Pelajaran Mengarang Dari Pakar Kata-Kata

19523721Judul Buku : Creative Writing (Edisi Revisi)
Penulis : AS Laksana
Penerbit : Gagas Media
Tebal : 210 halaman
Cetakan : I, 2013
ISBN : 979-780-681-2

Ini adalah buku kepenulisan yang saya beli di sebuah toko buku online di tahun 2014, bersama buku sejenis dari penerbit yang sama, Draf 1, oleh Winna Efendi.
Sejurus, saya melihat isi buku ini sama saja dengan buku di atas. Tapi saya menemukan beberapa perbedaaan dari keduanya, yang pertama, tentu gaya penulisannya. Buku ini sangat khas AS Laksana, yang kalimatnya cerkas dan hemat. Berbeda dengan Winna Efendi yang pop sekali, serta banyak menyelipkan kalimat Inggris. Kedua, teknik penulisan yang sama namun dijabarkan dengan bahasa lain, misalnya penggunaan lima indera, penulisan plot, dan pendalaman karakter.

Secara penampilan, buku ini sangat bagus; kertas yang tebal, kover yang membangkitkan penasaran, dan judul bab dengan kertas khusus berwarna oranye disertai quote dari tokoh terkenal maupun tidak terkenal. Di dalamnya, kita juga dapat temukan gambar-gambar yang dapat menggelitik perut.

“Beri kesempatan kepada tangan Anda untuk melakukan apa yang menjadi kesukaannya.” (halaman 3)

Itu adalah pernyataan yang dilontarkan penulis di awal buku. Seorang pelukis tentu senang menggambar, begitu pun penulis, pastinya ia suka merangkai kalimat. Seandainya tidak, maka dia tak boleh disebut penulis.

Pekerjaan tangan itu dapat dimulai saat ini, tak perlu menunggu lagi. Dalam kondisi apapun, bakat yang bagaimana pun menulis adalah hal yang sangat penting untuk kita. Menulis tak perlu menunggu, karena menurut William Blake, penyair Inggris, bahwa hasrat tanpa tindakan akan membiakkan penyakit. Jika kita ingin jadi penulis, maka tak lain tak bukan, kita harus memulainya, dengan menulis.

Mengawali kegiatan menulis tak butuh kesempurnaan. Maka dari itu kita butuh untuk menulis buruk. Naskah yang buruk lebih baik dibanding naskah sempurna yang tak pernah ada. Penulis pun lalu menguatkan hati kita bahwa dia juga menulis draf pertama naskahnya dengan buruk. Naskah itu lalu dapat diedit. Satu hal yang perlu diingat: kita tak pernah bisa mengedit tulisan yang tidak pernah ada. (halaman 15)

Melaju pada gagasan selanjutnya, tentang menulis cepat. Jika seorang penulis sudah menguasai detail, ia bisa menulis dalam waktu singkat. Dengan menulis seperti itu, kita bisa menyelamatkan waktu dan mood menulis kita. Kita tak perlu berlambat-lambat dalam menulis sebuah draf. Menulislah dengan buruk, dengan cepat dan saat ini juga.

Sering, ide berseliweran dalam kepala tapi kita membiarkannya, tapi tak jarang, kepala kita kosong melompong tak satu pun ide menempel.
Untuk mengatasi hal itu, AS Laksana menawarkan sebuah strategi yang dinamai strategi tiga kata. Cukup ambil tiga kata random, lalu buatlah sebuah paragraf dengan menggunakan ketiga kata itu. Otak kita memiliki kemampuan untuk berasosiasi. Ia bisa menghubungkan hal-hal yang tampak tak berhubungan. (halaman 33)

Untuk menghasilkan tulisan yang baik, kita harus melalui dua tahap. Pertama adalah menuangkan isi pikiran dengan hati, lalu tahap kedua yaitu editing. Kita harus memisahkan keduanya dengan tidak melakukannya di waktu bersamaan. Mustahil bagi kita menulis sekali langsung bagus (halaman 38).

