[Baca Bareng 2015 – Februari – Profesi] Passion Dalam Pekerjaan

28 DetikJudul Buku : 28 Detik Penulis : Ifa Inziati Penerbit : Bentang Belia, Yogyakarta Cetakan : I, November 2014 Tebal : 230 halaman ISBN : 978-602-1383-03-2 Harga : Rp 54.000 Novel ini adalah tentang kopi beserta para pembuatnya dan diceritakan lewat penuturan sebuah mesin espresso. Nama mesin itu Simoncelli. Karena mesin itu benda mati dan benda mati nggak mungkin bisa pindah sendiri, jadi setting novel ini cuma muter-muter aja di dalam sebuah kedai kopi. Tokoh yang paling banyak diceritakan bernama Candu, seorang penyuguh kopi yang bekerja di sebuah kedai kopi di kota Bandung. Nama kedai itu KopiKasep, yang pemiliknya sooooo Sunda. “Nama boleh Jacob, tapi hati mah tetep Sunda asli!” kata pemilik kedai, yang biasa dipanggil Pak Jac. Tetapi, dalam buku ini Pak Jac nggak pernah kelihatan dagunya, sebab selalu diceritakan berada di luar negeri. Dia muncul sekali saja dalam ‘memori’ Simoncelli, tentang suasana di masa lalu. Kembali ke Candu. Jadi, Candu ini adalah barista (pembuat kopi) utama di KopiKasep. Dia terkenal dengan kecintaannya yang besar terhadap kopi. Ambisinya menjuarai kompetisi barista nasional tahun ini, yang disebut NBT atau Nusantara Barista Tournament. Pokoknya, Candu tak pernah bisa memikirkan hal lain di luar kopi. Di kepalanya hanya ada kopi, kopi, dan kopi. Mungkin seperti saya yang tak bisa memikirkan hal lain di luar buku, buku, dan buku :p. Di KopiKasep, Candu nggak sendiri. Ada juga Satrya, barista yang jago bikin latte art, Winona as waittress, Sery si chef yang diam-diam suka sama Candu, serta Nino, admin KopiKasep yang mengurus publisitas KopiKasep di dunia antah berantah. Oh, ya, nggak lupa dong sama Simoncelli, si mesin espresso yang jadi narator di buku ini. Jadi, mereka berlima hidup dalam damai (berantem, diskusi ngalor ngidul, bercanda ria) sampai ketika Rohan datang. Dia kemenakan Teh Cheryl (teman Pak Jac yang juga seorang ahli kopi berstandar―dalam buku ini dijuluki ‘Q-Grader’). Rohan murid SMA internasional kelas Pre-U2 (pre university), setara kelas 12. Rohan seorang jenius yang sangat jago Fisika, kilat dalam menghafal, dan pernah dikalungi medali emas di olimpiade sains. Diketahui dia juga seorang sinestesia tipe grapheme to color, yang kasusnya 1:1.000 kalau tidak salah. Overall, Rohan cewek kece nan keren. Candu yang masih jomblo jelas suka dong, walau awalnya menganggap Rohan menyebalkan dan belagu. Mereka berdua jadi dekat ketika Teh Cheryl menitipkan Rohan buat nunggu dirinya pulang kerja di sore hari. Hari demi hari terlewat mereka mulai merasakan adanya ‘cinta’. Rohan juga menginspirasi Candu menemukan resep signature drink buat jadi senjata memenangkan turnamen. Setiap hari mereka ngobrolin banyak hal, paling banyak sih tentang passion-nya Candu dengan kopi dan kehampaan hidup Rohan yang belum juga nemuin apa passion dia. Pengetahuan Candu tentang kopi adalah yang paling lengkap di KopiKasep. Dia sudah ahli membedakan asal kopi, ciri-cirinya, dan juga perkembangan kopi di Indonesia.

“Kalau kita perhatikan, cuma Indonesia yang punya spesies kopi terbaik, teknik mengolah terbaik, dan peminum kopi terbaik.” (halaman 66) “Tanah di negara kita memiliki komposisi dan kandungan mineral yang berbeda dengan tanah di negara lain. faktornya bisa cuaca, iklim dan sebagainya. Seperti budaya yang membesarkan kita, unsur dalam tanah itu juga membesarkan biji kopi dengan rasa yang bervariasi.” (halaman 65-66)

Yang jelas, cinta Candu pada kopi berawal dari bisnis orangtuanya. Ia ingin mengembalikan kopi seperti ketika kedai orangtuanya masih ada sebelum tergerus kebangkrutan.

“Di dalam kopi, ada cinta orangtua saya. Cinta kami. Saya tidak mungkin meninggalkannya. Saya ingin punya kedai sendiri. tidak usah besar, seperti KopiKasep saja. asal ada saya, keluarga saya dan orang-orang yang menikmati kopi buatan saya. Itu sudah cukup.” Katanya pada Rohan (hal. 134).

