Virginitas Dan Pertaruhan Pernikahan

B-67aSKUoAAPy3g

Judul Buku : Sejujurnya Aku
Penulis : Aveus Har
Penerbit : Bentang
Cetakan : I, Maret 2015
Tebal : 214 halaman
ISBN : 978-602-291-081-7
Harga : Rp 54.000

Ini adalah novel ketujuh dari seorang novelis yang juga berprofesi sebagai penjual mi ayam, Aveus Har. Mas Har―begitu ia biasa disapa―menjadi buah bibir banyak orang setelah sempat diberitakan media televisi dan muncul di sebuah acara talkshow. Naskah ini merupakan pemenang lomba novel dengan tema wanita muda di penerbit Bentang tahun 2013.
Buku ini menceritakan seorang wanita muda, Charista, yang memutuskan menerima pinangan seorang pria mapan bernama Nathan. Charista jatuh hati pada Nathan setelah membaca komentar pria itu dalam hal memandang virginitas seorang wanita.

“Aku tidak menilai seorang wanita dari virginitasnya semata. Yang penting saling mencintai dan semua akan baik-baik saja.” begitu bunyi komentar Nathan di Gloria, majalah yang redaksinya dipimpin oleh Charista (hal. 19).

Hal itu sangat mengesankan Charista karena ternyata wanita itu memiliki rahasia yang rapat disimpannya. Di masa remaja, Charista pernah melakukan kebodohan yaitu menyerahkan virginitasnya pada sang pacar, Farel. Sampai usianya 29, Charista belum juga dapat melupakan Farel yang merupakan cinta pertamanya.

Pada akhirnya Charista menikah dengan Nathan. Namun menjelang pernikahan mereka, seseorang menanamkan ketakutan dalam benaknya. Ia adalah sahabatnya semasa SMA, Navilla, yang juga mantan pacar Farel. Ia berpendapat bahwa komentar Nathan hanya pencitraan di balik label perusahaannya. Perbincangan dengan Navilla dan Eirin, sahabatnya yang lain membuat Charista merasa gamang dan menganggap Nathan tak beda dengan lelaki lain yang hanya terpesona oleh tampilan fisik.
Maka setelah melangsungkan pernikahan, Charista makin meragukan keputusannya menikahi pria itu.

“Jika sebuah pernikahan adalah pertaruhan hidup wanita, aku akan bertaruh dengan kartu buruk di meja yang tidak memiliki peluang kemanangan.” (hal. 108)

Ia pun melakukan hal konyol seperti menunda hubungan suami istri dengan berbagai alasan. Lalu dengan dikompori Navilla dan Eirin, Charista menjebak Nathan dalam perselingkuhan supaya Charista dapat menemukan cela suaminya. Pada saat itu, Farel berusaha memasuki kembali kehidupan Charista dengan memberikan janji pernikahan jika Charista bercerai dengan Nathan.

Charista baru menyadari bahwa Farel tak berubah dan hanya menginginkan tubuhnya dengan merayunya di sebuah hotel. Untung saja Nathan segera datang dan menghajar Farel. Peristiwa itu sekaligus membuktikan bahwa cinta Nathan pada Charista tulus tanpa cela. Ia menikahi wanita itu bukan karena dorongan hasrat semata, tetapi memang karena keyakinan bahwa Charista adalah gadis yang tepat untuknya.

Tema pernikahan sebagai sebuah pertaruhan bagi seorang wanita digarap dengan cukup baik oleh penulis. Penulis memasukkan tipe lelaki ideal melalui sosok Nathan yang tak bercela. Selama 35 tahun, ia berhasil menjaga kesuciannya. Ia tak berminat main-main dengan wanita yang dekat dengannya. Melalui lembaga pernikahan, ia sangat mendukung seks secara legal. Ia juga tipe lelaki sempurna yang mencintai tanpa mempermasalahkan masa lalu pasangannya. Ketika mengetahui kekurangan Charista, Nathan tidak marah atau menuduhkan keburukan pada istrinya. Hal yang ia khawatirkan justru Charista tak mencintainya.
Sedangkan Charista adalah gambaran perempuan masa kini yang terjebak kebodohan masa lalu dan ingin memperbaikinya. Secara psikologis, ia menyimpan trauma dan ketakutan akan penolakan dari lelaki yang mensyaratkan keperawanan sebagai hal pertama yang harus dimiliki seorang wanita jika ingin dinikahi, terlepas dari kemungkinan bahwa banyak pula lelaki yang sudah tidak perjaka.

Secara teknis, Aveus Har berhasil menggarap cerita bertema sensitif dengan begitu manis. Romantisme diracik dengan bumbu intrik dosis pas sehingga naskah ini memiliki daya gugah yang membangkitkan penasaran di setiap kelok alurnya. Ending novel ini pun cukup menggelikan, dan tentu mampu menjadi penutup yang sempurna. Selamat membaca!

Iklan

Absurditas Senja, Hujan dan Pohon

21457131Judul Buku : Simbiosa Alina
Penulis : Pringadi Abdi Surya – Sungging Raga
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan : I, 2014
Tebal : 192 halaman
ISBN : 978-602-03-0297-3
Harga : Rp 49.000

Cinta gila dan absurd selalu menarik untuk diabadikan menjadi cerita. Dalam kumpulan cerpen ini, semua itu dapat ditemukan. Sungging Raga yang penyuka kereta dan pengagum senja serta Pringadi yang pecinta hujan menuliskannya dengan cukup apik.

Kumpulan cerpen ini merupakan karya-karya yang sudah pernah dipublikasikan di media koran dan majalah. Sungging Raga dengan cerita-cerita beraroma magis-mistis dan Pringadi yang mengusung kisah berbumbu psikologis-romantis. Duet yang menggetarkan dan―meminjam istilah Acep Zamzam Noor―membuat bulu kuduk berdiri karena ‘sengatan’ alur maupun diksi yang mengejutkan.

