Pertaruhan Cinta dan Status Sosial

ppindoJudul Buku : Pride and Prejudice
Penulis : Jane Austen
Penerjemah : Berliani Mantili Nugrahani
Penerbit : Qanita
Tebal : 588 halaman
Cetakan : VIII, Maret 2013
ISBN : 978-602-8579-54-4

Keluarga Bennet dikaruniai lima orang putri yang kecantikannya telah begitu terkenal di seluruh desa Hertfordshire. Mereka tinggal di Longbourn House, sebuah rumah pertanian yang terancam jatuh ke tangan keponakan Mr. Bennet karena hukum waris yang berlaku saat itu. Sang istri, Mrs. Bennet tentu tak ingin ketika sang suami meninggal, ia dan kelima putrinya terusir dengan semena-mena dari rumah tersebut. Maka ketika ada seorang pemuda kaya yang menyewa Netherfield (mungkin sebuah rumah mewah di desa tersebut), dia nggotot memaksa suaminya berkunjung dan memperkenalkan keluarga mereka, berharap pemuda bernama Bingley itu tertarik dengan salah satu putrinya.

Harapan itu terwujud saat pesta dansa di pertemuan warga. Bingley mengajak Jane, putri sulung keluarga Bennet untuk berdansa hingga dua kali. Terlihat sekali Bingley ini sangat tertarik dengan kecantikan Jane, yang dikatakan lima kali lebih cantik dari semua gadis yang ada di ruangan itu. Semua orangtua dan gadis yang menaharapkan Bingley tentu harus tahu diri karena Bingley telah menentukan pilihannya. Berita ketertarikan Bingley langsung menyebar ke seluruh Hertfordshire.

Pembicaraan tentang pernikahan segera menjadi topik utama. Apalagi, di setiap pesta dansa yang digelar di Netherfield maupun tempat lain di desa itu Bingley selalu bersama Jane. Hanya tinggal menunggu waktu saat Bingley melamar Jane. Di pesta itu, Bingley juga membawa dua saudara perempuannya beserta satu teman yang bernama Mr. Darcy, bagsawan kaya raya yang kekuasaannya sangat luas. Darcy tak disukai karena ia angkuh dan sombong serta bertingkah menyebalkan. Elizabeth Bennet, putri kedua keluarga Bennet pun tak suka dengan Darcy. Lelaki tersebut bahkan mengejek kecantikannya.

“Dia lumayan, tapi tidak cukup cantik untuk membuatku terpikat; aku sedang malas untuk beramah tamah dengan gadis-gadis yang tak diminati pria lain.” (halaman 20)

Pada suatu waktu adik Bingley mengundang Jane untuk makan malam. Jane berkuda dan kehujanan. Ia jatuh sakit dan harus dirawat di Netherfield. Walau ia diperlakukan ramah dan baik, tapi Jane tetap membutuhkan keluarganya. Maka datanglah Elizabeth. Ia turut menginap di sana hingga beberapa malam. Hubungannya dengan kedua saudara Bingley tak berlangsung baik, juga dengan Mr. Darcy. Elizabeth bukanlah orang yang lemah, ia punya pandangan sendiri bagaimana bersikap di hadapan orang yang status sosialnya lebih tinggi. Jane pulih dalam beberapa hari. Elizabeth dan sang kakak pun pulang yang disambut omelan oleh sang ibu.

Bingley kemudian pergi ke kota untuk suatu keperluan, hingga kabarnya dia takkan lagi kembali menghuni Netherfield. Rupanya kabar itu menghentak keluarga Bennet. Jane patah hati, Mrs Bennet berubah membenci Bingley. Jane lalu mengungsi ke rumah sang paman, Gardiner, di London agar dapat segera move on 

Di saat yang tak menyenangkan tersebut, datang Mr. Collins, sang pewaris Longbourn. Ia menginap di rumah itu untuk melamar salah satu putri keluarga Bennet. Tujuannya tentu agar keluarga itu tak memusuhinya karena perkara warisan itu.

“Karena saya akan mewarisi rumah dan tanah ini setelah ayahmu meninggal, saya hanya akan bisa bahagia dengan memilih seorang istri di antara putri-putrinya.” (halaman 166)

Ia pun memilih Elizabeth, namun karena sifat dan perangai Mr. Collins yang menjengkelkan dengan membanggakan kedekatannya dengan Lady Catherine (seorang bagsawan kaya raya), Elizabeth menolaknya.

Sementara itu, serombongan resimen tentara telah datang dan tinggal selama sebulan di Meryton, desa tetangga. Kebetulan bibi keluarga Bennet tinggal di sana. Elizabeth pun mengenal Wickham, yang kesopanan dan keramahannya telah memikat hatinya. Rupanya Wickham dan Darcy saling mengenal. Wickham menjelaskan bahwa dirinya merupakan anak dari pelayan keluarga Darcy namun Darcy memperlakukakannya dengan semena-mena dan tak memberi haknya―warisan yang diamanatkan oleh almarhum ayah Darcy. Elizabeth pun makin bersimpati pada Wickhmam dan makin membenci Darcy.

Mr. Collins yang sakit hati, memutuskan menikahi Charlotte, sahabat Elizabeth setelah perhatian yang diberikan gadis itu. Charlotte sendiri bersedia menikah dengan Mr. Collins demi jaminan keuangan di masa depan. Elizabeth tak mengerti dan kecewa dengan sahabatnya itu.

Elizabeth diundang Charlotte untuk menyerta perjalanan ayah dan adiknya ke Hunsford, kediaman Collins yang berada dekat Rosings, kediaman Lady Catherine. Di sana, ia kembali bertemu Darcy. Sikap Darcy yang menjengkelkan sudah mulai berkurang, ia lebih ramah ke Elizabeth walau masih pendiam. Rupanya Darcy telah jatuh cinta pada Elizabeth. Perasaan itu sudah muncul sejak lama, ia berusaha menutupinya. Namun akhirnya Darcy ak tahan. Ia melamar Elizabeth pada suatu malam. Kebencian dan prasangka Elizabeth yang begitu buruk tentang Darcy membuat gadis itu menoak mentah-mentah lamaran Darcy. Ia mengungkapkan kebenciannya karena Darcy-lah orang yang menggagalkan pertunangan kakaknya dengan Bingley, dan menyiksa Wickham dengan perlakuannya. Darcy marah, namun cintanya pada Elizabeth lantas menyurutkannya. Ia pun menyurati Elizabeth dan mengungkapkan kebenaran fakta tentang dirinya serta Wickham yang ternyata orang brengsek.