Hal itu menunjukkan bahwa Candu memilih berprofesi sebagai barista karena memang dia mencintai kopi biarpun dirinya berijazah Teknik Fisika ITB. Candu bisa hidup bahagia dengan hanya punya kedai kecil walau jika dia mau, dia bisa saja bekerja di perusahaan besar dengan membawa nama kampusnya. Jadi, ketika kita menemukan seseorang yang punya gelar Doktor atau Dokter tapi memilih bekerja di pedalaman, maka bisa dipastikan orang tersebut punya passion yang kuat untuk membantu sesama. Novel ini sebenarnya bermaksud mempopulerkan kopi dan keunikannya, seperti yang ditulis Ifa di twitternya. Tapi juga tetap gencar membahas passion. Tentang perasaan cinta terhadap sesuatu yang diperjuangkan. Kisah cinta Rohan dan Candu malah nggak terlalu mengesankan. Ifa juga kurang detail dalam penggambaran fisik para tokoh. Saya nggak bisa membayangkan bagaimana rupa Candu yang ditulis berkulit eksotis, atau Rohan yang hanya dijelaskan sebagai cewek cantik, Nino yang berkulit putih, dan seterusnya. Hanya karakter Rohan yang ‘beda’ itu yang menarik perhatian saya. Satu lagi, klimaks yang cukup thriller sewaktu Rohan disidang karena jadi biang kerok kekalahan Candu di turnamen. Tapi novel ini tetap saya gemari, kok. Mengapa? Karena unik. Narator yang berupa benda mati, judul bab yang mengambil step-by-step pemrosesan kopi serta gambar-gambar lucu sebagai ilustrasi. Dan yang terpenting, cara Ifa bertutur. Cukup cerdas dan sesuai dengan gelarnya yaitu sarjana sains. Bila menilik daftar bacaannya di Goodreads, saya yakin sampean setuju dengan keahlian Ifa yang satu itu. Well, novel ini dapat dikategorikan ke dalam banyak genre: sains, romance, dan profesi. Ifa membidik tema yang sedang ngetren saat ini. menjadi barista saat ini adalah pilihan profesi yang cukup keren bagi kalangan anak muda. Salut!Banner_BacaBareng2015-300x187

[Opini Bareng-Februari 2015] Tentang Karakter Kesukaan

Kalau ditanya karakter apa yang saya suka, maka jawabannya adalah karakter yang memberi saya kesan yang lumayan dalam. Nggak mesti protagonis, karakter antagonis yang ‘hitam’ tapi berkesan, itu pun saya suka. Dalam padanan yang lain, karakter itu kuat. Kuat melekat dalam memori saya dan kuat menjalani hidupnya dalam cerita.
Itu berlaku buat karakter utama maupun pendamping.
Sebuah karakter, bila dia punya sifat unik dan kebiasaan yang ‘ajaib’ walaupun nggak cantik/tampan, misalnya, saya akan memilihnya jadi favorit. Asal kegiatan dia dalam buku sejalan dengan penggambaran detail dirinya. Jadi ada konsistensi, begitu.
Kalau karakter laki-laki, saya menyukai cowok pintar (lebih diutamakan berkacamata), manis, not only good boy, but a great one. Misalnya, Harry Potter. Dia sangat mengagumkan bagi saya.
daniel radcliffe as harry potter
Untuk tokoh wanita, karakter seperti Hermione juga amat menarik. Maaf saja, saya memang penggemar serial HP. Jadi, ya, wanita yang punya girl power dan bisa dibanggakan. Sebab saya ini, kan, wanita. Jika bisa ikut merasakan kebanggaan yang sama bila karakter wanita dalam cerita punya ‘sesuatu’ yang lebih baik dari milik tokoh prianya, itu menyenangkan dan ‘menguatkan’.
Saya juga menyukai karakter (pria/wanita) yang misterius dan penuh kejutan. Misalnya, Jojo dalam film Horton Hears A Who. Dia itu cool banget. Dan ternyata jenius. Ah, ya. Saya menyukai satu kata itu, jenius. Karakter yang jenius bagi saya selalu punya curiosity yang hebat terhadap sesuatu.
Karakter yang tidak saya suka adalah bila dia playboy. Saya cukup anti dengan tokoh pria yang seperti itu.
Wanita yang menyebalkan, tak dewasa, dan cengeng juga tidak menarik buat saya.
Ketika membaca, saya butuh agar apa yang saya baca memberi ‘infus’ bagi saya pribadi. Agar saya juga bisa meneladani karakter tersebut. Mencoba melakukan apa yang bagi saya sesuai, dan memberi saya inspirasi tentang hal-hal yang belum saya mengerti.
Karakter itu hal yang punya jatah 51 persen untuk dieksekusi sebaik-baiknya.

Banner_OpiniBareng2015-300x187

Event BBI di 2015

Jadi, ceritanya saya sudah diterima sebagai member BBI (blog buku indonesia). Persisnya sih tanggal 19 Februari 2015. Senang sekali rasanya. Karena, ya, ini satu-satunya klub blogger buku terbesar di Indonesia. Di sini, saya jadi tahu bahwa ada banyak orang-orang yang hebat dalam membaca. Mereka sudah baca ratusan buku, dan telaten me-reviewnya di blog. Ini, kan, luar biasa bagi saya yang kuper. Saya jadi berniat serius jadi pembaca yang bertanggung jawab. Maksudnya, mempertanggungjawabkan hasil pembacaan saya kepada khalayak. Melaporkan, membaginya. Selama ini saya nggak peduli dengan apa yang saya baca, kalau suka, dibaca, selesai, ya sudah. Nggak ada pikiran buat menuliskan hasilnya. Kan, kalau dipikir, eman-eman sekali, sudah beli dan baca banyak buku, eh, tak ada jejaknya, tak ada buktinya. Sungguh sayang pembaca yang seperti itu serta tidak bergabung dengan BBI. Ini bukan mendiskreditkan blogger buku non-BBI, tapi yang saya lihat berdasar hasil ngintip di beberapa blog, tulisan para member BBI jauh lebih baik, lho. Jauh lebih serius dan emang niat mau bikin tulisan yang punya nilai. Saya rasa saya akan sangat menikmati ini, siap jadi kutu buku, memasuki keajaiban dunia buku :). Dan itu dimulai dengan ikut event BBI di 2015 ini, yang akan jadi event pertama saya di dunia kutu buku. Baca Bareng dan Opini Bareng BBI 2015. Keren, toh? Ini, lho, detail infonya:

Kegiatan Baca Bareng
Masih seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap bulan, Divisi Event akan menentukan tema bacaan tertentu.
Tema ini cukup luas dan teman-teman bebas memilih buku yang teman-teman anggap sesuai dengan tema—bisa fiksi maupun non fiksi—untuk dibaca dan dipos resensinya di blog masing-masing pada tanggal yang telah ditentukan di pukul 09.00 WIB
Tema Baca Bareng:
• Januari: Buku Secret Santa, dipos tanggal 30 Januari 2015. ini saya nggak ikut, sudah jelas.
• Februari: Profesi, yaitu buku-buku yang di dalamnya dijelaskan cukup rinci mengenai profesi tokoh-tokohnya. Misalnya, Twivortiare Ika Natassa yang menjelaskan profesi bankir. Dipos tanggal 27 Februari 2015.
• Maret: Adaptasi buku ke film atau film ke buku, misalnya The Fault in Our Stars, Supernova, dll, dipos tanggal 31 Maret 2015.
• April: Buku yang sudah diterbitkan yang sebelumnya dipos online (wattpad, blog, forum, dll), misalnya Coup(L)ove Rhein Fathia, Kambing Jantan Raditya Dika, dll., dipos tanggal 30 April 2015.
• Mei: Buku bertema Hak Asasi Manusia dan kritik sosial, misalnya I am Malala, Kumpulan Puisi Wiji Thukul, A Time to Kill John Grisham, dll., dipos tanggal 29 Mei 2015.
• Juni: Budaya dan setting Indonesia, misalnya Laskar Pelangi Andrea Hirata, Lampau Sandi Firly, dll., dipos tanggal 30 Juni 2015.
• Juli: Kenakalan anak-anak, misalnya serial Malory Towers Enyd Blyton, serial Anak-anak Mamak Tere Liye, dll., dipos tanggal 31 Juli 2015.
• Agustus: Seputar Perang Dunia I dan II, misalnya Code Name Verity Elizabeth Wein, A Farewell to Arms Ernest Hemingway, dll., dipos tanggal 28 Agustus 2015.
• September: Sastra Eropa, misalnya buku-buku Jane Austen, Leo Tolstoy, dll., dipos tanggal 30 September 2015.
• Oktober: Horror, misalnya buku-buku Eve Shi, R.L. Stines, dll., dipos tanggal 30 Oktober 2015.
• November: Detektif / Thriller / Misteri, misalnya Gone Girl Gillian Flynn, Da Vinci Code Dan Brown, Agatha Christie, dll., dipos tanggal 27 November 2015.
• Desember: Baca bareng 1 judul, ditentukan kemudian, dipos tanggal 28 Desember 2015.