Nasihat selanjutnya, yang sudah banyak dilontarkan, ialah show, don’t tell. Maksudnya, penulis itu tidak sedang bercerita, ia menunjukkan sesuatu kepada pembaca. Cara ini berkaitan dengan penggunaan lima indera. Libatkan seluruh indera yang ada untuk mendeskripsikan cerita. Mungkin selama ini kita lebih sering menggunakan indera penglihatan, sekarang saatnya kita manfaatkan pula indera yang lain; penciuman, perasa, pendengaran, pengecap.

Sebuah karakter akan lengket di benak pembaca jika ia kuat. Artinya, dia punya kekhasan dan berbeda dari orang kebanyakan. Karakter sendiri merupakan elemen penting yang punya andil besar membuat sebuah cerita disukai pembaca. Penulis punya tugas mendalami karakter dengan menggali segalanya tentang karakter tersebut. Akrabkan diri kita dengan melakukan ‘wawancara’ dengan karakter, biarkan dia mengungkapkan dirinya, masa lalunya, harapannya, dan semua sifatnya kepada kita. Sebuah karakter yang kuat bisa menjadi jalan untuk membangun plot.
Secara sederhana, plot adalah alat untuk membangkitkan pertanyaan demi pertanyaan pembaca. Plot harus menarik, dan hal yang membuat plot menarik adalah kekuatan dramatis yang dihasilkan. Ciptakan hambatan yang besar bagi karakter kita, dan buat ia menawan dengan caranya menyelesaikan persoalan tersebut. Selain dari karakter, plot juga bisa muncul dari sebuah premis. (halaman 97)

Sebuah cerita yang baik tidak hanya berisi narasi yang bisa saja membuat pembaca ingin melempar buku saking membosankannya. Maka kehadiran dialog sangat dibutuhkan. Namun, pembaca pun bisa dibuat mati bosan jika kita tak pandai membuat dialog yang baik. Alasan satu-satunya dialog ditulis adalah karena dialog itu penting. Dialog berfungsi untuk menguatkan informasi, jadi bukan untuk memperpanjang halaman. (page 105)
Buatlah dialog tapi jangan seperti percakapan sehari hari, karena percakapan sehari-hari banyak yang tidak penting. Jangan pula mengulang apa yang sudah kita sampaikan dalam narasi, seperti berita di beberapa koran karena itu termasuk pemborosan, dan kita semua sama tahu, pemborosan membuat dunia semakin cepat runtuh. Ciptakan dialog untuk menyampaikan apa yang perlu diketahui pembaca, jangan suka bertele-tele. Tulis pula dalam format yang ringkas, jangan membingungkan pembaca dengan mengabaikan logika mereka. Tambahkan bahasa tubuh bila perlu, untuk menegaskan nuansa yang diusung dialog tersebut.

Menanjak ke elemen berikutnya; sudut pandang penceritaan, atau yang umum kita ketahui sebagai POV. Ada lima macam POV yang dibahas. Kita bisa mencoba memakai semuanya, tapi satu hal yang mesti diingat, suara narator adalah suara karakter penutur, bukan suara penulis. Seandainya kita mau memakai lebih dari satu POV, kita harus membuatnya berbeda satu sama lain, sehingga teknik itu tidak sia-sia. Cara terbaik melakukan itu adalah dengan menegenali betul karakter yang mau dijadikan narator. Namun bukan berarti gaya penuturan penulis berubah, penulis tetap sama dengan ciri khasnya, tapi cara bertutur para narator itu yang harus disesuaikan dengan karakternya. (halaman 131)

Bicara mengenai adegan, kiranya bisa disimpulkan bahwa, “Secara simpel, adegan bisa kita rumuskan seperti ini: karakter cerita melakukan tindakan penting, dalam cara yang luar biasa dan memikat.” (halaman 145)
Pada intinya, adegan yang baik tak melulu peristiwa besar, tapi bisa apa saja namun luar biasa. Adegan memiliki beberapa unsur penyusun; karakter, POV, tindakan penting, dialog yang bermakna, informasi baru, konflik yang dramatis, setting dan narasi.
Adegan yang digarap dengan baik akan meningkatkan tensi dramatik, memberikan makna tersirat, dan mengarahkan cerita. (halaman 151)