Pada akhirnya, pandangan Elizabeth mengenai Darcy berubah ketika ia mengunjungi Pemberley, kediaman Darcy, tanpa rencana bersama paman dan bibi Gardiner. Ia hanya mendengar kebaikan Darcy dari pelayannya. Dari sanalah Elizabeth menyadari kebenciannya berubah menjadi cinta, apalagi setelah Darcy bekerja keras membantu sang adik, Lidya, yang dibawa kabur Wickham.

“Faktanya adalah, kau sudah lelah menerima kesopanan, kehormatan dan perhatian yang berlebihan. Kau sudah muak dengan para wanita yang berbicara, memandang, dan berusaha keras untuk mencari persetujuan darimu. Lalu aku datang, dan kau langsung tertarik karena aku sangat berbeda dari mereka.” (halaman 572)

Elizabeth adalah wanita muda dengan karakter tegas, ceria dan cerdas. Ia juga disukai Darcy karena kejujuran sikapnya. Sang pengarang sendiri mengatakan Elizabeth Bennet adalah tokoh favoritnya.
Pride and Prejudice merupakan novel klasik pertama yang saya baca. Dan saya tak bisa tak terpesona. Dikatakan dalam kavernya, selama lebih dari 1 abad lebih, novel ini mampu menjadi favorit para pecinta sastra dan tak lekang dimakan waktu. Jalinan kisah, narasi dan berbagai elemen yang dieksekusi dengan indah membuat saya harus setuju dengan pernyataan tersebut.

Pada 2005, Pride and prejudice diangkat ke layar lebar dengan bintang utama Keira Knightley dan Matthew Macfadyen. Film tersebut berhasil meraih empat nominasi Oscar dan banyak nominasi di pelabagai ajang film lainnya. Sebelumnya, di tahun 1995 BBC London membuat miniserinya dengan bintang utama Colin Firth dan Jennifer Ehle (mbuh sapa kuwe)
Dalam komentarnya, Anthony Trollope mengatakan karya Austen ini tak bercela berkat kecerdasan sang pengarang kelahiran 1775 itu melakukan segalanya dengan hebat. Austen menggambarkan kehidupan masyarakat Eropa, khususnya Inggris di abad ke-18 dengan begitu detail dan memikat. Ia mampu menyebarkan pesan-pesan yang juga mengkritisi bagaimana masyarakat saat itu begitu memuja harta benda dan kebanggaan diri.

Dari roman ini saya juga mendapatkan pengetahuan dan pandangan baru. Bahwa masyarakat di Eropa saat itu ternyata masih menjunjung tinggi nilai-nilai kehormatan. Sebagai bukti, mereka lebih menyukai hubungan pernikahan dibanding berkencan semalam. Menentang perzinahan dan tak sesuka-sukanya mengumbar kemesraan. Di roman ini, bahkan adegan mencium kening pun tak ada! Walau hasrat mereka pada harta benda cukup besar, tapi mereka masih dapat menjaga nilai moral dan keanggunan dengan baik.

Untuk trailer filmnya (2005) dapat dibuka pada link berikut: https://www.youtube.com/watch?v=1dYv5u6v55Y

Iklan

Panduan Lengkap Menulis dan Menerbitkan Novel

15865291
sumber gambar: Goodreads

Judul Buku : Draf 1: Taktik Menulis Fiksi Pertamamu
Penulis : Winna Efendi
Penerbit : Gagasmedia
Cetakan : Pertama, 2012
Tebal : 364 halaman
ISBN : 979-780-595-6

Buku ini saya beli tahun 2014 lalu bersama Creative Writing karya AS Laksana. Namun karena banyak hal, baru semalam saya menamatkannya. Butuh waktu 3 hari untuk melahap habis isi buku ini, lebih banyak karena ketebalannya yang di atas 300 halaman.

Saya akui ini adalah buku terlengkap yang pernah saya baca mengenai teknik penulisan novel. Buku ini lebih mengarah ke situ, masalah teknis menulis. Bicara motivasi, sang penulis Winna Efendi menyelipkannya dengan porsi yang pas di antara teknik-teknik yang dia jabarkan.

Buku diawali penulis dengan meyakinkan pembaca bahwa menulis adalah hal yang sulit jika tanpa komitmen. Cukup berbeda karena biasanya penulis lain selalu mengatakan menulis itu gampang, asal punya komitmen. Err, sebenarnya sama saja, sih. Pada begian pertama, penulis memaparkan intro untuk memotivasi pembaca agar pede saja memulai menulis. Semua penulis sukses pernah ditolak, tema yang sudah pernah digarap dapat dikreasikan lagi, menulis butuh bakat tapi pengaruhnya nggak lebih banyak jika tanpa kerja keras, dan sebagainya.

Ada satu kutipan yang cukup jleb dari Lawrence Kesdan, “Being a writer is like having homework every night for the rest of your life.”

Hal yang membuat beda buku ini―selain ketebalannya―adalah pemberian contoh yang cukup detail di setiap topik. Dan itu dimulai pada bagian kedua, yaitu pembahasan mengenai elemen-elemen dalam novel.

Elemen pertama yaitu Genre, yang harus ditentukan oleh penulis sebelum memulai kerja menulis. Elemen kedua adalah Ide, yang awalnya dapat berupa apa saja. ide harus kuat dan menarik yang bisa memunculkan konflik seru, because no conflict, no story (hal. 34).

