Pertaruhan Cinta dan Status Sosial

ppindoJudul Buku : Pride and Prejudice
Penulis : Jane Austen
Penerjemah : Berliani Mantili Nugrahani
Penerbit : Qanita
Tebal : 588 halaman
Cetakan : VIII, Maret 2013
ISBN : 978-602-8579-54-4

Keluarga Bennet dikaruniai lima orang putri yang kecantikannya telah begitu terkenal di seluruh desa Hertfordshire. Mereka tinggal di Longbourn House, sebuah rumah pertanian yang terancam jatuh ke tangan keponakan Mr. Bennet karena hukum waris yang berlaku saat itu. Sang istri, Mrs. Bennet tentu tak ingin ketika sang suami meninggal, ia dan kelima putrinya terusir dengan semena-mena dari rumah tersebut. Maka ketika ada seorang pemuda kaya yang menyewa Netherfield (mungkin sebuah rumah mewah di desa tersebut), dia nggotot memaksa suaminya berkunjung dan memperkenalkan keluarga mereka, berharap pemuda bernama Bingley itu tertarik dengan salah satu putrinya.

Harapan itu terwujud saat pesta dansa di pertemuan warga. Bingley mengajak Jane, putri sulung keluarga Bennet untuk berdansa hingga dua kali. Terlihat sekali Bingley ini sangat tertarik dengan kecantikan Jane, yang dikatakan lima kali lebih cantik dari semua gadis yang ada di ruangan itu. Semua orangtua dan gadis yang menaharapkan Bingley tentu harus tahu diri karena Bingley telah menentukan pilihannya. Berita ketertarikan Bingley langsung menyebar ke seluruh Hertfordshire.

Pembicaraan tentang pernikahan segera menjadi topik utama. Apalagi, di setiap pesta dansa yang digelar di Netherfield maupun tempat lain di desa itu Bingley selalu bersama Jane. Hanya tinggal menunggu waktu saat Bingley melamar Jane. Di pesta itu, Bingley juga membawa dua saudara perempuannya beserta satu teman yang bernama Mr. Darcy, bagsawan kaya raya yang kekuasaannya sangat luas. Darcy tak disukai karena ia angkuh dan sombong serta bertingkah menyebalkan. Elizabeth Bennet, putri kedua keluarga Bennet pun tak suka dengan Darcy. Lelaki tersebut bahkan mengejek kecantikannya.

“Dia lumayan, tapi tidak cukup cantik untuk membuatku terpikat; aku sedang malas untuk beramah tamah dengan gadis-gadis yang tak diminati pria lain.” (halaman 20)

Pada suatu waktu adik Bingley mengundang Jane untuk makan malam. Jane berkuda dan kehujanan. Ia jatuh sakit dan harus dirawat di Netherfield. Walau ia diperlakukan ramah dan baik, tapi Jane tetap membutuhkan keluarganya. Maka datanglah Elizabeth. Ia turut menginap di sana hingga beberapa malam. Hubungannya dengan kedua saudara Bingley tak berlangsung baik, juga dengan Mr. Darcy. Elizabeth bukanlah orang yang lemah, ia punya pandangan sendiri bagaimana bersikap di hadapan orang yang status sosialnya lebih tinggi. Jane pulih dalam beberapa hari. Elizabeth dan sang kakak pun pulang yang disambut omelan oleh sang ibu.

Bingley kemudian pergi ke kota untuk suatu keperluan, hingga kabarnya dia takkan lagi kembali menghuni Netherfield. Rupanya kabar itu menghentak keluarga Bennet. Jane patah hati, Mrs Bennet berubah membenci Bingley. Jane lalu mengungsi ke rumah sang paman, Gardiner, di London agar dapat segera move on 

Di saat yang tak menyenangkan tersebut, datang Mr. Collins, sang pewaris Longbourn. Ia menginap di rumah itu untuk melamar salah satu putri keluarga Bennet. Tujuannya tentu agar keluarga itu tak memusuhinya karena perkara warisan itu.

“Karena saya akan mewarisi rumah dan tanah ini setelah ayahmu meninggal, saya hanya akan bisa bahagia dengan memilih seorang istri di antara putri-putrinya.” (halaman 166)

Ia pun memilih Elizabeth, namun karena sifat dan perangai Mr. Collins yang menjengkelkan dengan membanggakan kedekatannya dengan Lady Catherine (seorang bagsawan kaya raya), Elizabeth menolaknya.

