Panduan Lengkap Menulis dan Menerbitkan Novel

15865291
sumber gambar: Goodreads

Judul Buku : Draf 1: Taktik Menulis Fiksi Pertamamu
Penulis : Winna Efendi
Penerbit : Gagasmedia
Cetakan : Pertama, 2012
Tebal : 364 halaman
ISBN : 979-780-595-6

Buku ini saya beli tahun 2014 lalu bersama Creative Writing karya AS Laksana. Namun karena banyak hal, baru semalam saya menamatkannya. Butuh waktu 3 hari untuk melahap habis isi buku ini, lebih banyak karena ketebalannya yang di atas 300 halaman.

Saya akui ini adalah buku terlengkap yang pernah saya baca mengenai teknik penulisan novel. Buku ini lebih mengarah ke situ, masalah teknis menulis. Bicara motivasi, sang penulis Winna Efendi menyelipkannya dengan porsi yang pas di antara teknik-teknik yang dia jabarkan.

Buku diawali penulis dengan meyakinkan pembaca bahwa menulis adalah hal yang sulit jika tanpa komitmen. Cukup berbeda karena biasanya penulis lain selalu mengatakan menulis itu gampang, asal punya komitmen. Err, sebenarnya sama saja, sih. Pada begian pertama, penulis memaparkan intro untuk memotivasi pembaca agar pede saja memulai menulis. Semua penulis sukses pernah ditolak, tema yang sudah pernah digarap dapat dikreasikan lagi, menulis butuh bakat tapi pengaruhnya nggak lebih banyak jika tanpa kerja keras, dan sebagainya.

Ada satu kutipan yang cukup jleb dari Lawrence Kesdan, “Being a writer is like having homework every night for the rest of your life.”

Hal yang membuat beda buku ini―selain ketebalannya―adalah pemberian contoh yang cukup detail di setiap topik. Dan itu dimulai pada bagian kedua, yaitu pembahasan mengenai elemen-elemen dalam novel.

Elemen pertama yaitu Genre, yang harus ditentukan oleh penulis sebelum memulai kerja menulis. Elemen kedua adalah Ide, yang awalnya dapat berupa apa saja. ide harus kuat dan menarik yang bisa memunculkan konflik seru, because no conflict, no story (hal. 34).

Ide sendiri dapat ditemukan dengan berbagai cara. Kita bisa memulai dari tema, karakter, setting, dengan mendaur ulang ide (penulis mencontohkan Percy Jackson yang mengadopsi mitologi Yunani), dengan memulai dari sebuah ending, lalu menelusuri awal mulanya, menguraikan hal favorit kita, bermain kata acak, mempertanyakan sesuatu dengan ‘seandainya’, mencuri ide dari musik atau kisah nyata orang lain, pengalaman pribadi, dan menulis dari yang kita paling tahu. Yang terpenting, tuliskan saja ide yang bermunculan itu.

Elemen ketiga yakni Karakter. Memulai sebuah tulisan fiksi dapat kita mulai dengan memikirkan sebuah karakter. Temukan segala sesuatu tentang karakter itu, di mana dia tinggal, apa statusnya, bagaimana hubungannya dengan orang-orang, apa cita-citanya, dan seribu satu pertanyaan lain yang bisa menjadi kunci untuk membuka ide-ide lain. Ketika mereka datang menyerbu kepalamu, siapkan alat tulis untuk mengikat mereka.

Winna Efendi menyarankan agar kita fokus pada karakter utama dengan tidak bertele-tele ketika menjabarkan karakter pendukung. Buat setiap karakter manusiawi, tak hanya hitam atau putih saja. kembangkan karakter yang telah kita buat sedalam-dalamnya. Itu yang bisa membuat pembaca terkesan dengan karakter yang kuat.

Narasi dan POV menjadi elemen keempat. Narasi berkaitan erat dengan sudut pandang cerita atau POV. Untuk menentukan POV yang paling sesuai, kita disarankan menulis sebuah adegan dengan 3 POV, orang pertama, orang kedua dan orang ketiga, lalu pilih dengan hati nurani, mana yang paling bagus hasilnya.

Untuk novel yang menekankan karakter, POV orang pertama akan lebih cocok, dibandingkan POV orang ketiga yang baik digunakan bagi cerita yang menekankan konflik.

Elemen kelima yaitu Plot. Buat Winna Efendi, plot adalah isi cerita, sedangkan alur adalah bagaimana cerita itu mengalir (hal. 111). Plot ada tiga macam, yaitu awal, tengah dan akhir. Awal cerita haruslah menghentak dan menyita penasaran, yang nanti akan dijelaskan dalam plot di tengah, dengan menyuguhkan konflik dan resolusinya. Untuk mengakhiri cerita, berikan plot akhir yang berkesan dan memuaskan.

Sebelum menulis kita gunakan kerangka plot, yang berfungsi agar proses menulis kita lebih terarah. Untuk masalah pengembangan cerita, karakter, dan lain-lain, bisa dilakukan ketika menulis. You’re not just plotting a sequence of events, you’re plotting a journey. Di bagian ini, penulis juga membahas hal yang cukup penting berkaitan dengan plot, seperti penggunaan prolog, dan menciptakan sub-plot yang mendukung cerita.