Membaca setengah bagian pertama (Sungging Raga), kita akan temukan bagaimana dia begitu pandai mengolah suasana yang sebenarnya biasa menjadi istimewa. Cerpennya mungkin dapat dikategorikan sebagai dongeng. Dia banyak mengangkat mitos-mitos yang tersebar di wilayah kerajaan Inggris Raya, lalu mengaduknya dengan senja, kereta, pohon dan wanita. Latar tempatnya pun mayoritas berada di wilayah London.

Pada cerpen pembuka, Simbiosa, Sungging Raga mencoba eksplorasi terhadap sebuah cinta menjadi tekanan batin bagi si pelaku utama, Dulkarip. Ia menjadi ‘gila’ lantaran cintanya dikhianati oleh si kekasih karena ia lebih memilih orang yang memberinya hidup yang lebih terjamin. Lalu mendadak, Dulkarip mampu memahami perkataan mahluk lain di luar manusia seperti pohon dan hewan. ia malah tak mampu berkomunikasi dengan manusia. Ia ‘bersimbiosa’ menjadi mahluk lain di luar dirinya.

Hampir semua tulisan Sungging Raga sangat absurd. Ia mengisahkan perjalanan sungai yang menyentil wajah-wajah kehidupan yang tak tentu ujungnya dengan simbol laut dan peristiwa yang dilewati tokoh sungai di cerpen Sepanjang Aliran Sungai. Ada juga kisah tentang kakek-nenek di stasiun Lempuyangan yang telah ‘berpacaran’ selama 120 tahun dan ‘belum’ menikah karena si nenek merasa, lagi-lagi, ‘belum’ siap.

Baca pula kisah yang aneh tentang orang yang berubah menjadi senja karena cinta yang begitu besar kepada kekasih di cerpen Senja di Taman Ewood. Atau mitos tentang perempuan yang berubah menjadi pohon saat kekasihnya tidak setia. Ia sering memakai tokoh anak kecil untuk menggambarkan bahwa mencintai tak butuh berpikir, seperti anak-anak.

Membaca setengah sisanya, bagian milik Pringadi, kita akan kembali menjadi manusia ‘normal’ walaupun tidak sepenuhnya. Pringadi memang manyajikan cerita yang lebih manusiawi, lebih dekat dengan keseharian, tentang cinta remaja dan tidak melibatkan hal magis dan sejenisnya. Akan tetapi, ia tak membuang sepenuhnya imajinasi tentang ‘keajaiban’ di luar akal. Bisa dikatakan, lebih merupakan eksplorasi terhadap psikologi tokoh-tokohnya.

Sementara Sungging Raga banyak meminjam obyek senja, Pringadi dengan deras menyelipkankan hujan sebagai pembangun suasana. Saksikan bagaimana hujan menjadi hal yang manis untuk background sebuah kisah cinta khayalan di Bait-Bait Hujan. Juga ketika hujan menghadirkan suasana sendu di Dua Kelopak Krisan yang menawan.

Selain menurunkan hujan, Pringadi gemar pula berfilosofi dan memasukkan pelajaran macam biologi, fisika atau matematika, tak lupa, teka-teki yang lucu. Hal ini mampu memberi kesan cerdas bagi cerpennya. Yang lebih menarik, ia juga bereksperimen menggabungkan kisah cinta dengan pertandingan bola. Kebanyakan cerpennya seperti puisi panjang dengan kalimat yang bisa membuat pembaca menahan napas.

Mungkin buku ini boleh dibandingkan dengan Ziarah Bagi yang Hidup milik Raudal Tandjung Banua yang juga bergaya absurd. Menyimak keseluruhan buku ini seperti menikmati secangkir kopi susu ditemani musik lembut di senja hari yang hujan. Nikmat dan tenang. Sungging Raga yang meliuk santai seperti sungai dan Pringadi dengan guyuran diksi liris, merupakan kolaborasi yang nyaris sempurna.

Sinergi Baca-Tulis Untuk Kemajuan Hidup

11060847_1062293233787178_548680534722642634_nJudul Buku : Meningkatkan Semangat Membaca dan Menulis
Penulis : Peng Kheng Sun
Penerbit : Fire Publisher, Pati
Tebal : 200 halaman
Cetakan : I, Juni 2014
ISBN : 978-602-1655-07-8

Peng Kheng Sun merupakan penulis yang begitu gigih mempopulerkan membaca serta menulis. Beliau adalah penulis satu-satunya, yang saya kenal, sangat konsen terhadap dunia dua itu. Bagi pak Peng, menulis dan membaca merupakan sebuah keniscayaan yang harus diperbuat semua orang, jika mau maju. Gagasannya yang hebat itu tertuang dalam buku ini.

Buku yang diterbitkan secara independen ini mengulas secara komprehensif manfaat dan urgensi kegiatan membaca dan menulis.

Buku merupakan sebuah dunia yang memiliki keajaiban karena banyaknya manfaat dan kegembiraan yang bisa kita dapatkan darinya. Namun sayangnya, masih banyak orang yang tak menyadari manfaat dari membaca. Bahkan mereka menganggap membaca buku adalah hal yang mubazir hingga terciptalah beberapa mitos menyesatkan mengenai membaca.

Mitos-mitos yang beredar dalam masyarakat kita misalnya, membaca merupakan pekerjaan pengangguran. Bahwa hanya orang dengan waktu luang yang banyak yang memiliki kegemaran membaca. Tentu ini tidak benar karena banyak tokoh-tokoh super sibuk yang masih punya waktu khusus untuk membaca, bahkan apa yang dibaca melebihi rata-rata penggemar kegiatan membaca.

