Spionase Amatir Sang Pelobi White House

1344088308r_The-Broker
sumber gambar: tokokomikantik.com

Judul Buku : The Broker
Penulis : John Grisham
Penerjemah : Siska Yuanita
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakah : Kedua, September 2007
Tebal : 600 halaman
ISBN : 979-22-2703-2

Sama seperti The Last Juror, Sang Broker masih berputar di sekitar wilayah hukum, namun dalam cakupan yang lebih luas dan level yang lebih tinggi. Bukan hanya sebuah kota kecil di Clanton, tapi melibatkan dunia internasional.

Novel ini berkisah tentang Joel Backman, seorang pengacara yang mengelola sebuah biro hukum bersama dua orang kawannya, Carl Pratt dan Kim Bolling.

Biro itu tumbuh menjadi biro paling berpengaruh di Washington, juga White House. Kemampuan Backman untuk melobi dan menekan berbagai pihak menjadikan banyak klien yang tersandung kasus-kasus besar memanfaatkan jasanya. Backman pun sukses berpenghasilan hingga 10 juta dolar setahun. Selama bertahun-tahun, kegiatannya yang bisa dibilang kotor itu bertahan. Sampai tiga pemuda jenius Pakistan menjadi kliennya.

Mereka telah berhasil membuat sebuah perangkat lunak yang diberi nama JAM, bisa mengendalikan 9 satelit rahasia entah milik siapa. Karena mengendus adanya potensi uang yang begitu besar, Backman meminta kawannya, Jacy Hubbard, untuk menawarkan JAM ke negara-negara seperti Saudi, Israel, dan Rusia.

Sayangnya, persekongkolan itu terbongkar FBI dan menyeret Backman serta kliennya ke pengadilan. Tiga pemuda penemu JAM telah dibunuh entah oleh siapa, lalu Hubbard juga dihabisi. Akhirnya Backman mengaku bersalah dan dijebloskan ke penjara federal. Ia mendekam di sana selama enam tahun.

Sampai di detik terakhir kepemimpinan Arthur Morgan yang payah, Backman mendapatkan pengampunan penuh dan dibebaskan. Ia dikirim oleh CIA ke Bologna, Italia dengan identitas yang baru. Rencananya, setelah Backman mapan, CIA akan menginformasikan kepada negara-negara yang memburunya; Saudi, Cina, Rusia, Israel terkait lokasi Backman untuk membunuhnya. Dengan begitu, CIA akan tahu siapa pemilik satelit rahasia yang software pengendalinya ada di tangan Backman.

Namun Backman bukan orang bodoh. Di sela-sela rutinitas baru beradaptasi sebagai Marco Lizzeri di Bologna―belajar bahasa Italia, jalan-jalan, makan di bar dan kafe―Backman menyadari bahwa ia dikirim ke sana bukan tanpa alasan. Backman mencoba menghubungi seorang anaknya, Neal Backman yang tinggal di sebuah kota kecil di Virginia, melalui surat yang dititipkan seorang wanita di stasiun. Tak mudah melakukannya karena Luigi, sang pengawas selalu membuntuti Backman.

Hingga dua bulan berlalu, negara-negara pemburu Backman mendapatkan informasi keberadaan sang broker. Dimulailah keharuan perburuan dan spionase amatir yang menegangkan di seputaran Bologna, Milano hingga Zurich. Backman berhasil kabur dari para pengejarnya―Cina, Saudi, Israel, CIA dan FBI. Ia sampai di Zurich, tempat tambang uangnya berada. Dari sana, ia mulai menyusun rencana-rencana untuk menyelamatkan nyawanya dan JAM, tentu saja.

Grisham tak hanya menulis kisah menarik tentang spionase, tapi juga mengajarkan metode untuk belajar bahasa asing. Setelah menghafal 200 kosakata, Backman belajar bahasa Italia dengan berjalan-jalan di sepanjang kota Bologna bersama gurunya, Ermanno di pagi hari dan Francessa di sore hari. Sang guru menyuruh Backman berbicara dengan polisi untuk bertanya arah, memesan berbagai menu di kafe dan menyebutkan nama benda atau kegiatan yang ditemui di jalan dengan bahasa Italia. Dalam dua bulan, Backman telah menguasai percakapan dasar serta aksen orang Italia. Learning by doing. Sangat efektif.

Saya ingin sekali mengutip sebuah kalimat ketika Backman baru saja menginjakkan kaki di Italia.

“Joel berhenti sebentar di depan tabaccheria dan mengamati dengan cepat kepala-kepala berita di koran-koran Italia, walau ia tak tahu satu patah kata pun yang tertulis di sana. Ia berhenti berjalan karena ia bisa berhenti berjalan, karena ia manusia bebas yang memiliki kekuasaan dan hak untuk berhenti berjalan kapan pun ia mau, dan mulai bergerak lagi kapan pun menginginkannya.” (hal. 97)

Kalimat tersebut menurut saya sangat lucu. Dan di sepanjang halaman-halaman dalam novel ini, pembaca akan menemukan lebih banyak lagi kalimat-kalimat lucu semacam itu. Bagaimana Grisham yang mengaku gaptek bisa menuliskan cerita tentang teknologi canggih seperti spionase, satelit, komputer dan smartphone dengan begitu menawan?
Barangkali itu adalah kesalahan, kata Grisham. Dan kesalahan itu sangat indah.

Bel lavoro, Nonno!

Meloakkan Hati yang Patah

Pameran Patah HatiJudul Buku : Pameran Patah Hati
Penulis : Mini GK
Penerbit : Ping
Cetakan : I, Maret 2015
Tebal : 204 halaman
ISBN : 978-602-255-836-1
Harga : Rp 36.000

Ode selalu bermusuhan dengan Yosinta semenjak SMP, tak pernah akur sedetik pun. Ever, teman rekat Yosinta hanya bisa melerai ketika keduanya berkelahi dan saling jambak. Setiap hari, ada saja hal yang diributkan mereka. Namun sebenarnya, permusuhan itu hanyalah bentuk kekesalan Yosinta.

“Pada kenyataannya ini hanyalah permusuhan sepihak. Hanya Yosinta yang menganggap Ode saingannya. Tidak sebaliknya.” (hal. 91)

Yosinta kesal karena dirinya dan Ode selalu menyukai orang yang sama, yaitu guru mereka sendiri. Ever sebagai sahabat tak lelah menasihati Yosinta untuk berhenti menyukai orang dewasa dan tidak lagi melakukan hal konyol di masa sekolah. Yosinta tak mengindahkan nasihat sahabatnya, bahkan ia dan Ode kembali berkelahi di mal gegara berebut parfum (hal. 46).