Ide sendiri dapat ditemukan dengan berbagai cara. Kita bisa memulai dari tema, karakter, setting, dengan mendaur ulang ide (penulis mencontohkan Percy Jackson yang mengadopsi mitologi Yunani), dengan memulai dari sebuah ending, lalu menelusuri awal mulanya, menguraikan hal favorit kita, bermain kata acak, mempertanyakan sesuatu dengan ‘seandainya’, mencuri ide dari musik atau kisah nyata orang lain, pengalaman pribadi, dan menulis dari yang kita paling tahu. Yang terpenting, tuliskan saja ide yang bermunculan itu.

Elemen ketiga yakni Karakter. Memulai sebuah tulisan fiksi dapat kita mulai dengan memikirkan sebuah karakter. Temukan segala sesuatu tentang karakter itu, di mana dia tinggal, apa statusnya, bagaimana hubungannya dengan orang-orang, apa cita-citanya, dan seribu satu pertanyaan lain yang bisa menjadi kunci untuk membuka ide-ide lain. Ketika mereka datang menyerbu kepalamu, siapkan alat tulis untuk mengikat mereka.

Winna Efendi menyarankan agar kita fokus pada karakter utama dengan tidak bertele-tele ketika menjabarkan karakter pendukung. Buat setiap karakter manusiawi, tak hanya hitam atau putih saja. kembangkan karakter yang telah kita buat sedalam-dalamnya. Itu yang bisa membuat pembaca terkesan dengan karakter yang kuat.

Narasi dan POV menjadi elemen keempat. Narasi berkaitan erat dengan sudut pandang cerita atau POV. Untuk menentukan POV yang paling sesuai, kita disarankan menulis sebuah adegan dengan 3 POV, orang pertama, orang kedua dan orang ketiga, lalu pilih dengan hati nurani, mana yang paling bagus hasilnya.

Untuk novel yang menekankan karakter, POV orang pertama akan lebih cocok, dibandingkan POV orang ketiga yang baik digunakan bagi cerita yang menekankan konflik.

Elemen kelima yaitu Plot. Buat Winna Efendi, plot adalah isi cerita, sedangkan alur adalah bagaimana cerita itu mengalir (hal. 111). Plot ada tiga macam, yaitu awal, tengah dan akhir. Awal cerita haruslah menghentak dan menyita penasaran, yang nanti akan dijelaskan dalam plot di tengah, dengan menyuguhkan konflik dan resolusinya. Untuk mengakhiri cerita, berikan plot akhir yang berkesan dan memuaskan.

Sebelum menulis kita gunakan kerangka plot, yang berfungsi agar proses menulis kita lebih terarah. Untuk masalah pengembangan cerita, karakter, dan lain-lain, bisa dilakukan ketika menulis. You’re not just plotting a sequence of events, you’re plotting a journey. Di bagian ini, penulis juga membahas hal yang cukup penting berkaitan dengan plot, seperti penggunaan prolog, dan menciptakan sub-plot yang mendukung cerita.

Elemen keenam ialah Setting. Kita tak perlu takut seandainya ingin menulis tentang Zimbabwe, misalnya, walau belum pernah ke sana. Internet dan buku-buku dapat membantu kita mendapatkan informasi mendetail tentang tempat itu. kita juga dapat menfaatkan foto-foto untuk mendeskipsikan objek dan bahkan mendapat ide baru. Biarkan karakter pergi dan berkembang di luar dari tempat yang kita injak sekarang. Maksimalkan penggunaan keenam indera kita untuk menuliskan berbagai jenis setting, agar apa yang ada di sana terpotret secara sempurna dalam kata-kata.

Elemen berikutnya adalah Dialog dan Tata Bahasa. Dialog yang proporsional dengan narasi akan membuat pembaca nyaman membaca karya kita, tetapi jangan lupakan genre apa yang kita tulis. ada genre yang sarat dialog karena pergerakan cerita yang dinamis, ada juga genre cerita yang penuh narasi dengan alur lambat, dengan dramatisasi yang kuat. Pastikan kita dapat menuangkan narasi dan dialog secara seimbang. Dialog, walau hanya satu kata, tak boleh mubazir dan kudu bermakna.

Selain dialog, kita juga harus dapat mengidentifikasikan bahasa untuk novel kita. Baku untuk sastra, dan informal untuk novel di luar genre sastra, misalnya teenlit. Atau dapat juga kita kombinasikan keduanya.

Elemen terakhir yaitu Ciri Khas Penulis. It is something readers will expect from you as a writer, look forward from your books. It becomes something that defines you. Ya, ciri khas adalah sesuatu yang bisa menjabarkan diri kita sebagai penulis. Apa yang harus dilakukan agar segera bertemu ciri khas kita? Terus menulis, sampai kita temukan.

Proses menulis dan self editing

Saat kita telah siap dengan tema, karakter dan kerangka, maka itu artinya kita sudah siap untuk menulis. Namun sebelum itu, pastikan kita telah meriset dan mendalami apa yang hendak ditulis. Riset sangat penting agar hasil tulisan kita akurat dan proses dapat berjalan lancar (hal. 214).

Dalam menjalani proses menulis, ketahui dulu diri kita sendiri. apakah kita termasuk penulis yang bisa menulis dengan cepat atau harus membutuhkan waktu yang lama. Perkiraan tersebut akan menuntun kita membuat deadline yang rasional dan sesuai kemampuan. Jangan buat tenggat yang malah menambah beban dan stres. Selain itu, agar selama menulis kita bisa menikmatinya, carilah lingkungan yang mendukung untuk menulis. Jika kita tak bisa menulis dalam kondisi ramai, misalnya, maka kita bisa menyepi di tempat lain, atau ketika malam hari. tahap selanjutnya, selesaikan apa yang sudah kita mulai, dan lakukan sampai kalimat terakhir.

Dalam menghadapi writer’s block yang bisa mendatangi penulis mana pun, tak perlu panik. Cari cara yang paling cocok sampai penyakit itu hilang. Bisa terus lanjut menulis, berhenti dan rehat lalu melakukan refreshing, membaca, menonton, atau apa saja yang sekiranya bisa menyegarkan kembali pikiran kita.

