Menjadi Sebaik-Baik Manusia

13596939Judul Buku: Makelar Rezeki

Penulis : Jamil Azzaini

Penerbit: Mizania, Bandung

Cetakan: III, Mei 2012

Tebal: 187 halaman

ISBN: 978-602-9255-18-8

Beberapa minggu yang lalu, saya dipinjami buku ini dari seorang teman di pondok, namanya Mba Aniroh. Bersama buku Rindu karya Tere Liye. Berhubung saya sok sibuk dengan beberapa buku dari penerbit yang datang belakangan, baru sekarang saya sempat nge-post review buku ini.

Ini adalah buku terbitan lama yang mungkin sudah banyak yang tahu dan membacanya. Tapi karena saya sudah berkomitmen untuk me-review setiap buku yang saya baca, maka saya harus melakukannya, tidak bisa tidak.

Buku ini diawali dengan sebuah hadist Nabi yang berbunyi, ‘sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya.’ Dan memang itulah esensi yang ingin disampaikan buku ini.

Kang Jamil-begitu penulis buku ini biasa disebut, pernah didatangi seorang teman yang sudah banyak mengikuti seminar, membaca buku, dan mempraktikkan banyak saran para inspirator. Namun, orang tersebut belum juga menampakkan tanda-tanda kesuksesan. Jalan di tempat dan lambat. Setelah ditelusuri, ternyata orang ini hanya berfokus pada dirinya, atau ‘aku’ saja. Dia tidak memikirkan hal di luar dirinya, seperti keluarga, orang lain, negara. Egois, kasarannya seperti itu.

Maka agar hal itu tidak terjadi dan seluruh impian kita bisa terwujud, kita harus memindah fokus bukan pada ‘aku’, tapi menjadi ‘kita’.

Ketika seseorang berfokus untuk kemaslahatan bersama, mendahulukan kepentingan umat, maka hidupnya akan dipermudah oleh Allah melalui alam ini. Inilah konsep makelar rezeki milik kang Jamil. Diri kita menjadi semacam penyalur energi dan rezeki Allah kepada orang lain, sebanyak-banyaknya dan seluas-luasnya orang di luar diri kita. Nanti pada saatnya, Allah akan menganugerahi kita rezeki yang juga seluas-luasnya, sebanyak-banyaknya.

Bagian pertama buku ini membahas mengenai ‘kepakan sayap’. Kang Jamil mengutip the butterfly effect milik Edward Norton Lorenz. Di mana satu kepakan sayap kupu-kupu bisa menimbulkan atau mencegah badai tornado. Penelitian itu menunjukkan bahwa sekecil apapun pikiran dan tindakan kita akan mempengaruhi kejadian di alam semesta.

Jadi, sekecil apapun kita memulai bertindak untuk kebaikan dan kesuksesan, akan memiliki dampak di masa depan. Seperti BMT Center yang didirikan kang Jamil dengan modal hanya satu juta rupiah, kini sudah memiliki aset triliunan rupiah. Satu juta rupiah yang sempat disepelekan temannya sekarang mampu menunjukkan taringnya, menolong ribuan orang kecil yang tidak bankable untuk memulai usahanya.

Pada bagian kedua, kang Jamil membahas konsep ‘terima kasih’ yaitu setiap apa yang kita ‘terima’, lalu ‘dikasih-kasih’. Perumpamaan orang yang suka berterima kasih dan yang tidak adalah danau Galilea dan Laut Mati. Kedua tempat itu mendapat suplay air dari tempat yang sama, yaitu sungai Yordan. Danau Galilea merupakan tempat indah yang menjadi favorit banyak orang untuk ditinggali, sedangkan Laut Mati adalah sebuah tempat yang buruk dan tak bisa ditempati. Laut Mati berkadar garam tinggi dan memiliki bau yang tidak sedap. Mengapa hal itu bisa terjadi? Karena danau Galilea menjalankan konsep ‘terima kasih’ ini. Danau itu mengalirkan air ke sejumlah danau lain yang memerlukan, sedangkan air Laut Mati tak mengalir ke manapun. Mungkin itu sebabnya dinamai Laut Mati.

Tiga bagian terakhir dari buku ini masih membahas konsep yang serupa tapi dengan tambahan berbagai pengalaman kang Jamil di dunia permakelaran yang sudah ia jalani. Kang Jamil adalah contoh nyata seorang makelar rezeki yang telah mencapai derajat sukses mulia.

Membaca buku ini, saya tidak hanya terinspirasi, tapi juga dapat tertawa dengan berbagai lelucon yang disajikan kang Jamil melalui cerita-cerita konyol. Buku ini juga membahas pentingnya membagi ‘rezeki’ kata-kata dengan menulis. Saya jadi terinspirasi membuat tulisan yang bisa memberikan perubahan, bukan hanya kepada saya sendiri, tapi juga kepada orang lain.

Kang Jamil pun membagikan rahasia agar kita jadi orang yang produktif, yaitu, memperbanyak ‘pecah telur’. Ciptakan sebanyak-banyaknya pecah telur yang kita inginkan, karena semakin banyak telur yang pecah, maka kita akan ketagihan memecahkan lebih banyak telur yang lain.

Menjadi makelar rezeki (energi) merupakan pilihan yang mesti kita lakukan, sebab, hakikatnya manusia memang hanya sebagai penyalur. Karena pemilik segala apa yang ada di langit dan di bumi adalah Tuhan. Kita sebagai manusia, ciptaan-Nya yang paling sempurna, hanya bertugas mengolahnya sebaik mungkin, bukan memilikinya.

sumber gambar: Goodreads.com

Iklan

One thought on “Menjadi Sebaik-Baik Manusia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s