Kegiatan Opini Bareng
Opini Bareng ini bentuk kegiatannya lebih fleksibel dan bebas daripada Baca Bareng. Intinya adalah, Divisi Event memberikan tema yang harus teman-teman eksplor dalam satu bulan. Namun, bagaimana cara teman-teman menyampaikan tema opini tersebut adalah bebas; teman-teman bisa membuat satu pos berisi opini teman-teman terkait tema, bisa membuat daftar bacaan sesuai tema (Top 5, Top 10, dsb), bisa juga memilih buku-buku bacaan selama sebulan sesuai tema opini bareng dan menulis resensi dengan menitikberatkan pada tema Opini Bareng.
• Tidak ada tanggal khusus posting bareng dan teman-teman bisa membuat 1 pos atau lebih bertema sama dalam 1 bulan.
Tema Opini Bareng
• ♥ Januari: Ekspektasi, sudah lewat jadi, lupakan
• Pernahkah kamu ingin membaca suatu buku karena mendengar buku itu bagus atau merasa sepertinya buku itu “gue banget”? Bagaimana setelah kamu akhirnya membaca buku yang kamu inginkan itu? Atau pernah sebaliknya, menyangka tidak akan suka suatu buku tetapi ketika kamu selesai membacanya kamu malah menikmatinya?
• ♥ Februari: Karakter Tokoh Utama
• Apakah kamu lebih menyukai karakter utama yang serbasempurna, mirip dengan kepribadianmu, atau yang hidupnya penuh dengan masalah dan ketidaksempurnaan? Apakah kamu menyukai tokoh utama yang cerewet atau pendiam?
• ♥ Maret: Alur Cerita
• Apakah kamu tipe yang ingin alur cerita maju teratur atau melompat-lompat? Buku dengan alur yang paling menyenangkan dan paling menyebalkan yang pernah kamu baca?
• ♥ April: Hubungan dengan Pembaca
• Apakah kamu pernah merasa terhubung dengan suatu bacaan? Apakah kamu pernah mendapati buku yang pesan moralnya sama sekali bertentangan dengan pendapatmu? Bagaimana menyikapinya?
• ♥ Mei: Realita Sosial
• Pernah merasa buku yang kamu baca sangat jauh dari kenyataan? Sangat sesuai dengan kenyataan? Kemungkinan akan menjadi kenyataan dalam waktu dekat?
• ♥ Juni: Setting dalam buku
• Bagaimana penulis menuliskan latar buku yang kamu baca? Apakah membuatmu dapat membayangkan tempat itu pada waktu itu?
• ♥ Juli: Side-kick characters
• Pernah membaca buku di mana karakter utama memiliki teman baik? Apakah si teman baik itu berhasil mencuri perhatianmu? Apakah si teman baik berpengaruh besar pada si tokoh utama?
• ♥ Agustus: Amanat
• Apakah buku yang kamu baca membuatmu belajar sesuatu dan sampai kini kamu terapkan dalam kehidupanmu?
• ♥ September: Peran Wanita
• Pernahkah kamu membaca buku di mana wanita tampil sebagai tokoh yang sangat kuat dan patut dikagumi? Atau justru sebaliknya, tak berdaya dan menyusahkan? Dari buku yang kamu baca, bagaimana peran wanita dalam buku itu?
• ♥ Oktober: Klimaks
• Apakah buku yang kamu baca memiliki titik di mana rasanya kamu sangat deg-degan, geregetan, dan sebagainya? Ataukah datar saja? Mana yang lebih kamu suka?
• ♥ November: Logika dalam Cerita
• Apakah buku yang kamu baca masuk akal? Apakah kamu tidak keberatan membaca buku yang tidak masuk akal secara logikamu?
• ♥ Desember: Bebas
• Pilih satu hal yang menurutmu menarik untuk dibahas. Bisa terkait selera bacaan pribadimu secara umum bisa juga terkait bacaanmu bulan ini.
• Untuk tahun ini, Divisi Event tidak akan mengadakan voting posting favorit setiap bulan. Namun, untuk peserta Baca Bareng dan Opini Bareng teraktif, Divisi Event menyediakan masing-masing satu paket hadiah.

Itulah sekilas kegiatan BBI di 2015. Semoga saya bisa konsisten. Jadi, hari ini saya akan me-review buku pertama setelah resmi jadi member BBI, 28 Detik.

baca-opini-bareng-2015

Lima Pertanyaan Di Tengah Samudra

Judul Buku      : Rindu

Penulis             : Tere Liye

Penerbit           : Republika

Cetakan           : 5, November 2014

Tebal               : 544 halaman

ISBN               : 978-602-8997-90-4

Novel ini saya dapat dari pinjam (sebenarnya dipinjami) oleh saudara saya Sdr. Mba Aniroh. Beliau teman saya dari SMA dan kini menjabat Lurah di pondok Al-Huda, tempat di mana banyak kisah saya alami. Bersama Makelar Rezeki, buku ini menyerta perjalanan membaca saya beberapa hari yang lalu.

Jadi, ini adalah novel paling tebal kedua setelah Harry Potter―yang saya baca beberapa tahun lalu.

Novel ini sudah menyandang gelar best seller (dalam dua bulan sudah 5 kali naik cetak, bahkan dalam sebulan 4 kali naik cetak). Salah satu karya bang tere yang sangat layak dibaca (dan dikoleksi).

Setting tempat novel ini sangat minimal, hanya di atas kapal, pelabuhan, dan beberapa tempat lain yang tidak banyak. Dan saya rasa, justru di sana letak kekuatan novel ini. tanpa mengambil terlalu banyak latar tempat, eksekusi terhadap alur, penokohan dan plot dapat terlaksana dengan baik. serasa membaca The Da Vinci Code yang setting waktunya hanya semalam.

Cerita novel ini berpusat pada seorang kakek tua yang termasuk ulama mayhur di tanah Gowa, Makassar. Kakek itu bernama Ahmad Karaeng, yang biasa juga disapa Gurutta (guru kami). Sedangkan esensi cerita bertumpu pada lima pertanyaan ‘pemeran’ utama yang ada di sana (saya selalu membayangkan novel ini dalam bentuk adegan film).

Cerita bermula dari keriuhan dan hiruk pikuk pelabuhan Makassar pada tanggal 1 Desember 1938. Kapal uap besar milik perusahaan swasta di Belanda, Blitar Holland, akan membawa seribu lebih jamaah haji seluruh Nusantara. Pada waktu itu, belum ada pesawat komersial, jadi perjalanan haji dilakukan menggunakan kapal. Perjalanan haji sendiri memakan waktu 9 bulan, dari berangkat sampai pulang kembali. Maka, naik haji pada zaman itu sama sekali bukan sesuatu yang mudah (seperti juga hari ini, bagi kebanyakan orang). Tak hanya waktu yang lama, tapi juga biaya yang amat besar (biaya naik kapal, biaya di tanah suci, biaya konsumsi selama perjalanan, dan sebagainya).

Gurutta merupakan salah seorang ulama yang diwaspadai Belanda. Pada zaman itu, ulama di daerah memang menjadi pemimpin pergerakan melawan kumpeni. Namun, ahmad karaeng ternyata lebih banyak menulis dan berdakwah dibanding mengangkat senjata.

Berbekal surat dari gubjen di batavia, gurutta berhasil diizinkan naik kapal, setelah dicegat oleh sergeant lucas, serdadu belanda yang rempong dan mencurigai tuan gurutta secara berlebihan.