Ketika kita telah berjibaku dalam waktu lama, mengorbankan waktu, pikiran dan tenaga juga uang, lalu akhirnya naskah selesai, selanjutnya apa yang harus kita lakukan? Self editing.
Ya, sebelum memperlihatkan naskah kepada orang lain, kita harus mengeditnya. Tapi sebelum mengedit, endapkan dulu barang beberapa hari atau minggu.
Ketika mengedit, posisikan diri kita sebagai pembaca. Sesuaikan naskah kita agar kualitas dan kuantitasnya membaik. Periksa setiap elemen sampai kita benar-benar merasa puas. Bila perlu merombak atau tulis ulang, lakukan saja.

Ketika mengirim naskah ke penerbit, hanya ada dua kemungkinan, diterima atau ditolak. Saat ditolak, sekali lagi, jangan panik. Sedih boleh, tapi tak perlu berlarut-larut sampai berniat berhenti menulis, sebab ditolak bukan berarti naskah kita jelek. Barangkali tidak sesuai dengan visi misi penerbit, dan faktor lain.

Selesai menikmati kesedihan, ambil naskah tersebut. Siapkan stabilo lalu ganyang semua bagian yang menyebabkan naskah kita ditolak. Jangan ragu untuk kejam dan menaikkan standar naskah sendiri. Jika memang dirasa masih belum baik, perbaiki lagi. Jika perlu, tulis ulang dan rombak total naskah itu.

Di bagian akhir buku, penulis menguraikan secara terperinci proses penerbitan sebuah naskah, kontrak dan royalti, marketing plan dan pembahasan teknis lain mengenai dunia penerbit. Penulis juga mencantumkan beberapa situs dan akun twitter yang menyediakan berbagai konten menarik seputar menulis dan penerbitan.

Bagi siapa saja belum memiliki kemantapan di dunia literasi khususnya penulisan fiksi, buku ini saya rekomendasikan untuk sampean. Di pembahasan mengenai elemen-elemen novel, kita  disuguhi berbagai judul novel yang bisa dijdikan rujukan. Dan kebanyakan novel yang disebutkan adalah terbitan Gagas media :). selain itu, Buku ini juga dilengkapi strategi promosi yang cukup seru kalau dilakukan (tapi tentunya kita harus punya buku dulu!)

Peringatan Dini Bagi Para Istri

Cover Dosa-Dosa Istri yang Dibenci Allah Sejak Malam PertamaJudul Buku : Dosa-Dosa Istri Yang Paling Dibenci Allah Sejak Malam Pertama
Penulis : Masykur Arif Rahman
Penerbit : Diva Press, Yogyakarta
Cetakan : I, Januari 2015
Tebal : 224 halaman
ISBN : 978-602-279-140-9
Harga : Rp 35.000
Nasib sebuah rumah tangga, apakah akan menjadi surga atau neraka, tergantung pada sang istri. Istri yang berpegang teguh pada syariat adalah penyejuk mata bagi suami dan anak-anaknya. Dia adalah orang yang selalu ada untuk memenuhi kebutuhan keluarga akan kasih sayang dan kebutuhan lain yang sudah menjadi kewajiban seorang istri.

Kedudukan suami sangat mulia dalam rumah tangga. Nabi menegaskan dalam sebuah hadist, “Andai boleh kuperintahkan seseorang untuk bersujud kepada yang lain (selain Allah), tentu kuperintahkan seorang istri untuk bersujud kepada suaminya.” Ini membuktikan bahwa hak suami atas istri sangatlah besar (hal. 47).
Walaupun begitu, Allah juga menjanjikan surga bagi istri yang taat pada suaminya. Istri salihah boleh memasuki surga dari pintu mana saja yang ia kehendaki. Bisa dibilang, menjadi istri (yang salihah) adalah jalan paling istimewa dalam meraih surga Allah.

Untuk menjadi istri salihah, seorang wanita dituntut memahami hak-hak suami. Sang istri harus mengerti batasan-batasan yang tidak boleh bahkan haram dilampaui oleh seorang istri agar terhindar dari murka dan siksaan Allah. Banyak jalan bagi seorang istri meraih surga, sekaligus juga sangat rentan mendapat murka dan siksa Allah (hal. 5).
Buku ini membahas secara lengkap hal apa saja yang bisa mengundang murka Allah pada seorang istri. Ada 57 macam dosa istri yang dipaparkan buku ini, dari yang paling ‘ringan’ seperti tidak minta izin ketika keluar rumah, hingga yang paling berat yaitu membunuh suami.

Setelah menikah, istri sepenuhnya milik suami. Nabi pernah bersabda bahwa yang paling berhak atas diri seorang wanita adalah suaminya dan bukan lagi orangtuanya (hal. 47). Maka sudah menjadi kewajiban istri untuk mendahulukan kepentingan suami di atas kepentingan orangtua.

Seorang istri harus ingat bahwa tujuan utama pernikahan adalah menambah keimanan dan ketakwaan pada Allah (hal. 90). Ia seyogyanya berhati-hati agar tidak melakukan hal-hal yang bisa menyakiti suami. Buku ini bisa jadi pengingat agar istri bisa menjauhi kemungkinan yang tidak diinginkan tersebut.

Dimuat Kabar Probolinggo, Rabu, 11 Maret 2015.

Sisi Rahasia Seorang Ambigu

24965418Judul : Namaku Loui(sa)
Penulis : Adya Pramudita
Penerbit : Moka Media
Tebal: 244 halaman
Terbit: 2015

Ambiguitas adalah sebuah hal yang bagi sebagian kita tak mudah untuk diterima. Selama ini kita hanya tahu hitam atau putih dan melupakan wilayah abu-abu. Padahal, kasus ambiguitas dapat terjadi pada siapa saja.

Berbicara mengenai ambigu, mungkin banyak juga yang mengaitkannya dengan homoseksual. Secara fisik seorang homoseksual terlahir sempurna. Ada kejelasan tentang jenis kelaminnya. Homoseksual tidak diperkenankan mengubah apa yang sudah jelas. Kasus homoseksual terjadi karena psikologis pelakunya yang timpang, atau memang karena ada gen homoseks dalam dirinya.

