Membangun Mimpi di Terminal Hujan

Judul Buku      : Terminal Hujan

Penulis             : @hQZou (Haqi Fadillah)

Penerbit           : de Teens, Yogyakarta

Cetakan           : I, Februari 2015

Tebal               : 232 halaman

ISBN               : 978-602-255-810-1

Harga              : Rp 38.000

Novel ini ditulis berdasarkan pengalaman penulisnya sebagai pengajar komunitas Terminal Hujan, sebuah sekolah independen di Bogor, dan memiliki dua karakter utama yaitu Valesia atau Ica, mewakili kaum muda yang peduli akan pendidikan kaum marjinal, dan Farah, yang merupakan potret anak miskin dengan semangat belajar yang tinggi.

Cerita diawali pertemuan Ica dengan seorang anak putus sekolah yang baru pulang memulung sampah. Ica yang hatinya mudah tersentuh menjadi gundah. Berbekal pengalamannya mengajar di berbagai sekolah independen di Jakarta, dia berniat mendirikan sebuah sekolah yang bisa menolong anak-anak di kota kelahirannya, Bogor, mendapatkan pendidikan.

Beruntung Ica dipertemukan dengan Umi Hasna, seorang dokter yang giat memberikan pendidikan bagi anak-anak Kampung Jukut, sebuah kampung kecil di kota Bogor. Ica pun mulai ikut mengajar. Bahkan, Umi Hasna menyerahkan anak-anak kepada Ica dan memintanya meneruskan perjuangannya (hal. 54).

Dibantu Maya, sahabat yang bervisi sama dengannya, Ica mengumpulkan teman-teman alumni SMA untuk ikut membantu mengajar. Mereka kemudian berunding untuk menyusun program serta kurikulum ajar. Setiap hari Minggu, Ica dan teman-temannya menjalankan sekolah yang kemudian dinamai Terminal Hujan (hal. 61). Walau hanya menumpang di kantor kelurahan, Ica cs tak pernah kehabisan semangat.

Sementara itu, Farah terpaksa mengamen demi mengumpulkan uang untuk membawa ayahnya yang sakit kanker hati ke rumah sakit. Farah mengikuti Tisa, seorang anak jalanan yang kehilangan kedua orangtuanya karena kebakaran. Mereka menjadi sahabat yang rekat. Berdua, mereka menelusuri angkot demi angkot serta jalanan kota Bogor demi mendapatkan receh. Mereka pun sempat berkenalan dengan Ica yang memberikan uang dua puluh ribu rupiah (hal. 40).

Akibat mengamen dan tidak belajar, nilai Farah turun dan harus tinggal kelas. Ibunya berang dan mencap Farah anak bodoh. Di hari lain, ibu Farah memergoki Farah sedang mengamen. Farah diseret pulang. Mereka bertemu Ica yang baru pulang dari Terminal Hujan. Bersama Tisa, Ica mencoba menyelamatkan Farah. Tisa menjelaskan alasan Farah mengamen. Ibunya terkejut dan tak menyangka Farah melakukan itu untuk membantu sang ayah. Namun sayang, ayah Farah tak bisa bertahan dan meninggal (hal. 99).

Selepas musibah itu, Farah―yang dahulu sudah ikut belajar bersama Umi Hasna―mulai belajar di Terminal Hujan. Ia yang tinggal di kelas 2 ternyata masih kesulitan membaca dan berhitung. Dengan amat sabar, Ica mengajari Farah dengan berbagai metode. Farah sempat menyerah dengan ‘kebodohannya’. Namun, berbekal keinginan untuk membanggakan ibu dan mendapat beasiswa sembako dari Terminal Hujan, Farah tak menyerah. Ia belajar dengan keras setiap hari. Malahan, Farah sempat sakit karena belajar hingga larut malam. “Saat ibunya sudah pergi tidur, Farah masih terjaga. Meski banyak materi pelajaran yang tak dipahaminya, Farah tetap memaksakan diri berkutat dengan buku-bukunya.” (hal. 132).

Usaha Farah yang keras itu belum membuahkan hasil. Ia hampir saja kehilangan semangat. Namun Ica kembali memberinya harapan, bahwa bukan nilai yang menjadi tujuan, tapi bagaimana menikmati proses kerja keras untuk meraihnya (hal. 140).

Dengan semangat baru, Farah kembali belajar dengan giat, bahkan ikut les tambahan yang diperuntukkan bagi kelas 6. Ia selalu ingat janjinya pada para pengajar Terminal Hujan, “Farah janji akan belajar giat. Farah ingin membahagiakan Bapak-Ibu. Farah ingin membanggakan kakak semua.” (hal. 122).

Pada akhirnya, Farah berhasil meraih rangking 3 pada semester berikutnya. Ia juga berhasil membawa pulang beasiswa dari Terminal Hujan. Dalam epilog novel ini, diceritakan Farah kembali bertemu Tisa yang ternyata masih memiliki keluarga, yaitu paman satu-satunya. Dua sahabat itu pun kembali bersama dan membangun mimpi di Terminal Hujan (hal. 226).

Membaca novel ini, kita diajak menyelami hati untuk lebih peduli pada nasib pendidikan anak-anak yang kurang beruntung. Kita juga disadarkan agar tak perlu menjadi sempurna dulu untuk mulai menghidupkan semangat tolong-menolong.

dimuat Koran Jakarta, Senin 16 Februari 2015.

sumber gambar: Facebook penerbit.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s