahkan anak-anak kepada Ica dan memintanya meneruskan perjuangannya (hal. 54).

Dibantu Maya, sahabat yang bervisi sama dengannya, Ica mengumpulkan teman-teman alumni SMA untuk ikut membantu mengajar. Mereka kemudian berunding untuk menyusun program serta kurikulum ajar. Setiap hari Minggu, Ica dan teman-temannya menjalankan sekolah yang kemudian dinamai Terminal Hujan (hal. 61). Walau hanya menumpang di kantor kelurahan, Ica cs tak pernah kehabisan semangat.

Sementara itu, Farah terpaksa mengamen demi mengumpulkan uang untuk membawa ayahnya yang sakit kanker hati ke rumah sakit. Farah mengikuti Tisa, seorang anak jalanan yang kehilangan kedua orangtuanya karena kebakaran. Mereka menjadi sahabat yang rekat. Berdua, mereka menelusuri angkot demi angkot serta jalanan kota Bogor demi mendapatkan receh. Mereka pun sempat berkenalan dengan Ica yang memberikan uang dua puluh ribu rupiah (hal. 40).

Akibat mengamen dan tidak belajar, nilai Farah turun dan harus tinggal kelas. Ibunya berang dan mencap Farah anak bodoh. Di hari lain, ibu Farah memergoki Farah sedang mengamen. Farah diseret pulang. Mereka bertemu Ica yang baru pulang dari Terminal Hujan. Bersama Tisa, Ica mencoba menyelamatkan Farah. Tisa menjelaskan alasan Farah mengamen. Ibunya terkejut dan tak menyangka Farah melakukan itu untuk membantu sang ayah. Namun sayang, ayah Farah tak bisa bertahan dan meninggal (hal. 99).

Selepas musibah itu, Farah―yang dahulu sudah ikut belajar bersama Umi Hasna―mulai belajar di Terminal Hujan. Ia yang tinggal di kelas 2 ternyata masih kesulitan membaca dan berhitung. Dengan amat sabar, Ica mengajari Farah dengan berbagai metode. Farah sempat menyerah dengan ‘kebodohannya’. Namun, berbekal keinginan untuk membanggakan ibu dan mendapat beasiswa sembako dari Terminal Hujan, Farah tak menyerah. Ia belajar dengan keras setiap hari. Malahan, Farah sempat sakit karena belajar hingga larut malam. “Saat ibunya sudah pergi tidur, Farah masih terjaga. Meski banyak materi pelajaran yang tak dipahaminya, Farah tetap memaksakan diri berkutat dengan buku-bukunya.” (hal. 132).

Usaha Farah yang keras itu belum membuahkan hasil. Ia hampir saja kehilangan semangat. Namun Ica kembali memberinya harapan, bahwa bukan nilai yang menjadi tujuan, tapi bagaimana menikmati proses kerja keras untuk meraihnya (hal. 140).

Dengan semangat baru, Farah kembali belajar dengan giat, bahkan ikut les tambahan yang diperuntukkan bagi kelas 6. Ia selalu ingat janjinya pada para pengajar Terminal Hujan, “Farah janji akan belajar giat. Farah ingin membahagiakan Bapak-Ibu. Farah ingin membanggakan kakak semua.” (hal. 122).

Pada akhirnya, Farah berhasil meraih rangking 3 pada semester berikutnya. Ia juga berhasil membawa pulang beasiswa dari Terminal Hujan. Dalam epilog novel ini, diceritakan Farah kembali bertemu Tisa yang ternyata masih memiliki keluarga, yaitu paman satu-satunya. Dua sahabat itu pun kembali bersama dan membangun mimpi di Terminal Hujan (hal. 226).

Membaca novel ini, kita diajak menyelami hati untuk lebih peduli pada nasib pendidikan anak-anak yang kurang beruntung. Kita juga disadarkan agar tak perlu menjadi sempurna dulu untuk mulai menghidupkan semangat tolong-menolong.

dimuat Koran Jakarta, Senin 16 Februari 2015.

sumber gambar: Facebook penerbit.