Kebencian Yosinta memuncak ketika tahu Ode terpilih mewakili sekolah dalam olimpiade bahasa Inggris. Yosinta yang sudah menguasai hampir semua mata pelajaran tak rela jika Ode selangkah lebih maju dari dirinya. Apalagi setelah Ode memutuskan untuk ikut bimbingan belajar demi memperbaiki nilai-nilainya. Di sana, mereka kembali naksir dengan orang yang sama, yaitu Atlas, tanpa tahu bahwa orang itu adalah kakak Ever.

Kakak Ode, Enko sedang merajut kisah cintanya dengan Dipati. Enko adalah tipe orang yang tak mudah curiga dan selalu berbaik sangka kepada orang lain. Ode yang membenci Dipati tidak sengaja melihat pria itu berkencan dengan orang lain. Sementara itu, Atlas masih berusaha untuk move on dari sang mantan, seorang gadis cantik keturunan India. Sampai kemudian ia bertemu Enko dan jatuh cinta pada gadis itu, tanpa tahu siapa sesungguhnya Enko.

Sebuah konser amal membuka semua tabir rahasia itu. Enko akhirnya menyaksikan sendiri Dipati sedang berkencan dengan seorang perempuan yang ternyata sahabatnya. Ode yang juga berada di sana melabrak dan menyerang Dipati. Sementara Atlas yang sedang memotret konser itu, baru mengetahui jika Enko adalah kakak Ode, anak didiknya di bimbingan belajar.

Ever yang jengah terhadap sikap Yosinta yang bak seorang putri, mulai menyadari bahwa ia menyukai Ode. Ia pun terkejut karena Ode merupakan adik dari Enko, penulis idolanya. Yosinta yang masih menyimpan kebencian pada Ode, berusaha mencelakai Ode dengan memasang pensil di jalan agar Ode terjatuh. Namun kejadian itu justru mendekatkan Ode dengan Ever ketika Atlas menyuruh adiknya itu mengantar Ode pulang (hal. 176).

Hubungan Atlas dengan Enko sendiri makin dekat setelah mereka bertemu kembali di sebuah pameran yang diisi oleh orang-orang patah hati yang meloakkan barang-barang kenangan bersama sang mantan. Dengan perjuangan seorang lelaki patah hati, akhirnya Atlas berhasil merebut hati Enko. Ever yang hatinya masih utuh pun tak gentar membujuk Ode menerima cintanya (hal. 203).

Kisah tentang patah hati ini menarik, sayangnya belum tereksekusi dengan baik. Penulis masih terjebak untuk menghadirkan kejutan-kejutan klise yang barangkali disediakan demi memperkokoh bangunan cerita namun terkesan hanya menyodorkan informasi semata. Jumlah karakter utama yang diciptakan juga terlalu banyak untuk buku dengan tebal hanya 204 halaman. Banyak juga adegan dan dialog yang terlalu lambat, misalnya ketika Ode bertengkar dengan Yosinta di tangga, atau ketika Ever belajar bersama di rumah Yosinta.

Adegan pameran pun sangat kurang dalam eksplorasinya. Ia hanya menunjukkan bahwa judul buku ini terinspirasi dari sana. Penulis seperti tak menawarkan hal baru dalam pemaknaan terhadap ‘patah hati’. Jadi, hanya menyuguhkan adegan demi adegan yang bernuansa ‘patah hati’, tanpa eksplorasi yang cukup kuat mengapa mereka, para karakter dalam novel ini, mengalami ‘patah hati’. Inkonsistensi antara judul dan isi cerita novel inilah yang agak kurang dapat dinikmati.

Satu hal yang patut dipuji dalam novel ini adalah kemampuan penulisnya untuk membuat ketegangan cerita dan menambah dosis penasaran pembaca akan akhir kisah masing-masing karakternya, walaupun sudah bisa ditebak.

John Grisham dan Pesona Ahli Hukum

vlcsnap-2015-04-30-08h33m44s117Judul Buku : The Last Juror
Penulis : John Grisham
Alih Bahasa : B. Sendra Tanuwidjaja
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : II, Desember 2007
Tebal : 536 halaman
ISBN : 979-22-2598-6

The Last Juror (Anggota Juri Terakhir) adalah novel Grisham kesekian yang berkisah tentang sorang anak muda dropout dari sebuah kampus anggota Ivy League (universitas terbaik di Amerika) bernama Willie Traynor. Usianya baru saja 23 tahun ketika dia membeli sebuah koran yang telah bangkrut di sebuah county  berjuluk Ford, di kota Clanton. Nama panjang koran itu adalah The Ford County Times. Pemilik sebelumnya adalah seorang wanita berusia 90 tahun yang hidup di panti jompo, redakturnya, Wilson Claude, adalah sang anak, yang lebih suka menulis berita kematian. Karena manajemen yang buruk, Times bangkrut dan Claude pergi entah ke mana. Sebagai anak muda yang masih segar dan tak punya takut, Willie nekat meminjam uang pada sang nenek yang kaya raya dan membeli Times seharga $50,000.

Dan di bawah kepemimpinan Willie, Times selamat dari kebangkrutan totalnya, apalagi ketika sebuah kasus pembunuhan menghebohkan kota kecil itu. Rhoda Kasselaw diperkosa dan dibunuh secara brutal oleh Danny Padgitt, anak dari keluarga Padgitt―penguasa Pulau Padgitt yang menjual mariyuana dan memiliki banyak bisnis ilegal. Kejadian itu memicu kemarahan warga kota dan mereka menghendaki hukuman mati bagi orang itu. Sidang berlangsung beberapa kali, dan pada sidang terakhir, Danny Padgitt bersumpah akan membalas dendam jika juri―pada waktu itu penilai putusan adalah juri―menyatakan dirinya bersalah.
Akhirnya Danny dijatuhi hukuman ‘seumur hidup’. Dia dikirim ke penjara Parchman, yang terkenal busuk. Tapi beberapa tahun kemudian seorang mantan asisten hakim yang bertugas di sidang terakhir Danny, mendapati Danny berkeliaran bebas dengan dikawal petugas.

Hal itu membuat Willie langsung bereaksi dengan menuliskan editorial mengenai fasilitas yang diterima oleh narapidana dengan keluarga kaya, seperti Padgitt. Willie mempertanyakan sistem penjara yang timpang tersebut. Hingga setelah 8 tahun mendekam di penjara, diadakan dengar pendapat agar Danny dibebaskan bersyarat. Dengar pendapat itu diadakan tertutup. Untungnya Willie mengetahui hal itu dan mengajukan diri menjadi saksi. Ia melanggar perjanjiannya dengan menuliskan hasil dengar pendapat tersebut. Danny batal untuk dibebaskan karena Willie bersaksi dengan begitu keras dan membeberkan fakta-fakta yang mengejutkan Dewan pembebasan.

