Menikmati Lezatnya Menghafal Al-Qur’an

mizanstore
sumber gambar: mizanstore.com

Judul Buku : Rahasia Nikmatnya Menghafal Al-Qur’an
Penulis : D. M. Makhyaruddin
Penerbit : Noura Books
Cetakan : I, Desember 2013
Tebal : 288 halaman
ISBN : 978-602-1606-43-8

“Siapa pun Anda, Anda adalah Penghafal Al-Qur’an”

Penulis buku ini menamatkan hafalan Al-Qur’an dalam waktu hanya 56 hari atau sekitar dua bulan. Mengapa bisa secepat itu? Rahasia rupanya terletak pada bagaimana penulis memandang Al-Qur’an yang tengah dihafal. Namun menilik kehidupan penulis sebelum mulai menghafal, akan kita temukan bahwa faktor tersebut berpengaruh, selain kecerdasan tentunya.

Di halaman 5 disebutkan, bahwa sebelum usia 15 tahun, penulis telah berhasil menghafal kitab Alfiyah dalam waktu 40 hari, Sullam Munauraq dalam 1 hari, Jauhar Maknun dalam 2 hari, Nadzam Al-Maqsud dalam 1 malam, kitab ‘Imrithi dalam sehari dan matan sebuah kitab fikih dalam 7 hari, juga lima bait Al-Zubad dalam satu menit. Tentu ini sangat luar biasa―anugerah dari Allah yang sangat istimewa, mengingat banyak santri pesantren yang kesulitan menghafal satu jenis kitab-kitab tersebut bahkan setelah bertahun-tahun (salah satunya, ehm, saya sendiri).

Dalam menghafal Al-Qur’an, kita hendaknya memperhatikan 3 hal ini, yang pertama adalah persiapan sebelum mulai menghafal, kemudian masuk proses menghafal, dan terakhir adalah saat di mana kita wajib menjaga hafalan kita.
Sebelum mulai menghafal, persiapkan dulu segalanya. Menghafal Al-Qur’an adalah suatu hal yang berat untuk dilalui, catat, bukan Al-Qur’annya yang berat, tapi prosesnya. Kita mesti dapat menjaga semangat sampai akhir jika ingin tuntas mengkhatamkan hafalan. Adakalanya orang begitu menggebu di awal, namun saat mencoba sedikit lalu mundur dan kehilangan semangat. Menghafal Al-Qur’an adalah komitmen seumur hidup, sebuah medan pertempuran yang pahalanya syahid. Mundur dari pertempuran karena tak memiliki bekal yang cukup adalah suatu dosa besar (halaman 26).

Lalu bekal apakah yang harus kita miliki sebelum memutuskan terjun dalam pertempuran? Jawabannya adalah Cinta. Cinta pada Al-Qur’an, berharap dapat ‘bersama’ dengan Al-Qur’an sepanjang hidup kita. Dekatilah Al-Qur’an, maka cinta akan datang dengan sendirinya. Keindahan Al-Qur’an pasti akan mempesonakan siapa pun yang berusaha mendekatinya.

“Segala sesuatu, apabila pencapaiannya ingin maksimal, harus dimulai dengan cinta, karena cinta akan membawa seseorang pada keyakinan, pengagungan, perjuangan, kepatuhan dan usaha maksimal tanpa pamrih.” (hal. 27)

Al-Qur’an adalah fitrah manusia. Membaca setiap huruf dalam Al-Qur’an akan mengembalikan manusia pada kebutuhan primernya, yaitu iman. Naluri manusia yang bersih akan selalu kembali pada Al-Qur’an, karena, sekali lagi, Al-Qur’an adalah fitrah bagi manusia. Orang yang bercita-cita bahagia dunia akhirat, pada hakikatnya mendambakan Al-Qur’an hadir dalam hidupnya. Cita-cita inilah yang menjadi bekal kedua.

Persiapan ketiga yakni ketulusan dalam menghafal Kitab Allah.

“Ketulusan yang penulis maksud adalah kebulatan hati atau tekad yang tak dapat diganggu gugat untuk menghafal Al-Qur’an dengan pelaksanaanya.” (hal. 43).