Ketika Manusia dan Elf Saling Jatuh Cinta

Folium adalah sebuah negeri yang dihuni dua jenis ras, manusia dan elf. Namun, kedua ras ini dilarang melakukan kontak satu sama lain. Pemimpin mereka yaitu Presiden Clorida membuat sebuah ‘dinding’ tak kasat mata yang tidak memungkinkan kedua ras itu bertemu. Dinding itu disebut Corp. Semua yang berusaha melewati Corp akan mati karena gelombangnya (hal. 4).
Selama ratusan tahun tak ada satu pun yang berani melawan kekejaman Clorida karena nyawa yang akan jadi taruhannya. Semua rakyat Folium membenci Clorida. Ia tak segan membantai satu keluarga jika salah seorang anggotanya melakukan pelanggaran (hal. 27).
Sampai ketika seorang pemburu dari wilayah Rome bernama Alexander Spark mengetahui rahasia untuk melewati tembok itu. Atas nama penasaran, Alex menerobos tembok itu dan masuk ke wilayah elf. Di hutan elf, dia bertemu seorang gadis bermata hijau, berambut perak dan berbadan ramping. Gadis itu adalah elf bernama Cinnamon. Mereka berkenalan dan menjalin pertemanan. Hari-hari selanjutnya, Alex menyempatkan menemui Cinnamon walaupun ia tahu itu adalah pelanggaran yang bisa membahayakan nyawanya. Mereka pada akhirnya saling jatuh cinta.
Kabar pertemuan mereka sampai di telinga Clorida melalui burung mata-mata berjambul kuning, notario (hal. 28). Clorida tidak serta merta membunuh Alex, tapi memberi kesempatan padanya untuk membayar pelanggarannya dengan tidak lagi menemui Cinnamon. Namun, Alex tak bisa menahan diri untuk tak menemui Cinnamon. Ketika akhirnya bertemu, Cinnamon mengajak Alex ke desanya. Di rumahnya, Alex bertemu ayah Cinnamon, Ramus, yang kemudian membujuknya melakukan revolusi melawan Clorida.
Menurutnya, hubungan Alex dan Cinnamon bisa menjadi pemicu semua rakyat Folium untuk memberontak. Kedua ras itu telah menanti selama ratusan tahun agar tembok bernama Corp itu lenyap. Ramus, seperti semua rakyat Folium, menginginkan manusia dan elf bisa bersatu tanpa harus takut batasan (hal. 57).
Akhirnya Alex menyetujui rencana Ramus dan tinggal di rumah Cinnamon untuk mempersiapkan segalanya. Di sebuah hutan yang jauh dari jangkauan notario, Ramus melatih Alex dan Cinnamon menghadapi peperangan. Kemampuannya sebagai manusia memang di bawah elf, tapi Alex dipercaya rakyat Folium memimpin revolusi itu. Ratusan prajurit siap mendukungnya untuk menggulingkan tirani Clorida. Di saat-saat itu pula, Alex menemukan alasan mengapa Clorida memblokir komunikasi kedua ras negeri Folium. Sempat merasa ragu dengan kemampuannya, akhirnya Alex meraih kepercayaan diri setelah melatih kemampuan pertahanan pikiran dengan hasil yang mengejutkan. Kemampuan itu yang akan membantunya melawan Clorida.
Dalam perjalanannya selama masa pemberontakan, Alex mendapati berbagai kenyataan pahit. Dia harus kehilangan satu-satunya paman karena Clorida membumihanguskan wilayah Rome. Beberapa wilayah Folium juga sempat dihancurkan Clorida sebagai peringatan bagi Alex untuk menyerahkan diri (hal. 136, 166). Akan tetapi, sebagai pemimpin pemberontakan, Alex tak berniat untuk mundur selangkah pun. Dia tetap maju berjuang membebaskan Folium dari kekuasaan Clorida.
Membaca novel ini, kita akan teringat pada The Hunger Games. Ada beberapa elemen dalam novel ini yang mirip dengan novel karya Suzanne Collins itu. Seperti karakter Alex yang jago memanah mengingatkan kita pada Peeta Mellark.
Penulis novel ini mampu menggambarkan dunia elf secara cukup apik. Sayangnya, penulis terkesan buru-buru dalam menggarap plot walau premis yang diangkat menarik. Kisah cinta Alex dan Cinnamon yang merupakan ide dasar novel ini malah tak terasa chemistry-nya sama sekali. Penyelesaian konflik antara Alex―yang mewakili Folium―dengan Clorida boleh dikata terlalu mudah. Ada juga kejanggalan seperti peperangan menggunakan balon udara. Rasanya aneh ketika bangsa elf lebih memilih kendaraan perang balon udara dibanding makhluk seperti pegasus. Andai saja naskah ini diberi lebih banyak halaman, mungkin lubang-lubang kejanggalan itu bisa diminimalkan.
Namun, di atas semua kekurangannya, novel ini tetappatut diapresiasi, sebab penulis―yang baru berusia 19 tahun―berani menyuguhkan karangan dengan tema distopia yang masih jarang digarap. Salut!