Mitos lain yang juga cukup kuat adalah, membaca menurunkan prestasi belajar. Banyak dari kita yang berprofesi guru sering sekali menyindir anak didik untuk tidak banyak membaca bacaan di luar buku pelajaran. Bagi mereka semua bacaan itu tidak penting dibandingkan membaca buku pelajaran. Hal itu sama sekali tidak benar. Kita harus melihat bahwa murid-murid itu gemar membaca, itu sudah menjadi modal yang bagus. Sebagai guru, tentu akan lebih baik jika kita menyarankan murid-murid untuk memanfaatkan kegemaran membaca tersebut dalam memahami pelajaran. Pasti murid-murid akan lebih mendengarkan kita jika kita bisa menghargai kegemaran membaca mereka.

Banyak orang yang tidak akrab dengan membaca karena harga buku mahal. Hal itu menyebabkan mitos bahwa buku adalah barang mewah yang tak terlalu penting. Padahal, jika kita mau usaha sedikit, kita bisa mengakses buku-buku melalui berbagai cara, salah satunya mengunjungi perpustakaan, mengunduh buku elektronik secara gratis, atau meminjam buku tetapi secara bertanggung jawab. Di kota-kota tertentu, ada banyak pusat buku bekas di mana kita bisa mendapatkan banyak buku dengan harga murah. Tak kurang sekali setahun di setiap kota juga diselenggarakan pameran buku murah.

Membaca sendiri dapat diibaratkan seperti mengkonsumsi makanan. Jika kita mau bertahan hidup, maka kita harus makan. Buku adalah makanan bagi otak dan batin kita. Tanpa banyak membaca, otak dan batin kita akan kelaparan, kering dan sempit perspektif.

Menjadi Manusia Buku

Muhammad Hatta, ketika baru pulang dari Belanda, membawa kurang lebih 16 peti berisi buku. Pramoedya Ananta Toer, Goenawan Muhammad, setiap hari bergelut dengan buku-buku koleksi mereka yang berjumlah puluhan ribu. Merekalah para manusia buku yang sepanjang hidupnya menjadikan buku-buku sebagai teman sejati. Mereka tak sekadar mengerti dan memahami buku, tetapi juga menerapkan apa yang mereka baca. Hal itu menjadikan mereka pemimpin atau intelektual yang unggul. Sudah menjadi tugas kita untuk meniru kegemaran mereka agar kita juga dapat menjadi manusia buku.

Membaca memiliki keampuhan tergantung pada jenis pembacanya. Bagi siswa, tentu membaca akan sangat berguna dalam membantunya memahami pelajaran di sekolah. bagi guru, kegemaran membaca akan menambah wawasan sehingga mereka dapat mengajar dengan cara yang lebih menyenangkan. Bagi para pengusaha, kegemaran membaca akan memelihara kreativitas mereka dalam menjalankan bisnis.

Jika kita mau maju dan berdaya saing, kegemaran membaca harus kita latih sejak dini. Di Jepang, anak-anak usia SMA dalam sebulan dapat membaca lebih dari 5 judul buku yang bertema berat. Di Rusia, dapat kita jumpai setiap anak usia sekolah dasar selalu rutin mengunjungi perpustakaan. Dayna Tan dari Singapura, membaca 300-an buku ketika usianya baru 11 tahun, dan ia berhasil menuliskan pengalamannya dalam sebuah buku. Di Indonesia? Mayoritas anak-anak dari usia SD hingga perguruan tinggi lebih banyak terlihat di depan televisi, di dalam game center dan di kamar dengan handphone-nya. Bukankah keadaan ini ‘mengerikan’?

Membaca memang tak akan menghasilkan uang yang banyak secara langsung (walau sekarang sudah ada profesi yang bisa menghasilkan uang dari membaca), akan tetapi membaca adalah sebuah investasi. Uang bisa sekejap habis, tapi pengalaman membaca, pengetahuan dan wawasan akan terus menetap dalam otak kita manakala kita serius untuk menjaganya.

Agar kegiatan membaca tak berakhir sia-sia, maka kita harus punya cara untuk menyimpan pengetahuan yang kita dapat dengan menuliskannya. Menulis merupakan sebuah cara untuk mengeluarkan gagasan yang kita dapatkan dari membaca. Dua kegiatan ini apabila dapat kita sinergikan dengan baik akan membawa manfaat luar biasa bagi kualitas diri kita.

Perbedaan besar dapat terjadi antara orang yang gemar membaca dan orang yang beranggapan bahwa membaca itu kegiatan yang kurang bermanfaat. Saya ambil contoh yang mudah. Seorang anak yang dari kecil sudah memiliki kegemaran membaca, maka ia akan memiliki kosakata yang lebih banyak dari teman seusianya yang tidak gemar membaca. Otaknya juga sudah terlatih untuk memindai kalimat-kalimat mana yang tersusun dengan benar. Jika ia memasuki sekolah, ia akan memiliki kemampuan yang baik dalam menulis karena telah terbiasa membaca berbagai bentuk kalimat. Ketika sampai di perguruan tinggi, ia juga dapat dengan mudah membuat karya tulis tanpa melakukan salin tempel secara ‘brutal’.

Berbeda dengan anak yang tak akrab dengan bacaan. Ia akan kesulitan dalam menyusun kalimat. Kata-kata yang dimilikinya pun hanya sedikit. Ia tak mengenal banyak kata, maka jika ia menulis, tulisannya akan kering dan tak menarik. Ketika menjadi mahasiswa, ia akan menjadi Sarjana Download, yang hanya bisa mengunduh karya tulis karangan orang lain, yang malangnya, ia sendiri juga tak mengerti isinya.

Di luar negeri, yang sistem pendidikannya jauh lebih baik, anak-anak mendapatkan dorongan yang luar biasa untuk mempraktikkan kegemaran membaca dan menulis, dari sekolah, pemerintah dan keluarga. Di sini tentu keadaannya sangat berbeda. Banyak guru sekolah maupun dosen perguruan tinggi yang malas membaca, apalagi menulis. Mereka juga tak mendorong muridnya menulis buah pikiran mereka sendiri, bahkan menerima saja tugas ‘karya’ mahasiswa yang mayoritas hasil mengunduh di internet.