Padahal, tuan gurutta sudah begitu rindu dengan kakbah.

“sudah begitu lama ia menunggu kesempatan melakukan kembali perjalanan suci. Rindu sekali Gurutta menatap masjidil Haram.”

“terakhir kali ia melakukan perjalanan suci ini adaah empat puluh tahun lalu saat masih di Yaman.” (halaman 40)

Tokoh sentral kedua yaitu daeng andipati. Ia merupakan seorang pedagang sukses di kota makassar. Daeng andipati berhaji dengan membawa istri beserta dua anak gadisnya yang masih belia, anna, 9 tahun dan elsa, 14 tahun. Di buku ini, anna merupakan tokoh penting yang membuat pembaca terhibur dengan segala kepolosannya. Ia juga berperan dalam perjalanan hati seorang Ambo Uleng, tokoh sentral ketiga.

Ambo uleng merupakan orang pribumi yang melamar menjadi kelasi di Blitar holland. Riwayatnya sebagai pelaut dan pernah menjadi kapten kapal Phinisi (entah kapal macam apa itu), tak membuatnya diterima oleh Kapten Philips, nahkoda Blitar Holland. Justru yang membuat dia diterima adalah karena ia memohon agar diizinkan ikut. Rupanya ia ingin lari sejauh-jauhnya dari makasssar. Ambo uleng rupanya ingin melupakan sesuatu yang menghancurkan hatinya. Kapten philips menerima ambo uleng dan menempatkannya sebagai kelasi dapur. Nantinya, philips tak menyesal atas pilihannya menerima pelaut berkulit eksotis itu. jutru ia bangga karena ambo uleng berhasil melakukan hal-hal luar biasa.

Tokoh berikutnya yang punya ‘pertanyaan’ adalah Bonda Upe, wanita tionghoa yang berusia 30-an. bonda upe merupakan lulusan sebuah pesantren. Bonda upe ini mengajukan diri mengajar anak-anak mengaji selama perjalanan. Jadi, saat hari pertama perjalanan, ketika Blitar Holland bertolak dari makassar menuju surabaya, tuang gurutta, yang sudah terkenal seantero kapal, langsung merundingkan agar seluruh waktu jamaah haji manjadi bermanfaat selama perjalanan. Dia mengusulkan mengadakan beberpa kegiatan bagi jamaah, dia antaranya adlh memberikan pengajian di sore hari bagi anak-anak. dan Bonda upe lah orang yang menganngkat tangan, bersedia mengajar ngaji anak-anak.

Di semarang, pertanyaan berikutnya hadir seiring naiknya pasangan sepuh, mbah kakung dan mbah putri. Kedua orang ini adalah contoh pasangan yang sehidup semati dalam cinta sejati. Kemesraan mereka di atas kapal sungguh membuat iri.

Seluruh pertanyaan yang hadir, dari daeng andipati, bonda upe, ambo uleng dan mbah kakung, seluruhnya tuntas dijawab oleh tuang gurutta, tentu dengan sudut pandang seorang ulama yang ilmunya sangat luas.

Sedangkan pertanyaan terakhir, justru berasal dari tuan gurutta sendiri dan ‘dijawab’ oleh orang yang bahkan baru bisa salat, yaitu Ambo uleng.

Membaca novel ini, sungguh, memang serasa berada di atas kapal, diombang-ambing dengan segala perasaaan yang cambur baur. Kita bisa tertawa membaca betapa polosnya anna dengan tingkah laku dan kata-kata spontannya. Kita juga bisa meniru kapten phillips, yang walaupun beragama nasrani, tapi kebaikan dan keramahannya kepada seluruh jamaah haji sangat mengagumkan. Atau, semangat ambo uleng untuk mengikuti cahaya islam yang baru ditemuinya ketika usianya sudah dewasa. Kita juga bisa sejenak merenungkan arti memaafkan dari daeng andipati, melupakan masa lalu, sekelam apapun dan menyambut hari baru seperti bonda upe, juga, merelakan kepergian sang kekasih dengan meyakini bahwa Allah akan memberikan kelapangan bagi mereka yang ikhlas, seperti mbah kakung.

Novel ini adalah tenang semua itu, keikhlasan menerima takdir, keikhlasan untuk memaafkan  orang yang menyakiti, keikhlasan untuk menerima masa lalu, beserta keberanian untuk melakukan tindakan nyata.

Ya, pertanyaan tuang gurutta adalah tentang keberanian tersebut. selama ini, ia hanya berjung di balik pena. Ia tak mengangkat popor senjata atau menghunus pedang. Ia meyakini bahwa kemerdekaan bisa direbut melalui provokasi pena.

Namun, ketika kapal mereka diambil alih perompak somalia, ambo uleng berhasil menyadarkan gurutta, bahwa kemerdekaan hanya bisa direbut dengan tindakan nyata, dengan perlawanan.

Novel ini sarat pengetahuan baru, yang saya yakin, didapat bang tere dengan riset yang mendalam. Tidak banyak pengarang indonesia yang bisa menulis sedemikian rapi dan mengalir, namun tetap memberikan nilai-nilai positif yang kental.