Setahun kemudian, dengar pendapat tersebut diadakan kembali. Danny akhirnya bebas karena bisa berkelakuan baik selama masa hukuman, dan dianggap sanggup mempertahankannya ketika bebas.

Setelah Danny bebas, terjadi pembunuhan atas dua juri, mereka tewas ditembak dari jarak jauh. Sedangkan satu orang lagi, yaitu Mrs. Maxine Root selamat dari percobaan peledakan dengan bom. Hal itu membuat Sherrif yang baru terpilih menangkap Danny yang dicurigai sejak awal untuk balas dendam. Ketika Danny disidang untuk kasus itu, seorang penembak jitu memecahkan kepala Danny dan menembaki kota. Ia diketahui sebagai Hank Hooter setelah menembak dirinya sendiri. Hooter merupakan penderita skizofrenia yang juga kekasih Rhoda. Ia menembak ketiga juri itu karena mereka menentang pemberian hukuman mati bagi Danny (Waktu itu Hank Hooter bekerja sebagai asisten Jaksa). Kasus pun tuntas.

Willie berusaha dengan gigih agar Times kembali mendapatkan banyak pelanggan. Berbeda dengan redaktur terdahulunya, Willie berani menuliskan berbagai hal secara sensasional. Ia juga berani untuk menulis profil mengenai wanita kulit hitam yang berhasil membesarkan 8 anak, 7 di antaranya Ph.D. Wanita tersebut adalah Miss Callie, yang nantinya akan menjadi teman terbaik bagi Willie, dan menjadi anggota juri terakhir yang dipilih Jaksa.

Willie mengelola koran mingguannya itu dengan mengambil banyak keputusan yang tepat. Ia tak segan menyuarakan pandangannya terhadap apa saja yang terjadi di Clanton, juga mengobarkan semangat antiperang (dengan Vietnam). Penjualan Times yang dulunya hanya 1.200 eksemplar, di tangan Willie berhasil mencapai penjualan hingga 5.000 bahkan 6.000 eksemplar. Sampai sepuluh tahun, ia akhirnya menjual Times seharga 1,5 juta dollar.

***

Membaca John Grisham berarti membaca banyak kesenangan, detail dan kecerdasan. Rasanya memang setiap penulis yang berhasil memiliki ketiganya; serta spesialisasi dan Griham terlihat begitu ahli dalam menulis novel bidang hukum. Apakah jika Grisham menulis di luar tema itu akan terlihat konyol? Sementara ini belum saya ketahui, karena novel ini adalah novel Grisham pertama yang saya baca. Pernyataan saya terkait spesialisasi Grisham di meja hijau berdasar pada pernyataan Grisham sendiri,

“Saya tidak bisa menulis sebagus beberapa penulis lain; bakat saya adalah menghadirkan cerita yang baik tentang ahli hukum. Di situlah saya betul-betul menguasai.”

Di samping itu, Grisham juga seorang pensiunan pengacara dan mantan politikus AS. Di tangannya, pengadilan jadi tempat yang sangat menarik dan ahli hukum tampak mempesonakan akal. Di novel ini tokoh utamanya Willie Traynor, seorang jurnalis. Berita bagusnya, Willie dikelilingi orang-orang yang sudah mengerti banyak mengenai hukum-hukum. Henry Fox, pengacara perkawinan; Baggy, penggosip yang suka nongkrong dengan para pengacara; dan Ernie Gaddis, jaksa penuntut yang begitu getol menjatuhkan tuntutan seberat-beratnya.

Narasi yang dilontarkan Grisham mengocor seperti keran, kalimat-kalimat komentar penuh dengan kelakar, dan alur mengalir lancar. Seluruh elemen yang disyaratkan dalam sebuah novel dipenuhi seluruhnya, bahkan digarap dengan sempurna. Gaya bercerita Grisham ini saya temukan juga ditiru oleh banyak pengarang Indonesia.

Walau begitu saya belum menemukan siapa yang dimaksud ‘The Last Juror’ oleh Grisham, apakah Miss Callie ataukah Mrs. Maxine Root, yang menjadi korban ketiga sekaligus terakhir percobaan pembunuhan juri? Saya juga cukup kecewa karena pelaku penembakan tiga juri bukan Danny Padgitt.

Mengejar Cinta Mas Sekuriti

Cinta-Emang-Bego
sumber gambar: blog penulisnya

Judul Buku : Cinta Emang Bego

Penulis : Nikma. TS

Penerbit : Moka Media

Cetakan : I, 2014

Tebal : 176 halaman

ISBN : 979-795-826-4

Suatu pagi, seorang cewek terlambat berangkat ke sekolah karena lupa mengisi bensin untuk motor matic-nya, sehingga dia harus naik angkot yang tidak bisa ngebut. Sesampai di sekolah, gerbang depan sudah dikunci. Terpaksa, dia manjat pagar belakang, dan ketahuan. Bukan oleh guru atau kepala sekolah, tapi oleh satpam. Dari sanalah ke-bego-an cinta si cewek dimulai. Satpam itu sangat ganteng, yang kegantengannya bisa membuat artis korea rela operasi plastik lagi, begitu kata penulis.

“Aku seketika terpana, menatapnya yang berjalan ke arah gerbang dengan berkacak pinggang. Dalam hati aku bertanya siapakah gerangan cowok yang wajahnya seperti pangeran dalam dongeng ini?” (halaman 3)

Cewek itu, Lintang, seketika jatuh cinta. dalam waktu singkat, ketampanan satpam baru itu telah menjadi trending topic di sekolah Lintang. Teman sekelas Lintang, Virna, juga naksir sang sekuriti yang teridentifikasi bernama Febri. Cewek-cewek lain di sekolah pun sama saja, mereka mendadak menjadi penggemar Febri. Lintang tentu tak mau kalah, ia berjuang sekuat tenaga untuk merebut perhatian Febri, mulai dari membuatkan kue brownies yang sebagian besar ditangani mamanya, sampai menawari Febri tempat kos di paviliun rumahnya. Ketika itu, Febri sedang bermasalah dengan tempat tinggalnya. Akhirnya Febri menyewa paviliun itu, sekamar dengan seorang cowok yang sudah lebih dulu tinggal, Faundra. Cowok itu merasa tak nyaman karena harus sekamar dengan Febri. Faundra sebenarnya naksir Lintang, tapi Lintang selalu jutek padanya.