Pemerintah juga masih menetapkan pajak yang tinggi terhadap buku sehingga harga buku hanya terjangkau bagi mereka yang memiliki banyak uang, yang naasnya, mayoritas punya minat baca rendah. Salahkan juga sebagian besar penerbit yang hanya mencari untung tanpa punya visi untuk mencerdaskan kehidupan masyarakat.

Pak Peng dalam buku ini mengungkapkan semua itu. Bahwa agar kita bisa menjadi bangsa yang maju dalam segala hal, langkah pertama adalah menghimpun pengetahuan dan keterampilan serta keahlian dengan cara menggemari membaca, lalu menulis. Kedua hal ini memiliki manfaat besar yang jika dikembangkan secara masif, secara nasional, niscaya Indonesia akan sama jayanya dengan negara-negara maju lain.

Buku ini saya rekomendasikan bagi para guru, dan para murid, serta siapa pun yang ingin memanen keuntungan dari sinergi baca-tulis. Untuk mendapatkan buku ini, silahkan menghubungi penulisnya langsung, klik di sini.

Filsafat Manusia Ala Sabda

KamuJudul Buku : Kamu

Penulis : Sabda Armandio

Penerbit : Moka Media

Cetakan : I, Februari 2015

Tebal : 348 halaman

ISBN : 979-795-961-9

Harga : Rp 55.000

Dalam kehidupan, manusia akan senantiasa memikirkan apa makna keberadaan dirinya di dunia. Menurut Juraid Abdul Latief (2012), manusia adalah makhluk yang penuh misteri. Selalu akan muncul pertanyaan-pertanyaan tentang esensi hidup dan kodrat manusia. Dalam bukunya Bengkel Ilmu Filsafat, Turnbull (1995) menguraikan dua jenis pertanyaan filsafat. Pertama adalah pertanyaan sehari-hari, dan kedua, pertanyaan besar.

Novel ini memuat kedua jenis pertanyaan itu. Dio, begitu penulis biasa disapa, menggunakan sudut pandang orang pertama dalam debutnya ini. Tokoh ‘si aku’ bercerita tentang 3 hari bersejarah dalam hidupnya, saat dia masih SMA. Dalam kepalanya yang lucu berjejal banyak pertanyaan mengenai kehidupan yang ia jalani. Pilihan yang tepat karena sudut pandang orang pertama lebih mengarah kepada pemikiran si aku daripada alur.

Cerita dimulai saat si aku baru saja pindah indekos. Tengah malam ketika ia kelaparan lalu membuat mi instan, seseorang mengetuk daun jendela dan mengingatkan agar menutupnya. Tentu saja hal itu aneh sebab kamarnya terletak di lantai 3. Tapi ia tak ambil pusing. Malam berikutnya, ia kembali terjaga dan kelaparan. Mi instan pun kembali ia buat. Ketika memandang sendok mengilap bekas makan, si aku meloncat ke masa lalu, ke waktu saat dirinya masih kelas III SMA. Pikirannya melayang melamunkan tiga hari di masa itu yang dilalui bersama temannya, bernama Kamu.

Hari itu, Kamu menelepon dan mengajaknya membolos. Kamu berhasil menghasut si aku yang tak pernah membolos selama tiga tahun. Ia minta ditemani mencari sebuah sendok yang hilang, sebuah pekerjaan yang sangat tidak penting. Jadilah mereka mencari tukang bakso yang sendoknya tertukar dengan milik Kamu. Kamu juga mendapat tugas dari sang ayah untuk mengantar sebuah barang pada seseorang.

Dengan menggunakan Datsun tua warna kuning, mereka berdua berkendara menelusuri kota Bogor menuju Gunung Mas. Di tengah perjalanan, mereka tejebak macet. Rupanya ada Badai Monyet Parit. Ribuan monyet keluar dari gorong-gorong dan menyerbu kota Bogor. Kamu pun mengajak si aku menuju ‘jalan pintas’, dunia absurd di mana mereka bertemu monyet memakai kaus bertuliskan “Save Human” yang dapat berbicara, serta seorang kakek mantan pejuang yang bisa melukis matanya sendiri di wajah.

Namun ternyata absurditas yang seolah nyata itu hanyalah mimpi. Akhirnya Kamu mengajak si aku pulang. Sendok itu sendiri tak pernah ditemukan.

Hari berikutnya, Kamu dan si aku kembali membolos. Mereka hendak menemui Permen, gadis yang disukai Kamu. Permen sedang bersama dengan seorang temannya, Johan, pengajar di sebuah bimbingan belajar. Di perjalanan, mereka mendapati keramaian yang disebabkan oleh siswa SMA yang bunuh diri karena mencemaskan Ujian Nasional. Kamu dan Johan sempat berdebat tentang sistem pendidikan di Indonesia.

“Kau memaksa murid-muridmu untuk terus optimis dan positif; kau menakut-nakuti mereka dengan mengatakan masa depan tergantung pada sekolah. Sehingga mereka tertekan, mereka takut kalau-kalau masa depan mereka tak sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Dan jika mereka nggak mendapat apa yang mereka mau, mereka akan jatuh kecewa dan menganggap dirinya nggak berguna. Kau buat standar kesuksesan, dan kau buat murid-muridmu terobsesi dengan kesuksesan itu.” kata Kamu (hal. 301)

Si aku pun punya pendapat yang tak jauh beda.

“Setelah kupikir-pikir, buku latihan setebal direktori telepon itu memang hanya dirancang khusus untuk Ujian Nasional saja, untuk menjinakan kecemasan siswa menghadapi teror negara. Kecuali itu, sama sekali tidak ada gunanya.” (hal. 218)

Setelah berpisah dengan Johan, si aku, Kamu dan Permen melanjutkan perjalanan ke sebuah pantai. Di sana, mereka membicarakan banyak hal mengenai hakikat menjadi manusia.

