Ketika Kemanusiaan Kian Runtuh

BuWGB8GIAAAG23y.jpg largeJudul: Juragan Haji

Penulis: Helvy Tiana Rosa

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 181 halaman

Terbit: Agustus 2014

ISBN: 978-602-03-0831-9

Harga: Rp 40,000

Membaca kedelapan belas cerpen Helvy Tiana Rosa, sastrawan pendiri Forum Lingkar Pena ini memberi keasyikan tersendiri. Mayoritas cerita yang ditampilkan mengeksplorasi kesengsaraan dalam perang, konflik daerah, terorisme dan bencana. Beberapa yang lain bertemakan perempuan-perempuan yang tak pernah kehilangan asa. Kumpulan cerpen ini pernah diterbitkan pada 2008 dengan judul Bukavu. Tahun 2014, kumcer ini kembali diterbitkan ber-bareng-an dengan momen ibadah haji sehingga Juragan Haji paling tepat diambil sebagai judul.

Masing-masing cerpen sangat kuat dalam narasi dan alur. Helvy begitu piawai membentuk kalimat puitis dengan diksi yang menakjubkan. Sepakat dengan Putu Wijaya dalam komentarnya,

Sebuah cerpen tak sanggup membatalkan Helvy Tiana Rosa dari seorang penyair” (hal. 174).

Jadi, walau sebagian besar cerita dalam kumpulan ini menyimpan tragedi yang berdarah-darah, di tangan dingin Helvy semua cerita mengalir tanpa rasa takut dan ngeri. Seolah kita hanya membaca puisi yang lebih panjang dari biasanya.

Tragedi kemanusiaan menjadi tema pokok buku ini. Helvy memotret luka-luka dari berbagai negara yang kedaulatannya dinodai atau pun limbung dikoyak perang saudara. Dapat kita simak contohnya pada cerpen Lorong Kematian. Penggambaran kekejaman tentara Serbia yang tertawa-tawa membantai warga sipil Bosnia, sangat menyentuh sisi kemanusiaan kita. Tentara-tentara itu menembaki mereka bagai menembak hewan buruan.

Jod terus berburu. Domba-domba jatuh. Ayam-ayam menggelepar. Rintihan mereka menyayat segala, juga bulan. Tetapi tak sedikitpun menyentuh hati Jod dan anak buahnya” (hal.130).

Rwanda menjadi latar berikutnya yang kisahnya juga menyayat hati. Kivu, sebuah daerah di Zaire harus menjadi saksi atas kekejaman perang saudara dua suku di Rwanda. Para pengungsi hidup dengan teramat menyedihkan di Kivu. Mereka kelaparan tanpa bantuan dan menjadi incaran burung pemakan bangkai (hal. 154). Namun, dalam sebuah duka tetap ada keindahan yang tersembunyi. Ialah seorang perempuan berkerudung dengan kondisi mengenaskan tapi tetap istiqamah dalam tahajud di sepinya malam (hal.159). Cerpen berjudul Kivu Bukavu ini dinarasikan oleh tokoh sebuah danau, yang pada tahun 1957 dipuji sebagai yang terindah oleh Ernest Hemingway.

Palestina tak luput menjadi obyek cerita yang wajib disertakan. Hingga Batu Bicara merupakan cerpen Helvy yang sangat terkenal tentang Palestina. Cerpen mengharukan ini terinspirasi dari sebuah hadis Nabi,

“Kiamat tak akan datang sampai tiba pertempuran kaum Muslimin dengan Yahudi. Hingga seluruh batu bicara dan memberitahu bahwa ada Yahudi yang bersembunyi di belakangnya.” (hal. 78).

Tentang rasa kebangsaan, Helvy menyinggungnya dengan sangat apik dalam Ze Akan Mati Ditembak. Bercerita mengenai Ze, remaja yang sudah tahu bahwa akhirnya ia akan mati juga dengan jalan ditembak seperti ayahnya dan warga Lorosae (Timtim) lainnya. Cerpen berlatar kemerdekaan Timtim ini sangat mampu membuat pembaca menangis haru akan kesadaran Ze tentang rasa mencintai tanah air dan kerinduan terhadap perdamaian. Simaklah gumam terakhirnya kala benar-benar diberondong tembakan oleh tentara CNRT,

“Tahu apa mereka? Tahu apa Australia itu? Akulah Ze. Akulah Lorosae!” (hal. 52).