Kebahagiaan Lintang tinggal dekat dengan Febri harus musnah ketika beberapa kali gagal dengan rencana jalan barengnya. Puncaknya adalah ketika Virna mendeklarasikan diri sebagai pacar Febri. Namun ternyata, Febri yang ganteng itu bukanlah orang baik-baik. Ia adalah perampok yang kerap melakukan pencurian. Utangnya di beberapa tempat pun tak sedikit. Ketika rumah Lintang kosong karena semuanya pergi ke rumah sang nenek, Febri melakukan aksinya. Ia membekap Faundra yang kebetulan ada di paviliun. Ia menggasak semua perabotan rumah tangga―kulkas, kompor gas, sofa, almari, televisi―dan membawanya kabur dengan mobil pick up. Lintang pun gigit jari, cintanya kandas dengan amat mengenaskan.

Cerita yang ditawarkan novel ini sebenarnya sangat biasa. Kejutan yang disiapkan penulis―Febri yang ternyata garong―menuai ledakan yang kecil saja, bahkan seperti tak terasa. Kelebihan novel ini adalah pada komedi dan lelucon yang hadir sepanjang halaman pertama sampai terakhir. Saya tak keberatan untuk ngakak saat membaca narasi atau dialog yang ditulis. Saya berikan contohnya berikut ini.

“Nenek adalah salah satu wanita yang paling mengerti jiwa muda. Bahkan nenek masih suka pakai high heels dan kaos kaki berenda kalau lagi hang out sama temen-temennya.” (halaman 20)

“Oke, potongan harga. Masing-masing 50 saja.”

“Nggak, deh, makasih.”

“25 ribu saja.”

“No, thanks.”

“5 ribu saja.”

“Deal.” (halaman 51)

“Buatku, Faundra cuma cinta monyet masa SMP. Sekarang aku sudah SMA, dan cintaku pada Febri berada setingkat di atas cinta monyet, berarti cinta gorila?” (halaman 15)

Well, novel ini cukup asyik dinikmati saat galau dan tidak ada kerjaan. Jangan lupa membawa wajan untuk menutupi muka panjenengan ketika tertawa-tawa sendiri.

Menemukan Kedamaian di Rumah Lavender

10174817_732842026736533_5219836689608575191_n
sumber gambar: fanspage penerbit

Judul Buku : The Lavender House
Penulis : Joceline F. Jana
Penerbit : Diva Press
Cetakan : I, Mei 2014
Tebal : 204 halaman
ISBN : 978-602-255-532-2

Amanda adalah seorang anak yatim piatu yang tinggal di rumah Maggie, sebuah rumah yang menampung anak-anak tanpa orangtua. Rumah itu terletak di Worrundani, kota kecil di barat laut Melbourne.
Amanda berusia 7 tahun ketika tiba di rumah itu dengan diantar oleh pengacara ibunya, Pak Collins. Amanda sudah berpindah beberapa kali dalam rumah penampungan sebelum diantar ke rumah Maggie, yang akan menjadi persinggahannya yang terakhir di masa remaja. Di rumah itu, anak-anak datang dan pergi setiap waktu; diadopsi atau kedatangan anak-anak baru.

Maggie merupakan wanita yang sangat mengutamakan pendidikan. Ia begitu hati-hati dalam mendidik anak-anak asuhnya. Ia tak pernah berkata keras atau membentak mereka. Namun ia juga orang yang sangat disiplin. Setiap anak harus mengerjakan tugas rumah yang telah dibagi-bagi. Setelah itu, mereka akan pergi ke sekolah yang dikelola seorang wanita bernama Deakan.

Pada suatu hari, tibalah seorang anak baru bernama Stacey. Gadis kecil inilah yang nantinya akan menjadi sahabat rekat Amanda. Stacey ditempatkan dalam ruangan yang sama dengan Amanda. Dia membantu tugas Amanda mengambil telur ayam di kandang. Bahkan, ia bisa merawat halaman belakang dengan lebih baik dari siapapun. Stacey adalah anak pendiam yang kehilangan keceriaan karena kehidupannya yang buruk.

Di usia 17 tahun, Amanda bertemu Pak Collins yang menyerahkan surat dan sejumlah uang dari mendiang ibunya. Dari Pak Collins itulah Amanda mengetahui bagaimana ibunya yang sebenarnya, kakek neneknya, dan arti Amanda bagi sang ibu.
Ketika lulus SMA, Amanda harus pindah ke Melbourne karena mendapatkan beasiswa kedokteran di universitas terbaik di sana. Stacey yang sangat bergantung pada Amanda tak kuasa berpisah dengan sahabatnya itu. Masa lalunya yang kelam bersama sang ibu yang dipenjara membuatnya sedikit emosional dan pernah sekali memukul teman di sekolah.

Amanda tak menyerah untuk terus membujuk Stacey agar tegar dan selalu berpikiran positif. Walaupun awalnya sulit, tapi akhirnya Stacey berhasil menemukan pengertian bahwa dia dapat menjadi orang yang memandang hidup ini sebagai sesuatu yang harus disyukuri. Ia pun kuliah di kota kelahirannya dan beberapa tahun kemudian pindah ke London. Stacey memiliki karier yang cemerlang di bidang keuangan.

Amanda sangat bangga dengan perubahan hidup Stacey. Amanda sendiri berkarier di sebuah rumah sakit di Melbourne. Dedikasinya begitu tinggi terhadap pasien sampai tak sempat mengambil libur.
Beberapa waktu berlalu, Maggie pun meninggal karena penyakit yang dideritanya. Amanda yang menganggap Maggie adalah wanita super merasa sangat hancur. Maggie meninggalkan warisan untuk Amanda dan Stacey berupa sejumlah uang.

Merasa perlu melakukan hal baru, Amanda mengambil cuti selama enam bulan. Ia membeli sebuah rumah di sebuah desa kecil di Vietnam. Rumah itu merupakan sebuah kelenteng tua yang pernah ditinggali oleh beberapa generasi orang-orang terhormat, dan penghuni yang terakhir adalah seorang biksu.

Amanda menata ulang rumah tua itu, dengan terlebih dulu meminta izin dari para tetua. Di desa itu, tradisi sangat terjaga, bahkan rumah pun harus sesuai tradisi. Desa itu terkenal dengan sebutan Desa Ungu, karena seluruh rumah di daerah itu dicat dengan warna ungu.