Sebuah cerita yang baik memiliki konstruksi yang kokoh. Hal berikut dapat kita pakai untuk mencapai tujuan itu,
Pertama, relevansi. “Drama adalah kehidupan nyata yang sudah dihilangkan bagian-bagian buruknya.” Pangkaslah bagian yang tidak sesuai dengan konstruk cerita.
Kedua, keseimbangan. Buku kita harus memiliki kekuatan untuk terus menerus menarik minat pembaca. Tampilkan beragam suasana hati sehingga pembaca dapat menikmati setiap kaliamat yang kita buat.
Ketiga, dramatisasi situasi. Tanpa momen dramatis, cerita Anda akan menjadi tidak menarik dan mungkin tidak perlu diceritakan.
Terakhir, suspens. Walaupun kita bukan penulis misteri, misalnya, tapi menghadirkan suspens dalam cerita tetap diperlukan. Karena suspens adalah ketegangan yang membuat kita tergerak untuk terus membaca cerita sampai halaman terakhir, akhir yang membuat kita terpuaskan (halaman 159-160).

Cerita yang baik menghadirkan metafora yang kaya. Metafora merupakan penerapan sebuah kata atau frase tidak dalam pengertian harfiahnya. Metafora berfungsi untuk menghidupkan bahasa. Penulis yang kreatif tentu akan mencoba memakai kata-kata yang tak biasa. Selain itu, metafora juga memungkinkan terjadinya penafsiran imajinatif. Sebuah metafora lebih efisien dan ekonomis ketimbang bahasa sehari-hari, metafora mampu membangun makna baru, dan mengisyaratkan kecemerlangan berpikir.
Untuk memanfaatkan metafora, kita bisa menggunakannnya sebagai kata kerja, kata sifat atau keterangan, dan sebuah frase baru.

Misalnya, “Berita itu membakar mukanya dan menyapu senyum di bibirnya.”

Seorang penulis, apalagi yang masih pemula, tentu harus tahu diri. Maksudnya, karena kemampuannya masih pas-pasan, keahliannya masih di bawah standar, tentu ia perlu latihan yang banyak. Latihan ini akan memunculkan rutinitas. Tapi rutin yang dimaksud AS Laksana adalah seperti anak kecil yang selalu merindukan kenyamanan bak mandinya, atau kenyamanan mendengarkan dongeng sembari meringkuk di kasur. Rutinitas yang memunculkan kenyamanan dan kesenangan. Dan ketika rutinitas itu telah membentuk sebuah disiplin, maka disiplin semacam itu pasti menyenangkan. Sebelum masuk rutinitas menulis, pastikan badan dan otak kita telah fresh, dengan terlebih dulu berjalan-jalan, atau berolah raga, atau menari (?) (halaman 189). Semua rutinitas itu harus dilakukan, agar kita bisa membikin kalimat yang baik, agar kita bisa disebut penulis karena kemampuan kita.

Satu hal terakhir yang menjadi penutup buku ini, yang perlu dicamkan semua jenis penulis adalah, beli dan bacalah kamus (serta tesaurus). Dua benda ini akan menjadi senjata ampuh agar tulisan kita lebih menarik, bagus dan disukai. Malcom X, yang dikutip penulis, menyalin kamus dengan buku tulis selama ia di penjara.

“Kamus bagiku seperti sebuah ensiklopedia ringkas. Sekarang aku yakin bahwa dengan penguasaan kosa kata yang makin banyak, aku akan bisa mmahami apa pun yang tertulis di buku. Kau tidak akan pernah bisa memisahkanku dari buku-buku. Ketika itulah pertama kalinya aku mersakan kebebasan sesungguhnya yang sebelumnya tak pernah kudapat.” (halaman 207-208)

Buku AS Laksana ini sangat saya rekomendasikan bagi sampean, dan siapa saja yang hendak menuangkan gagasan dalam kata-kata, merangkainya jadi kalimat, dan membentuknya jadi satu naskah utuh yang baik.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s