John Grisham dan Pesona Ahli Hukum

vlcsnap-2015-04-30-08h33m44s117Judul Buku : The Last Juror
Penulis : John Grisham
Alih Bahasa : B. Sendra Tanuwidjaja
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : II, Desember 2007
Tebal : 536 halaman
ISBN : 979-22-2598-6

The Last Juror (Anggota Juri Terakhir) adalah novel Grisham kesekian yang berkisah tentang sorang anak muda dropout dari sebuah kampus anggota Ivy League (universitas terbaik di Amerika) bernama Willie Traynor. Usianya baru saja 23 tahun ketika dia membeli sebuah koran yang telah bangkrut di sebuah county  berjuluk Ford, di kota Clanton. Nama panjang koran itu adalah The Ford County Times. Pemilik sebelumnya adalah seorang wanita berusia 90 tahun yang hidup di panti jompo, redakturnya, Wilson Claude, adalah sang anak, yang lebih suka menulis berita kematian. Karena manajemen yang buruk, Times bangkrut dan Claude pergi entah ke mana. Sebagai anak muda yang masih segar dan tak punya takut, Willie nekat meminjam uang pada sang nenek yang kaya raya dan membeli Times seharga $50,000.

Dan di bawah kepemimpinan Willie, Times selamat dari kebangkrutan totalnya, apalagi ketika sebuah kasus pembunuhan menghebohkan kota kecil itu. Rhoda Kasselaw diperkosa dan dibunuh secara brutal oleh Danny Padgitt, anak dari keluarga Padgitt―penguasa Pulau Padgitt yang menjual mariyuana dan memiliki banyak bisnis ilegal. Kejadian itu memicu kemarahan warga kota dan mereka menghendaki hukuman mati bagi orang itu. Sidang berlangsung beberapa kali, dan pada sidang terakhir, Danny Padgitt bersumpah akan membalas dendam jika juri―pada waktu itu penilai putusan adalah juri―menyatakan dirinya bersalah.
Akhirnya Danny dijatuhi hukuman ‘seumur hidup’. Dia dikirim ke penjara Parchman, yang terkenal busuk. Tapi beberapa tahun kemudian seorang mantan asisten hakim yang bertugas di sidang terakhir Danny, mendapati Danny berkeliaran bebas dengan dikawal petugas.

Hal itu membuat Willie langsung bereaksi dengan menuliskan editorial mengenai fasilitas yang diterima oleh narapidana dengan keluarga kaya, seperti Padgitt. Willie mempertanyakan sistem penjara yang timpang tersebut. Hingga setelah 8 tahun mendekam di penjara, diadakan dengar pendapat agar Danny dibebaskan bersyarat. Dengar pendapat itu diadakan tertutup. Untungnya Willie mengetahui hal itu dan mengajukan diri menjadi saksi. Ia melanggar perjanjiannya dengan menuliskan hasil dengar pendapat tersebut. Danny batal untuk dibebaskan karena Willie bersaksi dengan begitu keras dan membeberkan fakta-fakta yang mengejutkan Dewan pembebasan.

Setahun kemudian, dengar pendapat tersebut diadakan kembali. Danny akhirnya bebas karena bisa berkelakuan baik selama masa hukuman, dan dianggap sanggup mempertahankannya ketika bebas.

Setelah Danny bebas, terjadi pembunuhan atas dua juri, mereka tewas ditembak dari jarak jauh. Sedangkan satu orang lagi, yaitu Mrs. Maxine Root selamat dari percobaan peledakan dengan bom. Hal itu membuat Sherrif yang baru terpilih menangkap Danny yang dicurigai sejak awal untuk balas dendam. Ketika Danny disidang untuk kasus itu, seorang penembak jitu memecahkan kepala Danny dan menembaki kota. Ia diketahui sebagai Hank Hooter setelah menembak dirinya sendiri. Hooter merupakan penderita skizofrenia yang juga kekasih Rhoda. Ia menembak ketiga juri itu karena mereka menentang pemberian hukuman mati bagi Danny (Waktu itu Hank Hooter bekerja sebagai asisten Jaksa). Kasus pun tuntas.

Willie berusaha dengan gigih agar Times kembali mendapatkan banyak pelanggan. Berbeda dengan redaktur terdahulunya, Willie berani menuliskan berbagai hal secara sensasional. Ia juga berani untuk menulis profil mengenai wanita kulit hitam yang berhasil membesarkan 8 anak, 7 di antaranya Ph.D. Wanita tersebut adalah Miss Callie, yang nantinya akan menjadi teman terbaik bagi Willie, dan menjadi anggota juri terakhir yang dipilih Jaksa.

Willie mengelola koran mingguannya itu dengan mengambil banyak keputusan yang tepat. Ia tak segan menyuarakan pandangannya terhadap apa saja yang terjadi di Clanton, juga mengobarkan semangat antiperang (dengan Vietnam). Penjualan Times yang dulunya hanya 1.200 eksemplar, di tangan Willie berhasil mencapai penjualan hingga 5.000 bahkan 6.000 eksemplar. Sampai sepuluh tahun, ia akhirnya menjual Times seharga 1,5 juta dollar.

***

Membaca John Grisham berarti membaca banyak kesenangan, detail dan kecerdasan. Rasanya memang setiap penulis yang berhasil memiliki ketiganya; serta spesialisasi dan Griham terlihat begitu ahli dalam menulis novel bidang hukum. Apakah jika Grisham menulis di luar tema itu akan terlihat konyol? Sementara ini belum saya ketahui, karena novel ini adalah novel Grisham pertama yang saya baca. Pernyataan saya terkait spesialisasi Grisham di meja hijau berdasar pada pernyataan Grisham sendiri,

“Saya tidak bisa menulis sebagus beberapa penulis lain; bakat saya adalah menghadirkan cerita yang baik tentang ahli hukum. Di situlah saya betul-betul menguasai.”

Di samping itu, Grisham juga seorang pensiunan pengacara dan mantan politikus AS. Di tangannya, pengadilan jadi tempat yang sangat menarik dan ahli hukum tampak mempesonakan akal. Di novel ini tokoh utamanya Willie Traynor, seorang jurnalis. Berita bagusnya, Willie dikelilingi orang-orang yang sudah mengerti banyak mengenai hukum-hukum. Henry Fox, pengacara perkawinan; Baggy, penggosip yang suka nongkrong dengan para pengacara; dan Ernie Gaddis, jaksa penuntut yang begitu getol menjatuhkan tuntutan seberat-beratnya.

Narasi yang dilontarkan Grisham mengocor seperti keran, kalimat-kalimat komentar penuh dengan kelakar, dan alur mengalir lancar. Seluruh elemen yang disyaratkan dalam sebuah novel dipenuhi seluruhnya, bahkan digarap dengan sempurna. Gaya bercerita Grisham ini saya temukan juga ditiru oleh banyak pengarang Indonesia.

Walau begitu saya belum menemukan siapa yang dimaksud ‘The Last Juror’ oleh Grisham, apakah Miss Callie ataukah Mrs. Maxine Root, yang menjadi korban ketiga sekaligus terakhir percobaan pembunuhan juri? Saya juga cukup kecewa karena pelaku penembakan tiga juri bukan Danny Padgitt.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s