Amanda bertemu dengan Jake, seorang pembuat video dokumenter tentang berbagai daerah di seluruh dunia. Ia belum menikah karena takut meninggalkan keluarganya dalam waktu yang lama. Dibantu Jake, Amanda merenovasi rumahnya di beberapa bagian.

Sampai suatu hari, Amanda dikejutkan oleh berita kematian Stacey. Stacey menjadi korban tembak beberapa penjahat di kereta bawah tanah di London. Hal yang lebih mengejutkan lagi, Stacey ternyata telah memiliki putra, yang kemudian diminta tinggal bersama Amanda.

Benjamin, anak itu masih berusia tujuh tahun. Tetapi pemikirannya sangat cerdas dan sikapnya pun dewasa. Pakaian yang ia punya pun kebanyakan bergaya pria dewasa. Amanda jatuh hati pada Ben. Anak itu sangat mirip dengan Stacey. Rasa sakit kehilangan Maggie dan Stacey perlahan terobati dengan kehadiran Ben.

Amanda memantapkan hati untuk tinggal di Vietnam selamanya. Ia telah menemukan kedamaian bersama Ben dan Jake, yang akhirnya dinikahinya. Rumah mereka kemudian dikenal sebagai Rumah Lavender, yang sering didatangi para turis karena kedamaian yang disuguhkan di sana.

Kisah yang ditulis ala novel terjemahan ini cukup layak untuk dibaca. Penggambaran yang detail dan cerita yang unik menjadi kelebihan buku ini. Kekurangannya, saya temukan banyak kalimat yag rancu dan tak efektif.

Ada beberapa kalimat menarik yang perlu saya tuliskan di sini.
“Tidak ada yang lebih menyedihkan dibandingkan harus mengubur anakmu sebelum kamu di dalam tanah.” (halaman 23)
“Menjadi seorang anak kecil seperti diriku, sepertinya aku tidak melihat alasan mengapa kami tidak dapat melakukan sesuatu bersama-sama.” (halaman 35)
“Kamu mungkin hanyalah seseorang di dunia ini. Tetapi bagi orang lain, kamu mungkin adalah dunianya.” (halaman 37)
“Terbiasa tinggal di sebuah lingkungan yang sederhana; datang ke sebuah kota merupakan sebuah tantangan besar. Aku tidak yakin aku akan betah tinggal di kota.” (halaman 45)
“Jika saja mau bangkit dan bergerak, mungkin perubahan-perubahan akan datang.” (halaman 92)
“Aku memberanikan diriku keluar dari kamar tidur, aku membuka pintu dan memulai petualanganku.” (halaman 135)
“Terkadang aku merindukannya. Tetapi aku tahu dia sekarang sudah berada di tempat yang lebih baik.” (halaman 182)
“Jika kau mencoba untuk melihat lebih jauh, terkadang mungkin kamu akan menemukan apa yang kau cari.” (halaman 183)

Mudahnya Menghafal Qur’an

10007951_bc499162-d3d3-11e4-873e-1a9d4908a8c2
sumber gambar: Tokopedia

Judul Buku : 9 Langkah Mudah Menghafal Al-Qur’an
Penulis : Majdi Ubaid Al-Hafizh
Penerjemah : Ikhwanuddin, Rahmad Arbi
Penerbit : Aqwam
Cetakan : I, Oktober 2014
Tebal : 224 halaman
ISBN : 978-979-039-331-8

“Sembilan puluh persen faktor penentu keberhasilan menghafal qur’an adalah mental (psikologis), sisanya ditentukan keterampilan, ketekunan dan manajemen.”

Banyak orang menciptakan berbagai alasan untuk tidak menghafal qur’an meski mereka mengetahui keutamaannya. Mengapa? Karena iblis telah meracuni pikiran dan hati manusia agar jauh dari kitab Allah. Alasan-alasan seperti sudah tua, tidak ada waktu, daya ingat lemah, itu semua hanyalah tipu daya iblis agar kita merasa bahwa menghafal Qur’an itu pekerjaan yang sangat berat dan mustahil untuk kita lakukan.

Padahal Allah telah berfirman bahwa Dia memudahkan Qur’an bagi siapa saja yang hendak mempelajarinya (termasuk menghafalnya)! Mengapa kita lebih percaya iblis ketimbang Allah?

Sekarang, kita harus menambah keyakinan kita untuk berani menghafal qur’an dengan beberapa langkah yang dipaparkan penulis. Langkah-langkah dalam buku ini sangat realistis dan sangat mungkin untuk kita lakukan.

Langkah pertama, tanamkan dulu kerinduan, kecintaan, dan keinginan yang menyala-nyala untuk menghafal Qur’an. caranya adalah dengan mengetahui kedudukan al-Qur’an dan merasakan keagungan pahala menghafal al-Qur’an.
Al-Qur’an adalah kitab yang memiliki banyak kedudukan mulia. Di antara banyak kedudukan kitab ini yaitu sebagai kitab petunjuk, sebagai obat bagi segala penyakit fisik maupun psikis, al-Qur’an sebagai cahaya, berisi kabar tentang segala sesuatu, perkataan yang paling baik, dan kitab yang penuh hikmah.

Menghafal Quran mamiliki sangat banyak keagungan bagi yang menjalaninya. Menghafal sebagai sarana taqarrub kepada Allah, para penghafal adalah ahlullah, keluarga Allah di bumi, akan mendapat derajat yang tinggi di surga, berkumpul dengan para malaikat, dan akan mendatangkan keberkahan di rumah.

Dengan mengatahui segala keagungan menghafal qur’an, masihkah kita ragu untuk memulainya?

Langkah kedua yakni memupuk ikhlas, tawakkal dan doa. Demi Allah, seseungguhnya urusan niat bukanlah perkara sepele. Jika niat kita menghafal bukan karena Allah, sia-sialah semua usaha kita. Maka sebelum menghafal Qur’an, berniatlah untuk dapat memandang wajah Rabb kita, Allah ‘azza wa jalla. Insya Allah, pertolongan-Nya akan selalu hadir dalam perjalanan kita.

Langkah ketiga, janganlah banyak beralasan. Kita yang bertanggung jawab atas diri kita sendiri. semua alasan yang sering kita buat untuk menghindari al-qur’an akan membawa kesengsaraan yang berlarut-larut pada diri kita. Padahal, Al-Qur’an adalah sumber dan sebab kebahagiaan di dunia dan akhirat. Tentu sebagai orang yang berpikir, kita tak mau menjauhi sebuah hal membawa kebahagiaan di dunia dan akhirat, bukan? Maka mulai saat ini, buanglah semua alasan yang mencegah kita untuk muai menghafal Qur’an. tak ada lagi ‘tak ada waktu’, sudah tua, ingatan lemah, atau bahkan merasa diri saya tak pantas untuk menghafal, dan kata-kata lain yang bernada pesimis.