dimuat Koran Jakarta, 28 Januari 2015. Ini adalah resensi versi belum diedit. yang sudah diedit bisa tampak di sini http://www.koran-jakarta.com/?27736-memecah%20pembatasan%20komunikasi%20dua%20ras

Mengukir Senyum di Wajah Allah

Judul Buku : Amalan-Amalan Wanita yang Paling Disenangi Allah dan Nabi
Penulis : H.M. Amrin Ra’uf
Penerbit : Sabil, Yogyakarta
Cetakan : I, November 2014
Tebal : 221 halaman
ISBN : 978-602-255-711-1
Harga : Rp 35,000

Amalan apakah yang mampu membuat Allah dan Nabi merasa senang? Buku ini akan membahasnya, amalan terbaik yang bisa mengantarkan seorang wanita muslimah mendapatkan lebih banyak cinta dari Allah dan Nabi. Salah satunya yaitu salat sunah. Tahajud, dalam sebuah hadis pernah dikatakan sebagai salat yang paling utama setelah salat fardhu. Salat yang didirikan setelah bangun tidur malam ini memang terkenal karena keutamaannya yang luar biasa.
Nabi bahkan tidak pernah meninggalkan tahajud selama hidupnya. Jika seorang wanita mampu istiqamah sebagaimana Nabi, Allah takkan segan memberikan karunia yang berlimpah kepadanya. Dalam buku ini disebutkan sebagian keutamaan salat yang disebut juga qiyamul lail ini. Beberapa di antaranya, memperoleh pertolongan Allah untuk semua permasalahan hidup, menghindarkan diri dari ketergantungan pada makhluk, dianugerahi hati yang tenang dan lembut serta diberikan cahaya dalam kubur (hal. 63-75).
Amalan selanjutnya yaitu salat Dhuha. Salat satu ini sangat bermanfaat dalam rangka menarik rezeki. Setelah melaksanakan salat Dhuha, sangat dianjurkan untuk membaca surat al-Waqi’ah agar keutamaannya semakin terasa (hal. 95).
Salat lain yang tak kalah penting adalah salat Hajat, Rawatib dan Taubat. Ketiga jenis salat ini sebisa mungkin dijaga dengan istiqamah agar hidup terasa nyaman dan hati kian tenang. Ketiganya juga menyimpan hikmah yang luar biasa.
Amalan lain selain salat yang begitu bernilai adalah istiqamah mendaras al-Qur’an. Orang yang disiplin melaksanakannya setiap hari, akan diberikan pahala yang sangat besar di sisi Allah. Dia juga akan ditempatkan bersama malaikat di Surga serta diibaratkan bagaikan buah utrujjah, yang wangi dan manis. Selain itu, Allah akan mengangkat derajatnya di dunia hingga akhirat. Dan jangan lupa, al-Qur’an dapat pula memberi syafaat pagi pembacanya di hari kiamat (hal. 165-173).
