[Baca Bareng 2015 – Februari – Profesi] Passion Dalam Pekerjaan

28 DetikJudul Buku : 28 Detik Penulis : Ifa Inziati Penerbit : Bentang Belia, Yogyakarta Cetakan : I, November 2014 Tebal : 230 halaman ISBN : 978-602-1383-03-2 Harga : Rp 54.000 Novel ini adalah tentang kopi beserta para pembuatnya dan diceritakan lewat penuturan sebuah mesin espresso. Nama mesin itu Simoncelli. Karena mesin itu benda mati dan benda mati nggak mungkin bisa pindah sendiri, jadi setting novel ini cuma muter-muter aja di dalam sebuah kedai kopi. Tokoh yang paling banyak diceritakan bernama Candu, seorang penyuguh kopi yang bekerja di sebuah kedai kopi di kota Bandung. Nama kedai itu KopiKasep, yang pemiliknya sooooo Sunda. “Nama boleh Jacob, tapi hati mah tetep Sunda asli!” kata pemilik kedai, yang biasa dipanggil Pak Jac. Tetapi, dalam buku ini Pak Jac nggak pernah kelihatan dagunya, sebab selalu diceritakan berada di luar negeri. Dia muncul sekali saja dalam ‘memori’ Simoncelli, tentang suasana di masa lalu. Kembali ke Candu. Jadi, Candu ini adalah barista (pembuat kopi) utama di KopiKasep. Dia terkenal dengan kecintaannya yang besar terhadap kopi. Ambisinya menjuarai kompetisi barista nasional tahun ini, yang disebut NBT atau Nusantara Barista Tournament. Pokoknya, Candu tak pernah bisa memikirkan hal lain di luar kopi. Di kepalanya hanya ada kopi, kopi, dan kopi. Mungkin seperti saya yang tak bisa memikirkan hal lain di luar buku, buku, dan buku :p. Di KopiKasep, Candu nggak sendiri. Ada juga Satrya, barista yang jago bikin latte art, Winona as waittress, Sery si chef yang diam-diam suka sama Candu, serta Nino, admin KopiKasep yang mengurus publisitas KopiKasep di dunia antah berantah. Oh, ya, nggak lupa dong sama Simoncelli, si mesin espresso yang jadi narator di buku ini. Jadi, mereka berlima hidup dalam damai (berantem, diskusi ngalor ngidul, bercanda ria) sampai ketika Rohan datang. Dia kemenakan Teh Cheryl (teman Pak Jac yang juga seorang ahli kopi berstandar―dalam buku ini dijuluki ‘Q-Grader’). Rohan murid SMA internasional kelas Pre-U2 (pre university), setara kelas 12. Rohan seorang jenius yang sangat jago Fisika, kilat dalam menghafal, dan pernah dikalungi medali emas di olimpiade sains. Diketahui dia juga seorang sinestesia tipe grapheme to color, yang kasusnya 1:1.000 kalau tidak salah. Overall, Rohan cewek kece nan keren. Candu yang masih jomblo jelas suka dong, walau awalnya menganggap Rohan menyebalkan dan belagu. Mereka berdua jadi dekat ketika Teh Cheryl menitipkan Rohan buat nunggu dirinya pulang kerja di sore hari. Hari demi hari terlewat mereka mulai merasakan adanya ‘cinta’. Rohan juga menginspirasi Candu menemukan resep signature drink buat jadi senjata memenangkan turnamen. Setiap hari mereka ngobrolin banyak hal, paling banyak sih tentang passion-nya Candu dengan kopi dan kehampaan hidup Rohan yang belum juga nemuin apa passion dia. Pengetahuan Candu tentang kopi adalah yang paling lengkap di KopiKasep. Dia sudah ahli membedakan asal kopi, ciri-cirinya, dan juga perkembangan kopi di Indonesia.

