BBI and Me: a Story of a Book Blogger

Dua bulan lalu, saya resmi menjadi anggota BBI. Saya tahu BBI sejak lama, cuma belum tahu, BBI itu apa. Maksudnya, saya sudah lama melihat logo BBI tercecer di banyak blog yang tak sengaja saya kunjungi. Saya pun jadi penasaran, apa sih BBI? Oh, rupanya BBI adalah perkumpulan blogger yang suka baca buku. Dan pendirinya adalah Oom Hernadi Tanzil, blogger buku pertama yang saya tahu. Saya baca perihal kegemaran beliau membaca dan meresensi buku di blog lalu ketiban banyak buku, itu dari bukunya kak Jonru 🙂

Kegemaran saya juga membaca buku. Dari SD, saya sudah membaca banyak buku. Buku cerita, dongeng dunia, cerita rakyat, komik, majalah, juga buku-buku non-fiksi seputar agama. Di SMP-SMA, kegemaran membaca saya menggila. Sebabnya, sekolah saya berada di pusat kota, yang di pusat kota itu terdapat perpustakaan daerah. Sekolah saya juga memiliki perpustakaan yang lumayan banyak koleksinya. Saya mengunjungi perpustakaan hampir setiap hari, sampai lupa belajar dan mengerjakan PR.

Namun sayangnya, saya hanya membaca. Saya hanya membaca, dan sekali lagi, saya hanya membaca. Saya tidak menulis. Saya tidak mengikat hasil buruan saya di padang kata-kata. Ibaratnya, saya seperti menangkap rusa, lalu saya elus-elus, setelah itu saya relakan rusa tersebut dimakan harimau. Rusa itu tidak saya makan. Maaf jika pengandaian saya aneh. Pada intinya, saya merasa kegiatan membaca saya sia-sia karena saya tak menuliskan kembali dalam bentuk ulasan.

Tahun 2012, menjelang semester akhir perkuliahan, saya membaca tentang adanya profesi peresensi, yang mana profesi tersebut dapat mendatangkan tak hanya duit, tapi juga buku-buku. Saya tentu saja tertarik, lantas membeli beberapa buku, dengan niat untuk diresensi. Saya membeli secara online dan nitip teman. Buku yang saya beli di antaranya: Psikologi Kematian 1 & 2, Al-Hikam untuk Semua, Amazing Parenting, Kreatif Sampai Mati, ON dan The Mint Heart.

Saya mencoba meresensi buku-buku tersebut. Tapi lantas saya mundur dan membatalkan niat untuk meresensi. Karena ternyata waktu itu meresensi buku amatlah sulit buat saya. Saya bingung bagaimana mngungkapkan kembali cerita dalam The Mint Heart. Saya terlalu jatuh cinta pada novel itu sampai tak bisa bercerita kembali lewat resensi. Kemudian saya juga merasa salah pilih buku karena membeli Al-Hikam dan Psikologi Kematian. Buku-buku itu terlalu berat walau ditulis dalam bahasa yang cukup ringan. Ilmu saya belum nyampek, bahkan untuk menulis ringkasannya dalam versi terserah saya. Akhirnya, dua tahun saya hanya membeli dan membaca. Saya belum tahu cara meresensi yang baik.

Tahun 2014, saya lulus kuliah. Saya tak punya kerjaan lain di luar memandangi tumpukan buku-buku yang belum dibaca, atau sudah dibaca tapi saya lupa isinya.
Saya teringat sebuah buku yang pernah saya resensi di tahun 2013. Buku itu diterbitkan oleh Diva Press, tentang kisah para sufi yang ternyata dimuat di sebuah situs online. Saya tentu tak menyangka hasil oret-oretan saya dimuat. Lalu saya iseng mengirim pemberitahuan lewat email. Dua hari berikutnya, saya mendapat kiriman sebuah buku baru, dan surat pemberitahuan agar hanya meresensi buku baru. Saya bungah sekali, tak sangka usaha iseng saya ternyata berhasil!

