Mau Jadi Penulis Brilian? Ini Rahasianya

Judul Buku : Be a Brilliant Writer
Penulis : Afifah Afra
Penerbit : Gizone Books, Surakarta
Cetakan : I, Oktober 2011
Tebal : 272 halaman

Buku ini merupakan versi remake dari buku How to Be a Smart writer, yang juga ditulis Afra. Setelah disesuaikan dengan perkembangan zaman, buku ini jadi terasa lebih segar dan seperti baru.
Afra mengingatkan bahwa penentu sukses atau tidaknya kita, adalah bergantung dari kitanya sendiri. Maka di bab awal, Afra menulis cerita tentang jejak kepenulisannya, yang dimulai sejak dia kecil. Waktu SD, dia sudah membaca kho ping ho, enyd bliton, dickens, dan wiro sableng. Buku-buku itu dibawa bapaknya hasil pinjam di perpustakaan. Dia juga dianugerahi kunci perpustakaan sekolah tempat bapaknya ngajar. Praktis, Afra punya tabungan bacaan yang kaya sekali.
Berbekal rasa suka pada bacaan, dia punya inisiatif bikin cerita sendiri. jadilah dia menulisi buku-buku tulisnya dengan cerita silat, yang hasilnya dibaca saudara-saudaranya.
Karirnya menulis fiksi beneran dimulai ketika cerpennya terpilih untuk dibaca di RRI saat Afra masih SMP.
Di sma, untuk pertama kali karya puisinya dimuat Anita cemerlang, yang membuatnya semakin gokil menulis dan mengirim karya. Namun, kegiatannya itu tak pernah ia beberkan di muka umum.
“tampaknya, seluruh persada sma saya bahkan tak menyadari, seorang penulis telah lahir di sana..” (hal. 24). Ini salah satu kalimat yang sangat saya suka 
Titik baliknya dalam dunia menulis adalah ketika di tahun 2000 Afra nekat menembus gerimis demi hadir dalam acara bedah buku karya Izzatul Jannah di Semarang.
Di sana, dia mendapat kejutan karena bertemu editor Syamil, Halvini Berry yang berniat menerbitkan kumcernya. Ternyata Mbak Helvy sudah mengoper cerpen-cerpen yang dia kirim ke Annida ke redaksi Syamil. Halvino Berry meminta Afra untuk menulis lima cerpen lagi demi mencapai tebal buku yang ideal. Afra tentu saja sangat surprised. Tapi akhirnya dia menyanggupi dan ajaibnya, dia bisa menyelelesaikan cerpen-cerpennya dalam tempo yang tidak lama (hal. 29).
Di bagian awal buku ini, Afra tidak hanya menyelipkan cerita seputar proses kepenulisannya, tapi juga beberapa motivasi yang berkaitan dengan tujuan kita menulis.
Sebelum kita mau benar-benr serius menerjuni dunia ini, Afra menyarankan kita menentukan mengapa kita mau jadi penulis. Dia menyebutkan beberapa alasan miliknya yang mungkin dapat juga menjadi inspirasi bagi kita.
Pertama, Afra ingin pintar. Dia mengutip qoul atsar yang menyebutkan bahwa ilmu butuh diikat agar tidak berlarian. Sebab, ilmu itu bagai hewan buruan yang sangat mudah lepas. Lagipula, memori otak kita akan lebih kuat mengingat jika menuliskan apa yang telah kita pelajari.
Kedua, berdakwah lewat pena. Dia menegaskan bahwa ketika kita terbiasa menuangkan pendapat dan pemikiran kita melalui tulisan, maka pemikiran kita itu akan tersebar dengan lebih massal. Jika kita mau berdakwah, maka menulis merupakan salah satu sarana paling baik untuk itu.
Ketiga, untuk meninggalkan jejak sejarah. Afra menuliskan sebuah lelucon tentang hal ini. jika seseorang belum meninggalkan prasasti alias ‘jejak’ sejarah, maka seseorang tersebut masih dalam fase prasejarah. Seperti ketika dalam suatu daerah telah ditemukan prasasti, maka daerah tersebut telah memasuki masa sejarah. Begitu pun dengan manusia (hal. 48). Namun, Afra hanya menganalogikannya, sebab itu hanya guyon.
Apakah kita mau mati dengan meninggalkan jejak yang dapat diikuti oleh anak cucu dan orang lain? maka membuat ‘prasasti’ karya tulis adalah jawaban yang paling tepat untuk kita.
Keempat, berpikir lebih sitematis. Kata Afra, “menulis telah melatih saya untuk sistematis. Karena saat menulis kita dipaksa untuk membuat alur secara logis. Dipaksa me-manage kata, sampai membuang kata-kata yang tak perlu.” (hal. 50)
Kelima, memberikan kepuasan batin. Seseorang yang berhasil menghasilkan sebuah karya akan beroleh kepuasan dalam hati yang tak terukur dengan materi. Kebahagiaan akan melingkupi dirinya. dia merasa kebutuhan untuk aktualisasi diri telah terpenuhi. Dan menurut Maslow, kebutuhan inilah yang berada di puncak piramida kebutuhan.