Langkah keempat, menguatkan diri dengan kata-kata positif. Berhentilah menciptakan bisikan-bisikan negatif kepada diri sendiri. sudah terlampau banyak hal negatif yang diri kita dengar dan yakini, kini saatnya menyuntikkan hal-hal optimis kepada diri kita. Tanamkan dalam benak dan keyakinan, bahwa kita bisa menghafal qur’an apa pun keadaan kita. Tua bukan masalah, kita bisa menghafal lebih baik dari anak-anak muda jika yakin, kecerdasan bukan faktor utama, berhentilah merasa bodoh dan lemah ingatan. Semua itu adalah keyakinan fiktif yang melemahkan semangat kita.

Mulailah belajar bahasa positif. Anda tahu mengapa ingatan kita lemah? Sebabnya, kita merusak nikmat yang telah Allah berikan kepada manusia, yaitu otak. Otak, harus kita sadari, adalah anugerah terbesar bagi manusia. otak memiliki keajaiban-keajaiban yang bahkan hingga hari ini belum terkuak seluruhnya. maka adalah suatu kekufuran jika Anda meragukan kemampuan otak Anda sendiri. Sadari itu, otak kita memiliki trilyunan sel saraf yang geraknya lebih cepat dari cahaya. Jangan meremehkan kemampuan otak Anda sendiri! buatlah ia bekerja maksimal dengan menyuntikkan kalimat-kalimat positif.

Langkah kelima ialah menciptakan rasa rileks dan suasana belajar yang ideal. Sebelum mulai menghafal, lakukanlah relaksasi sehingga pikiran kita tenang dan memasuki gelombang alfa. Bernafaslah yang dalam selama beberapa menit. Latihan ini akan membuat diri dan otak kita rileks dan siap menghafal.

Langkah keenam, lakukanlah visualisasi. Bayangkan diri anda ketika berhasil mengkhatamkan hafalan Qur’an. bayangkan ketika Allah memanggil Anda dan menyuruh naik dan membaca hafalan dengan tartil, bayangkan pahala-pahala yang akan kita terima karena menghafal Qur’an seumur hidup kita.

Lakukanlah visualisasi ini setiap hari sebelum sesi menghafal, sebelum tidur dan setiap selesai shalat. Waktu-waktu tersebut sangat baik untuk menanamkan visualisasi positif ke alam bawah sadar kita, sehingga kita akan merasa lebih baik dan bersemangat.

Langkah ketujuh, optimalisasi panca indera. Hafalkanlah al-Qur’an baris demi baris. Letakkan mushaf di sisi kiri wajah kita, karena itu sangat membantu untuk mudah mengingat. Bayangkan pula ayat-ayat tersebut dalam bentuk tiga dimensi. Rasakan makna yang terkandung di dalamnya.

Langkah kedelapan, murajaah (pengulangan).

“Al-Qur’an lebih mudah lepas daripada lepasnya unta dari tali kekangnya.”

Muraja’ah, atau takrir dalam istilah lain, adalah rahasia mengapa teman-teman kita di sekolah, kuliah memiliki nilai serta pemahaman yang baik pula.

Lakukanlah pengulangan hafalan kita satu jam setelah menghafal, satu hari, satu pekan, satu bulan dan tiga bulan setelah menghafal. Kita juga dapat mengulang di waktu berkendara, saat shalat, saat pulang bekerja, dalam salat sunnah dan tahajud, setiap waktu, sebelum dan sesudah bangun tidur. Murajaah akan semakin menguatkan hafalan kita dan sekaligus membimbing kita untuk senantisa berzikir dengan Al-qur’an.

Mengapa muraja’ah sangat penting? Karena 80% pengetahuan yang kita dapatkan akan hilang dalam waktu satu jam. Ketika kita selesai menghafal otak kita akan berpikir bahwa apa yang barusan kita hafal usai juga, padahal tidak demikian. Maka dari itu, muraja’ah bertujuan melatih otak agar selalu menganggap bahwa mengingat-ingat apa yang baru kita hafal adalah penting. Juga, agar hafalan kita masuk ke dalam memori jangka panjang.

Ketika kita merasa tak punya banyak waktu untuk mengulang hafaan kita karena sibuk, kita bisa memanfaatkan rekaman bacaan dari para syaikh. Untuk surat-surat yang banyak memiliki kemiripan, gunakan murottal dari qori yang berbeda. ini akan membuat kita aware terhadap ayat-ayat yang mirip-mirip tersebut. Lakukanlah muraja’ah dalam hati, lama-kalamaan, suara qori yang melantunkan murattal akan merasuk ke dalam ingatan jangka panjang kita.

Langkah kesembilan, menentukan tujuan dan menyusun rencana. Keberhasilan seseorang dalam apa saja bergantung salah satunya pada bagaimana ia merencanakan. Kita yang hendak menghafal Kitab paling agung tentu lebih dituntut punya rencana juga. jika tak memiliki rencana, langkah kita bisa tak tentu arah. Jika tak memiliki target, mungkin selamanya kita tak akan berhasil menghafal Qur’an.

Hal pertama untuk membuat rencana, tuliskan tujuan kita dengan kata-kata positif, ini berfungsi untuk afirmasi. tuliskan juga dengan keterangan waktu ‘sekarang’. Buang jauh-jauh kata ‘akan’ karena akan menjadi ‘akan’ untuk selama-lamanya. Tuliskan juga mengapa kita menginginkan sampai kepada tujuan itu, mengapa kita ingin menghafal Qur’an. ukur pula kemampuan kita, secara logis dan rasional. Buatlah target yang bisa kita penuhi, misalnya, khatam menghafal dalam jangka waktu 30 bulan, berarti satu bulan satu juz.

Tentukan pula batas waktunya. Jika kita menargetkan 30 bulan, maka tuliskan tenggat keberhasilan kita, 30 bulan dari sekarang. Selain itu, hal penting agar tujuan menghafal kita terlaksana, keinginan untuk menghafal itu harus muncul dari dalam diri sendiri, bukan karena kepepet keadaan atau tekanan orang lain.

Ingat juga untuk menuliskan faktor-faktor pendukung beserta hambatan kemudian tuliskan solusinya. Jangan lupakan untuk tetap berkomunikasi dengan lingkungan sekitar, maksudnya, walau kita sedang sibuk menghafal, tapi kegiatan sosial tetap berjalan sebagaimana biasa.