Niatkan menghafal untuk mengharap ridho dan kebahagian dari Allah. Kata Yusuf Mansur, untuk Allah, semua karena Allah. Renungi juga qoul Imam Ghozali ini,

Tholabtu al-‘ilma lighoirillaahi wa lakin abaa illallaah, Aku menuntut ilmu bukan karena Allah, tetapi ilmu tidak mau kecuali karena Allah.”

Jadi, memang apa pun sudah seharusnya karena Allah.

Bekal keempat adalah tahsin al qiraa’at (memperindah bacaan). Al-Qur’an adalah suatu hal yang Indah dan diturunkan oleh Sang Maha Indah, Allah Himself. Maka apa pasal jika kita membacanya dengan tidak indah? Huruf-huruf dalam Al-Qur’an bukanlah huruf Arab biasa, itu adalah Firman Allah!

Al-Qur’an akan dimudahkan oleh Allah bagi siapa pun yang mempelajarinya dengan kesungguhan. Arti ‘dimudahkan’ adalah, Allah membuat hal yang sulit menjadi terasa mudah. maka dari itu, kita harus semangat memperbaiki bacaan kita. Karena itu juga merupakan bukti bahwa kita serius untuk menghafal Kitab Allah.

Bekal kelima yaitu, milikilah mushaf. Gunakan sebuah mushaf standar yang banyak dipakai para penghafal, yaitu mushaf Ustmani, kita akan dapat sunahnya juga. Pakailah hanya satu mushaf, supaya kita tidak bingung. ‘Gambar’ yang terekam akan berubah jika kita berganti mushaf yang berbeda. Namun sesungguhnya, mushaf yang kita pegang hanyalah sebuah sarana, mushaf sebenarnya ada di dalam dada. Dalam surah Al-Ankabut, Al-Qur’an hanya akan disebut Al-Qur’an apabila sudah tersimpan di dalam hati dan terawat (hal. 55).

Bekal keenam, sediakanlah waktu untuk menghafal. Sampai kapankah menghafal dilakukan? Tentunya, sepanjang usia. Zaman dulu, para sahabat menghafal Al-Qur’an dalam waktu bertahun-tahun. Di samping waktu turun Al-Qur’an juga lama, para sahabat tak hanya sekadar menghafal saja, mereka juga mengamalkan. Jadi, sebanyak apa mereka menghafal, sebanyak itu pula mereka mengamalkan isi Al-Qur’an. Itu sebabnya orang yang paling banyak hafalannya lebih dimuliakan, karena sudah pasti amalannya juga sebanyak hafalannya. Berbeda dengan orang zaman akhir sekarang ini, banyak orang yang mampu menghafal 30 juz Al-Qur’an tapi belum tentu mampu mengamalkannya. Bahkan anak balita pun mampu menghafal seluruhnya. Setuju dengan perkataan Imam Syafi’i, orang zaman dulu dianugerahi kemampuan mengamalkan, orang zaman sekarang dianugerahi kemampuan menghafal.

Nah, apa hubungannya dengan menyediakan waktu untuk menghafal? Jelas, sediakan pula waktu untuk mengamalkan. Setiap kita berhasil menghafal sebuah ayat atau surah, berusahalah juga mengamalkannya. Memang berat, tapi harus dilakukan. Lebih baik melakukan daripada mengeluh berat. Ibarat melangkah, orang yang mulai mengamalkan sudah maju beberapa langkah, sementara orang yang hanya mengeluh berat dan pesimis masih berdiri di tempat semula. Kita tak akan pernah menambah amalan kita jika hanya berpikir. Amal tidak butuh dipikir, tapi dilakukan. Ikhlas akan mengikuti seiring semangat dan kegigihan melakukannya. Jika menunggu ikhlas dan sempurna, amal itu tak akan pernah ada.
Manfaatkanlah waktu kita, yang paling sempit sekali pun, untuk menghafal. Bahkan ketika itu hanya satu menit. Allah tentu Melihat, dan akan Membalas dengan Cara-Nya sendiri.

Bekal ketujuh, pilihlah tempat yang tepat untuk menghafal.

“Sesungguhnya, tempat yang nyaman untuk menghafal ditentukan oleh hati.” (hal. 70).