Puasa menjadi amalan selanjutnya yang juga sangat bermanfaat. Kita dapat mencoba merutinkan puasa Senin Kamis. Puasa ini telah terbukti menjadi jalan sukses dalam meraih cita-cita. Prof. Dr. Ir. Amin Aziz, pendiri Bank Muamalat mengaku telah puluhan tahun rutin berpuasa Senin-Kamis. Ia merasakan betul bahwa ibadah satu ini sangat berdampak positif dalam kehidupan dan pekerjaannya (hal. 180).
Puasa Daud juga sangat disenangi oleh Allah. Nabi pernah bersabda bahwa seutama-utamanya puasa adalah puasa a la Nabi Daud ini, yaitu dengan sehari puasa dan sehari berbuka. Puasa ini memiliki beberapa manfaat yang sangat positif yaitu terpeliharanya diri dari kemaksiatan dan dianugerahi ilmu pengetahuan yang istimewa dari Allah (hal. 183, 185).
Puasa lain yang memiliki keutamaan besar adalah puasa hari ‘Asyura dan Arafah. Puasa ‘Asyura merupakan puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan. Sedangkan puasa Arafah memiliki manfaat untuk menghapus dosa setahun sebelum dan sesudahnya (hal. 187, 193).
Satu ibadah yang kelihatannya sepele namun menyimpan keutamaan luar biasa adalah istiqamah menjaga wudhu. Seseorang yang selalu dalam keadaan suci, akan dijaga dari gangguan setan dan diampuni dosa-dosanya, yaitu dosa-dosa kecil dan dosa antara dua waktu shalat. Ketika seseorang berwudhu, maka seluruh kotoran dan dosa dalam dirinya akan ikut keluar bersama tetesan-tetesan air wudhu (hal. 15-26).
Bershadaqah dan berzikir menjadi amalan terakhir yang dibahas buku ini. shadaqah mampu menghalangi bencana serta dapat memperpanjang umur. Dengan bershadaqah, harta yang kita miliki takkan berkurang tapi bertambah, karena setiap kebaikan yang kita lakukan, akan dibalas dengan 10 kebaikan (hal. 217). Shadaqah dapat menjadi salah satu jalan paling utama menuju kesejahteraan finansial. Sedangkan dengan berzikir secara istiqamah, Allah akan mengingat kita, dan memberi hati yang senantiasa hidup. “Perumpamaan orang yang menyebut nama Tuhannya dengan yang tidak menyebut nama-Nya, laksana orang hidup dengan orang mati” (hal. 204).
Buku ini dilengkapi tata cara melakukan ibadah-ibadah tersebut. Akan tetapi, lebih baik jika hanya dicantumkan surat yang dibaca, wirid dan doa khususnya saja. Tidak perlu mencantumkan bacaan iftitah, sujud atau ruku’ yang sebagian besar pembaca sudah mafhum sehingga tak memakan halaman yang cukup banyak.
Pada buku ini juga terdapat halaman yang diulang serta halaman kosong. Hal ini dapat membuat pembaca bingung dan membuat kertasnya mubazir. Namun, buku ini sangat baik dibaca sebagai panduan praktis untuk mendisiplinkankan diri melakukan amalan yang disukai Allah dan Nabi.