Buku yang ditulis oleh praktisi seminar menghafal Qur’an ini saya rekomendasikan bagi siapa saja yang ingin menjadi penghafal Qur’an. ini adalah buku bagus untuk membuka hati kita terhadap Al-Qur’an dan berisi metode menghafal secara modern.

Menikmati Lezatnya Menghafal Al-Qur’an

mizanstore
sumber gambar: mizanstore.com

Judul Buku : Rahasia Nikmatnya Menghafal Al-Qur’an
Penulis : D. M. Makhyaruddin
Penerbit : Noura Books
Cetakan : I, Desember 2013
Tebal : 288 halaman
ISBN : 978-602-1606-43-8

“Siapa pun Anda, Anda adalah Penghafal Al-Qur’an”

Penulis buku ini menamatkan hafalan Al-Qur’an dalam waktu hanya 56 hari atau sekitar dua bulan. Mengapa bisa secepat itu? Rahasia rupanya terletak pada bagaimana penulis memandang Al-Qur’an yang tengah dihafal. Namun menilik kehidupan penulis sebelum mulai menghafal, akan kita temukan bahwa faktor tersebut berpengaruh, selain kecerdasan tentunya.

Di halaman 5 disebutkan, bahwa sebelum usia 15 tahun, penulis telah berhasil menghafal kitab Alfiyah dalam waktu 40 hari, Sullam Munauraq dalam 1 hari, Jauhar Maknun dalam 2 hari, Nadzam Al-Maqsud dalam 1 malam, kitab ‘Imrithi dalam sehari dan matan sebuah kitab fikih dalam 7 hari, juga lima bait Al-Zubad dalam satu menit. Tentu ini sangat luar biasa―anugerah dari Allah yang sangat istimewa, mengingat banyak santri pesantren yang kesulitan menghafal satu jenis kitab-kitab tersebut bahkan setelah bertahun-tahun (salah satunya, ehm, saya sendiri).

Dalam menghafal Al-Qur’an, kita hendaknya memperhatikan 3 hal ini, yang pertama adalah persiapan sebelum mulai menghafal, kemudian masuk proses menghafal, dan terakhir adalah saat di mana kita wajib menjaga hafalan kita.
Sebelum mulai menghafal, persiapkan dulu segalanya. Menghafal Al-Qur’an adalah suatu hal yang berat untuk dilalui, catat, bukan Al-Qur’annya yang berat, tapi prosesnya. Kita mesti dapat menjaga semangat sampai akhir jika ingin tuntas mengkhatamkan hafalan. Adakalanya orang begitu menggebu di awal, namun saat mencoba sedikit lalu mundur dan kehilangan semangat. Menghafal Al-Qur’an adalah komitmen seumur hidup, sebuah medan pertempuran yang pahalanya syahid. Mundur dari pertempuran karena tak memiliki bekal yang cukup adalah suatu dosa besar (halaman 26).

Lalu bekal apakah yang harus kita miliki sebelum memutuskan terjun dalam pertempuran? Jawabannya adalah Cinta. Cinta pada Al-Qur’an, berharap dapat ‘bersama’ dengan Al-Qur’an sepanjang hidup kita. Dekatilah Al-Qur’an, maka cinta akan datang dengan sendirinya. Keindahan Al-Qur’an pasti akan mempesonakan siapa pun yang berusaha mendekatinya.

“Segala sesuatu, apabila pencapaiannya ingin maksimal, harus dimulai dengan cinta, karena cinta akan membawa seseorang pada keyakinan, pengagungan, perjuangan, kepatuhan dan usaha maksimal tanpa pamrih.” (hal. 27)

Al-Qur’an adalah fitrah manusia. Membaca setiap huruf dalam Al-Qur’an akan mengembalikan manusia pada kebutuhan primernya, yaitu iman. Naluri manusia yang bersih akan selalu kembali pada Al-Qur’an, karena, sekali lagi, Al-Qur’an adalah fitrah bagi manusia. Orang yang bercita-cita bahagia dunia akhirat, pada hakikatnya mendambakan Al-Qur’an hadir dalam hidupnya. Cita-cita inilah yang menjadi bekal kedua.

Persiapan ketiga yakni ketulusan dalam menghafal Kitab Allah.

“Ketulusan yang penulis maksud adalah kebulatan hati atau tekad yang tak dapat diganggu gugat untuk menghafal Al-Qur’an dengan pelaksanaanya.” (hal. 43).

Niatkan menghafal untuk mengharap ridho dan kebahagian dari Allah. Kata Yusuf Mansur, untuk Allah, semua karena Allah. Renungi juga qoul Imam Ghozali ini,

Tholabtu al-‘ilma lighoirillaahi wa lakin abaa illallaah, Aku menuntut ilmu bukan karena Allah, tetapi ilmu tidak mau kecuali karena Allah.”

Jadi, memang apa pun sudah seharusnya karena Allah.

Bekal keempat adalah tahsin al qiraa’at (memperindah bacaan). Al-Qur’an adalah suatu hal yang Indah dan diturunkan oleh Sang Maha Indah, Allah Himself. Maka apa pasal jika kita membacanya dengan tidak indah? Huruf-huruf dalam Al-Qur’an bukanlah huruf Arab biasa, itu adalah Firman Allah!

Al-Qur’an akan dimudahkan oleh Allah bagi siapa pun yang mempelajarinya dengan kesungguhan. Arti ‘dimudahkan’ adalah, Allah membuat hal yang sulit menjadi terasa mudah. maka dari itu, kita harus semangat memperbaiki bacaan kita. Karena itu juga merupakan bukti bahwa kita serius untuk menghafal Kitab Allah.

Bekal kelima yaitu, milikilah mushaf. Gunakan sebuah mushaf standar yang banyak dipakai para penghafal, yaitu mushaf Ustmani, kita akan dapat sunahnya juga. Pakailah hanya satu mushaf, supaya kita tidak bingung. ‘Gambar’ yang terekam akan berubah jika kita berganti mushaf yang berbeda. Namun sesungguhnya, mushaf yang kita pegang hanyalah sebuah sarana, mushaf sebenarnya ada di dalam dada. Dalam surah Al-Ankabut, Al-Qur’an hanya akan disebut Al-Qur’an apabila sudah tersimpan di dalam hati dan terawat (hal. 55).