Kita bisa saja menghafal di rumah, lalu menyetorkannya pada seorang pembimbing, atau bisa menetap di pesantren. jika kita sudah mantap meghafal di suatu pesantren/lembaga tahfidz, maka jangan berpindah hanya karena alasan tidak nyaman atau tidak cocok. Selesaikan hingga target kita tercapai. Ketidaknyamananlah yang membuat Bilal menjadi orang yang berhasil, ketidaknyamanan diciptakan Allah untuk menjadikan hamba-Nya berhasil (hal. 72). Semua tempat di langit dan bumi merindukan ayat-ayat Al-Qur’an dibacakan di atasnya. Jika tempat saja merindukan Al-Qur’an, bagaimana dengan hati kita? (hal. 77).

Bekal kedelapan, temukanlah guru yang tepat. Pilihlah guru yang hafalan dan akhlaknya sejalan. Rasulullah memiliki ‘guru’ malaikat Jibril, yang mendengarkan bacaan Al-Qur’an beliau. Guru yang berakhlak dan berilmu Al-Qur’an baik akan membimbing kita membetulkan hafalan, sekaligus amal kita.

Pada bagian kedua, yaitu proses menghafal, penulis menekankan hakikat menghafal, yaitu zikir. Menghafal Al-Qur’an adalah sebuah zikir terindah.

“Secara umum, menghafal Al-Qur’an diartikan sebagai proses memasukkan ayat-ayat Al-Qur’an, huruf demi huruf, ke dalam hati untuk terus memeliharanya hingga akhir hayat. Hafalan Al-Qur’an hanya bisa disebut kuat jika diamalkan (hal. 92).

Ketika memasuki proses menghafal, seseorang dituntut untuk bersungguh-sungguh terhadap usahanya (mujahadah). Sudah saya sebutkan di atas, bahwa menghafal adalah sebuah proses yang berat, juga penuh dengan ujian. Dibandingkan dengan ujian yang dilalui sahabat pada masa Rasullullah, ujian yang kita hadapi saat ini lebih kecil, yang sumbernya adalah diri sendiri. Rasa malas, mengantuk, kelelahan, tentu lebih kecil dibanding para sahabat yang juga harus berperang atau disiksa oleh kaum kafir.

Untuk mengatasi itu semua, senjatanya adalah kesungguhan dalam hati. Semua godaan ‘remeh’ itu jangan sampai membuat kita berhenti dan menjauhi hafalan. Jangan sampai kita kalah oleh setan. Mengapa sebagian besar manusia takluk oleh diri sendiri yang telah dirayu setan? Karena mereka tidak melawan! Mereka rela saja diperdaya setan, dengan berbagai dalih dan iming-iming hal-hal fiktif. Maka dari itu, lawanlah setan dan segala rayuannya dengan menguatkan mujahadah! Lelah, mengantuk, bahkan sakit sekali pun bukanlah sebuah alasan untuk kita berhenti. Lanjutkan sekuatnya, jaga sebisanya. Buatlah Allah Terharu dengan perjuangan kita!

Proses menghafal harus dibarengi dengan doa yang khusyuk. Berdoalah agar Allah menguatkan hafalan kita dan menjadikan Al-Qur’an terasa mudah. Jangan pernah ragu akan janji-Nya. Jauhilah segala kemaksiatan karena hati yang sesak maksiat tak mungkin dimasuki oeh cahaya Al-Qur’an. Setorkan hafalan kita pada Allah, dengan mengulangnya dalam kesempatan salat.

Ketika kita telah mampu menghafal beberapa ayat atau sudah menghafal keseluruhan Al-Qur’an, berarti kita akan memasuki tahap ketiga, yaitu menjaga hafalan kita. Puncak kenikmatan menghafal Al-Qur’an adalah pada saat mengulang atau menjaga hafalan yang biasa disebut istiqomah memelihara hafalan (takrir).

“Keindahan, kenikmatan dan kelezatan membaca Al-Qur’an itu muncul apabila istiqomah.” (hal. 270).

Mari kita bayangkan, seandainya diri kita, seluruh anggota keluarga kita, selalu dekat dan berzikir dengan Al-Qur’an, dapat merasakan lezatnya iman melalui membaca Al-Qur’an. Sudah saatnya kita menjadikan Al-Qur’an sebagai prioritas utama dalam hidup kita, sebab semua hal tak akan ada artinya jika kita mengesampingkan Al-Qur’an. Adakah yang lebih indah dari hidup dan mati bersama Al-Qur’an?

Iklan

2 thoughts on “Menikmati Lezatnya Menghafal Al-Qur’an

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s