“Menurutku, kelelahan itu lahir karena pikiran kita dipaksa mengonsumsi kebenaran mutlak, dan gawatnya, dunia didominasi oleh orang yang merasa paling benar. Kebenaran yang dipaksakan itu menjadi bos, dan kita jongos. Itu mungkin yang membuat kita nggak santai sebagai manusia. Padahal, kata Multatuli, tugas manusia adalah menjadi manusia.” ujar Kamu mengomentari kematian siswa yang bunuh diri (hal. 318).

Tentang kematian, Sabda menyitirnya dengan bagus lewat pikiran si aku.

“Entah berapa banyak orang yang tenggelam di laut, digulung ombak, karam tanpa nisan, dan mungkin akan dilupakan begitu saja setelah dua atau tiga minggu berselang. Cara mati yang, kalau dipikirkan, sepertinya pedih sekali. Kau mati dan kesepian. Tetapi apa bedanya? Mati bahagia atau sedih, mati di tempat ramai atau mati di tempat sepi, sama saja. Kau mati dan kau mati dan kau mati.” (hal. 330)

Kamu merupakan novel anti-mainstream yang layak dikoleksi. Ini adalah contoh sastra anak muda yang ditulis dengan narasi cerdas dan penuh kelakar. Sabda mengutarakan hal-hal cenderung konyol yang terlihat tak penting dengan kalimat-kalimat yang terus menyeret pembaca untuk menuntaskannya. Berbagai obrolan santai si aku dengan dirinya maupun Kamu bertebaran dari halaman muka hingga akhir. Pembaca seperti menyimak guyon di kedai kopi dengan kebul asap rokok.

Lewat novelnya ini Sabda berhasil ‘meludahi’―meminjam isilah yang dipakai tokoh Kamu―berbagai pihak: sistem sekolah, negara, dan dunia, yang merupakan panggung fana. Tokoh si aku dan Kamu bersinergi secara signifikan mewakili kegalauan penulisnya akan gejolak ‘peradaban’ yang malah mematikan kemanusiaan.

Saya jadi teringat film Taree Zameen Par yang dibintangi Ameer Khan. Tokoh Ishaan tertekan karena sang ayah, menginginkan dirinya agar bisa menjadi orang yang mampu berkompetisi. Bagi ayahnya, dunia adalah kompetisi dan hanya kompetisi. Tanpa kemampuan yang memadai, orang akan tersingkir. Mungkin tokoh Kamu bisa kita samakan dengan Ishaan, yang berpikir bebas dan membenci peraturan yang dirasa tak bermanfaat dan hanya menunjukkan arogansi si pembuat aturan.

Sampai halaman terakhir, kita tidak pernah tahu nama si aku. Tokoh Kamu sama sekali tak pernah menyebut nama temannya. Tapi ketika membaca biodata penulisnya, tak berlebihan kiranya jika kita menamai si aku dengan Sabda Armandio. Sabda dan tokohnya itu tampak ‘satu aliran’ dilihat dari aktivitas hariannya.

Kiranya, keberanian Sabda untuk menyuarakan isi hati dan pikirannya yang ‘menentang’ dunia ini pantas dihadiahi sebuah kata yang menjadi ciri khas tokoh Kamu: Salut!

Deteksi Penyakit Melalui Bau Napas dan Bau Tubuh

Sinyal Bahaya Dari TubuhJudul Buku : Sinyal Bahaya dari Tubuh
Penulis : Sheila Wijaya
Penerbit : Flashbooks
Cetakan : I, Maret 2015
Tebal : 148 halaman
ISBN : 978-602-255-827-9
Harga : Rp 28.000

Dalam merespon adanya penyakit, tubuh memiliki berbagai cara yang unik. Tubuh akan mengeluarkan sinyal jika sebuah penyakit menempel pada tubuh. Bau napas dan bau tubuh adalah dua di antara cara tubuh memberikan sinyal kepada kita bahwa ada suatu penyakit serius yang sedang kita alami. Bau khas yang menguar dari napas dan tubuh seseorang dapat digunakan untuk mendeteksi beberapa penyakit kategori berat seperti diabetes, kanker paru-paru, gagal ginjal, atau kanker hati.

Mungkin kita akan heran, bagaimana bisa bau napas dan bau tubuh dapat dijadikan patokan adanya suatu penyakit? Berdasarkan penelitian terbaru dari Karolinska Institutet, Swedia, yang dipublikasikan jurnal Psychological Science, manusia mungkin dapat mengetahui penyakit lewat bau, yaitu bau napas atau setidaknya bau keringat. Penelitian tersebut melibatkan 8 orang sehat yang sebagian disuntik dengan zat racun dan sisanya dengan air garam (yang tak berefek). Hasilnya, potongan kaus orang yang disuntik zat racun memiliki bau yang lebih menyengat dibanding orang yang disuntik dengan air garam (hal. 6).

Bau napas (halitosis) sering diakibatkan adanya kerusakan pada organ mulut seperti karies gigi, sariawan, juga diakibatkan oleh konsumsi makanan yang berbau tajam seperti petai. Bau napas dapat pula disebabkan oleh gangguan pada lambung yang menguarkan gas dan dikeluarkan lewat napas. Jika seseorang memiliki bau napas tidak sedap, ia tetap harus waspada. Bisa jadi, itu adalah tanda adanya penyakit.
Tim peneliti dari sebuah rumah sakit di Italia menemukan tes yang cukup akurat untuk mendeteksi penyakit kanker lambung lewat bau napas. Akurasi tes berkisar di angka 76%. “Teknologi tersebut didasarkan pada teori bahwa tumor memproduksi sejumlah zat organik yang ditemukan dalam napas penderita” (hal. 23-24).