Sementara itu, serombongan resimen tentara telah datang dan tinggal selama sebulan di Meryton, desa tetangga. Kebetulan bibi keluarga Bennet tinggal di sana. Elizabeth pun mengenal Wickham, yang kesopanan dan keramahannya telah memikat hatinya. Rupanya Wickham dan Darcy saling mengenal. Wickham menjelaskan bahwa dirinya merupakan anak dari pelayan keluarga Darcy namun Darcy memperlakukakannya dengan semena-mena dan tak memberi haknya―warisan yang diamanatkan oleh almarhum ayah Darcy. Elizabeth pun makin bersimpati pada Wickhmam dan makin membenci Darcy.

Mr. Collins yang sakit hati, memutuskan menikahi Charlotte, sahabat Elizabeth setelah perhatian yang diberikan gadis itu. Charlotte sendiri bersedia menikah dengan Mr. Collins demi jaminan keuangan di masa depan. Elizabeth tak mengerti dan kecewa dengan sahabatnya itu.

Elizabeth diundang Charlotte untuk menyerta perjalanan ayah dan adiknya ke Hunsford, kediaman Collins yang berada dekat Rosings, kediaman Lady Catherine. Di sana, ia kembali bertemu Darcy. Sikap Darcy yang menjengkelkan sudah mulai berkurang, ia lebih ramah ke Elizabeth walau masih pendiam. Rupanya Darcy telah jatuh cinta pada Elizabeth. Perasaan itu sudah muncul sejak lama, ia berusaha menutupinya. Namun akhirnya Darcy ak tahan. Ia melamar Elizabeth pada suatu malam. Kebencian dan prasangka Elizabeth yang begitu buruk tentang Darcy membuat gadis itu menoak mentah-mentah lamaran Darcy. Ia mengungkapkan kebenciannya karena Darcy-lah orang yang menggagalkan pertunangan kakaknya dengan Bingley, dan menyiksa Wickham dengan perlakuannya. Darcy marah, namun cintanya pada Elizabeth lantas menyurutkannya. Ia pun menyurati Elizabeth dan mengungkapkan kebenaran fakta tentang dirinya serta Wickham yang ternyata orang brengsek.

Pada akhirnya, pandangan Elizabeth mengenai Darcy berubah ketika ia mengunjungi Pemberley, kediaman Darcy, tanpa rencana bersama paman dan bibi Gardiner. Ia hanya mendengar kebaikan Darcy dari pelayannya. Dari sanalah Elizabeth menyadari kebenciannya berubah menjadi cinta, apalagi setelah Darcy bekerja keras membantu sang adik, Lidya, yang dibawa kabur Wickham.

“Faktanya adalah, kau sudah lelah menerima kesopanan, kehormatan dan perhatian yang berlebihan. Kau sudah muak dengan para wanita yang berbicara, memandang, dan berusaha keras untuk mencari persetujuan darimu. Lalu aku datang, dan kau langsung tertarik karena aku sangat berbeda dari mereka.” (halaman 572)

Elizabeth adalah wanita muda dengan karakter tegas, ceria dan cerdas. Ia juga disukai Darcy karena kejujuran sikapnya. Sang pengarang sendiri mengatakan Elizabeth Bennet adalah tokoh favoritnya.
Pride and Prejudice merupakan novel klasik pertama yang saya baca. Dan saya tak bisa tak terpesona. Dikatakan dalam kavernya, selama lebih dari 1 abad lebih, novel ini mampu menjadi favorit para pecinta sastra dan tak lekang dimakan waktu. Jalinan kisah, narasi dan berbagai elemen yang dieksekusi dengan indah membuat saya harus setuju dengan pernyataan tersebut.