Membangun Mimpi di Terminal Hujan

Judul Buku      : Terminal Hujan

Penulis             : @hQZou (Haqi Fadillah)

Penerbit           : de Teens, Yogyakarta

Cetakan           : I, Februari 2015

Tebal               : 232 halaman

ISBN               : 978-602-255-810-1

Harga              : Rp 38.000

Novel ini ditulis berdasarkan pengalaman penulisnya sebagai pengajar komunitas Terminal Hujan, sebuah sekolah independen di Bogor, dan memiliki dua karakter utama yaitu Valesia atau Ica, mewakili kaum muda yang peduli akan pendidikan kaum marjinal, dan Farah, yang merupakan potret anak miskin dengan semangat belajar yang tinggi.

Cerita diawali pertemuan Ica dengan seorang anak putus sekolah yang baru pulang memulung sampah. Ica yang hatinya mudah tersentuh menjadi gundah. Berbekal pengalamannya mengajar di berbagai sekolah independen di Jakarta, dia berniat mendirikan sebuah sekolah yang bisa menolong anak-anak di kota kelahirannya, Bogor, mendapatkan pendidikan.

Beruntung Ica dipertemukan dengan Umi Hasna, seorang dokter yang giat memberikan pendidikan bagi anak-anak Kampung Jukut, sebuah kampung kecil di kota Bogor. Ica pun mulai ikut mengajar. Bahkan, Umi Hasna menyerahkan anak-anak kepada Ica dan memintanya meneruskan perjuangannya (hal. 54).

Dibantu Maya, sahabat yang bervisi sama dengannya, Ica mengumpulkan teman-teman alumni SMA untuk ikut membantu mengajar. Mereka kemudian berunding untuk menyusun program serta kurikulum ajar. Setiap hari Minggu, Ica dan teman-temannya menjalankan sekolah yang kemudian dinamai Terminal Hujan (hal. 61). Walau hanya menumpang di kantor kelurahan, Ica cs tak pernah kehabisan semangat.

Sementara itu, Farah terpaksa mengamen demi mengumpulkan uang untuk membawa ayahnya yang sakit kanker hati ke rumah sakit. Farah mengikuti Tisa, seorang anak jalanan yang kehilangan kedua orangtuanya karena kebakaran. Mereka menjadi sahabat yang rekat. Berdua, mereka menelusuri angkot demi angkot serta jalanan kota Bogor demi mendapatkan receh. Mereka pun sempat berkenalan dengan Ica yang memberikan uang dua puluh ribu rupiah (hal. 40).

Akibat mengamen dan tidak belajar, nilai Farah turun dan harus tinggal kelas. Ibunya berang dan mencap Farah anak bodoh. Di hari lain, ibu Farah memergoki Farah sedang mengamen. Farah diseret pulang. Mereka bertemu Ica yang baru pulang dari Terminal Hujan. Bersama Tisa, Ica mencoba menyelamatkan Farah. Tisa menjelaskan alasan Farah mengamen. Ibunya terkejut dan tak menyangka Farah melakukan itu untuk membantu sang ayah. Namun sayang, ayah Farah tak bisa bertahan dan meninggal (hal. 99).

Selepas musibah itu, Farah―yang dahulu sudah ikut belajar bersama Umi Hasna―mulai belajar di Terminal Hujan. Ia yang tinggal di kelas 2 ternyata masih kesulitan membaca dan berhitung. Dengan amat sabar, Ica mengajari Farah dengan berbagai metode. Farah sempat menyerah dengan ‘kebodohannya’. Namun, berbekal keinginan untuk membanggakan ibu dan mendapat beasiswa sembako dari Terminal Hujan, Farah tak menyerah. Ia belajar dengan keras setiap hari. Malahan, Farah sempat sakit karena belajar hingga larut malam. “Saat ibunya sudah pergi tidur, Farah masih terjaga. Meski banyak materi pelajaran yang tak dipahaminya, Farah tetap memaksakan diri berkutat dengan buku-bukunya.” (hal. 132).

Usaha Farah yang keras itu belum membuahkan hasil. Ia hampir saja kehilangan semangat. Namun Ica kembali memberinya harapan, bahwa bukan nilai yang menjadi tujuan, tapi bagaimana menikmati proses kerja keras untuk meraihnya (hal. 140).

Dengan semangat baru, Farah kembali belajar dengan giat, bahkan ikut les tambahan yang diperuntukkan bagi kelas 6. Ia selalu ingat janjinya pada para pengajar Terminal Hujan, “Farah janji akan belajar giat. Farah ingin membahagiakan Bapak-Ibu. Farah ingin membanggakan kakak semua.” (hal. 122).

Pada akhirnya, Farah berhasil meraih rangking 3 pada semester berikutnya. Ia juga berhasil membawa pulang beasiswa dari Terminal Hujan. Dalam epilog novel ini, diceritakan Farah kembali bertemu Tisa yang ternyata masih memiliki keluarga, yaitu paman satu-satunya. Dua sahabat itu pun kembali bersama dan membangun mimpi di Terminal Hujan (hal. 226).

Membaca novel ini, kita diajak menyelami hati untuk lebih peduli pada nasib pendidikan anak-anak yang kurang beruntung. Kita juga disadarkan agar tak perlu menjadi sempurna dulu untuk mulai menghidupkan semangat tolong-menolong.

dimuat Koran Jakarta, Senin 16 Februari 2015.

sumber gambar: Facebook penerbit.