Lalu saya resensi kembali buku pemberian itu, dan dimuat lagi, lalu saya dapat buku lagi, saya tulis resensinya, kembali dimuat. Resensi ketiga itu kebetulan dimuat media cetak. Saya mendapat tak hanya buku tapi juga fee. Saya tambah bungah dan semangat. Terus seperti itu sampai sekarang.

Kemudian saya berpikir, bagaimana jika saya serius bikin blog buku? Memang pikiran semacam ini sudah saya pikirkan sejak lama, tapi karena banyak alasan yang dibuat-buat, pikiran itu belum terekseksekusi.

Akhirnya di penghujung 2014 saya mulai menyadari pentingnya sebuah blog buku untuk menunjukkan identitas sebagai peresensi. Saya pun memilih WordPress (yang menurut saya tampilannya lebih yahut), untuk rumah buku saya, dan terciptalah Rumah Tukang Buku. Saya sebetulnya kurang sreg dengan nama itu, saya ingin nama lain, semisal, rak buku, saya dan buku, kutu buku, atau nama lain sejenis itu. Tapi sayangnya, sudah banyak dipakai oleh blogger lain. Maka nama itu yang saya pakai untuk sementara ini. Saya belum berniat untuk ganti nama karena belum menemukan pengganti yang sesuai hati nurani. Nama RTB sendiri terlintas begitu saja dari otak yang sudah pusing, tanpa pemikiran filosofis atau semacamnya.

Saya mulai mengisi blog ini dengan resensi yang sudah dimuat media, dan beberapa buku lama hasil meminjam. Setelah dua bulan menunggu tanggapan, blog saya diterima sebagai member BBI dan diberikan nomor anggota 1502279

Luar biasa sekali rasanya. Saya senang bergabung di BBI. Ada banyak hal menyenangkan yang saya temukan, misalnya Give away, buntelan, dan info buku-buku dengan genre yang belum pernah saya notice, seperti fantasi atau sastra klasik.
Kendala utama tentu komunikasi yang terbatas hanya di dunia maya. Saya tak mengenal member lain secara personal. Di kota saya, mungkin hanya saya seorang anggota BBI. Ada beberapa peresensi lain, tapi saya hanya mengenal lewat dunia maya dan sepertinya tidak bergabung dengan BBI. Saya belum pernah bertatap muka dengan mereka.

Sejauh ini, manfaat yang saya dapat dengan menjadi anggota BBI, semangat yang terus bertambah untuk tak berhenti menimbun, membaca dan meresensi buku-buku. Saya amat iri dengan member yang tak kesulitan mendapatkan akses buku-buku karena telah dikenal penerbit dan penulis, atau bisa memborong buku dengan kocek sendiri. Saya juga begitu jealous dengan mereka yang resensinya bagus dan bacaannya bermutu. Saya ingin suatu saat bisa seperti mereka, meresensi buku apapun yang diinginkan dan tulisannya tetap bagus.

Keberadaan BBI menurut saya sangat bagus untuk menarik minat para pembaca buku memiliki blog. Saya membayangkan akan sangat luar biasa jika anak-anak usia SD sudah mengenal BBI dan memiliki blog buku sendiri. Walau pun tulisan mereka masih unyu, tapi membaca dan blogging adalah kegemaran yang sangat baik jika dilakukan sejak dini. Siapa tahu, dari kegemaran sederhana tapi hebat itu, akan lahir penulis-penulis jenius yang bisa menggetarkan bumi. Seperti kata Linda Fay, praktisi pengajaran CM Method, penulis hebat tidak lahir dari kursus menulis, tapi dari latihan menulis selama bertahun-tahun ditambah membaca buku-buku berkualitas.

Akhir kata, I am proud to be a part of BBI, proud to put BBI logo on my blog. Semoga di masa mendatang, BBI semakin banyak anggotanya dari berbagai usia, semakin baik kualitas tulisan membernya, dan menjadi wadah terhebat bagi blogger buku di Indonesia. Aaamiin. Selamat ulang tahun yang ke-4, BBI. Have a wonderful journey to the joyness of books!

10394477_1571888656415760_3270130871814161879_n

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s