Sisi Rahasia Seorang Ambigu

24965418Judul : Namaku Loui(sa)
Penulis : Adya Pramudita
Penerbit : Moka Media
Tebal: 244 halaman
Terbit: 2015

Ambiguitas adalah sebuah hal yang bagi sebagian kita tak mudah untuk diterima. Selama ini kita hanya tahu hitam atau putih dan melupakan wilayah abu-abu. Padahal, kasus ambiguitas dapat terjadi pada siapa saja.

Berbicara mengenai ambigu, mungkin banyak juga yang mengaitkannya dengan homoseksual. Secara fisik seorang homoseksual terlahir sempurna. Ada kejelasan tentang jenis kelaminnya. Homoseksual tidak diperkenankan mengubah apa yang sudah jelas. Kasus homoseksual terjadi karena psikologis pelakunya yang timpang, atau memang karena ada gen homoseks dalam dirinya.

Ambigu tidak sama dengan homoseksual. Bukan psikisnya yang rancu, tapi tubuhnya. Ia tidak jelas antara pria atau wanita karena kelamin yang bentuknya tak umum, atau karena pertumbuhan tubuhnya tak sesuai dengan jenis kelamin yang didakwakan. Bisa saja ketika kecil seseorang dianggap perempuan, namun hingga dewasa tidak juga menampakkan tanda-tanda sebagai perempuan, atau sebaliknya. Jenis kelaminnya dapat diidentifikasi dengan melakukan pemeriksaan. Dari sana akan diketahui kromosom apa yang menyusun tubuhnya, dan mengapa ia menjadi ambigu.

Seperti yang dialami Louisa dalam buku ini. Ia lahir dengan kelamin yang mungkin lebih mirip wanita, sehingga ibunya bersikeras bahwa anak yang dia lahirkan adalah perempuan (di samping memang ia ingin punya anak gadis). Ayahnya menyangsikan ini. Dia yakin ada yang tidak normal dengan bayinya. Tapi ia tak melakukan pemeriksaan lebih lanjut karena tak ingin menyakiti ibu Louisa.

Jadilah Louisa anak perempuan yang dididik dengan keras oleh sang ibu. Ia diikutkan les biola seminggu tiga kali dengan menempuh jarak 15 kilometer, dari kelas 5 SD hingga lulus SMA. Louisa punya dua sahabat semasa masih di peternakan di mana ia menghabiskan masa kecil dan remajanya.

Setelah sang ayah wafat, ibunya memaksa pindah ke Tangerang. Louisa pun berpisah dengan kedua sahabatnya, Dimitri dan Jingga. Semenjak pindah itu, Louisa membangun karirnya di dunia musik, menjadi violonis. Ia mencintai sekaligus membenci biolanya. Biola telah membuatnya menemukan dunia yang membahagiakan, di sisi lain, biola adalah simbol arogansi sang ibu pada dirinya.

Louisa pun pernah kabur setelah berdebat dengan ibunya mengenai keambiguannya. Dalam keadaan emosi, ia menjual biolanya dan merasa telah menang karena seolah membuang pengaruh ibunya. Namun selanjutnya, muncul pertanyaan dalam dirinya, mau jadi apa Louisa tanpa biola? (hal. 18)

Beruntung Jingga membelikan Louisa sebuah biola bekas. Dari biola itu, Louisa berhasil menggapai puncak karirnya di dunia musik. Ia pun menjadi diva dan memiliki nilai jual tinggi. Ia sering tampil dalam berbagai event serta membintangi berbagai iklan. Sampai Han Jo, bintang film muda yang sedang populer datang mendekatinya. Manajer Louisa, Susan Sie berusaha dengan gigih agar mereka bisa bersama. Tentu tujuan utamanya adalah meningkatkan kepopuleran Louisa dan job yang tak berhenti mengalir. Ia memahami betul teori di dunia showbiz.

Louisa yang sebenarnya tak cocok dengan wanita Tionghoa itu pun hanya bisa menurut apa saja yang dirancang untuknya. Makan malam bersama Hans Jo di premier filmnya, kencan di resto mahal, sampai membintangi FTV bersama lelaki itu. Kedekatan mereka memang menguntungkan kedua belah pihak.