Menjadi Sebaik-Baik Manusia

13596939Judul Buku: Makelar Rezeki

Penulis : Jamil Azzaini

Penerbit: Mizania, Bandung

Cetakan: III, Mei 2012

Tebal: 187 halaman

ISBN: 978-602-9255-18-8

Beberapa minggu yang lalu, saya dipinjami buku ini dari seorang teman di pondok, namanya Mba Aniroh. Bersama buku Rindu karya Tere Liye. Berhubung saya sok sibuk dengan beberapa buku dari penerbit yang datang belakangan, baru sekarang saya sempat nge-post review buku ini.

Ini adalah buku terbitan lama yang mungkin sudah banyak yang tahu dan membacanya. Tapi karena saya sudah berkomitmen untuk me-review setiap buku yang saya baca, maka saya harus melakukannya, tidak bisa tidak.

Buku ini diawali dengan sebuah hadist Nabi yang berbunyi, ‘sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya.’ Dan memang itulah esensi yang ingin disampaikan buku ini.

Kang Jamil-begitu penulis buku ini biasa disebut, pernah didatangi seorang teman yang sudah banyak mengikuti seminar, membaca buku, dan mempraktikkan banyak saran para inspirator. Namun, orang tersebut belum juga menampakkan tanda-tanda kesuksesan. Jalan di tempat dan lambat. Setelah ditelusuri, ternyata orang ini hanya berfokus pada dirinya, atau ‘aku’ saja. Dia tidak memikirkan hal di luar dirinya, seperti keluarga, orang lain, negara. Egois, kasarannya seperti itu.

Maka agar hal itu tidak terjadi dan seluruh impian kita bisa terwujud, kita harus memindah fokus bukan pada ‘aku’, tapi menjadi ‘kita’.

Ketika seseorang berfokus untuk kemaslahatan bersama, mendahulukan kepentingan umat, maka hidupnya akan dipermudah oleh Allah melalui alam ini. Inilah konsep makelar rezeki milik kang Jamil. Diri kita menjadi semacam penyalur energi dan rezeki Allah kepada orang lain, sebanyak-banyaknya dan seluas-luasnya orang di luar diri kita. Nanti pada saatnya, Allah akan menganugerahi kita rezeki yang juga seluas-luasnya, sebanyak-banyaknya.

Bagian pertama buku ini membahas mengenai ‘kepakan sayap’. Kang Jamil mengutip the butterfly effect milik Edward Norton Lorenz. Di mana satu kepakan sayap kupu-kupu bisa menimbulkan atau mencegah badai tornado. Penelitian itu menunjukkan bahwa sekecil apapun pikiran dan tindakan kita akan mempengaruhi kejadian di alam semesta.

Jadi, sekecil apapun kita memulai bertindak untuk kebaikan dan kesuksesan, akan memiliki dampak di masa depan. Seperti BMT Center yang didirikan kang Jamil dengan modal hanya satu juta rupiah, kini sudah memiliki aset triliunan rupiah. Satu juta rupiah yang sempat disepelekan temannya sekarang mampu menunjukkan taringnya, menolong ribuan orang kecil yang tidak bankable untuk memulai usahanya.

Pada bagian kedua, kang Jamil membahas konsep ‘terima kasih’ yaitu setiap apa yang kita ‘terima’, lalu ‘dikasih-kasih’. Perumpamaan orang yang suka berterima kasih dan yang tidak adalah danau Galilea dan Laut Mati. Kedua tempat itu mendapat suplay air dari tempat yang sama, yaitu sungai Yordan. Danau Galilea merupakan tempat indah yang menjadi favorit banyak orang untuk ditinggali, sedangkan Laut Mati adalah sebuah tempat yang buruk dan tak bisa ditempati. Laut Mati berkadar garam tinggi dan memiliki bau yang tidak sedap. Mengapa hal itu bisa terjadi? Karena danau Galilea menjalankan konsep ‘terima kasih’ ini. Danau itu mengalirkan air ke sejumlah danau lain yang memerlukan, sedangkan air Laut Mati tak mengalir ke manapun. Mungkin itu sebabnya dinamai Laut Mati.

Tiga bagian terakhir dari buku ini masih membahas konsep yang serupa tapi dengan tambahan berbagai pengalaman kang Jamil di dunia permakelaran yang sudah ia jalani. Kang Jamil adalah contoh nyata seorang makelar rezeki yang telah mencapai derajat sukses mulia.

Membaca buku ini, saya tidak hanya terinspirasi, tapi juga dapat tertawa dengan berbagai lelucon yang disajikan kang Jamil melalui cerita-cerita konyol. Buku ini juga membahas pentingnya membagi ‘rezeki’ kata-kata dengan menulis. Saya jadi terinspirasi membuat tulisan yang bisa memberikan perubahan, bukan hanya kepada saya sendiri, tapi juga kepada orang lain.

Kang Jamil pun membagikan rahasia agar kita jadi orang yang produktif, yaitu, memperbanyak ‘pecah telur’. Ciptakan sebanyak-banyaknya pecah telur yang kita inginkan, karena semakin banyak telur yang pecah, maka kita akan ketagihan memecahkan lebih banyak telur yang lain.