“Kalau kita perhatikan, cuma Indonesia yang punya spesies kopi terbaik, teknik mengolah terbaik, dan peminum kopi terbaik.” (halaman 66) “Tanah di negara kita memiliki komposisi dan kandungan mineral yang berbeda dengan tanah di negara lain. faktornya bisa cuaca, iklim dan sebagainya. Seperti budaya yang membesarkan kita, unsur dalam tanah itu juga membesarkan biji kopi dengan rasa yang bervariasi.” (halaman 65-66)

Yang jelas, cinta Candu pada kopi berawal dari bisnis orangtuanya. Ia ingin mengembalikan kopi seperti ketika kedai orangtuanya masih ada sebelum tergerus kebangkrutan.

“Di dalam kopi, ada cinta orangtua saya. Cinta kami. Saya tidak mungkin meninggalkannya. Saya ingin punya kedai sendiri. tidak usah besar, seperti KopiKasep saja. asal ada saya, keluarga saya dan orang-orang yang menikmati kopi buatan saya. Itu sudah cukup.” Katanya pada Rohan (hal. 134).

Hal itu menunjukkan bahwa Candu memilih berprofesi sebagai barista karena memang dia mencintai kopi biarpun dirinya berijazah Teknik Fisika ITB. Candu bisa hidup bahagia dengan hanya punya kedai kecil walau jika dia mau, dia bisa saja bekerja di perusahaan besar dengan membawa nama kampusnya. Jadi, ketika kita menemukan seseorang yang punya gelar Doktor atau Dokter tapi memilih bekerja di pedalaman, maka bisa dipastikan orang tersebut punya passion yang kuat untuk membantu sesama. Novel ini sebenarnya bermaksud mempopulerkan kopi dan keunikannya, seperti yang ditulis Ifa di twitternya. Tapi juga tetap gencar membahas passion. Tentang perasaan cinta terhadap sesuatu yang diperjuangkan. Kisah cinta Rohan dan Candu malah nggak terlalu mengesankan. Ifa juga kurang detail dalam penggambaran fisik para tokoh. Saya nggak bisa membayangkan bagaimana rupa Candu yang ditulis berkulit eksotis, atau Rohan yang hanya dijelaskan sebagai cewek cantik, Nino yang berkulit putih, dan seterusnya. Hanya karakter Rohan yang ‘beda’ itu yang menarik perhatian saya. Satu lagi, klimaks yang cukup thriller sewaktu Rohan disidang karena jadi biang kerok kekalahan Candu di turnamen. Tapi novel ini tetap saya gemari, kok. Mengapa? Karena unik. Narator yang berupa benda mati, judul bab yang mengambil step-by-step pemrosesan kopi serta gambar-gambar lucu sebagai ilustrasi. Dan yang terpenting, cara Ifa bertutur. Cukup cerdas dan sesuai dengan gelarnya yaitu sarjana sains. Bila menilik daftar bacaannya di Goodreads, saya yakin sampean setuju dengan keahlian Ifa yang satu itu. Well, novel ini dapat dikategorikan ke dalam banyak genre: sains, romance, dan profesi. Ifa membidik tema yang sedang ngetren saat ini. menjadi barista saat ini adalah pilihan profesi yang cukup keren bagi kalangan anak muda. Salut!Banner_BacaBareng2015-300x187

Iklan

2 thoughts on “[Baca Bareng 2015 – Februari – Profesi] Passion Dalam Pekerjaan

  1. PoV nya unik ya, mba. Jadi inget Edward Tulane yang juga berupa benda mati. Tapi karena Edward boneka porselen jadi bisa berpindah tempat. Kalo mesin kopi mungkin lebih asyik kalo bisa melihat dari awal dia dibuat di pabrik sampai dia selesai dengan kisahnya.

    Suka

  2. hehe…saya belum pernah baca Edward Tulene atau Edward Cullen 🙂
    di buku ini Ifa hanya fokus membandingkan passion dengan bakat. Mungkin jika begitu Simoncelli bisa punya kisah sendiri, tanpa Candu atau Kopikasep 😀
    oh, ya, terima kasih ya sudah berkunjung, salam kenal ^_^ *jabattangan*

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s