Puncak dari kegilaan itu terjadi ketika Louisa selesai melakoni sebuah festival musik terbesar di Jakarta. Hans Jo melamar Louisa. Kebingungan dan ketakutan memaksa Louisa berlari menjauh dari Hans Jo. Ia tinggalkan lelaki itu dalam keterpanaan karena penolakan seperti itu. Malam itulah yang menjadi titik balik hidup Louisa.

Louisa pergi ke Semarang untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan tentang siapa sebenarnya dia. “Kromosom Anda XY, dengan level testosteron tinggi. Secara genetis Anda seorang laki-laki, namun secara penampilan fisik perempuan. Tubuh Anda mengalami syndrome kekurangan enzim alpha reductase.” kata dokter (hal. 91).

Demi mendengar itu, Louisa merasa jiwanya tercerabut. Ia melangkah tak tentu hingga Jogjakarta. Hanya berteman tas ransel dan biola, ia menggelandang berhari-hari tak peduli dengan apapun dan tenggelam dalam kebingungan yang amat sangat. “Aku seperti bisa melihat tulisan yang terpampang di setiap kening manusia yang mempertanyakan siapa aku? Apa jenis kelaminku?” (hal. 94).

Novel ini berhasil membuat kelenjar airmata saya bekerja keras. Entah mengapa saya merasa begitu dekat dengan Louisa. Kebingungan dan penderitaannya selama bertahun-tahun memaksa saya menumpahkan seluruh simpati saya padanya.
Saya juga suka sekali dengan diksi dan cara bertutur penulisnya. Simak deh, kalimat antik satu ini, “Demi Tuhan yang memutar matahari ketika siang dan menghadirkan bintang kala malam, apa yang dokter itu bicarakan sedikit pun aku tak paham.” (hal. 91)

Saya pun menemukan banyak kalimat yang bisa dijadikan quote of the day. Misalnya pada waktu Mami Louisa sudah bisa menerima ke-ambigu-an anaknya, Louisa berucap, “Pada waktu yang tepat Tuhan memberikan jalan keluar yang jauh lebih indah dari yang aku bayangkan.” (hal. 215)

Saat Louisa curhat dengan Jingga bahwa ia masih ragu untuk memilih, Jingga meyakinkan Louisa, “Mereka yang terlahir secara sempurna yang tidak boleh mengubah, namun dirimu istimewa.” (hal. 159) Pernyataan ini juga jadi semacam ‘fatwa’ dari penulisnya, bahwa ambigu sama sekali berbeda dari homoseksual, dan homoseksual dari segi manapun tetap ‘diharamkan’.

Simak juga keresahan Louisa ketika makan malam dengan Hans Jo, sampai ia berpikir bahwa, “Karpet tebal bermotif flora, set kursi berdesain art deco, gelas, piring dan sendok yang berdenting serasa memiliki mata dan mulut, yang kelak akan melaporkan perilakuku pada Susan Sie jika aku berbuat ulah malam ini.”(hal. 49)

Satu-satunya hal yang membuat saya kurang nyaman adalah alur bolak-balik yang digunakan penulis. Saya harus berpikir dulu untuk menentukan ini terjadi kapan, sekarang atau di masa lalu? Jikalau diberi tanggal, mungkin saya tidak akan alami kebingungan seperti itu. Hal lain yang membuat saya bertanya adalah, jika Louisa seorang diva yang banyak dipuja, tentu dia punya basis fans, dong. Penulis tak menggambarkan keberadaan fans-nya, hanya dikatakan Louisa punya banyak fans. Harusnya mereka mencari ketika Louisa tiba-tiba menghilang.

Overall, novel ini cukup madly inspiring dengan tema yang unordinary dan kaver yang cantik. Two thumbs up buat penulis dan editornya, serta desainer sampulnya, pasti! 

Rate: 3,8/5

Iklan

2 thoughts on “Sisi Rahasia Seorang Ambigu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s