Dalam buku ini, kita dapat juga membaca Lelaki Kabut dan Boneka serta Jaring-Jaring Merah. Keduanya menjadi dokumentasi penting atas dua tragedi yang terjadi di negeri ini, bom Bali 2002 dan Rumoeh Geudong di Aceh pada tahun 1998. Cerpen lain yang ber-setting Indonesia, Lelaki Semesta, yang bercerita tentang Abu Bakar Ba’asyir dan bagaimana ketika ia dituduh menjadi teroris yang melahirkan banyak teroris. Helvy menulisnya begitu liris, penuh simbol dan tak menyebut nama secara frontal.

Tentang girl power, Helvy menyematkannya dalam beberapa judul, semisal Cut Vi, yang berkisah tentang kegigihan seorang mahasisiwi memperjuangkan hak-hak warga Aceh tanpa kenal lelah dan takut.

“Bismillah saja. Aku bicara, aku menulis. Aku menyampaikan kebenaran di mana aku bisa. Tak harus ditentukan tempatnya.” (hal. 3)

Walau akhirnya ia meninggal terseret tsunami, namun perjuangan Cut Vi mampu menginspirasi lelaki yang dicintainya.

Baca pula Peri Biru. Cerpen ini mengisahkan gadis miskin bernama Peri yang tanpa pendidikan formal memadai berkeinginan menjadi penulis besar. Ibunya menjanda ditinggal sang ayah, sedangkan kakak tirinya, Sri, menderita cacat mental. Peri bekerja sebagai pembantu namun berhenti sebab majikannya berlaku banal. Tanpa melupakan keinginannya menjadi penulis, ia memutuskan bertolak ke Hong Kong menjadi TKW.

“Ya, entah di negeri mana, entah sampai kapan, aku harus terus berjuang untuk menumbuhkan sayap, menulis dan menghidupkan dongengku sendiri.” (hal. 121)

Sementara Juragan Haji, yang dijadikan judul kumpulan ini, adalah potret kontradiksi antara dua kutub strata sosial. Mak Siti, 70 tahun, yang begitu rindu ingin berangkat ke tanah suci, harus berhadapan dengan majikan yang berkali-kali berangkat haji tapi sayang perilakunya tak sesuai dengan gelarnya. Cerita Mak Siti semakin pilu karena ibunya di kampung, berusia 85 tahun lebih, juga memendam rindu yang sama (hal. 72).

Beberapa judul lain juga tak kalah menarik untuk disimak. Titin Gentayangan misalnya, yang menceritakan gadis galau karena kekasihnya menikahi gadis lain. Ia mencoba bunuh diri namun selalu gagal. Ada pula Mencari Senyuman yang berbentuk lakon. Boleh juga direnungi kisah pahlawan muda Banjar, Demang Lehman, dalam Idis. Imaji kekacauan konflik yang mengerikan dapat tersaji dengan elok dalam Pulang dan Darahitam.

Melalui cerpen-cerpen dalam kumpulan ini Helvy mengatakan secara gamblang maupun tersirat bahwa di balik konflik, memang ada intervensi dari pihak yang ingin mengadu domba. Buku ini bernilai sastra tinggi. Sangat pantas dibaca kembali untuk mengingatkan kita agar teguh menghargai kemanusiaan. Mengajak kita merenungi betapa besar kerugian yang ditimbulkan oleh sebuah kebencian dan lunturnya kesadaran untuk mengasihi sesama manusia.

*Resensi ini diikutkan dalam Lomba Resensi Forum Lingkar Pena 2015 dalam rangka Milad FLP ke-18. Pernah dimuat di Kabar Probolinggo, 16 Januari 2015. Ditulis kembali dengan berbagai perubahan.

Iklan