Pada 2005, Pride and prejudice diangkat ke layar lebar dengan bintang utama Keira Knightley dan Matthew Macfadyen. Film tersebut berhasil meraih empat nominasi Oscar dan banyak nominasi di pelabagai ajang film lainnya. Sebelumnya, di tahun 1995 BBC London membuat miniserinya dengan bintang utama Colin Firth dan Jennifer Ehle (mbuh sapa kuwe)
Dalam komentarnya, Anthony Trollope mengatakan karya Austen ini tak bercela berkat kecerdasan sang pengarang kelahiran 1775 itu melakukan segalanya dengan hebat. Austen menggambarkan kehidupan masyarakat Eropa, khususnya Inggris di abad ke-18 dengan begitu detail dan memikat. Ia mampu menyebarkan pesan-pesan yang juga mengkritisi bagaimana masyarakat saat itu begitu memuja harta benda dan kebanggaan diri.

Dari roman ini saya juga mendapatkan pengetahuan dan pandangan baru. Bahwa masyarakat di Eropa saat itu ternyata masih menjunjung tinggi nilai-nilai kehormatan. Sebagai bukti, mereka lebih menyukai hubungan pernikahan dibanding berkencan semalam. Menentang perzinahan dan tak sesuka-sukanya mengumbar kemesraan. Di roman ini, bahkan adegan mencium kening pun tak ada! Walau hasrat mereka pada harta benda cukup besar, tapi mereka masih dapat menjaga nilai moral dan keanggunan dengan baik.

Untuk trailer filmnya (2005) dapat dibuka pada link berikut: https://www.youtube.com/watch?v=1dYv5u6v55Y

[Baca Bareng 2015 – Februari – Profesi] Passion Dalam Pekerjaan

28 DetikJudul Buku : 28 Detik Penulis : Ifa Inziati Penerbit : Bentang Belia, Yogyakarta Cetakan : I, November 2014 Tebal : 230 halaman ISBN : 978-602-1383-03-2 Harga : Rp 54.000 Novel ini adalah tentang kopi beserta para pembuatnya dan diceritakan lewat penuturan sebuah mesin espresso. Nama mesin itu Simoncelli. Karena mesin itu benda mati dan benda mati nggak mungkin bisa pindah sendiri, jadi setting novel ini cuma muter-muter aja di dalam sebuah kedai kopi. Tokoh yang paling banyak diceritakan bernama Candu, seorang penyuguh kopi yang bekerja di sebuah kedai kopi di kota Bandung. Nama kedai itu KopiKasep, yang pemiliknya sooooo Sunda. “Nama boleh Jacob, tapi hati mah tetep Sunda asli!” kata pemilik kedai, yang biasa dipanggil Pak Jac. Tetapi, dalam buku ini Pak Jac nggak pernah kelihatan dagunya, sebab selalu diceritakan berada di luar negeri. Dia muncul sekali saja dalam ‘memori’ Simoncelli, tentang suasana di masa lalu. Kembali ke Candu. Jadi, Candu ini adalah barista (pembuat kopi) utama di KopiKasep. Dia terkenal dengan kecintaannya yang besar terhadap kopi. Ambisinya menjuarai kompetisi barista nasional tahun ini, yang disebut NBT atau Nusantara Barista Tournament. Pokoknya, Candu tak pernah bisa memikirkan hal lain di luar kopi. Di kepalanya hanya ada kopi, kopi, dan kopi. Mungkin seperti saya yang tak bisa memikirkan hal lain di luar buku, buku, dan buku :p. Di KopiKasep, Candu nggak sendiri. Ada juga Satrya, barista yang jago bikin latte art, Winona as waittress, Sery si chef yang diam-diam suka sama Candu, serta Nino, admin KopiKasep yang mengurus publisitas KopiKasep di dunia antah berantah. Oh, ya, nggak lupa dong sama Simoncelli, si mesin espresso yang jadi narator di buku ini. Jadi, mereka berlima hidup dalam damai (berantem, diskusi ngalor ngidul, bercanda ria) sampai ketika Rohan datang. Dia kemenakan Teh Cheryl (teman Pak Jac yang juga seorang ahli kopi berstandar―dalam buku ini dijuluki ‘Q-Grader’). Rohan murid SMA internasional kelas Pre-U2 (pre university), setara kelas 12. Rohan seorang jenius yang sangat jago Fisika, kilat dalam menghafal, dan pernah dikalungi medali emas di olimpiade sains. Diketahui dia juga seorang sinestesia tipe grapheme to color, yang kasusnya 1:1.000 kalau tidak salah. Overall, Rohan cewek kece nan keren. Candu yang masih jomblo jelas suka dong, walau awalnya menganggap Rohan menyebalkan dan belagu. Mereka berdua jadi dekat ketika Teh Cheryl menitipkan Rohan buat nunggu dirinya pulang kerja di sore hari. Hari demi hari terlewat mereka mulai merasakan adanya ‘cinta’. Rohan juga menginspirasi Candu menemukan resep signature drink buat jadi senjata memenangkan turnamen. Setiap hari mereka ngobrolin banyak hal, paling banyak sih tentang passion-nya Candu dengan kopi dan kehampaan hidup Rohan yang belum juga nemuin apa passion dia. Pengetahuan Candu tentang kopi adalah yang paling lengkap di KopiKasep. Dia sudah ahli membedakan asal kopi, ciri-cirinya, dan juga perkembangan kopi di Indonesia.