Ambigu tidak sama dengan homoseksual. Bukan psikisnya yang rancu, tapi tubuhnya. Ia tidak jelas antara pria atau wanita karena kelamin yang bentuknya tak umum, atau karena pertumbuhan tubuhnya tak sesuai dengan jenis kelamin yang didakwakan. Bisa saja ketika kecil seseorang dianggap perempuan, namun hingga dewasa tidak juga menampakkan tanda-tanda sebagai perempuan, atau sebaliknya. Jenis kelaminnya dapat diidentifikasi dengan melakukan pemeriksaan. Dari sana akan diketahui kromosom apa yang menyusun tubuhnya, dan mengapa ia menjadi ambigu.

Seperti yang dialami Louisa dalam buku ini. Ia lahir dengan kelamin yang mungkin lebih mirip wanita, sehingga ibunya bersikeras bahwa anak yang dia lahirkan adalah perempuan (di samping memang ia ingin punya anak gadis). Ayahnya menyangsikan ini. Dia yakin ada yang tidak normal dengan bayinya. Tapi ia tak melakukan pemeriksaan lebih lanjut karena tak ingin menyakiti ibu Louisa.

Jadilah Louisa anak perempuan yang dididik dengan keras oleh sang ibu. Ia diikutkan les biola seminggu tiga kali dengan menempuh jarak 15 kilometer, dari kelas 5 SD hingga lulus SMA. Louisa punya dua sahabat semasa masih di peternakan di mana ia menghabiskan masa kecil dan remajanya.

Setelah sang ayah wafat, ibunya memaksa pindah ke Tangerang. Louisa pun berpisah dengan kedua sahabatnya, Dimitri dan Jingga. Semenjak pindah itu, Louisa membangun karirnya di dunia musik, menjadi violonis. Ia mencintai sekaligus membenci biolanya. Biola telah membuatnya menemukan dunia yang membahagiakan, di sisi lain, biola adalah simbol arogansi sang ibu pada dirinya.

Louisa pun pernah kabur setelah berdebat dengan ibunya mengenai keambiguannya. Dalam keadaan emosi, ia menjual biolanya dan merasa telah menang karena seolah membuang pengaruh ibunya. Namun selanjutnya, muncul pertanyaan dalam dirinya, mau jadi apa Louisa tanpa biola? (hal. 18)

Beruntung Jingga membelikan Louisa sebuah biola bekas. Dari biola itu, Louisa berhasil menggapai puncak karirnya di dunia musik. Ia pun menjadi diva dan memiliki nilai jual tinggi. Ia sering tampil dalam berbagai event serta membintangi berbagai iklan. Sampai Han Jo, bintang film muda yang sedang populer datang mendekatinya. Manajer Louisa, Susan Sie berusaha dengan gigih agar mereka bisa bersama. Tentu tujuan utamanya adalah meningkatkan kepopuleran Louisa dan job yang tak berhenti mengalir. Ia memahami betul teori di dunia showbiz.

Louisa yang sebenarnya tak cocok dengan wanita Tionghoa itu pun hanya bisa menurut apa saja yang dirancang untuknya. Makan malam bersama Hans Jo di premier filmnya, kencan di resto mahal, sampai membintangi FTV bersama lelaki itu. Kedekatan mereka memang menguntungkan kedua belah pihak.

Puncak dari kegilaan itu terjadi ketika Louisa selesai melakoni sebuah festival musik terbesar di Jakarta. Hans Jo melamar Louisa. Kebingungan dan ketakutan memaksa Louisa berlari menjauh dari Hans Jo. Ia tinggalkan lelaki itu dalam keterpanaan karena penolakan seperti itu. Malam itulah yang menjadi titik balik hidup Louisa.

Louisa pergi ke Semarang untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan tentang siapa sebenarnya dia. “Kromosom Anda XY, dengan level testosteron tinggi. Secara genetis Anda seorang laki-laki, namun secara penampilan fisik perempuan. Tubuh Anda mengalami syndrome kekurangan enzim alpha reductase.” kata dokter (hal. 91).

Demi mendengar itu, Louisa merasa jiwanya tercerabut. Ia melangkah tak tentu hingga Jogjakarta. Hanya berteman tas ransel dan biola, ia menggelandang berhari-hari tak peduli dengan apapun dan tenggelam dalam kebingungan yang amat sangat. “Aku seperti bisa melihat tulisan yang terpampang di setiap kening manusia yang mempertanyakan siapa aku? Apa jenis kelaminku?” (hal. 94).

Novel ini berhasil membuat kelenjar airmata saya bekerja keras. Entah mengapa saya merasa begitu dekat dengan Louisa. Kebingungan dan penderitaannya selama bertahun-tahun memaksa saya menumpahkan seluruh simpati saya padanya.
Saya juga suka sekali dengan diksi dan cara bertutur penulisnya. Simak deh, kalimat antik satu ini, “Demi Tuhan yang memutar matahari ketika siang dan menghadirkan bintang kala malam, apa yang dokter itu bicarakan sedikit pun aku tak paham.” (hal. 91)

Saya pun menemukan banyak kalimat yang bisa dijadikan quote of the day. Misalnya pada waktu Mami Louisa sudah bisa menerima ke-ambigu-an anaknya, Louisa berucap, “Pada waktu yang tepat Tuhan memberikan jalan keluar yang jauh lebih indah dari yang aku bayangkan.” (hal. 215)

Saat Louisa curhat dengan Jingga bahwa ia masih ragu untuk memilih, Jingga meyakinkan Louisa, “Mereka yang terlahir secara sempurna yang tidak boleh mengubah, namun dirimu istimewa.” (hal. 159) Pernyataan ini juga jadi semacam ‘fatwa’ dari penulisnya, bahwa ambigu sama sekali berbeda dari homoseksual, dan homoseksual dari segi manapun tetap ‘diharamkan’.

