Deteksi Penyakit Melalui Bau Napas dan Bau Tubuh

Sinyal Bahaya Dari TubuhJudul Buku : Sinyal Bahaya dari Tubuh
Penulis : Sheila Wijaya
Penerbit : Flashbooks
Cetakan : I, Maret 2015
Tebal : 148 halaman
ISBN : 978-602-255-827-9
Harga : Rp 28.000

Dalam merespon adanya penyakit, tubuh memiliki berbagai cara yang unik. Tubuh akan mengeluarkan sinyal jika sebuah penyakit menempel pada tubuh. Bau napas dan bau tubuh adalah dua di antara cara tubuh memberikan sinyal kepada kita bahwa ada suatu penyakit serius yang sedang kita alami. Bau khas yang menguar dari napas dan tubuh seseorang dapat digunakan untuk mendeteksi beberapa penyakit kategori berat seperti diabetes, kanker paru-paru, gagal ginjal, atau kanker hati.

Mungkin kita akan heran, bagaimana bisa bau napas dan bau tubuh dapat dijadikan patokan adanya suatu penyakit? Berdasarkan penelitian terbaru dari Karolinska Institutet, Swedia, yang dipublikasikan jurnal Psychological Science, manusia mungkin dapat mengetahui penyakit lewat bau, yaitu bau napas atau setidaknya bau keringat. Penelitian tersebut melibatkan 8 orang sehat yang sebagian disuntik dengan zat racun dan sisanya dengan air garam (yang tak berefek). Hasilnya, potongan kaus orang yang disuntik zat racun memiliki bau yang lebih menyengat dibanding orang yang disuntik dengan air garam (hal. 6).

Bau napas (halitosis) sering diakibatkan adanya kerusakan pada organ mulut seperti karies gigi, sariawan, juga diakibatkan oleh konsumsi makanan yang berbau tajam seperti petai. Bau napas dapat pula disebabkan oleh gangguan pada lambung yang menguarkan gas dan dikeluarkan lewat napas. Jika seseorang memiliki bau napas tidak sedap, ia tetap harus waspada. Bisa jadi, itu adalah tanda adanya penyakit.
Tim peneliti dari sebuah rumah sakit di Italia menemukan tes yang cukup akurat untuk mendeteksi penyakit kanker lambung lewat bau napas. Akurasi tes berkisar di angka 76%. “Teknologi tersebut didasarkan pada teori bahwa tumor memproduksi sejumlah zat organik yang ditemukan dalam napas penderita” (hal. 23-24).

Orang yang menderita penyakit diabetes biasanya memiliki bau napas seperti pernis kuku. Diabetes merupakan penyakit ketika tubuh kekurangan insulin, yang bertugas mengubah zat gula menjadi energi. Apabila insulin tidak mencukupi, maka akan menimbulkan timbunan kadar gula dalam darah dan terjadilah diabetes (hal. 41).

Sementara bau napas yang mirip amonia sering dialami pada penderita kanker paru-paru. Kanker paru-paru adalah pertumbuhan sel kanker yang tak terkendali dalam jaringan paru-paru. Penyakit ini sering diakibatkan oleh rokok atau akibat terpapar asap rokok (perokok pasif). Kanker paru-paru merupakan kanker yang berbahaya dan mematikan karena menyerang organ inti yang mengatur pernapasan (hal. 61-2). Pengobatan penyakit ini biasanya menggunakan radioterapi, kemoterapi atau pembedahan.

Penyakit lain yang dapat dideteksi lewat bau napas adalah radang amandel. Penderita penyakit ini memiliki bau napas seperti telur basi. Radang amandel banyak disebabkan oleh virus dan konsumsi makanan yang mengandung pengawet. Untuk mengatasi penyakit ini, penderita dapat menggunakan obat tradisional seperti ramuan jeruk nipis, tanaman jarong, kapulaga dan akar bunga pukul empat (hal. 93).

Selain lewat bau napas, kita juga dapat mendeteksi adanya gangguan kesehatan melalui bau tubuh. Misalnya pada penderita kanker kulit (melanoma), tubuhnya akan berbau menyerupai bensin. Melanoma dapat muncul pada kulit normal atau berupa tahi lalat (mol). Jika Anda memiliki mol yang semakin besar, harap waspada dan segera memeriksakan diri ke dokter. Untuk menghindari penyakit kanker kulit, kita harus mengurangi kontak langsung dengan paparan sinar ultraviolet di atas pukul 10 pagi dan menghindari memakai kosmetik yang berbahan karsinogen (zat pemicu kanker).

Penulis menguraikan secara lengkap tentang penyakit-penyakit yang dapat dideteksi dengan bau napas dan tubuh, penyebab, gejala dan cara pengobatannya. Selain itu, buku ini juga dilengkapi cara-cara pencegahan agar kita terhindar dari penyakit-penyakit tersebut. Tindakan pencegahan tentu berbiaya lebih murah dibanding mengobati penyakit, yang terkadang tak kita sadarai keberadaannya.

Berolahraga secara teratur akan meningkatkan peredaran darah dan membakar lemak berlebih. Mengkonsumsi buah-buahan dan sayuran yang berwarna juga dapat meningkatkan kekebalan tubuh. Mengontrol pola makan selalu seimbang dan menghindari alkohol serta junk food juga efektif untuk mencegah berbagai penyakit datang. Istirahat cukup dan menjauhi begadang sangat bermanfaat untuk menjaga kesehatan hati. Tidur awal dan bangun awal pun diyakini dapat meningkatkan kinerja otak. Akhirnya, kondisi kesehatan sangat bergantung pada bagaimana seseorang menjalani gaya hidup dan pola makannya.