Keenam, me-manage emosi. Menulis merupakan jalan positif yang mampu menyalurkan berbagai emosi dalam diri kita. Bahkan, menulis dapat dijadikan alat pembelaan terhadap kaum tertentu, atau penyampai hak-hak masyarakat. Menulis juga mampu menjadi sarana dalam menjaring persahabatan dengan sebanyak mungkin orang.
Ketujuh, menulis sarana untuk kaya. Jika kita mampu menulis buku best-seller dan artikel kita sering dimuat media, maka kita dapat berpotensi menjadi penulis yang kaya dari segi materi. Seperti kata HTR, menulis bikin kaya, barangkali ada benarnya. Lihat saja JK Rowling, atau penulis terkenal negeri ini. coba hitung berapa royalti dari buku-buku mereka. Ketika melihat angkanya, kita akan takjub. Menulis memang bisa jadi salah satu ladang uang yang subur, jika kita konsisten dan terus memperbaiki mutu tulisan kita.
Pertanyaan selanjutnya yang mungkin terbersit dalam pikiran kita. Bagaimana mewujutkan semua itu, menjadi penulis yang brilian?
Pertama kita harus pemanasan dulu. Untuk dapat menulis dengan baik, kita tentunya sudah memiliki bahan untuk ditulis, kan? Nah untuk mendapatkan bahan ini, ada beberapa hal yang wajib kita lakukan, seperti akan dijelaskan berikut ini:
1. Melatih kreativitas.
Sebagai penulis, kita harus sering-sering melakukan inovasi. Sebab inovasi inilah yang membuat tulisan kita disukai. Pikirkanlah hal-hal yang tak dipikirkan orang lain, dari sana kita dapat menciptakan sesuatu yang kreatif dan baru.
2. Banyak membaca
Ini tentu saja agenda wajib bagi penulis. Membaca ibarat tenaga dalam bagi seorang pendekar. Dengan membaca, perspektif kita terhdap sesuatu akan menjadi lebih baik dan lebih luas. Pikiran kita akan melebar dan tak sempit. Membaca juga sebagai kebutuhan rohani, sebagai nutrisi yang menyehatkan otak dan hati kita. Buatlah jadwal khusus untuk mmbaca. Anggarkan sebagian uang anda untuk membeli buku. Yakinlah bahwa membaca itu investasi yang tak bikin rugi.
3. Rajin menulis catatan harian.
Cara terbaik menjadi penulis yang baik adalah menulis. Menulis harus setiap hari, agar kemampuan kita terasah tanpa henti. Sarana buku harian atau blog bisa kita manfaatkan untuk menuliskan kisah kita sehari-hari (tentu yang menarik dan memiliki nilai sharing), atau menuliskan pandangan kita terhadap sesuatu, seseorang dan peristiwa.
Dijelaskan bahwa menulis catatan harian memiliki beberapa manfaat. Pertama mengasah sense of art kita. Ketika kita terbiasa membahasakan perasaan dan ide-ide kita, maka kepekaan kita terhadapa bahasa akan semakin baik.
Kedua, menulis catatan harian akan memperbanyak perbendaharaan kosakata yang kita miliki. Kita tentu ingin menghasilkan catatan yang tak membosankan. Maka dari itu, dengan menulis catatan setiap hari, kita akan tergerak membuka kamus demi mendapatkan kata yang baru untuk tulisan kita.
Ketiga, kita akan mempunyai catatan mengenai diri kita secara lengkap. Kita akan belajar bagaimana kita melalui proses pendewasaan dalam hidup.
Keempat, diary adalah sebuah kerja jurnalistik. Dengan mencatat apa-apa yang kita alami, kita akan memiliki sumber ide yang terbaik.
4. Berkorespondensi
Korespondensi merupakan salah satu cara asyik mendapatkan bahan menulis. Selain itu, kita juga dapat bertukar pikiran dengan orang yang berkirim surat dengan kita. Cobalah mencari sahabat pena dan kirimi surat. Usahakan orang tersebut memiliki minat yang sama dengan kita.
5. Terbuka dan Senang Diskusi
Seorang penulis seharusnya terbuka dengan siapa saja. Sebab hanya sikap terbuka yang memungkinkan kita memiliki peluang yang lebih banyak.
Cara agar kita jadi orang yang terbuka ialah senang berdiskusi. Dengan berdiskusi, kita akan mengasah obyektivitas daripada subyektivitas. Hal itu akan memperkuat empati dan penerimaan kita terhadap orang lain.
6. Melihat lebih dekat
Jadilah orang dengan keingintahuan yang tinggi. asahlah kepekaan indera anda dengan mencari tahu lebih detail apa-apa yang terlihat menarik. Dengan begitu, kita akan dapat menghubungkan sebuah peristiwa dengan hal lain lalu menjadikannya bahan untuk tulisan kita.