Simak juga keresahan Louisa ketika makan malam dengan Hans Jo, sampai ia berpikir bahwa, “Karpet tebal bermotif flora, set kursi berdesain art deco, gelas, piring dan sendok yang berdenting serasa memiliki mata dan mulut, yang kelak akan melaporkan perilakuku pada Susan Sie jika aku berbuat ulah malam ini.”(hal. 49)

Satu-satunya hal yang membuat saya kurang nyaman adalah alur bolak-balik yang digunakan penulis. Saya harus berpikir dulu untuk menentukan ini terjadi kapan, sekarang atau di masa lalu? Jikalau diberi tanggal, mungkin saya tidak akan alami kebingungan seperti itu. Hal lain yang membuat saya bertanya adalah, jika Louisa seorang diva yang banyak dipuja, tentu dia punya basis fans, dong. Penulis tak menggambarkan keberadaan fans-nya, hanya dikatakan Louisa punya banyak fans. Harusnya mereka mencari ketika Louisa tiba-tiba menghilang.

Overall, novel ini cukup madly inspiring dengan tema yang unordinary dan kaver yang cantik. Two thumbs up buat penulis dan editornya, serta desainer sampulnya, pasti! 

Rate: 3,8/5

Panduan Lengkap Mengenali Diri

sumber gambar: website penerbitJudul Buku : Who Am I?
Penulis : @PsikologID
Penerbit : Tangga Pustaka, Jakarta
Cetakan : VI, September 2013
Tebal : 196 halaman
ISBN : 979-083-078-5

SINOPSIS

Manusia bisa dianalogikan seperti sebuah ‘gadget supercanggih’ yang memiliki banyak fungsi, mulai dari telpon, SMS, MMS, video, internet, chating, sosial media, games, map, dan masih banyak fungsi lainnya. Namun, ketika gadget berada di tangan orang gaptek’, bisa jadi gadget cuma digunakan untuk menelepon atau berkirim SMS. Agar berfungsi maksimal, pengguna gadget perlu mencari tahu fungsi atau setidaknya membaca manual book dari gadget tersebut. Nah, kondisi itu persis dengan manusia. Seorang manusia perlu menyadari lebih dalam dan mencoba bertanya dalam diri: siapa saya, apa potensi yang saya miliki, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya untuk menumbuhkan kesadaran akan potensi diri.

Dari blurp dan kavernya, saya bisa tahu kalau buku ini bermaksud menjadi panduan bagi pembacanya untuk membuka tabir demi dapat mengenal diri sendiri. Memangnya ada yang belum kenal diri sendiri? Jangan salah, berdasarkan artikel yang saya pernah baca, 70% orang di dunia tak mengenal dirinya!

Mungkin termasuk saya, atau sampean. Sebegitu sulitnyakah mengenali diri sendiri? Bisa jadi. Ada orang yang mungkin tahu sifatnya begini-begini, tapi tak jarang, sifatnya berubah lagi. Ada juga yang merasa dirinya pribadi kuat, tapi pernah juga jadi dramatis waktu patah hati.

Coba, deh, sampean pasti pernah nanya sama saudara, ortu, atau teman, aku ini sebenarnya gimana, sih? Pertanyaan seperti itu muncul karena kita belum begitu yakin jika kita sudah beneran mengenal diri sendiri. terkadang kita punya attitude tertentu ketika bersama orang lain, tapi sebenarnya itu nggak kita banget, jadi kayak pura-pura saja, begitu. Dan kita jadi suka bingung, itu tadi beneran aku? Apa iya sih, aku kayak gitu. Nah, inilah yang namanya masih bingung dengan diri sendiri, belum mengenal secara utuh diri kita itu kayak apa. Well, sebenarnya proses mengenal diri sendiri itu all time, selama kita hidup, kita terus mencari diri kita, yang sering disebut juga jati diri.

Buku ini bisa memberi bantuan pada pembacanya untuk menemukan sisi lain diri kita yang mungkin luput dari perhatian kita selama ini. Di buku ini kita akan terkejut sendiri, oh, ternyata aku tuh, kayak gini, aku itu kepribadiannya begini, temper-ku begitu, dan lain-lain. Saya juga geli sendiri mengetahui beberapa hal yang baru terkuak tentang diri sendiri.
Ada 27 macam tes kepribadian yang ditampilkan di buku ini. Secara garis besar, tes-tes itu dapat dibagi menjadi 4 bagian: kecerdasan dasar kita, mengenai karir, cinta dan hubungan kita dengan orang lain.

Tidak semua tes saya lakukan, terutama untuk tes yang berkaitan dengan cinta. Saya kesulitan menjawabnya karena saya belum pernah punya hubungan khusus (maaf curcol).

Dari tes yang saya ikuti, saya bisa tahu sebagian diri saya sebenarnya seperti apa. Berikut hasil lengkapnya:
1. Saya paling cocok belajar dengan visualisasi, gambar-gambar, warna. Tapi sebenarnya juga suka belajar dengan teknik auditory atau kinestetik, untuk hal-hal tertentu.
2. Saya dominan menggunakan otak kanan, jadi memang saya bakat jadi seniman.
3. Untuk kecerdasan majemuk, saya ternyata punya bakat besar di kinestetik jasmani dan musikal. Lalu menyusul intrapersonal (hubungan dengan diri sendiri), linguistik dan spasial. Untuk matematis logis jelas kecocokan saya kecil.
4. Temperamen saya ternyata Sanguinis, berbeda dengan keyakinan saya selama ini bahwa saya adalah Melankolis.
5. Ternyata saya Ekstrovert, tapi saya masih meragukan itu.
6. Saya termasuk orang yang Intuitif, yaitu lebih banyak mengandalkan feeling dalam setiap tindakan saya.
7. Saya adalah orang yang Perasa, sering melibatkan perasaan tinimbang logika.
8. Saya dominan Pengamat, yaitu orang yang berpikirnya random.
9. Orangtua saya mengasuh saya dengan Otoriter, makanya hubungan kami kaku.
10. Untuk urusan cinta, saya adalah orang dengan tipe Romantis sekaligus Materialistis, haha.
11. Minat karir saya adalah di bidang Artistic, salah satunya penulis atau aktor , walau kadang saya juga membayangkan, keren kali, ya kalau jadi scientist atau peneliti. Mungkin, saya harus mencari pasangan seorang ilmuwan 
12. Rupa-rupanya, saya juga punya motivasi yang kuat untuk jadi pemimpin. Menyenangkan jika diri kita bisa menggerakkan dan menginspirasi banyak orang.
13. Dalam hal manajemen waktu, saya sudah bertindak baik, hanya saja perlu lebih banyak introspeksi.
14. Saat ini, saya sedang mengalami Stres kerja dan perlu memperbaiki niat dan hati.
15. Saya juga belum menemukan ketegasan dan keberanian dalam hidup saya. Saya masih menyimpan rasa takut untuk menjadi beda. Mungkin efek tinggal di rumah kelamaan dan jarang banget melakukan petualangan.