Dimuat di Harian Bhirawa, edisi 19 Desember 2014
http://harianbhirawa.co.id/2014/12/mengukir-senyum-di-wajah-allah/#

Panduan Membangun Karir Cemerlang

Judul Buku : Career First, Melangkah Pasti ke Dunia Kerja
Penulis : Maya Arvini
Penerbit : Gagasmedia
Cetakan : I, 2014
Tebal : xvii + 202 halaman
ISBN : 978-979-780-723-8
Harga : Rp 53.000

Buku ini merupakan satu dari sekian banyak buku yang ditulis oleh ekspatriat yang sukses di usia muda. Maya Arvini merupakan lulusan Universitas Indonesia yang memiliki karir cemerlang di IBM dan Microsoft Indonesia. Di buku ini Maya berbagi banyak hal penting yang perlu dipelajari oleh mereka yang ingin berhasil membangun karir di perusahaan.
Menurut Maya, modal awal untuk sukses dalam dunia karir adalah diri sendiri. Kita harus mengenal sebanyak mungkin tentang diri sendiri dulu untuk melihat potensi serta menentukan langkah-langkah strategis untuk mencapai sasaran dalam karir (hal. 49). Untungnya, setiap orang telah dibekali lima macam kecerdasan yang berguna untuk mendukung pencapaian kesuksesan. Kecerdasan-kecerdasan tersebut harus diasah setiap hari agar semakin berfungsi dengan baik (hal. 29).
Kita harus memutuskan untuk memegang kendali atas hidup kita sendiri. Dengan begitu, kita akan tergerak untuk selalu mencari ke arah mana kita akan berjalan (hal. 25). Mengetahui bakat (talent) dan passion termasuk salah satu cara jitu untuk memulainya. Setelah memahami dua hal itu, kita bisa tahu apa life interest kita, hal paling menarik dalam hidup yang ingin diperjuangkan (hal. 34).
Setelah terjun ke dunia kerja, kita harus setia menjaga integritas, yang oleh Maya didefinisikan sebagai konsistensi sikap dan perilaku, bisa diandalkan, dan memiliki komitmen yang tidak mudah luntur. “Integritas adalah salah satu kunci sukses,” tulisnya (hal. 53). Unsur-unsur yang menyusun integritas seseorang adalah profesionalisme, yaitu menuntaskan segala tugas dan kewajiban, serta loyalitas terhadap profesi dan keinginan untuk berkontribusi (hal. 57).
Mengenai komitmen, setelah kita diterima bekerja di sebuah perusahaan, maka kita dituntut memiliki komitmen terhadap perusahaan. Komitmen yang kuat akan mendorong seseorang untuk bertanggung jawab atas peran, menghasilkan kinerja yang baik dan tampil meyakinkan di mana pun berada (hal. 96).
Selain integritas, networking merupakan kunci lain yang sangat menentukan dalam menjalani kerasnya kehidupan di dunia kerja. Networking adalah soft skill penting yang seharusnya diasah sejak masa sekolah karena berhubungan dengan kecerdasan emosi. Lalu bagaimanakah caranya? “Menjalin relasi dengan siapa saja tanpa didasari pamrih,” ungkap Maya membeberkan rahasia suksesnya membangun jaringan (hal. 63). Di samping itu, agar network awet, maka hubungan yang terjalin harus bersifat mutualisme dan saling menghargai (hal. 68).
Dalam upaya mencapai kerjasama yang bagus dengan pihak lain, kita terkadang dituntut melakukan usaha lebih. Maya mencontohkan keberhasilannya menjalin relasi yang menguntungkan dengan klien. Dia mencari tahu dengan detail curriculum vitae calon kliennya hingga informasi terkini mengenai perusahaan tempat klien berasal. Dengan demikian, klien akan memiliki respon positif mengenai kita dan perusahaan (hal. 152).
Sementara untuk mewujudkan hasil kerja yang terbaik, maka kita harus mengeluarkan inisiatif dan kreativitas yang terbaik pula (hal. 150). Seringkali, demi dapat menyajikan kinerja yang melebihi harapan, kita akan mengorbankan waktu di luar jam kerja. “Semua itu memang membutuhkan kerja keras, tapi saat terjun di dalamnya, maka kita akan merasakan adrenalin mengalir saat ditantang untuk mengeluarkan yang terbaik!” (hal. 149).
Buku ini juga membahas bagaimana mengatasi office politics yang sering dilakukan oleh mereka yang menginginkan sukses jalan pintas. Mencermati pola agar tidak terperangkap merupakan satu cara menghadapi politik di kantor. Selanjutnya, belajar menerima dan bersikap santai juga dapat dipraktikkan agar kita tak down oleh ulah kolega yang ahli dalam permainan politik kaum eksekutif (hal. 121).
Kondisi yang dinamis dan tak menentu dapat menambah tekanan hingga mengakibatkan stres. Untuk itu, Maya sangat menyarankan agar kita mencari mentor yang bisa dimintai saran dan advice tentang pekerjaan. Memiliki beberapa mentor dalam berbagai bidang akan membantu kita mendapatkan pengetahuan dan dukungan moral yang tak ternilai (hal. 132).
Kita juga dapat membentuk aliansi dengan beberapa orang yang bisa dipercaya dan diandalkan, yang berasal dari level mana saja. “Membangun aliansi artinya membangun lingkaran kerja yang positif, yang akan mendorong untuk terus maju”. Aliansi bisa sewaktu-waktu berfungsi sebagai sekutu ketika menghadapi office politics (hal. 127).
Buku ini sangat cocok dibaca para pemula dalam dunia kerja agar punya persiapan menghadapi tantangan yang semakin tinggi. Sayangnya, motivasi yang disampaikan masih terasa ‘berat’ karena Maya banyak memberi contoh ketika dia sudah berada di posisi high level, dan kurang membidik pembaca yang tidak memiliki kemampuan sebaik dirinya.