Menjadi makelar rezeki (energi) merupakan pilihan yang mesti kita lakukan, sebab, hakikatnya manusia memang hanya sebagai penyalur. Karena pemilik segala apa yang ada di langit dan di bumi adalah Tuhan. Kita sebagai manusia, ciptaan-Nya yang paling sempurna, hanya bertugas mengolahnya sebaik mungkin, bukan memilikinya.

sumber gambar: Goodreads.com

Ketika Manusia dan Elf Saling Jatuh Cinta

Folium adalah sebuah negeri yang dihuni dua jenis ras, manusia dan elf. Namun, kedua ras ini dilarang melakukan kontak satu sama lain. Pemimpin mereka yaitu Presiden Clorida membuat sebuah ‘dinding’ tak kasat mata yang tidak memungkinkan kedua ras itu bertemu. Dinding itu disebut Corp. Semua yang berusaha melewati Corp akan mati karena gelombangnya (hal. 4).
Selama ratusan tahun tak ada satu pun yang berani melawan kekejaman Clorida karena nyawa yang akan jadi taruhannya. Semua rakyat Folium membenci Clorida. Ia tak segan membantai satu keluarga jika salah seorang anggotanya melakukan pelanggaran (hal. 27).
Sampai ketika seorang pemburu dari wilayah Rome bernama Alexander Spark mengetahui rahasia untuk melewati tembok itu. Atas nama penasaran, Alex menerobos tembok itu dan masuk ke wilayah elf. Di hutan elf, dia bertemu seorang gadis bermata hijau, berambut perak dan berbadan ramping. Gadis itu adalah elf bernama Cinnamon. Mereka berkenalan dan menjalin pertemanan. Hari-hari selanjutnya, Alex menyempatkan menemui Cinnamon walaupun ia tahu itu adalah pelanggaran yang bisa membahayakan nyawanya. Mereka pada akhirnya saling jatuh cinta.
Kabar pertemuan mereka sampai di telinga Clorida melalui burung mata-mata berjambul kuning, notario (hal. 28). Clorida tidak serta merta membunuh Alex, tapi memberi kesempatan padanya untuk membayar pelanggarannya dengan tidak lagi menemui Cinnamon. Namun, Alex tak bisa menahan diri untuk tak menemui Cinnamon. Ketika akhirnya bertemu, Cinnamon mengajak Alex ke desanya. Di rumahnya, Alex bertemu ayah Cinnamon, Ramus, yang kemudian membujuknya melakukan revolusi melawan Clorida.
Menurutnya, hubungan Alex dan Cinnamon bisa menjadi pemicu semua rakyat Folium untuk memberontak. Kedua ras itu telah menanti selama ratusan tahun agar tembok bernama Corp itu lenyap. Ramus, seperti semua rakyat Folium, menginginkan manusia dan elf bisa bersatu tanpa harus takut batasan (hal. 57).
Akhirnya Alex menyetujui rencana Ramus dan tinggal di rumah Cinnamon untuk mempersiapkan segalanya. Di sebuah hutan yang jauh dari jangkauan notario, Ramus melatih Alex dan Cinnamon menghadapi peperangan. Kemampuannya sebagai manusia memang di bawah elf, tapi Alex dipercaya rakyat Folium memimpin revolusi itu. Ratusan prajurit siap mendukungnya untuk menggulingkan tirani Clorida. Di saat-saat itu pula, Alex menemukan alasan mengapa Clorida memblokir komunikasi kedua ras negeri Folium. Sempat merasa ragu dengan kemampuannya, akhirnya Alex meraih kepercayaan diri setelah melatih kemampuan pertahanan pikiran dengan hasil yang mengejutkan. Kemampuan itu yang akan membantunya melawan Clorida.
Dalam perjalanannya selama masa pemberontakan, Alex mendapati berbagai kenyataan pahit. Dia harus kehilangan satu-satunya paman karena Clorida membumihanguskan wilayah Rome. Beberapa wilayah Folium juga sempat dihancurkan Clorida sebagai peringatan bagi Alex untuk menyerahkan diri (hal. 136, 166). Akan tetapi, sebagai pemimpin pemberontakan, Alex tak berniat untuk mundur selangkah pun. Dia tetap maju berjuang membebaskan Folium dari kekuasaan Clorida.
Membaca novel ini, kita akan teringat pada The Hunger Games. Ada beberapa elemen dalam novel ini yang mirip dengan novel karya Suzanne Collins itu. Seperti karakter Alex yang jago memanah mengingatkan kita pada Peeta Mellark.
Penulis novel ini mampu menggambarkan dunia elf secara cukup apik. Sayangnya, penulis terkesan buru-buru dalam menggarap plot walau premis yang diangkat menarik. Kisah cinta Alex dan Cinnamon yang merupakan ide dasar novel ini malah tak terasa chemistry-nya sama sekali. Penyelesaian konflik antara Alex―yang mewakili Folium―dengan Clorida boleh dikata terlalu mudah. Ada juga kejanggalan seperti peperangan menggunakan balon udara. Rasanya aneh ketika bangsa elf lebih memilih kendaraan perang balon udara dibanding makhluk seperti pegasus. Andai saja naskah ini diberi lebih banyak halaman, mungkin lubang-lubang kejanggalan itu bisa diminimalkan.
Namun, di atas semua kekurangannya, novel ini tetappatut diapresiasi, sebab penulis―yang baru berusia 19 tahun―berani menyuguhkan karangan dengan tema distopia yang masih jarang digarap. Salut!

dimuat Koran Jakarta, 28 Januari 2015. Ini adalah resensi versi belum diedit. yang sudah diedit bisa tampak di sini http://www.koran-jakarta.com/?27736-memecah%20pembatasan%20komunikasi%20dua%20ras