Bagi saya itu cukup penting untuk sedikit mengenal sisi dalam diri saya, fitur yang belum saya pakai dalam diri saya. Buku ini seluruhnya berisi tes kepribadian dengan gaya bahasa yang lugas dan mudah dimengerti.

Hanya saja, saya mencatat ada beberapa hal yang menurut saya masih kurang. Pertama, penulis mencantumkan berbagai macam tes tanpa mengklasifikasikannya. Hal itu membuat saya bertanya keterkaitannya dengan tes sebelum atau sesudahnya. Kedua, tak ada solusi yang ditawarkan. Jadi, ketika tahu ternyata pribadi saya A, misalnya, lalu apa? Saya harus bagaimana? Apa yang sebaiknya saya lakukan agar bisa sukses dalam hidup saya? Buku ini tak sediakan jawaban itu. Buku ini hanya menunjukkan kalau saya seperti ini seperti itu. Akan lebih baik jika penulis mencantumkan pembahasan di akhir tes tentang langkah-langkah yang harus diambil agar potensi kita termaksimalkan.

Ketiga, tidak adanya daftar pustaka. Seharusnya, buku psikologi seperti ini mencantumkan sumber rujukan, mengingat psikologi adalah wilayah ilmiah yang sama seperti sains, harus ada ‘teori’, landasannya. Daftar pustaka juga berguna bagi pembaca yang mungkin ingin menelusuri lebih dalam pembahasan dalam buku ini.

Keempat, saya belum tahu arti ‘gaul’ yang menjadi tagline buku ini. Gaul yang bagaimana yang dimaksud penulis? Apakah gaul-gaul ala anak ABG dengan aroma hedonis yang mulai merambah? Atau gaul sana sini tapi isi kepala kosong melompong?

Tapi tapi tapi, buku ini tetap saya gemari, karena psikologi adalah salah satu bidang yang saya sukai. Buku ini sudah membantu saya mengenali diri saya yang belum terkuak dengan sekadar pertanyaan, saya ini sebenarnya bagaimana, sih?

Rate: 3,5/5
Terima kasih BBI dan Tangga Pustaka atas buku ini.

Ketika Kemanusiaan Kian Runtuh

BuWGB8GIAAAG23y.jpg largeJudul: Juragan Haji

Penulis: Helvy Tiana Rosa

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 181 halaman

Terbit: Agustus 2014

ISBN: 978-602-03-0831-9

Harga: Rp 40,000

Membaca kedelapan belas cerpen Helvy Tiana Rosa, sastrawan pendiri Forum Lingkar Pena ini memberi keasyikan tersendiri. Mayoritas cerita yang ditampilkan mengeksplorasi kesengsaraan dalam perang, konflik daerah, terorisme dan bencana. Beberapa yang lain bertemakan perempuan-perempuan yang tak pernah kehilangan asa. Kumpulan cerpen ini pernah diterbitkan pada 2008 dengan judul Bukavu. Tahun 2014, kumcer ini kembali diterbitkan ber-bareng-an dengan momen ibadah haji sehingga Juragan Haji paling tepat diambil sebagai judul.

Masing-masing cerpen sangat kuat dalam narasi dan alur. Helvy begitu piawai membentuk kalimat puitis dengan diksi yang menakjubkan. Sepakat dengan Putu Wijaya dalam komentarnya,

Sebuah cerpen tak sanggup membatalkan Helvy Tiana Rosa dari seorang penyair” (hal. 174).

Jadi, walau sebagian besar cerita dalam kumpulan ini menyimpan tragedi yang berdarah-darah, di tangan dingin Helvy semua cerita mengalir tanpa rasa takut dan ngeri. Seolah kita hanya membaca puisi yang lebih panjang dari biasanya.

Tragedi kemanusiaan menjadi tema pokok buku ini. Helvy memotret luka-luka dari berbagai negara yang kedaulatannya dinodai atau pun limbung dikoyak perang saudara. Dapat kita simak contohnya pada cerpen Lorong Kematian. Penggambaran kekejaman tentara Serbia yang tertawa-tawa membantai warga sipil Bosnia, sangat menyentuh sisi kemanusiaan kita. Tentara-tentara itu menembaki mereka bagai menembak hewan buruan.

Jod terus berburu. Domba-domba jatuh. Ayam-ayam menggelepar. Rintihan mereka menyayat segala, juga bulan. Tetapi tak sedikitpun menyentuh hati Jod dan anak buahnya” (hal.130).

Rwanda menjadi latar berikutnya yang kisahnya juga menyayat hati. Kivu, sebuah daerah di Zaire harus menjadi saksi atas kekejaman perang saudara dua suku di Rwanda. Para pengungsi hidup dengan teramat menyedihkan di Kivu. Mereka kelaparan tanpa bantuan dan menjadi incaran burung pemakan bangkai (hal. 154). Namun, dalam sebuah duka tetap ada keindahan yang tersembunyi. Ialah seorang perempuan berkerudung dengan kondisi mengenaskan tapi tetap istiqamah dalam tahajud di sepinya malam (hal.159). Cerpen berjudul Kivu Bukavu ini dinarasikan oleh tokoh sebuah danau, yang pada tahun 1957 dipuji sebagai yang terindah oleh Ernest Hemingway.