Orang yang menderita penyakit diabetes biasanya memiliki bau napas seperti pernis kuku. Diabetes merupakan penyakit ketika tubuh kekurangan insulin, yang bertugas mengubah zat gula menjadi energi. Apabila insulin tidak mencukupi, maka akan menimbulkan timbunan kadar gula dalam darah dan terjadilah diabetes (hal. 41).

Sementara bau napas yang mirip amonia sering dialami pada penderita kanker paru-paru. Kanker paru-paru adalah pertumbuhan sel kanker yang tak terkendali dalam jaringan paru-paru. Penyakit ini sering diakibatkan oleh rokok atau akibat terpapar asap rokok (perokok pasif). Kanker paru-paru merupakan kanker yang berbahaya dan mematikan karena menyerang organ inti yang mengatur pernapasan (hal. 61-2). Pengobatan penyakit ini biasanya menggunakan radioterapi, kemoterapi atau pembedahan.

Penyakit lain yang dapat dideteksi lewat bau napas adalah radang amandel. Penderita penyakit ini memiliki bau napas seperti telur basi. Radang amandel banyak disebabkan oleh virus dan konsumsi makanan yang mengandung pengawet. Untuk mengatasi penyakit ini, penderita dapat menggunakan obat tradisional seperti ramuan jeruk nipis, tanaman jarong, kapulaga dan akar bunga pukul empat (hal. 93).

Selain lewat bau napas, kita juga dapat mendeteksi adanya gangguan kesehatan melalui bau tubuh. Misalnya pada penderita kanker kulit (melanoma), tubuhnya akan berbau menyerupai bensin. Melanoma dapat muncul pada kulit normal atau berupa tahi lalat (mol). Jika Anda memiliki mol yang semakin besar, harap waspada dan segera memeriksakan diri ke dokter. Untuk menghindari penyakit kanker kulit, kita harus mengurangi kontak langsung dengan paparan sinar ultraviolet di atas pukul 10 pagi dan menghindari memakai kosmetik yang berbahan karsinogen (zat pemicu kanker).

Penulis menguraikan secara lengkap tentang penyakit-penyakit yang dapat dideteksi dengan bau napas dan tubuh, penyebab, gejala dan cara pengobatannya. Selain itu, buku ini juga dilengkapi cara-cara pencegahan agar kita terhindar dari penyakit-penyakit tersebut. Tindakan pencegahan tentu berbiaya lebih murah dibanding mengobati penyakit, yang terkadang tak kita sadarai keberadaannya.

Berolahraga secara teratur akan meningkatkan peredaran darah dan membakar lemak berlebih. Mengkonsumsi buah-buahan dan sayuran yang berwarna juga dapat meningkatkan kekebalan tubuh. Mengontrol pola makan selalu seimbang dan menghindari alkohol serta junk food juga efektif untuk mencegah berbagai penyakit datang. Istirahat cukup dan menjauhi begadang sangat bermanfaat untuk menjaga kesehatan hati. Tidur awal dan bangun awal pun diyakini dapat meningkatkan kinerja otak. Akhirnya, kondisi kesehatan sangat bergantung pada bagaimana seseorang menjalani gaya hidup dan pola makannya.

7 Kebiasaan Efektif Ahli Strategi PR

What CEO Wants From PRJudul Buku : What CEO Wants From PR
Penulis : Agung Laksamana
Penerbit : B-First, Yogyakarta
Tebal : 194 halaman
Cetakan : I, Desember 2014
ISBN : 978-602-1246-27-6
Harga : Rp 42.000

Memahami ekspektasi CEO terhadap PR adalah penting. Kinerja setiap bagian dalam perusahaan, termasuk PR diharapkan berujung pada peningkatan matriks dan angka. Hingga saat ini, mungkin PR masih dianggap sebagai penjaga reputasi, tapi seyogyanya PR juga bisa memainkan peran yang lebih strategis. Dalam buku ini, Agung Laksamana menjelaskan secara lengkap 7 kebiasaan aplikatif agar praktisi PR bisa bergerak dalam heart of management. Selama ini PR jarang masuk Ring 1 perusahaan karena bisa jadi PR tidak memberikan outcomes yang sesuai harapan para CEO (hal. 15).

Hal penting yang menjadi habit pertama ialah mengenal sang CEO. Pemahaman akan latar belakang CEO amat penting agar PR bisa menyesuaikan sikap dengan baik. Kemampuan memahami bos sangat menentukan keberhasilan karier seseorang. Tanyakan secara langsung prioritas kerja CEO dan buatlah rencana kerja yang sesuai target mereka (hal. 52).

Dalam perusahaan, CEO membutuhkan tim dengan kemampuan yang mumpuni. Pastikan bahwa diri kita masuk dalam kategori strong skill people. Inilah yang menjadi kebiasaan efektif kedua. Menjadi CEO merupakan tugas yang berat, maka sudah barang tentu CEO perlu anak buah yang bisa diandalkan. Pelaku PR harus punya loyalitas serta proaktif memberikan advice. Kemampuan mengendalikan situasi juga penting agar kita tetap memiliki bobot bagi perusahaan (hal. 71).

Perusahaan dengan segudang persoalan adalah tempat yang selalu membutuhkan pribadi-pribadi dengan kualitas terbaik. Mereka harus paham dengan bisnis yang dijalankan perusahaan. Praktisi PR juga perlu berpikir dengan perspektif CEO. Selalu sediakan solusi dan analisis berbasis data dan angka, karena PR juga harus analitis. Temukan juga indikator sukses kita sendiri, yaitu reputasi perusahaan yang semakin baik (hal. 95).

Kebiasaan efektif keempat yaitu meningkatkan pengaruh PR dalam perusahaan. Menjajaki ranah strategis adalah keniscayaan bagi praktisi PR. Selain harus paham keseluruhan bisnis dalam perusahaan, PR juga mesti punya kemampuan mengeksekusi program-program efektif yang berdampak pada karyawan. Esensinya, bagaimana menjadikan aset sumber daya manusia dalam perusahaan bergerak menuju satu titik yang sama.