7. Akrab dengan bahasa
Kata Gorys Keraf “ Semakin banyak kata yang dikuasai seseorang, semakin banyak pula ide atau gagasan yang dikuasainya dan sanggup diungkapkannya.”

8. Enjoy this life!
Carilah sisi unik dari sebuah peristiwa yang mungkin membuat gondok dan tak nyaman. Daripada mengeluh dan tidak selesaikan masalah, lebih baik dinikmati saja.
Ide yang mengalir deras
Kita bisa mendapatkan seribu ide dalam sehari. Hal itu bisa terjadi karena kemampuan otak kita sangat luar biasa. Namun, tentu harus didukung oleh kegiatan yang mampu menghasilkan ide-ide baru yang segar.
Afra menuliskan banyak hal yang bisa jadi sumber ide. Pengalaman salah satunya. Oleh sebab itu, kita disarankan menulis jurnal harian agar pengalaman kita tidak pergi menjadi masa lalu yang terlupakan.
Gagasan dari karya orang lain juga dapat menjadi sumber ide. Tapi, bukan berarti kita menjiplak ide mereka. Kita hanya melihat adanya inspirasi baru dari karya orang lain. seperti Rhonda Byrne yang terinspirasi menulis The Secret setelah membaca sebuah buku karya Wallace. Buku Byrne merupakan buku Wallace yang ditulis ulang dalam bahasa yang lain saja.
Tempat lain yang banyak mengandung ide adalah literatur. Di tempat ini, kita akan menemukan banyak sekali gagasan dan pengetahuan yang mampu memperkaya tulisan kita.
Sumber ide selanjutnya adalah alam semesta. Kreativitas dalam membaca apa yang terjadi di alam semesta ini akan menghasilkan ide yang berbeda.
Mengenal Bentuk Wacana
Di buku ini, Afra juga memperkenalkan teknik dan teori menulis yang cukup perlu dipelajari penulis. Deskripsi, narasi, dan eksposisi adalah bentuk-bentuk wacana yang dibahas Afra.
Afra juga membas masalah diksi sebagai salah satu bentuk penguasaan bahasa yang penting. Diksi yang tepat akan membuat karangan kita menjadi lebih indah dan ekspresif, serta dapat mengambarkan sesuatu dengan lebih tepat.
Gaya bahasa juga sangat penting dalam penulisan karya tulis. Majas akan membuat tulisan memiliki rasa yang berbeda dan tampak indah.
Unsur lokalitas juga tak boleh terlupa. Agar bisa mendapatkan lokalitas yang baik dalam karya kita, mulailah dari memilih objek, menyempitkannya, mempelajarinya hingga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari diri kita, lalu menulislah!

Rimba Raya Kepenulisan
Ada beberapa macam jenis tulisan yang bisa kita coba buat.
1. Cerpen
Cerpen memiliki ruang yang padat karena pendek. Penulis harus ketat menyeleksi kata yang mau dipakai. Agar cerpen menjadi menarik, kita harus konsisten dari awal hingga akhir cerita. Jangan bertele-tele menyampaikan informasi. Tulislah kalimat yang mewakili banyak situasi. Juga, tentukan judul yang membuat penasaran. Awali dan akhiri cerpen anda dengan ledakan yang mengejutkan pembaca.
2. Novel
Dalam novel, kita lebih bebas menuliskan apa saja. Mengembangkan karakter, plot dan sebagainya. Akan tetapi, harus diingat bahwa kita tetap tak boleh sembarangan dalam menyusun sebuah novel. Harus diingat aturan sebuah kisah fiksi ialah logis dan tidak berpedoman pada semboyan ‘aneh tapi nyata’. Novel yang baik tentu adalah yang memberikan kesan yang dalam bagi pembacanya.
3. Menulis di media massa
Media massa menyediakan ruang bagi penulis untuk menuangkan karyanya. Paling umum dijumpai adalah artikel. Untuk dapat menulis artikel yang baik, pertama kita termasuk orang yang memiliki wawsan yang luas atau kepakaran dalam bidang tertentu. Ini yang membuat pembaaca merasa yakin bahwa artikel yang kita tulis memang memiliki nilai. Keahlian mengamati fenomena menjadi syarat penting untuk kita menemukan ide tulisan. Kecermatan melihat realitas akan melahirkan sudut pandang yang unik.
Di sisa halaman buku, Afra membahas lebih jauh mengenai feature, resensi dan kerja jurnalistik. Proses menerbitkan buku pun dibahas secara singkat namun padat oleh Afra.
Selain penguasaan pengetahuan teknis, satu hal pokok yang ditegaskan afra dalam buku ini adalah bahwa penulis merupakan well rounded man. Ia harus bisa mewakili lingkungannya, mewakili realita yang terjadi di masyarakat, harus mampu menempatkan diri secara benar dalam tulisan-tulisannya.
Well, buku ini cukup bagus menjadi pengantar memahami seluk-beluk dunia kepenulisan dan penerbitan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s