Ketika Manusia dan Elf Saling Jatuh Cinta

Folium adalah sebuah negeri yang dihuni dua jenis ras, manusia dan elf. Namun, kedua ras ini dilarang melakukan kontak satu sama lain. Pemimpin mereka yaitu Presiden Clorida membuat sebuah ‘dinding’ tak kasat mata yang tidak memungkinkan kedua ras itu bertemu. Dinding itu disebut Corp. Semua yang berusaha melewati Corp akan mati karena gelombangnya (hal. 4).
Selama ratusan tahun tak ada satu pun yang berani melawan kekejaman Clorida karena nyawa yang akan jadi taruhannya. Semua rakyat Folium membenci Clorida. Ia tak segan membantai satu keluarga jika salah seorang anggotanya melakukan pelanggaran (hal. 27).
Sampai ketika seorang pemburu dari wilayah Rome bernama Alexander Spark mengetahui rahasia untuk melewati tembok itu. Atas nama penasaran, Alex menerobos tembok itu dan masuk ke wilayah elf. Di hutan elf, dia bertemu seorang gadis bermata hijau, berambut perak dan berbadan ramping. Gadis itu adalah elf bernama Cinnamon. Mereka berkenalan dan menjalin pertemanan. Hari-hari selanjutnya, Alex menyempatkan menemui Cinnamon walaupun ia tahu itu adalah pelanggaran yang bisa membahayakan nyawanya. Mereka pada akhirnya saling jatuh cinta.
Kabar pertemuan mereka sampai di telinga Clorida melalui burung mata-mata berjambul kuning, notario (hal. 28). Clorida tidak serta merta membunuh Alex, tapi memberi kesempatan padanya untuk membayar pelanggarannya dengan tidak lagi menemui Cinnamon. Namun, Alex tak bisa menahan diri untuk tak menemui Cinnamon. Ketika akhirnya bertemu, Cinnamon mengajak Alex ke desanya. Di rumahnya, Alex bertemu ayah Cinnamon, Ramus, yang kemudian membujuknya melakukan revolusi melawan Clorida.
Menurutnya, hubungan Alex dan Cinnamon bisa menjadi pemicu semua rakyat Folium untuk memberontak. Kedua ras itu telah menanti selama ratusan tahun agar tembok bernama Corp itu lenyap. Ramus, seperti semua rakyat Folium, menginginkan manusia dan elf bisa bersatu tanpa harus takut batasan (hal. 57).
Akhirnya Alex menyetujui rencana Ramus dan tinggal di rumah Cinnamon untuk mempersiapkan segalanya. Di sebuah hutan yang jauh dari jangkauan notario, Ramus melatih Alex dan Cinnamon menghadapi peperangan. Kemampuannya sebagai manusia memang di bawah elf, tapi Alex dipercaya rakyat Folium memimpin revolusi itu. Ratusan prajurit siap mendukungnya untuk menggulingkan tirani Clorida. Di saat-saat itu pula, Alex menemukan alasan mengapa Clorida memblokir komunikasi kedua ras negeri Folium. Sempat merasa ragu dengan kemampuannya, akhirnya Alex meraih kepercayaan diri setelah melatih kemampuan pertahanan pikiran dengan hasil yang mengejutkan. Kemampuan itu yang akan membantunya melawan Clorida.
Dalam perjalanannya selama masa pemberontakan, Alex mendapati berbagai kenyataan pahit. Dia harus kehilangan satu-satunya paman karena Clorida membumihanguskan wilayah Rome. Beberapa wilayah Folium juga sempat dihancurkan Clorida sebagai peringatan bagi Alex untuk menyerahkan diri (hal. 136, 166). Akan tetapi, sebagai pemimpin pemberontakan, Alex tak berniat untuk mundur selangkah pun. Dia tetap maju berjuang membebaskan Folium dari kekuasaan Clorida.
Membaca novel ini, kita akan teringat pada The Hunger Games. Ada beberapa elemen dalam novel ini yang mirip dengan novel karya Suzanne Collins itu. Seperti karakter Alex yang jago memanah mengingatkan kita pada Peeta Mellark.
Penulis novel ini mampu menggambarkan dunia elf secara cukup apik. Sayangnya, penulis terkesan buru-buru dalam menggarap plot walau premis yang diangkat menarik. Kisah cinta Alex dan Cinnamon yang merupakan ide dasar novel ini malah tak terasa chemistry-nya sama sekali. Penyelesaian konflik antara Alex―yang mewakili Folium―dengan Clorida boleh dikata terlalu mudah. Ada juga kejanggalan seperti peperangan menggunakan balon udara. Rasanya aneh ketika bangsa elf lebih memilih kendaraan perang balon udara dibanding makhluk seperti pegasus. Andai saja naskah ini diberi lebih banyak halaman, mungkin lubang-lubang kejanggalan itu bisa diminimalkan.
Namun, di atas semua kekurangannya, novel ini tetappatut diapresiasi, sebab penulis―yang baru berusia 19 tahun―berani menyuguhkan karangan dengan tema distopia yang masih jarang digarap. Salut!

dimuat Koran Jakarta, 28 Januari 2015. Ini adalah resensi versi belum diedit. yang sudah diedit bisa tampak di sini http://www.koran-jakarta.com/?27736-memecah%20pembatasan%20komunikasi%20dua%20ras

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s