Elemen keenam ialah Setting. Kita tak perlu takut seandainya ingin menulis tentang Zimbabwe, misalnya, walau belum pernah ke sana. Internet dan buku-buku dapat membantu kita mendapatkan informasi mendetail tentang tempat itu. kita juga dapat menfaatkan foto-foto untuk mendeskipsikan objek dan bahkan mendapat ide baru. Biarkan karakter pergi dan berkembang di luar dari tempat yang kita injak sekarang. Maksimalkan penggunaan keenam indera kita untuk menuliskan berbagai jenis setting, agar apa yang ada di sana terpotret secara sempurna dalam kata-kata.

Elemen berikutnya adalah Dialog dan Tata Bahasa. Dialog yang proporsional dengan narasi akan membuat pembaca nyaman membaca karya kita, tetapi jangan lupakan genre apa yang kita tulis. ada genre yang sarat dialog karena pergerakan cerita yang dinamis, ada juga genre cerita yang penuh narasi dengan alur lambat, dengan dramatisasi yang kuat. Pastikan kita dapat menuangkan narasi dan dialog secara seimbang. Dialog, walau hanya satu kata, tak boleh mubazir dan kudu bermakna.

Selain dialog, kita juga harus dapat mengidentifikasikan bahasa untuk novel kita. Baku untuk sastra, dan informal untuk novel di luar genre sastra, misalnya teenlit. Atau dapat juga kita kombinasikan keduanya.

Elemen terakhir yaitu Ciri Khas Penulis. It is something readers will expect from you as a writer, look forward from your books. It becomes something that defines you. Ya, ciri khas adalah sesuatu yang bisa menjabarkan diri kita sebagai penulis. Apa yang harus dilakukan agar segera bertemu ciri khas kita? Terus menulis, sampai kita temukan.

Proses menulis dan self editing

Saat kita telah siap dengan tema, karakter dan kerangka, maka itu artinya kita sudah siap untuk menulis. Namun sebelum itu, pastikan kita telah meriset dan mendalami apa yang hendak ditulis. Riset sangat penting agar hasil tulisan kita akurat dan proses dapat berjalan lancar (hal. 214).

Dalam menjalani proses menulis, ketahui dulu diri kita sendiri. apakah kita termasuk penulis yang bisa menulis dengan cepat atau harus membutuhkan waktu yang lama. Perkiraan tersebut akan menuntun kita membuat deadline yang rasional dan sesuai kemampuan. Jangan buat tenggat yang malah menambah beban dan stres. Selain itu, agar selama menulis kita bisa menikmatinya, carilah lingkungan yang mendukung untuk menulis. Jika kita tak bisa menulis dalam kondisi ramai, misalnya, maka kita bisa menyepi di tempat lain, atau ketika malam hari. tahap selanjutnya, selesaikan apa yang sudah kita mulai, dan lakukan sampai kalimat terakhir.

Dalam menghadapi writer’s block yang bisa mendatangi penulis mana pun, tak perlu panik. Cari cara yang paling cocok sampai penyakit itu hilang. Bisa terus lanjut menulis, berhenti dan rehat lalu melakukan refreshing, membaca, menonton, atau apa saja yang sekiranya bisa menyegarkan kembali pikiran kita.

Ketika kita telah berjibaku dalam waktu lama, mengorbankan waktu, pikiran dan tenaga juga uang, lalu akhirnya naskah selesai, selanjutnya apa yang harus kita lakukan? Self editing.
Ya, sebelum memperlihatkan naskah kepada orang lain, kita harus mengeditnya. Tapi sebelum mengedit, endapkan dulu barang beberapa hari atau minggu.
Ketika mengedit, posisikan diri kita sebagai pembaca. Sesuaikan naskah kita agar kualitas dan kuantitasnya membaik. Periksa setiap elemen sampai kita benar-benar merasa puas. Bila perlu merombak atau tulis ulang, lakukan saja.

Ketika mengirim naskah ke penerbit, hanya ada dua kemungkinan, diterima atau ditolak. Saat ditolak, sekali lagi, jangan panik. Sedih boleh, tapi tak perlu berlarut-larut sampai berniat berhenti menulis, sebab ditolak bukan berarti naskah kita jelek. Barangkali tidak sesuai dengan visi misi penerbit, dan faktor lain.

Selesai menikmati kesedihan, ambil naskah tersebut. Siapkan stabilo lalu ganyang semua bagian yang menyebabkan naskah kita ditolak. Jangan ragu untuk kejam dan menaikkan standar naskah sendiri. Jika memang dirasa masih belum baik, perbaiki lagi. Jika perlu, tulis ulang dan rombak total naskah itu.

Di bagian akhir buku, penulis menguraikan secara terperinci proses penerbitan sebuah naskah, kontrak dan royalti, marketing plan dan pembahasan teknis lain mengenai dunia penerbit. Penulis juga mencantumkan beberapa situs dan akun twitter yang menyediakan berbagai konten menarik seputar menulis dan penerbitan.

Bagi siapa saja belum memiliki kemantapan di dunia literasi khususnya penulisan fiksi, buku ini saya rekomendasikan untuk sampean. Di pembahasan mengenai elemen-elemen novel, kita  disuguhi berbagai judul novel yang bisa dijdikan rujukan. Dan kebanyakan novel yang disebutkan adalah terbitan Gagas media :). selain itu, Buku ini juga dilengkapi strategi promosi yang cukup seru kalau dilakukan (tapi tentunya kita harus punya buku dulu!)

Iklan

2 thoughts on “Panduan Lengkap Menulis dan Menerbitkan Novel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s