Bekal keenam, sediakanlah waktu untuk menghafal. Sampai kapankah menghafal dilakukan? Tentunya, sepanjang usia. Zaman dulu, para sahabat menghafal Al-Qur’an dalam waktu bertahun-tahun. Di samping waktu turun Al-Qur’an juga lama, para sahabat tak hanya sekadar menghafal saja, mereka juga mengamalkan. Jadi, sebanyak apa mereka menghafal, sebanyak itu pula mereka mengamalkan isi Al-Qur’an. Itu sebabnya orang yang paling banyak hafalannya lebih dimuliakan, karena sudah pasti amalannya juga sebanyak hafalannya. Berbeda dengan orang zaman akhir sekarang ini, banyak orang yang mampu menghafal 30 juz Al-Qur’an tapi belum tentu mampu mengamalkannya. Bahkan anak balita pun mampu menghafal seluruhnya. Setuju dengan perkataan Imam Syafi’i, orang zaman dulu dianugerahi kemampuan mengamalkan, orang zaman sekarang dianugerahi kemampuan menghafal.

Nah, apa hubungannya dengan menyediakan waktu untuk menghafal? Jelas, sediakan pula waktu untuk mengamalkan. Setiap kita berhasil menghafal sebuah ayat atau surah, berusahalah juga mengamalkannya. Memang berat, tapi harus dilakukan. Lebih baik melakukan daripada mengeluh berat. Ibarat melangkah, orang yang mulai mengamalkan sudah maju beberapa langkah, sementara orang yang hanya mengeluh berat dan pesimis masih berdiri di tempat semula. Kita tak akan pernah menambah amalan kita jika hanya berpikir. Amal tidak butuh dipikir, tapi dilakukan. Ikhlas akan mengikuti seiring semangat dan kegigihan melakukannya. Jika menunggu ikhlas dan sempurna, amal itu tak akan pernah ada.
Manfaatkanlah waktu kita, yang paling sempit sekali pun, untuk menghafal. Bahkan ketika itu hanya satu menit. Allah tentu Melihat, dan akan Membalas dengan Cara-Nya sendiri.

Bekal ketujuh, pilihlah tempat yang tepat untuk menghafal.

“Sesungguhnya, tempat yang nyaman untuk menghafal ditentukan oleh hati.” (hal. 70).

Kita bisa saja menghafal di rumah, lalu menyetorkannya pada seorang pembimbing, atau bisa menetap di pesantren. jika kita sudah mantap meghafal di suatu pesantren/lembaga tahfidz, maka jangan berpindah hanya karena alasan tidak nyaman atau tidak cocok. Selesaikan hingga target kita tercapai. Ketidaknyamananlah yang membuat Bilal menjadi orang yang berhasil, ketidaknyamanan diciptakan Allah untuk menjadikan hamba-Nya berhasil (hal. 72). Semua tempat di langit dan bumi merindukan ayat-ayat Al-Qur’an dibacakan di atasnya. Jika tempat saja merindukan Al-Qur’an, bagaimana dengan hati kita? (hal. 77).

Bekal kedelapan, temukanlah guru yang tepat. Pilihlah guru yang hafalan dan akhlaknya sejalan. Rasulullah memiliki ‘guru’ malaikat Jibril, yang mendengarkan bacaan Al-Qur’an beliau. Guru yang berakhlak dan berilmu Al-Qur’an baik akan membimbing kita membetulkan hafalan, sekaligus amal kita.

Pada bagian kedua, yaitu proses menghafal, penulis menekankan hakikat menghafal, yaitu zikir. Menghafal Al-Qur’an adalah sebuah zikir terindah.

“Secara umum, menghafal Al-Qur’an diartikan sebagai proses memasukkan ayat-ayat Al-Qur’an, huruf demi huruf, ke dalam hati untuk terus memeliharanya hingga akhir hayat. Hafalan Al-Qur’an hanya bisa disebut kuat jika diamalkan (hal. 92).

Ketika memasuki proses menghafal, seseorang dituntut untuk bersungguh-sungguh terhadap usahanya (mujahadah). Sudah saya sebutkan di atas, bahwa menghafal adalah sebuah proses yang berat, juga penuh dengan ujian. Dibandingkan dengan ujian yang dilalui sahabat pada masa Rasullullah, ujian yang kita hadapi saat ini lebih kecil, yang sumbernya adalah diri sendiri. Rasa malas, mengantuk, kelelahan, tentu lebih kecil dibanding para sahabat yang juga harus berperang atau disiksa oleh kaum kafir.

Untuk mengatasi itu semua, senjatanya adalah kesungguhan dalam hati. Semua godaan ‘remeh’ itu jangan sampai membuat kita berhenti dan menjauhi hafalan. Jangan sampai kita kalah oleh setan. Mengapa sebagian besar manusia takluk oleh diri sendiri yang telah dirayu setan? Karena mereka tidak melawan! Mereka rela saja diperdaya setan, dengan berbagai dalih dan iming-iming hal-hal fiktif. Maka dari itu, lawanlah setan dan segala rayuannya dengan menguatkan mujahadah! Lelah, mengantuk, bahkan sakit sekali pun bukanlah sebuah alasan untuk kita berhenti. Lanjutkan sekuatnya, jaga sebisanya. Buatlah Allah Terharu dengan perjuangan kita!

Proses menghafal harus dibarengi dengan doa yang khusyuk. Berdoalah agar Allah menguatkan hafalan kita dan menjadikan Al-Qur’an terasa mudah. Jangan pernah ragu akan janji-Nya. Jauhilah segala kemaksiatan karena hati yang sesak maksiat tak mungkin dimasuki oeh cahaya Al-Qur’an. Setorkan hafalan kita pada Allah, dengan mengulangnya dalam kesempatan salat.

Ketika kita telah mampu menghafal beberapa ayat atau sudah menghafal keseluruhan Al-Qur’an, berarti kita akan memasuki tahap ketiga, yaitu menjaga hafalan kita. Puncak kenikmatan menghafal Al-Qur’an adalah pada saat mengulang atau menjaga hafalan yang biasa disebut istiqomah memelihara hafalan (takrir).

“Keindahan, kenikmatan dan kelezatan membaca Al-Qur’an itu muncul apabila istiqomah.” (hal. 270).

Mari kita bayangkan, seandainya diri kita, seluruh anggota keluarga kita, selalu dekat dan berzikir dengan Al-Qur’an, dapat merasakan lezatnya iman melalui membaca Al-Qur’an. Sudah saatnya kita menjadikan Al-Qur’an sebagai prioritas utama dalam hidup kita, sebab semua hal tak akan ada artinya jika kita mengesampingkan Al-Qur’an. Adakah yang lebih indah dari hidup dan mati bersama Al-Qur’an?