Kebiasaan efektif kelima adalah sikap kooperatif dengan media. Menjalin pertemanan yang tanpa pamrih, bersikap terbuka dan saling menghargai adalah beberapa cara menjaga hubungan baik dengan media. Selain itu, PR sebaiknya mengerti perkembangan teknologi dan mau mempelajari implikasinya terhadap perusahaan. Mengeluarkan konten yang apa adanya tetapi efektif juga merupakan tugas penting seorang PR (hal. 131).

Krisis dapat terjadi kapan saja. Sebelum hal itu berdampak pada perusahaan, PR memiliki satu tugas penting yaitu menjadi radar bagi korporasi. Hakikatnya, PR adalah mata dan telinga perusahaan. Ia mesti punya keahlian berdiplomasi dengan berbagai pihak ketika sebuah masalah menghampiri. Inilah yang menjadi kebiasaan efektif keenam (hal. 157).

Habit terakhir bagi keberhasilan praktisi PR yaitu terus menerus belajar. Biasanya seseorang berhenti belajar karena merasa sudah tahu dan cukup akan sebuah ilmu. PR yang ingin menduduki jabatan puncak dan dipercaya CEO tentu tak begitu saja berhenti mempelajari banyak hal. Ia akan terus meningkatkan kapasitasnya hingga level global. Keahlian berkolaborasi dan mempengaruhi sangat diperlukan agar dapat bertahan dalam dunia bisnis yang makin pelik sekarang ini (hal. 166).

Buku ini cukup kaya karena ditulis berdasarkan pengalaman Agung selama 20 tahun berkecimpung dalam strategic communication. Selain itu, insight langsung dari beberapa CEO kenamaan membuat buku ini pantas dibaca para pelaku kehumasan maupun siapa saja yang tertarik meningkatkan wawasan tentang komunikasi yang lebih strategis.

Pertaruhan Cinta dan Nyawa

23459532
Sumber: Goodreads

Judul Buku : A Girl Who Loves A Ghost
Penulis : Alexia Chen
Penerbit : Javanica (PT Kaurama Buana Antara)
Penyunting : Shalahuddin Gh
Pemindai Aksara : Muhammad Bagus SM
Cetakan : I, November 2014
Tebal : 551 halaman
ISBN : 978-602-70105-4-3
Harga : Rp 80.000

Novel A Girl Who Loves A Ghost berkisah tentang seorang gadis blasteran Indonesia-Amerika bernama Aleeta Jones yang tinggal di Jakarta hanya bersama sang adik, Chle. Mum dan Dad-nya berada di Amerika untuk menjalankan bisnis dan jarang sekali pulang.

Aleeta sebetulnya membenci ‘wujudnya’ yang jauh berbeda dari orang Indonesia. Dari kecil, ia tak memiliki banyak teman sebab orang Indonesia tak terbiasa berteman dengan orang asing walau orang itu lahir dan besar di Indonesia. Berbeda dengan Chle. Gadis bermata hitam itu rela memakai lensa kontak berwarna biru dan mengecat rambutnya menjadi cokelat keemasan demi mempertegas bahwa dirinya adalah keturunan bule.

Kehidupan Aleeta biasa saja; kuliah-pulang, kuliah-pulang. Begitu setiap hari. Sampai ketika seorang cowok berwajah oriental muncul di hadapannya. Kabar buruknya, hanya Aleeta yang bisa melihat cowok tersebut, yang berarti, cowok itu bukan manusia. Jika bukan menusia, maka cowok itu adalah penampakan dari sebuah roh. Pertanyaannya, siapa roh itu, dan kenapa dia muncul di depan Aleeta?

Jawabannya, roh itu adalah Nakano Yuto, putra pengusaha kaya asal Jepang yang dibunuh dan beritanya menjadi headline sebuah surat kabar. Karena setiap pagi Aleeta membeli koran, ia pasti membaca berita itu, dan secara refleks, ia memanjatkan doa untuk Yuto, karena, sekali lagi, berdoa bagi orang-orang yang matinya kurang beruntung merupakan kebiasaannya. Bukan itu saja, rupanya Aleeta juga mewarisi bakat cenayang dari nenek buyut asli Tiongkok, Qi Yue. Lalu akhirnya, ‘plop’, muncul roh Yuto saat Aleeta memasuki gerbang kampusnya.

Roh itu mengintimidasi Aleeta, mengganggunya ketika kuliah sehingga Aleeta menjadi hilang fokus dan tidak baik-baik saja. Itu membuat Aleeta jengkel dan menyangka roh tersebut hanyalah khayalannya. Tapi yang namanya roh penasaran―yang merasa memiliki misi yang belum selesai di dunia―tak pernah berhenti sebelum tujuannya tercapai. Yuto harus menemukan pembunuhnya, dan membawa pulang Hiro, sang adik yang kabur dari rumah. Karena hanya Aleeta yang dapat melihatnya, ia tak boleh menyerah. Dan Aleeta, walau awalnya jengkel bukan main karena Yuto bertindak serupa Tuan Muda yang sombong, mau juga pergi ke Bandung bahkan Semarang untuk membantu Yuto. Kesediaan Aleeta membantu Yuto ternyata membahayakan nyawanya karena para pembunuh Yuto beralih mengejarnya.

Seperti layaknya kisah drama Korea dengan tahap-tahap bertengkar, dilanjut terpaksa menghabiskan waktu bersama, lalu muncul benih cinta, dan berakhir dengan jadian, begitu juga hubungan Aleeta dan Yuto. Mereka menyadari bahwa keduanya saling menyukai, bahkan sangat mencintai. Akan tetapi, mereka tak bisa terus bersama karena Yuto harus pergi ke tempat seharusnya dia berada seiring tuntasnya misi menangkap para pembunuh dan menemukan Hiro. Hal itu membuat Aleeta berpikiran ingin mengakhiri saja hidupnya karena tak ingin berpisah dari Yuto.

