Spionase Amatir Sang Pelobi White House

1344088308r_The-Broker
sumber gambar: tokokomikantik.com

Judul Buku : The Broker
Penulis : John Grisham
Penerjemah : Siska Yuanita
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakah : Kedua, September 2007
Tebal : 600 halaman
ISBN : 979-22-2703-2

Sama seperti The Last Juror, Sang Broker masih berputar di sekitar wilayah hukum, namun dalam cakupan yang lebih luas dan level yang lebih tinggi. Bukan hanya sebuah kota kecil di Clanton, tapi melibatkan dunia internasional.

Novel ini berkisah tentang Joel Backman, seorang pengacara yang mengelola sebuah biro hukum bersama dua orang kawannya, Carl Pratt dan Kim Bolling.

Biro itu tumbuh menjadi biro paling berpengaruh di Washington, juga White House. Kemampuan Backman untuk melobi dan menekan berbagai pihak menjadikan banyak klien yang tersandung kasus-kasus besar memanfaatkan jasanya. Backman pun sukses berpenghasilan hingga 10 juta dolar setahun. Selama bertahun-tahun, kegiatannya yang bisa dibilang kotor itu bertahan. Sampai tiga pemuda jenius Pakistan menjadi kliennya.

Mereka telah berhasil membuat sebuah perangkat lunak yang diberi nama JAM, bisa mengendalikan 9 satelit rahasia entah milik siapa. Karena mengendus adanya potensi uang yang begitu besar, Backman meminta kawannya, Jacy Hubbard, untuk menawarkan JAM ke negara-negara seperti Saudi, Israel, dan Rusia.

Sayangnya, persekongkolan itu terbongkar FBI dan menyeret Backman serta kliennya ke pengadilan. Tiga pemuda penemu JAM telah dibunuh entah oleh siapa, lalu Hubbard juga dihabisi. Akhirnya Backman mengaku bersalah dan dijebloskan ke penjara federal. Ia mendekam di sana selama enam tahun.

Sampai di detik terakhir kepemimpinan Arthur Morgan yang payah, Backman mendapatkan pengampunan penuh dan dibebaskan. Ia dikirim oleh CIA ke Bologna, Italia dengan identitas yang baru. Rencananya, setelah Backman mapan, CIA akan menginformasikan kepada negara-negara yang memburunya; Saudi, Cina, Rusia, Israel terkait lokasi Backman untuk membunuhnya. Dengan begitu, CIA akan tahu siapa pemilik satelit rahasia yang software pengendalinya ada di tangan Backman.

Namun Backman bukan orang bodoh. Di sela-sela rutinitas baru beradaptasi sebagai Marco Lizzeri di Bologna―belajar bahasa Italia, jalan-jalan, makan di bar dan kafe―Backman menyadari bahwa ia dikirim ke sana bukan tanpa alasan. Backman mencoba menghubungi seorang anaknya, Neal Backman yang tinggal di sebuah kota kecil di Virginia, melalui surat yang dititipkan seorang wanita di stasiun. Tak mudah melakukannya karena Luigi, sang pengawas selalu membuntuti Backman.

Hingga dua bulan berlalu, negara-negara pemburu Backman mendapatkan informasi keberadaan sang broker. Dimulailah keharuan perburuan dan spionase amatir yang menegangkan di seputaran Bologna, Milano hingga Zurich. Backman berhasil kabur dari para pengejarnya―Cina, Saudi, Israel, CIA dan FBI. Ia sampai di Zurich, tempat tambang uangnya berada. Dari sana, ia mulai menyusun rencana-rencana untuk menyelamatkan nyawanya dan JAM, tentu saja.

Grisham tak hanya menulis kisah menarik tentang spionase, tapi juga mengajarkan metode untuk belajar bahasa asing. Setelah menghafal 200 kosakata, Backman belajar bahasa Italia dengan berjalan-jalan di sepanjang kota Bologna bersama gurunya, Ermanno di pagi hari dan Francessa di sore hari. Sang guru menyuruh Backman berbicara dengan polisi untuk bertanya arah, memesan berbagai menu di kafe dan menyebutkan nama benda atau kegiatan yang ditemui di jalan dengan bahasa Italia. Dalam dua bulan, Backman telah menguasai percakapan dasar serta aksen orang Italia. Learning by doing. Sangat efektif.

Saya ingin sekali mengutip sebuah kalimat ketika Backman baru saja menginjakkan kaki di Italia.

“Joel berhenti sebentar di depan tabaccheria dan mengamati dengan cepat kepala-kepala berita di koran-koran Italia, walau ia tak tahu satu patah kata pun yang tertulis di sana. Ia berhenti berjalan karena ia bisa berhenti berjalan, karena ia manusia bebas yang memiliki kekuasaan dan hak untuk berhenti berjalan kapan pun ia mau, dan mulai bergerak lagi kapan pun menginginkannya.” (hal. 97)

Kalimat tersebut menurut saya sangat lucu. Dan di sepanjang halaman-halaman dalam novel ini, pembaca akan menemukan lebih banyak lagi kalimat-kalimat lucu semacam itu. Bagaimana Grisham yang mengaku gaptek bisa menuliskan cerita tentang teknologi canggih seperti spionase, satelit, komputer dan smartphone dengan begitu menawan?
Barangkali itu adalah kesalahan, kata Grisham. Dan kesalahan itu sangat indah.

Bel lavoro, Nonno!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s