Lima Pertanyaan Di Tengah Samudra

Judul Buku      : Rindu

Penulis             : Tere Liye

Penerbit           : Republika

Cetakan           : 5, November 2014

Tebal               : 544 halaman

ISBN               : 978-602-8997-90-4

Novel ini saya dapat dari pinjam (sebenarnya dipinjami) oleh saudara saya Sdr. Mba Aniroh. Beliau teman saya dari SMA dan kini menjabat Lurah di pondok Al-Huda, tempat di mana banyak kisah saya alami. Bersama Makelar Rezeki, buku ini menyerta perjalanan membaca saya beberapa hari yang lalu.

Jadi, ini adalah novel paling tebal kedua setelah Harry Potter―yang saya baca beberapa tahun lalu.

Novel ini sudah menyandang gelar best seller (dalam dua bulan sudah 5 kali naik cetak, bahkan dalam sebulan 4 kali naik cetak). Salah satu karya bang tere yang sangat layak dibaca (dan dikoleksi).

Setting tempat novel ini sangat minimal, hanya di atas kapal, pelabuhan, dan beberapa tempat lain yang tidak banyak. Dan saya rasa, justru di sana letak kekuatan novel ini. tanpa mengambil terlalu banyak latar tempat, eksekusi terhadap alur, penokohan dan plot dapat terlaksana dengan baik. serasa membaca The Da Vinci Code yang setting waktunya hanya semalam.

Cerita novel ini berpusat pada seorang kakek tua yang termasuk ulama mayhur di tanah Gowa, Makassar. Kakek itu bernama Ahmad Karaeng, yang biasa juga disapa Gurutta (guru kami). Sedangkan esensi cerita bertumpu pada lima pertanyaan ‘pemeran’ utama yang ada di sana (saya selalu membayangkan novel ini dalam bentuk adegan film).

Cerita bermula dari keriuhan dan hiruk pikuk pelabuhan Makassar pada tanggal 1 Desember 1938. Kapal uap besar milik perusahaan swasta di Belanda, Blitar Holland, akan membawa seribu lebih jamaah haji seluruh Nusantara. Pada waktu itu, belum ada pesawat komersial, jadi perjalanan haji dilakukan menggunakan kapal. Perjalanan haji sendiri memakan waktu 9 bulan, dari berangkat sampai pulang kembali. Maka, naik haji pada zaman itu sama sekali bukan sesuatu yang mudah (seperti juga hari ini, bagi kebanyakan orang). Tak hanya waktu yang lama, tapi juga biaya yang amat besar (biaya naik kapal, biaya di tanah suci, biaya konsumsi selama perjalanan, dan sebagainya).

Gurutta merupakan salah seorang ulama yang diwaspadai Belanda. Pada zaman itu, ulama di daerah memang menjadi pemimpin pergerakan melawan kumpeni. Namun, ahmad karaeng ternyata lebih banyak menulis dan berdakwah dibanding mengangkat senjata.

Berbekal surat dari gubjen di batavia, gurutta berhasil diizinkan naik kapal, setelah dicegat oleh sergeant lucas, serdadu belanda yang rempong dan mencurigai tuan gurutta secara berlebihan.

Padahal, tuan gurutta sudah begitu rindu dengan kakbah.

“sudah begitu lama ia menunggu kesempatan melakukan kembali perjalanan suci. Rindu sekali Gurutta menatap masjidil Haram.”

“terakhir kali ia melakukan perjalanan suci ini adaah empat puluh tahun lalu saat masih di Yaman.” (halaman 40)

Tokoh sentral kedua yaitu daeng andipati. Ia merupakan seorang pedagang sukses di kota makassar. Daeng andipati berhaji dengan membawa istri beserta dua anak gadisnya yang masih belia, anna, 9 tahun dan elsa, 14 tahun. Di buku ini, anna merupakan tokoh penting yang membuat pembaca terhibur dengan segala kepolosannya. Ia juga berperan dalam perjalanan hati seorang Ambo Uleng, tokoh sentral ketiga.