“Kalau kita perhatikan, cuma Indonesia yang punya spesies kopi terbaik, teknik mengolah terbaik, dan peminum kopi terbaik.” (halaman 66) “Tanah di negara kita memiliki komposisi dan kandungan mineral yang berbeda dengan tanah di negara lain. faktornya bisa cuaca, iklim dan sebagainya. Seperti budaya yang membesarkan kita, unsur dalam tanah itu juga membesarkan biji kopi dengan rasa yang bervariasi.” (halaman 65-66)

Yang jelas, cinta Candu pada kopi berawal dari bisnis orangtuanya. Ia ingin mengembalikan kopi seperti ketika kedai orangtuanya masih ada sebelum tergerus kebangkrutan.

“Di dalam kopi, ada cinta orangtua saya. Cinta kami. Saya tidak mungkin meninggalkannya. Saya ingin punya kedai sendiri. tidak usah besar, seperti KopiKasep saja. asal ada saya, keluarga saya dan orang-orang yang menikmati kopi buatan saya. Itu sudah cukup.” Katanya pada Rohan (hal. 134).

Hal itu menunjukkan bahwa Candu memilih berprofesi sebagai barista karena memang dia mencintai kopi biarpun dirinya berijazah Teknik Fisika ITB. Candu bisa hidup bahagia dengan hanya punya kedai kecil walau jika dia mau, dia bisa saja bekerja di perusahaan besar dengan membawa nama kampusnya. Jadi, ketika kita menemukan seseorang yang punya gelar Doktor atau Dokter tapi memilih bekerja di pedalaman, maka bisa dipastikan orang tersebut punya passion yang kuat untuk membantu sesama. Novel ini sebenarnya bermaksud mempopulerkan kopi dan keunikannya, seperti yang ditulis Ifa di twitternya. Tapi juga tetap gencar membahas passion. Tentang perasaan cinta terhadap sesuatu yang diperjuangkan. Kisah cinta Rohan dan Candu malah nggak terlalu mengesankan. Ifa juga kurang detail dalam penggambaran fisik para tokoh. Saya nggak bisa membayangkan bagaimana rupa Candu yang ditulis berkulit eksotis, atau Rohan yang hanya dijelaskan sebagai cewek cantik, Nino yang berkulit putih, dan seterusnya. Hanya karakter Rohan yang ‘beda’ itu yang menarik perhatian saya. Satu lagi, klimaks yang cukup thriller sewaktu Rohan disidang karena jadi biang kerok kekalahan Candu di turnamen. Tapi novel ini tetap saya gemari, kok. Mengapa? Karena unik. Narator yang berupa benda mati, judul bab yang mengambil step-by-step pemrosesan kopi serta gambar-gambar lucu sebagai ilustrasi. Dan yang terpenting, cara Ifa bertutur. Cukup cerdas dan sesuai dengan gelarnya yaitu sarjana sains. Bila menilik daftar bacaannya di Goodreads, saya yakin sampean setuju dengan keahlian Ifa yang satu itu. Well, novel ini dapat dikategorikan ke dalam banyak genre: sains, romance, dan profesi. Ifa membidik tema yang sedang ngetren saat ini. menjadi barista saat ini adalah pilihan profesi yang cukup keren bagi kalangan anak muda. Salut!Banner_BacaBareng2015-300x187