Dimuat di Majalah Luar Biasa edisi Desember 2014

Seribu Keajaiban Tiga Juz Terakhir Al-Qur’an

Judul Buku : Mukjizat Surat-Surat di Dalam Al-Qur’an Juz 28, 29 dan 30
Penulis : Abdullah Zein
Penerbit : Saufa, Yogyakarta
Cetakan : I, November 2014
Tebal : 216 halaman
ISBN : 978-602-255-732-6
Harga : Rp 34.000

“Dan, Kami turunkan dari al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman…” (QS. al-Israa [17]: 82)

Mungkin banyak di antara kita yang belum tahu bahwa setiap surat dalam kitab Allah ini memiliki faedah tersendiri. Kita hanya tahu bahwa agar Allah memberi rezeki yang banyak, membaca Al-Waqi’ah setiap malam dirasa cukup. Tapi tahukah kita bahwa ada beberapa ayat yang disebut ayat ‘seribu dinar’ karena berfaedah mendatangkan rezeki? Tahukah kita di mana ayat tersebut berada? Apakah surat pelindung hanya surat yang disebut Al-Mua’widzatain?
Buku ini secara lengkap bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Menyadarkan kita yang cenderung mengistimewakan beberapa surat saja seperti Yaasin dan ‘acuh’ pada surat lainnya. Kita akan terkejut mendapati bahwa dalam 3 juz terakhir dari al-Qur’an ternyata ditemukan khasiat yang menakjubkan.
Menggunakan ayat-ayat al-Qur’an sebagai semacam ‘mantra’ dalam berbagai keperluan tidaklah mengapa, bahkan sangat dianjurkan. Nabi Muhammad tidak dibekali mukjizat tongkat seperti kepunyaan Nabi Musa as., atau kemampuan tidak mempan dibakar api seperti Nabi Ibrahim as. Nabi terakhir itu hanya dibekali al-Qur’an, yang jika orang mengetahui keutamaan yang terkandung di dalamnya, maka akan takjub karena memang al-Quran mukjizat terbesar yang diturunkan untuk manusia hingga akhir zaman (hal. 5).
Namun, al-Qur’an hanya akan memberikan manfaat pada orang-orang beriman dan yakin akan kekuasaan Allah. Tak ada sesuatu yang akan bermanfaat bagi mereka yang tidak mempercayai ayat-ayat Allah. “Al-Qur’an mengandung obat dan rahmat. Namun, hal ini tidak berlaku bagi setiap orang, khusus bagi mereka yang membenarkan ayat-ayat Allah dan mengamalkannya. Adapun orang-orang zhalim yang tidak mempercayainya, maka ayat-ayat tersebut akan semakin membuat rugi” (hal. 8).
Dalam buku ini, pembaca diajak menyelami kandungan, asbabun nuzul serta khasiat dan keutamaan di tiap-tiap surat pada juz 28 hingga 30. Sebagai contoh pada surat al-Muzammil. Dengan membaca surat ini 41 kali, maka kita dapat bertemu Nabi Muhammad saw. di dalam mimpi. Surat ini memiliki kandungan agar umat Islam melakukan shalat malam, membaca al-Qur’an dengan tartil, bertasbih dan bertahmid, seperti yang pernah Allah perintahkan kepada Rasulullah sebagai penguatan ruhani (hal. 60-61).