Saya bisa mengerti mengapa Aleeta begitu mencintai Yuto. Dirinya yang berbeda, memiliki sedikit teman, dan hidup jauh dari orangtua adalah alasan-alasan yang tepat dan digunakan secara efektif oleh Alexia. Saya juga memahami mengapa Yuto juga enggan meninggalkan Aleeta. Ayahnya cukup keras mendidiknya sehingga ia sudah harus mengurus bisnis yang besar di usia sangat muda, ditambah, kekasihnya merupakan orang yang suka menggoda lelaki lain. Di sisi lain, Yuto juga belum dapat menerima kematiannya. Ia akan marah jika Aleeta menyebutnya ‘hantu’.

Saya lega akhirnya Aleeta dan Yuto mau saling melepaskan. Saya bersyukur penulis menyelamatkan Aleeta dengan tidak mematikan akal sehatnya, bahwa tak ada gunanya memperjuangkan hantu dengan mengorbankan kehidupan. Di sini saya juga menangkap pesan yang luar biasa dari penulis: hargai hidupmu karena hidup di dunia hanya sekali, dan hantu, bagaimanapun kau mencintainya, bukanlah kehidupan, hantu telah kehilangan sifat kemanusiaannya. Maka kau harus mengikhlaskan jika orang yang kau sayangi meninggal. Biarkan jiwanya bebas dan pergi dalam damai.

Secara sadar, saya tak begitu tertarik dengan kisah percintaan Yuto dan Aleeta. Unik memang percintaan yang tak normal seperti itu (standar normal adalah lelaki-perempuan manusia dengan manusia. Sayangnya bahkan sesama manusia pun ada juga yang tidak normal, yaitu cinta sesama jenis). Tetapi tetap saja saya kekeuh, bahwa manusia yang berpacaran dengan hantu adalah orang gila yang perlu dinasihati dan didoakan banyak-banyak. Kata orang Jawa, kesambet. Begitulah pendapat saya tentang Aleeta. Dia kesambet Yuto.

Kisah cinta tidak normal semacam ini masih dan sepertinya akan terus menjadi favorit. Lihat saja Twilight. Edward bukanlah manusia, tapi Bella mencintainya. Dan buku tersebut jadi best seller serta film adaptasinya meraup miliaran dolar. Atau ingatlah legenda Jaka Tarub, tentang seorang pemuda yang menikahi bidadari malang. Lihat pula film White Snake asal Cina, menceritakan pemuda yang menikahi siluman ‘cantik’.
Perjalanan cinta Aleeta dan Yuto ini jadi tampak sangat menyedihkan. Semua kisah cinta yang tak bisa bersatu adalah menyedihkan, tak peduli itu manusia lelaki-perempuan, hantu atau homoseksual!

Di halaman-halaman awal buku, acap kali ditampilkan adegan perdebatan Yuto dan Aleeta yang sama-sama keras kepala. Itu cukup menjengkelkan. Saya jadi sering mengumpat, “Come on, sudahi saja pertengkaran kalian! Segera menyetir dan cepat tuntaskan misi ini!” Ada banyak penuturan maupun penggunaan istilah yang sama berkali-kali. Misalnya, ‘sialan’, ‘brengsek’, dan compound words yang mendefinisikan ekspresi wajah. Tidak membosankan, sih, tapi sebaiknya juga tidak berlebihan.
Saya berharap akan lebih banyak adegan aksi yang membuat tegang, tapi rupanya novel ini lebih fokus pada hal pertama. Namun begitu, saya suka dengan adegan pelarian Aleeta yang hendak dibunuh di hutan, penyamaran di kantor Yuto, penguntitan di tongkrongan para pembunuh serta kebut-kebutan di jalanan.

Sayangnya, saya tak bisa membayangkan Aleeta seorang bule. Sebagai bule, ia terlalu Indonesia. Saya belum pernah melihat bule yang sangat Indonesia sehingga pikiran saya menolaknya, dan saya gagal membuat gambaran Aleeta seperti, misalnya, Emma Stone yang lancar berbahasa Indonesia. Yuto juga saya rasakan tak nampak aroma Jepangnya sama sekali. Saya tak bisa membayangkan dirinya seperti, misalnya, Miura Haruma, tapi tak pernah berbicara bahasa Jepang. Budaya Jepang dan Amerika yang diekspos hanya sebatas nama Jones, Nakano, ‘well’, ‘yeah’ dan ‘sayonara’.

images
Emma Stones Sumber: Glamorous.com
miura-haruma
Miura Haruma sumber: lipstickalley.com

Ketika saya membayangkan mereka berdua seperti seharusnya mereka, saya mengalami kelelahan. Alexia kurang meyakinkan saya dalam hal ini. Mungkin saya yang terlalu primitif karena tak pernah melihat bule kecuali di Borobudur atau Kraton Yogyakarta. Jadi, saya mohon maaf jika mengalami kegagalan ketika harus membayangkan bule makan bubur, kuliah dengan anak-anak lokal, dan menjadi WNI. Saya sulit menerima itu. Karena bagi saya, bule ya di luar negeri, kalau berada di sini, mereka hanya turis.

Well, yeah, saya harus akui novel ini berhasil dalam fungsinya sebagai suatu karya yang menghibur (dengan ide cerita yang tidak ‘normal’ tadi). Mungkin ini satu-satunya cerita hantu yang tak membuat saya mengkerut. Ketertarikan dan pengetahuan Alexia pada dunia supernatural dengan manis menggelinding melalui kisah Aleeta dan Yuto. Tapi tetap saja Alexia masih berutang banyak penjelasan dengan menulis ending yang misterius. Kita nantikan saja sekuel kisah Aleeta ini.