Saat Para Maestro Bicara Sastra

11290120Judul Buku : Proses Kreatif (Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang II)
Editor : Pamusuk Eneste
Penerbit : PT Gramedia
Cetakan : Pertama, 1984
Tebal : 209 halaman

Buku yang saya dapat dari pinjam di perpusda Kebumen ini berisi ‘pengakuan’ dua belas sastrawan Indonesia yang lahir di medio 1920-1950. Kedua belas sastrawan itu ialah Sitor Situmorang, Nasjah Djamin, Pramoedya Ananta Toer, Gerson Poyk, Umar Kayam, Satyagraha Hoerip, Sori Siregar, Sapardi Djoko Damono, Danarto, Poppy Donggo Hutagalung, Hamsad Rangkuti dan Abdul Hadi W.M.

Pengakuan mereka berisi seputar sejarah kepengarangan, pandangan mereka terhadap karya dan kesusastraan, serta bagaimana mereka menghasilkan masterpiece mereka. Buku ini saya katakan sangat bergizi dan patut dibaca oleh siapa saja yang memiliki minat tinggi terhadap kesusastraan. Pengalaman hidup para pengarang itu dapat menginspirasi dan sangat kaya akan makna, bagaimana mereka menghidupkan seni dalam cengkeraman penjajah Belanda dan Jepang.

Pamusuk Eneste selaku editor buku ini mengungkapkan pentingnya ‘pengakuan’ langsung dari para pengarang terkait karya-karya mereka, karena dari merekalah bisa didapatkan penafsiran yang paling sesuai. Seperti sajak Sitor Situmorang yang berjudul Malam Lebaran, ternyata lahir setelah Sitor mendapat pengalaman melihat bulan yang tampak dari pemakaman orang Nasrani ketika berkunjung ke rumah Pramoedya. Sajak yang hanya sebaris itu berhasil muncul di Horison.

Dalam perjalanannya sebagai pelukis maupun pengarang, Sitor telah banyak melalui berbagai hal menarik. Baginya, yang utama dalam menyusun sebuah karangan adalah persiapan kanak-kanak (imajinasi) dan pematangan pengalaman kembara ke sudut-sudut kehidupan, kembara lahir batin.

Sementara Pramodya mengungkapkan bagaimana ia melahirkan Perburuan. Novel itu ia susun di dalam penjara, dengan sembunyi-sembunyi dari petugas, yang dapat dituntaskannya dalam empat minggu. Untuk novel Keluarga Gerilya, Pram terilhami seorang prajurit yang begitu patriotik namun kemampuannya rendah sehingga sering dipindah dari batalyon satu ke batalyon lain.

Dalam urusan bagaimana mencipta karya sastra, Pram mengutarakan tentang adanya pesangon, yaitu pengalaman indrawi, nalar atau perasaan intensif. Perkara ini yang membangunkan kesadaran untuk berkreasi. Ia juga menegaskan bahwa kreasi tidak mungkin lahir tanpa desakan dalam si pribadi, bukan karena fasilitas. Hal itulah yang membedakan manusia dengan komputer: keberanian, kemauan, disiplin, keyakinan, tanggung jawab dan kesadaran, yang membikinnya berprakarsa tanpa perintah (hal. 55).

Pram sendiri tak menyetujui karya sastra yang tercipta dalam keadaan trance, sebab, dalam setiap karya harus ada tanggung jawab sosialnya. Baginya, “menulis merupakan terjemahan dari keadaan bahwa kehadiranku masih ada gunanya bagi kehidupan” (hal. 63)

Gerson Poyk, pengarang kelahiran Flores berpendapat bahwa proses kreatif adalah suatu proses yang mulai kelihatan sejak kecil, sejak kesadaran pertama. Menurutnya, bakat dan pengalaman memegang peranan dalam proses ini. (hal. 71) Bakat tersebut berguna untuk menemukan momen-momen kunci yang mampu mendorong seseorang untuk berkreasi.

Pada intinya, semua pengarang itu menuturkan bahwa kerja kesusatraan tak semata kerja tanpa makna, atau hanya mengandalkan teknik (walau Hamsad Rangkuti mengakui bahwa kemampuan menguasai teknik-lah yang membuatnya produktif!). Kerja seorang pengarang adalah memberikan makna pada karyanya, menawarkan ‘sesuatu’ kepada pembaca yang dalam istilah Hamsad Rangkuti, bisa mengganggu batin pembacanya. Beberapa dari mereka mempercayai bakat dan kemampuan yang memang sudah ‘given’ sangat berpengaruh pada proses kreatif kepengarangan. Beberapa lainnya merendah bahwa mereka menulis karena adanya rasa senang dan sukacita ketika menulis, bukan karena merasa diri sebagai sastrawan.

Dari semua esai dalam buku ini, kita bisa menyimpulkan bahwa pengarang tidak lahir begitu saja tanpa peristiwa-peristiwa yang mendahului dan menyerta mereka. Mereka menyuarakan apa yang meresahkan dan menjadi kepedulian mereka pada zamannya. Poin pentingnya, mereka semua tumbuh bersama karya-karya dari berbagai pengarang dunia maupun pengarang lokal.

Maka jika kita ingin menjadi pengarang seperti mereka, perbanyaklah membaca karya-karya sastra dari berbagai penjuru dunia, tingkatkan kepekaan kita terhadap diri sendiri dan lingkungan, dan teruslah menulis mengasah teknik sampai saat kita tak bisa lagi mengayunkan pena.

NB: Oh, ya, dari pengakuan beberapa pengarang, bahwa Chairil Anwar suka mencuri buku dan kadang-kadang melakukan plagiat ternyata benar adanya 🙂

sumber gambar: Goodreads

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s