Palestina tak luput menjadi obyek cerita yang wajib disertakan. Hingga Batu Bicara merupakan cerpen Helvy yang sangat terkenal tentang Palestina. Cerpen mengharukan ini terinspirasi dari sebuah hadis Nabi,

“Kiamat tak akan datang sampai tiba pertempuran kaum Muslimin dengan Yahudi. Hingga seluruh batu bicara dan memberitahu bahwa ada Yahudi yang bersembunyi di belakangnya.” (hal. 78).

Tentang rasa kebangsaan, Helvy menyinggungnya dengan sangat apik dalam Ze Akan Mati Ditembak. Bercerita mengenai Ze, remaja yang sudah tahu bahwa akhirnya ia akan mati juga dengan jalan ditembak seperti ayahnya dan warga Lorosae (Timtim) lainnya. Cerpen berlatar kemerdekaan Timtim ini sangat mampu membuat pembaca menangis haru akan kesadaran Ze tentang rasa mencintai tanah air dan kerinduan terhadap perdamaian. Simaklah gumam terakhirnya kala benar-benar diberondong tembakan oleh tentara CNRT,

“Tahu apa mereka? Tahu apa Australia itu? Akulah Ze. Akulah Lorosae!” (hal. 52).

Dalam buku ini, kita dapat juga membaca Lelaki Kabut dan Boneka serta Jaring-Jaring Merah. Keduanya menjadi dokumentasi penting atas dua tragedi yang terjadi di negeri ini, bom Bali 2002 dan Rumoeh Geudong di Aceh pada tahun 1998. Cerpen lain yang ber-setting Indonesia, Lelaki Semesta, yang bercerita tentang Abu Bakar Ba’asyir dan bagaimana ketika ia dituduh menjadi teroris yang melahirkan banyak teroris. Helvy menulisnya begitu liris, penuh simbol dan tak menyebut nama secara frontal.

Tentang girl power, Helvy menyematkannya dalam beberapa judul, semisal Cut Vi, yang berkisah tentang kegigihan seorang mahasisiwi memperjuangkan hak-hak warga Aceh tanpa kenal lelah dan takut.

“Bismillah saja. Aku bicara, aku menulis. Aku menyampaikan kebenaran di mana aku bisa. Tak harus ditentukan tempatnya.” (hal. 3)

Walau akhirnya ia meninggal terseret tsunami, namun perjuangan Cut Vi mampu menginspirasi lelaki yang dicintainya.

Baca pula Peri Biru. Cerpen ini mengisahkan gadis miskin bernama Peri yang tanpa pendidikan formal memadai berkeinginan menjadi penulis besar. Ibunya menjanda ditinggal sang ayah, sedangkan kakak tirinya, Sri, menderita cacat mental. Peri bekerja sebagai pembantu namun berhenti sebab majikannya berlaku banal. Tanpa melupakan keinginannya menjadi penulis, ia memutuskan bertolak ke Hong Kong menjadi TKW.

“Ya, entah di negeri mana, entah sampai kapan, aku harus terus berjuang untuk menumbuhkan sayap, menulis dan menghidupkan dongengku sendiri.” (hal. 121)

Sementara Juragan Haji, yang dijadikan judul kumpulan ini, adalah potret kontradiksi antara dua kutub strata sosial. Mak Siti, 70 tahun, yang begitu rindu ingin berangkat ke tanah suci, harus berhadapan dengan majikan yang berkali-kali berangkat haji tapi sayang perilakunya tak sesuai dengan gelarnya. Cerita Mak Siti semakin pilu karena ibunya di kampung, berusia 85 tahun lebih, juga memendam rindu yang sama (hal. 72).

Beberapa judul lain juga tak kalah menarik untuk disimak. Titin Gentayangan misalnya, yang menceritakan gadis galau karena kekasihnya menikahi gadis lain. Ia mencoba bunuh diri namun selalu gagal. Ada pula Mencari Senyuman yang berbentuk lakon. Boleh juga direnungi kisah pahlawan muda Banjar, Demang Lehman, dalam Idis. Imaji kekacauan konflik yang mengerikan dapat tersaji dengan elok dalam Pulang dan Darahitam.

Melalui cerpen-cerpen dalam kumpulan ini Helvy mengatakan secara gamblang maupun tersirat bahwa di balik konflik, memang ada intervensi dari pihak yang ingin mengadu domba. Buku ini bernilai sastra tinggi. Sangat pantas dibaca kembali untuk mengingatkan kita agar teguh menghargai kemanusiaan. Mengajak kita merenungi betapa besar kerugian yang ditimbulkan oleh sebuah kebencian dan lunturnya kesadaran untuk mengasihi sesama manusia.

*Resensi ini diikutkan dalam Lomba Resensi Forum Lingkar Pena 2015 dalam rangka Milad FLP ke-18. Pernah dimuat di Kabar Probolinggo, 16 Januari 2015. Ditulis kembali dengan berbagai perubahan.

Receh Untuk Buku 2015

Sejak bergabung di BBI beberapa minggu yang lalu, saya nemuin banyak banget event seru yang digagas anggotanya di blog masing-masing. Ada Giveaway yang hadiahnya buku (ya iyalah), Reading Challenge dengan berbagai tema (dan saya juga baru tahu apa itu RC), baca bareng, dan sebagainya.

Semua itu unik dan sangat menarik. makanya, saya pengin ikutan juga buat meramaikan event-event tersebut (serta memperbanyak postingan sendiri tentunya :)). dan ini pertama kali saya ikut event unik satu ini: receh untuk buku. jadi, saya harus kumpulkan uang receh, 100, 200, 500, 1000 dalam sebuah wadah dan nggak boleh dipakai sampai akhir tahun tiba. setelah tahun 2015 resmi berakhir, baru saya boleh mecahin tabungan receh itu. dengan uang yang dikumpulkan selama setahun itu saya berhak buat beli buku baru. mau buat koleksi pribadi silakan, mau beliin buku buat dibagiin ya tida dilarang.

seru banget, kan? 🙂 so pasti, makanya saya ikutan. ngebayangin akhir tahun dengan surprise buku baru bikin semangat nabung dong, ya.

nah, ini bannernya, yang kata host event ini hanya seadanya 🙂

receh buat buku

saatnya beli celengan baru!