Jodoh Terbaik Dari Allah

Insya Allah, Sah!Judul Buku : Insya Allah, Sah!
Penulis : Achi TM
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, April 2015
Tebal : 328 halaman
ISBN : 978-602-03-1465-5
Harga : Rp 69.500

Pernikahan adalah suatu ikatan suci yang dibangun tak hanya dengan cinta, tapi juga iman. Sebuah pernikahan akan berhasil jika kedua belah pihak mengerti tujuannya, yaitu untuk membentuk keluarga yang bertakwa kepada Allah. Di bukunya yang ke-25 ini, penulis Achi TM mengusik sekaligus mengkritisi pernikahan-pernikahan yang digelar secara mewah dengan alasan ‘sekali seumur hidup’.

Tokoh utama novel ini digambarkan sebagai wanita modern yang dibikin berjarak dengan agama. Dialah Silviana, pemilik Silviana Sexy Boutique yang per bulan omzetnya mencapai miliaran rupiah. Hidup Silvi terasa lengkap sejak berpacaran dengan Dion. Di tahun ketiga hubungan mereka Silvi memutuskan bahwa Dion harus melamarnya.

Sosok Dion digambarkan juga ‘slengean’ dalam perkara agama. Pekerjaannya sebagai direktur sebuah label musik membuatnya melupakan batas-batas yang tak boleh dilampaui seorang muslim. Ia minum wine, salat jika ingat, dan mungkin tak hafal Al-Fatihah.

Sebagai penyeimbang, diciptakanlah tokoh Raka. Raka ini bekerja di kantor Dion sebagai produser lini musik islami. Ketika menuju kantor Dion untuk dilamar, Silvi terjebak di lift berdua Raka. Sepanjang gelap, Raka berdoa. Hal itu membuat Silvi jengah. Berjam-jam berada dalam gelap membuat Silvi panik dan kesal. Saking paniknya, Silvi bernazar memakai jilbab jika berhasil keluar dengan selamat.

Agar Silvi tidak nampak terlalu ‘devil’ hadir sosok Kiara sebagai sahabat yang rewel berceramah. Kiara selalu menemani Silvi di segala situasi, susah senang selalu bersama. Selama bertahun-tahun, Kiara menasihati Silvi untuk menutup aurat dan mengubah haluan desain menjadi baju muslimah. Tapi Silvi yang keras kepala tentu berpikir hal itu impossible.

Ketika tanggal pernikahan telah ditetapkan, Silvi pun mulai bergerilya menyiapkan segalanya. Namun sayang, Dion terlalu sibuk ke luar kota untuk tur Banana Band sehingga tak dapat menemani Silvi. Dion malah menyuruh Raka menemani calon istrinya itu. Dari mulai mencari suvenir, katering sampai fitting baju pengantin, semua ditemani Raka. Namun Raka meminta agar Silvi membawa muhrimnya.

Persiapan pernikahan Silvi ternyata menemu jalan yang tak mulus. Silvi dua kali ditipu ketika mengurus desain undangan dan wedding organizer. Silvi hampir frustasi karena tak ada Dion di sampingnya. Raka mengingatkan Silvi bahwa mungkin Allah mempersulit pernikahan Silvi sebab Silvi melupakan nazarnya untuk berjilbab.

Awalnya Silvi ngotot tak mau menunaikan nazarnya. Bagaimana mungkin seorang desainer baju seksi memakai jilbab? Namun hidayah Allah tak pernah salah tempat. Ia akhirnya berjilbab setelah sebagian rambutnya terbakar kompor. Hatinya kian mantap usai ikut Raka salat di masjid Istiqlal.

Sejak hari pertama ia memakai jilbab, Silvi bahkan sudah dapat merasakan kemudahan-kemudahan yang diberikan Allah, seolah semua musibah terangkat darinya. “Jilbab ini, Allah memudahkan segalanya. Padahal aku baru memakai jilbab setengah hari saja.” (hal. 243)

Namun demi mempertahankan jilbabnya, Silvi harus melalui banyak ujian. Dion mengancam akan membatalkan pernikahan karena ia tak suka perempuan berjilbab. Gina pun turut kecewa dan merusak semua baju muslimah Silvi. Ujian bertambah saat Anna muncul. Gadis itu adalah kakak kelas yang selalu mem-bully Silvi dan Kiara ketika SMA. Dengan cara licik, ia berusaha memisahkan Dion dari Silvi (hal. 275).

Namun pada akhirnya, Allah membalas keteguhan Silvi membela jilbab dengan memberikan jodoh terbaik yang tak terduga.

Novel ini menyenangkan karena ditulis dengan gaya kocak. Lewat narasi dan dialog yang laju, penulis berhasil mengajak pembaca merenungkan kembali makna berjilbab dan pernikahan yang sesuai tuntunan agama. Pembaca akan dibuat menyeringai berkali-kali karena kepiawaian penulis memindahkan kehebohan khas FTV ke dalam lembaran kertas.

Namun begitu, ada inkonsitensi yang lumayan banyak. Misalnya, di awal buku, penulis mencantumkan Papa-Mama untuk menyebut orangtua Silvi. Di sisa buku, ganti menjadi Ayah-Ibu. Tentu hal itu tak bisa dibenarkan karena menyebabkan ‘cita rasa’ yang beda walau maknanya sama.

Lalu, Dion yang digambarkan sebagai sosok eksekutif sibuk yang tak segan meminum wine dan biasa menyentuh Silvi serta menentang jilbab, tahu kata ‘ta’aruf’ ketika menyinggung Raka. Pun, penggunaan ‘Assalamu’alaikum’ yang terlalu banyak dipakai Silvi saat masih berpakaian terbuka. Saya rasa akan lebih baik jika Silvi maupun Dion dibuat ‘benar-benar’ berjarak dengan kebiasaan tersebut. Tidak perlu setengah-setengah memberikan kesan ‘buruk’ pada Dion seperti kesan ‘buruk’ yang melekat pada Gina. Juga, ada beberapa typo dan kesalahan EYD di beberapa tempat. Alangkah baik bila pemindai aksara serta penyunting memeriksa konten dan huruf-huruf tak hanya sekali dua kali.

Di atas semua kekurangannya, novel ini layak dimiliki.

PS: terima kasih mbak Achi TM atas buku ini, semoga best-seller 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s