Menemukan Kedamaian di Rumah Lavender

10174817_732842026736533_5219836689608575191_n
sumber gambar: fanspage penerbit

Judul Buku : The Lavender House
Penulis : Joceline F. Jana
Penerbit : Diva Press
Cetakan : I, Mei 2014
Tebal : 204 halaman
ISBN : 978-602-255-532-2

Amanda adalah seorang anak yatim piatu yang tinggal di rumah Maggie, sebuah rumah yang menampung anak-anak tanpa orangtua. Rumah itu terletak di Worrundani, kota kecil di barat laut Melbourne.
Amanda berusia 7 tahun ketika tiba di rumah itu dengan diantar oleh pengacara ibunya, Pak Collins. Amanda sudah berpindah beberapa kali dalam rumah penampungan sebelum diantar ke rumah Maggie, yang akan menjadi persinggahannya yang terakhir di masa remaja. Di rumah itu, anak-anak datang dan pergi setiap waktu; diadopsi atau kedatangan anak-anak baru.

Maggie merupakan wanita yang sangat mengutamakan pendidikan. Ia begitu hati-hati dalam mendidik anak-anak asuhnya. Ia tak pernah berkata keras atau membentak mereka. Namun ia juga orang yang sangat disiplin. Setiap anak harus mengerjakan tugas rumah yang telah dibagi-bagi. Setelah itu, mereka akan pergi ke sekolah yang dikelola seorang wanita bernama Deakan.

Pada suatu hari, tibalah seorang anak baru bernama Stacey. Gadis kecil inilah yang nantinya akan menjadi sahabat rekat Amanda. Stacey ditempatkan dalam ruangan yang sama dengan Amanda. Dia membantu tugas Amanda mengambil telur ayam di kandang. Bahkan, ia bisa merawat halaman belakang dengan lebih baik dari siapapun. Stacey adalah anak pendiam yang kehilangan keceriaan karena kehidupannya yang buruk.

Di usia 17 tahun, Amanda bertemu Pak Collins yang menyerahkan surat dan sejumlah uang dari mendiang ibunya. Dari Pak Collins itulah Amanda mengetahui bagaimana ibunya yang sebenarnya, kakek neneknya, dan arti Amanda bagi sang ibu.
Ketika lulus SMA, Amanda harus pindah ke Melbourne karena mendapatkan beasiswa kedokteran di universitas terbaik di sana. Stacey yang sangat bergantung pada Amanda tak kuasa berpisah dengan sahabatnya itu. Masa lalunya yang kelam bersama sang ibu yang dipenjara membuatnya sedikit emosional dan pernah sekali memukul teman di sekolah.

Amanda tak menyerah untuk terus membujuk Stacey agar tegar dan selalu berpikiran positif. Walaupun awalnya sulit, tapi akhirnya Stacey berhasil menemukan pengertian bahwa dia dapat menjadi orang yang memandang hidup ini sebagai sesuatu yang harus disyukuri. Ia pun kuliah di kota kelahirannya dan beberapa tahun kemudian pindah ke London. Stacey memiliki karier yang cemerlang di bidang keuangan.

Amanda sangat bangga dengan perubahan hidup Stacey. Amanda sendiri berkarier di sebuah rumah sakit di Melbourne. Dedikasinya begitu tinggi terhadap pasien sampai tak sempat mengambil libur.
Beberapa waktu berlalu, Maggie pun meninggal karena penyakit yang dideritanya. Amanda yang menganggap Maggie adalah wanita super merasa sangat hancur. Maggie meninggalkan warisan untuk Amanda dan Stacey berupa sejumlah uang.

Merasa perlu melakukan hal baru, Amanda mengambil cuti selama enam bulan. Ia membeli sebuah rumah di sebuah desa kecil di Vietnam. Rumah itu merupakan sebuah kelenteng tua yang pernah ditinggali oleh beberapa generasi orang-orang terhormat, dan penghuni yang terakhir adalah seorang biksu.

Amanda menata ulang rumah tua itu, dengan terlebih dulu meminta izin dari para tetua. Di desa itu, tradisi sangat terjaga, bahkan rumah pun harus sesuai tradisi. Desa itu terkenal dengan sebutan Desa Ungu, karena seluruh rumah di daerah itu dicat dengan warna ungu.

Amanda bertemu dengan Jake, seorang pembuat video dokumenter tentang berbagai daerah di seluruh dunia. Ia belum menikah karena takut meninggalkan keluarganya dalam waktu yang lama. Dibantu Jake, Amanda merenovasi rumahnya di beberapa bagian.

Sampai suatu hari, Amanda dikejutkan oleh berita kematian Stacey. Stacey menjadi korban tembak beberapa penjahat di kereta bawah tanah di London. Hal yang lebih mengejutkan lagi, Stacey ternyata telah memiliki putra, yang kemudian diminta tinggal bersama Amanda.

Benjamin, anak itu masih berusia tujuh tahun. Tetapi pemikirannya sangat cerdas dan sikapnya pun dewasa. Pakaian yang ia punya pun kebanyakan bergaya pria dewasa. Amanda jatuh hati pada Ben. Anak itu sangat mirip dengan Stacey. Rasa sakit kehilangan Maggie dan Stacey perlahan terobati dengan kehadiran Ben.

Amanda memantapkan hati untuk tinggal di Vietnam selamanya. Ia telah menemukan kedamaian bersama Ben dan Jake, yang akhirnya dinikahinya. Rumah mereka kemudian dikenal sebagai Rumah Lavender, yang sering didatangi para turis karena kedamaian yang disuguhkan di sana.

Kisah yang ditulis ala novel terjemahan ini cukup layak untuk dibaca. Penggambaran yang detail dan cerita yang unik menjadi kelebihan buku ini. Kekurangannya, saya temukan banyak kalimat yag rancu dan tak efektif.

Ada beberapa kalimat menarik yang perlu saya tuliskan di sini.
“Tidak ada yang lebih menyedihkan dibandingkan harus mengubur anakmu sebelum kamu di dalam tanah.” (halaman 23)
“Menjadi seorang anak kecil seperti diriku, sepertinya aku tidak melihat alasan mengapa kami tidak dapat melakukan sesuatu bersama-sama.” (halaman 35)
“Kamu mungkin hanyalah seseorang di dunia ini. Tetapi bagi orang lain, kamu mungkin adalah dunianya.” (halaman 37)
“Terbiasa tinggal di sebuah lingkungan yang sederhana; datang ke sebuah kota merupakan sebuah tantangan besar. Aku tidak yakin aku akan betah tinggal di kota.” (halaman 45)
“Jika saja mau bangkit dan bergerak, mungkin perubahan-perubahan akan datang.” (halaman 92)
“Aku memberanikan diriku keluar dari kamar tidur, aku membuka pintu dan memulai petualanganku.” (halaman 135)
“Terkadang aku merindukannya. Tetapi aku tahu dia sekarang sudah berada di tempat yang lebih baik.” (halaman 182)
“Jika kau mencoba untuk melihat lebih jauh, terkadang mungkin kamu akan menemukan apa yang kau cari.” (halaman 183)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s