Energi Sufistik Dalam Kisah-Kisah Legendaris

Membaca kisah-kisah para sufi adalah pengalaman yang memperkaya batiniah. Setiap jengkal kehidupan mereka menyimpan energi dan hikmah. Energi yang bisa men-charge iman, juga hikmah yang menyentil ke-aku-an kita. Sufisme adalah perjalanan yang pasti ada dalam diri setiap hamba. Ini mengisyaratkan bahwa setiap manusia adalah sufi, namun berbeda cara bagaimana Allah mengingatkan kita akan anugerah tersebut.

Manusia yang senantiasa memakai akalnya, memperbarui iman, takwa, raja’ (pengharapan) maupun khofa (rasa takut) akan tiba pada tujuan utama dari setiap penciptaan, yaitu mencapai Dzat Allah. Namun, mayoritas dari kita masih menomorsatukan perasaan dan sifat egoisme, hingga sulitlah bagi kita, bahkan untuk mengetahui identitas kita sendiri. Kita sulit mencapai derajat makrifat seperti yang disampaikan dalam sebuah hadist, ‘Man ‘arofa nafsahu, faqod ‘arofa robbahu’?barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan bisa mengenali Tuhannya.

Kisah sufi mengingatkan kita akan dua hal. Pertama, bahwa ternyata untuk menjadi seorang sufi, ada banyak hal mencengangkan yang terkadang tidak bisa dicapai nalar dan logika. Misalnya kisah Ibrahim bin Adham yang memohon agar diselamatkan dari ‘mencintai’ anak dan istrinya, yang kemudian anaknya meninggal dunia (lihat kisah berjudul CabutlahNyawa Anakku atau Nyawaku Sendiri).

Bagi kita manusia ‘normal’ amatlah menggemaskan bila kita harus meminta untuk tidak menyintai siapapun selain Allah. Bisa saja muncul pertanyaan, bila semua orang menjadi sufi semacam Rabiah Al-Adawiyah, mungkin dunia ini akan kehilangan populasi manusia sebab tak akan muncul perkawinan. Sebab kata Rabiah ketika menolak cinta Imam Hasan al-Bashri bahwa “Tali pernikahan hanyalah untuk orang-orang yang memiliki ke-aku-an. Di sini ke-aku-an telah sirna, telah menjadi tiada dan hanya ada melalui Dia. Aku adalah milik-Nya. Aku hidup di bawah naungan-nya. Jika engkau menginginkanku, maka engkau harus melamar diriku kepada-Nya, bukan langsung kepada diriku” (hal 67).

Kedua, merasakan bahwa selama ini kita masih begitu ‘buta’ terhadap Allah. Kita terlalu sibuk dengan diri sendiri yang sarat hawa nafsu. Maka tak heran, begitu membaca kisah-kisah yang disuguhkan penulis bukuini, hati seperti tersengat listrik. Dunia sufi bagai terpisah dari kehidupan ‘normal’ manusia yang berjalan atas aturannya masing-masing.

Mungkin akan timbul pertanyaan, bagaimana bisa para sufi itu bertahan dalam lapar, tak tidur berhari-hari, menggelandang tak tentu, menjadi pengemis, hingga mencapai keajaiban-keajaiban (yang umumnya disebut karamah) seperti memunculkan uang dinar dari jubah, berjalan di atas air, atau bahkan udara! Tak akan sampai nalar kita menjangkaunya, sebab masih terdapat hijab yang tebal menutupi mata batin kita.

Walaupun kisah-kisah dalam buku ini sebagian sudah sering kita dengar, namun kepiawaian penulis mengkomunikasikan dalam bahasa yang ringan tetaplah enak untuk disimak. Dengan tebal 336 halaman, buku ini memang masih terdapat kekurangan, terutama keterkaitannya dengan kehidupan manusia zaman sekarang atau pencantuman tahun kejadian kisah. Sehingga, terkesan kisah-kisah tersebut jadul walaupun penulis menarasikannya dengan embel-embel bahasa zaman sekarang.

Namun setidaknya, buku ini cukup bergizi disajikan sebagai sarapan di pagi hari agar jiwa terisi tambahan energi untuk mengabdi pada Yang Hakiki.

_____________________________

Judul Buku : Kisah-Kisah Para Sufi Legendaris Sepanjang Masa

Penulis : Wawan Susetya

Cetakan : I, Desember 2012

Tebal : 336 halaman

Penerbit : Sabil, Yogyakarta

Dimuat Rimanews.com tanggal 17 Maret 2013
http://www.rimanews.com/read/20130317/95489/energi-sufistik-dalam-kisah-kisah-legendaris

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s