Bagi yang sedang mengalami kesulitan keuangan, disarankan untuk mengamalkan membaca ayat 2 dan 3 surat at-Thalaq. Inilah ayat yang oleh Nabi disebut ayat ‘seribu dinar’. Dengan rutin membacanya tiga kali setelah shalat fardhu, maka akan memperoleh kemurahan rezeki yang tidak disangka-sangka (hal. 38).
Ada banyak surat lain yang memiliki keajaiban melancarkan rezeki dengan pengamalan yang beragam. Surat ad-Dhuha misalnya. Bila surat ini dibaca tanpa dihitung dari pukul 8 hingga 11 pagi lalu setelah itu kita shalat Dhuha, dengan izin dan ridha Allah, rezeki akan mengalir deras (hal. 113). Dapat kita amalkan juga ayat 10-12 dari surat Nuh, yang populer sebagai penarik rezeki. Dengan mengamalkan secara teratur diiringi istighfar, maka Allah akan mencukupkan rezeki kita (hal. 55).
Untuk urusan mengusir jin dari rumah, kita bisa memakai surat al-Jin, al-Mulk dan ar-Rahman. Dengan membaca kolaborasi ketiga surat tersebut di rumah yang banyak jin, dengan izin-Nya, jin tersebut akan merasa panas dan meninggalkan rumah (hal. 59). Surat lain yang juga ampuh membinasakan jin ialah surat al-Hasyr (hal. 21) dan tentu saja, dua surat terakhir dalam al-Qur’an yang disebut al-Mu’awidzatain. Dua surat ini juga mampu menghilangkan rasa takut dan pengaruh sihir (hal. 181).
Khasiat lain yang mungkin tak masuk akal ialah kemampuan surat al-Buruuj dalam membuka gembok yang kuncinya hilang (hal. 90) atau surat al-Muthafifin yang berkhasiat memelihara tanaman dari hama (hal. 86). Kening kita juga mungkin akan berkerut kala mengetahui bahwa surat at-Thariq mampu mengembalikan barang yang diambil pencuri (hal. 94) atau mukjizat surat al-Qiyaamah yang mampu menguatkan ingatan (hal. 67) dan surat al-Haaqqah yang berkhasiat memperlancar kelahiran bayi dan mencegah keguguran (hal. 50).
Kenyataan tersebut membuktikan bahwa al-Qur’an sebagai mukjizat memang benar adanya. Al-Qur’an memiliki rahasia yang akan bermanfaat bagi siapa yang mempercayainya. “Meski tak dapat diterima nalar, tapi kekuasaan Allah nyata di alam ini” (hal. 89).
Buku kecil ini merupakan referensi yang tepat bagi siapa saja yang ingin mendapatkan keberkahan melalui mukjizat al-Qur’an.

Dimuat di Koran Probolinggo, edisi 8 Desember 2014