Ambo uleng merupakan orang pribumi yang melamar menjadi kelasi di Blitar holland. Riwayatnya sebagai pelaut dan pernah menjadi kapten kapal Phinisi (entah kapal macam apa itu), tak membuatnya diterima oleh Kapten Philips, nahkoda Blitar Holland. Justru yang membuat dia diterima adalah karena ia memohon agar diizinkan ikut. Rupanya ia ingin lari sejauh-jauhnya dari makasssar. Ambo uleng rupanya ingin melupakan sesuatu yang menghancurkan hatinya. Kapten philips menerima ambo uleng dan menempatkannya sebagai kelasi dapur. Nantinya, philips tak menyesal atas pilihannya menerima pelaut berkulit eksotis itu. jutru ia bangga karena ambo uleng berhasil melakukan hal-hal luar biasa.

Tokoh berikutnya yang punya ‘pertanyaan’ adalah Bonda Upe, wanita tionghoa yang berusia 30-an. bonda upe merupakan lulusan sebuah pesantren. Bonda upe ini mengajukan diri mengajar anak-anak mengaji selama perjalanan. Jadi, saat hari pertama perjalanan, ketika Blitar Holland bertolak dari makassar menuju surabaya, tuang gurutta, yang sudah terkenal seantero kapal, langsung merundingkan agar seluruh waktu jamaah haji manjadi bermanfaat selama perjalanan. Dia mengusulkan mengadakan beberpa kegiatan bagi jamaah, dia antaranya adlh memberikan pengajian di sore hari bagi anak-anak. dan Bonda upe lah orang yang menganngkat tangan, bersedia mengajar ngaji anak-anak.

Di semarang, pertanyaan berikutnya hadir seiring naiknya pasangan sepuh, mbah kakung dan mbah putri. Kedua orang ini adalah contoh pasangan yang sehidup semati dalam cinta sejati. Kemesraan mereka di atas kapal sungguh membuat iri.

Seluruh pertanyaan yang hadir, dari daeng andipati, bonda upe, ambo uleng dan mbah kakung, seluruhnya tuntas dijawab oleh tuang gurutta, tentu dengan sudut pandang seorang ulama yang ilmunya sangat luas.

Sedangkan pertanyaan terakhir, justru berasal dari tuan gurutta sendiri dan ‘dijawab’ oleh orang yang bahkan baru bisa salat, yaitu Ambo uleng.

Membaca novel ini, sungguh, memang serasa berada di atas kapal, diombang-ambing dengan segala perasaaan yang cambur baur. Kita bisa tertawa membaca betapa polosnya anna dengan tingkah laku dan kata-kata spontannya. Kita juga bisa meniru kapten phillips, yang walaupun beragama nasrani, tapi kebaikan dan keramahannya kepada seluruh jamaah haji sangat mengagumkan. Atau, semangat ambo uleng untuk mengikuti cahaya islam yang baru ditemuinya ketika usianya sudah dewasa. Kita juga bisa sejenak merenungkan arti memaafkan dari daeng andipati, melupakan masa lalu, sekelam apapun dan menyambut hari baru seperti bonda upe, juga, merelakan kepergian sang kekasih dengan meyakini bahwa Allah akan memberikan kelapangan bagi mereka yang ikhlas, seperti mbah kakung.

Novel ini adalah tenang semua itu, keikhlasan menerima takdir, keikhlasan untuk memaafkan  orang yang menyakiti, keikhlasan untuk menerima masa lalu, beserta keberanian untuk melakukan tindakan nyata.

Ya, pertanyaan tuang gurutta adalah tentang keberanian tersebut. selama ini, ia hanya berjung di balik pena. Ia tak mengangkat popor senjata atau menghunus pedang. Ia meyakini bahwa kemerdekaan bisa direbut melalui provokasi pena.

Namun, ketika kapal mereka diambil alih perompak somalia, ambo uleng berhasil menyadarkan gurutta, bahwa kemerdekaan hanya bisa direbut dengan tindakan nyata, dengan perlawanan.

Novel ini sarat pengetahuan baru, yang saya yakin, didapat bang tere dengan riset yang mendalam. Tidak banyak pengarang indonesia yang bisa menulis sedemikian rapi dan mengalir, namun tetap memberikan nilai-nilai positif yang kental.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s