Meloakkan Hati yang Patah

Pameran Patah HatiJudul Buku : Pameran Patah Hati
Penulis : Mini GK
Penerbit : Ping
Cetakan : I, Maret 2015
Tebal : 204 halaman
ISBN : 978-602-255-836-1
Harga : Rp 36.000

Ode selalu bermusuhan dengan Yosinta semenjak SMP, tak pernah akur sedetik pun. Ever, teman rekat Yosinta hanya bisa melerai ketika keduanya berkelahi dan saling jambak. Setiap hari, ada saja hal yang diributkan mereka. Namun sebenarnya, permusuhan itu hanyalah bentuk kekesalan Yosinta.

“Pada kenyataannya ini hanyalah permusuhan sepihak. Hanya Yosinta yang menganggap Ode saingannya. Tidak sebaliknya.” (hal. 91)

Yosinta kesal karena dirinya dan Ode selalu menyukai orang yang sama, yaitu guru mereka sendiri. Ever sebagai sahabat tak lelah menasihati Yosinta untuk berhenti menyukai orang dewasa dan tidak lagi melakukan hal konyol di masa sekolah. Yosinta tak mengindahkan nasihat sahabatnya, bahkan ia dan Ode kembali berkelahi di mal gegara berebut parfum (hal. 46).

Kebencian Yosinta memuncak ketika tahu Ode terpilih mewakili sekolah dalam olimpiade bahasa Inggris. Yosinta yang sudah menguasai hampir semua mata pelajaran tak rela jika Ode selangkah lebih maju dari dirinya. Apalagi setelah Ode memutuskan untuk ikut bimbingan belajar demi memperbaiki nilai-nilainya. Di sana, mereka kembali naksir dengan orang yang sama, yaitu Atlas, tanpa tahu bahwa orang itu adalah kakak Ever.

Kakak Ode, Enko sedang merajut kisah cintanya dengan Dipati. Enko adalah tipe orang yang tak mudah curiga dan selalu berbaik sangka kepada orang lain. Ode yang membenci Dipati tidak sengaja melihat pria itu berkencan dengan orang lain. Sementara itu, Atlas masih berusaha untuk move on dari sang mantan, seorang gadis cantik keturunan India. Sampai kemudian ia bertemu Enko dan jatuh cinta pada gadis itu, tanpa tahu siapa sesungguhnya Enko.

Sebuah konser amal membuka semua tabir rahasia itu. Enko akhirnya menyaksikan sendiri Dipati sedang berkencan dengan seorang perempuan yang ternyata sahabatnya. Ode yang juga berada di sana melabrak dan menyerang Dipati. Sementara Atlas yang sedang memotret konser itu, baru mengetahui jika Enko adalah kakak Ode, anak didiknya di bimbingan belajar.

Ever yang jengah terhadap sikap Yosinta yang bak seorang putri, mulai menyadari bahwa ia menyukai Ode. Ia pun terkejut karena Ode merupakan adik dari Enko, penulis idolanya. Yosinta yang masih menyimpan kebencian pada Ode, berusaha mencelakai Ode dengan memasang pensil di jalan agar Ode terjatuh. Namun kejadian itu justru mendekatkan Ode dengan Ever ketika Atlas menyuruh adiknya itu mengantar Ode pulang (hal. 176).

Hubungan Atlas dengan Enko sendiri makin dekat setelah mereka bertemu kembali di sebuah pameran yang diisi oleh orang-orang patah hati yang meloakkan barang-barang kenangan bersama sang mantan. Dengan perjuangan seorang lelaki patah hati, akhirnya Atlas berhasil merebut hati Enko. Ever yang hatinya masih utuh pun tak gentar membujuk Ode menerima cintanya (hal. 203).

Kisah tentang patah hati ini menarik, sayangnya belum tereksekusi dengan baik. Penulis masih terjebak untuk menghadirkan kejutan-kejutan klise yang barangkali disediakan demi memperkokoh bangunan cerita namun terkesan hanya menyodorkan informasi semata. Jumlah karakter utama yang diciptakan juga terlalu banyak untuk buku dengan tebal hanya 204 halaman. Banyak juga adegan dan dialog yang terlalu lambat, misalnya ketika Ode bertengkar dengan Yosinta di tangga, atau ketika Ever belajar bersama di rumah Yosinta.

Adegan pameran pun sangat kurang dalam eksplorasinya. Ia hanya menunjukkan bahwa judul buku ini terinspirasi dari sana. Penulis seperti tak menawarkan hal baru dalam pemaknaan terhadap ‘patah hati’. Jadi, hanya menyuguhkan adegan demi adegan yang bernuansa ‘patah hati’, tanpa eksplorasi yang cukup kuat mengapa mereka, para karakter dalam novel ini, mengalami ‘patah hati’. Inkonsistensi antara judul dan isi cerita novel inilah yang agak kurang dapat dinikmati.

Satu hal yang patut dipuji dalam novel ini adalah kemampuan penulisnya untuk membuat ketegangan cerita dan menambah dosis penasaran pembaca akan akhir kisah masing-masing karakternya, walaupun sudah bisa ditebak.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s